My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Aksi Balas Dendam


__ADS_3

'' Mas aku kok takut ya ? Kemarin sebelum pulang Rendi, bilang ke aku. Katanya ada orang yang mencurigakan lagi mengintai rumah kita''. Kata Renita sambil memasangkan dasi suaminya.


'' Masa sih ?''


'' Iya, dia udah beberapa kali liat orang itu. Kadang malem, kadang siang. Pokok tiap ada kamu di rumah''. Renita tak bisa menyembunyikan kekhawatiran nya.


'' Sudah kamu tenang saja. Buktinya aku nggak apa-apa kan ? Sehat selamat sampai detik ini''. Armand mencoba menenangkan istrinya.


Sebenarnya, dia sudah mengetahui hal ini. Armand juga beberapa kali pernah melihat orang itu. Di perkuat dengan laporan satpam dan supir di rumahnya. Tapi Arman biarkan saja, asal tidak mengganggu keluarga nya.


Dia sengaja menyembunyikan ini dari istrinya. Agar Renita tidak khawatir dan ketakutan. Dan sekarang terbukti. Renita menjadi overthinking setelah mengetahui hal ini.


'' Aku berangkat dulu. Ingat kalau mau kemana-mana minta antar Mang Udin atau di temani Bi Lastri. Jangan sendirian''.


Renita mengangguk saja.


Armand mencium kening istrinya. Beralih menuju kamar putranya. Yang ternyata masih terlelap.


'' Papa berangkat ya sayang. Jangan nakal sama mama''. Armand mengecup pelan pipi putra nya.


Entah kenapa perasaan Renita semakin tak karuan. Tidak biasanya Renita sekhawatir ini melepas kepergian suaminya.


'' Mas..'' Renita menahan lengan suaminya saat akan masuk ke mobil.


Disana sudah ada asisten Devan yang menunggu.


'' Ada apa ?''


'' Jangan berangkat ya, perasaan ku nggak enak. Kerja dari rumah aja ''. kata Renita dengan tatapan memohon.


Armand tersenyum lembut dan mengecup kening istrinya.


'' Nggak bisa Ren, ada investor asing yang mau ketemu langsung sama aku. Kalau mau di gantikan ke papa juga waktunya terlalu mepet. Yang ada nanti kena omel papa. Soalnya ini tender besar ''. Armand mencoba memberi pengertian pada istrinya.


'' Kamu nggak usah overthinking terus. Nggak baik. Banyak-banyak berdoa aja supaya aku atau keluarga kita nggak kenapa-kenapa''.


Renita menghembuskan nafas pasrah. Mau tak mau dia membiarkan suaminya pergi.


'' Tapi nanti segera telpon aku. Kalo udah nyampe ''.


'' Iya bawel '' Armand mengacak rambut istrinya sebelum masuk ke mobil.


Perlahan mobil suaminya berjalan meninggalkan rumah.


...----------------...


Disisi lain..


'' Bagaimana persiapannya sudah matang ?'' Mita berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


'' Beres bos. Target sudah keluar kandang ''.


'' Bagus ! Ikuti dia jangan sampai ketinggalan jejak. Eksekusi harus berhasil. Dan rekam semuanya sebagai bukti kerja kalian''. Mita menyeringai.


'' Siap ! lagi on the way mengikuti target''.

__ADS_1


'' Begitu dipersimpangan Jln. Kenanga. Perintahkan yang lain untuk segera bertindak. Ingat ! Mobil van hitam berplat BXXXXX. Jangan sampai salah target. MENGERTI !''. Mita memberi instruksi.


'' Langsung tabrak mobil itu sampai hancur. Tak peduli siapapun yang ada di dalamnya. Entah itu si Armand atau istrinya sekalipun ''.


Mita terus memberi instruksi pada anak buahnya. Hingga tak Ia sadari, Linda telah mendengar semuanya.


Linda membungkam mulutnya tak percaya. Jika putrinya akan bertindak sejauh ini. Wanita paruh baya itu bergegas menuju mobil nya. Dia harus segera sampai di lokasi yang disebut Mita tadi. Harus bisa mencegahnya. Sebelum nyawa orang tak bersalah jadi taruhannya.


...----------------...


Beberapa kali Devan melihat ke arah spion. Memastikan apakah dugaan nya ini benar atau salah. Berulang kali dia menambah kecepatannya kemudian melambatkannya lagi. Dan hal itu disadari oleh Armand.


'' Ada apa Van ?''


'' Sepertinya ada yang mengikuti kita Pak''. Jawab Devan.


Armand menoleh ke arah belakang. Ternyata benar, ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.


'' Kamu mengemudi saja seperti biasa. Abaikan mereka''.


'' Tapi pak ?''


'' Sudah tenang saja, kita pura-pura tidak tahu''. kata Armand.


Dia segera memberitahu kan hal ini kepada papanya.


'' Cari jalan yang selalu di lalui banyak kendaraan. Kita tidak tahu siapa mereka. Apa motif mereka mengikuti kita. Jadi, kalau ada apa-apa kita bisa dengan mudah mencari bantuan''.


'' Baik Pak ''.


'' Orang-orang papa juga sedang menuju kemari''.


DOR..


DOR..


DOR..


Dia menembaki mobil Armand secara membabi buta. Bahkan ada peluru yang berhasil menembus kaca mobil bagian belakang.


Armand menundukkan kepala nya berusaha menghindari peluru-peluru itu.


'' Fokus Van ''. Titah Armand di sela kepanikan nya.


Bohong jika Devan tidak panik dengan serangan dadakan ini. Tapi dia berusaha fokus demi keselamatan mereka.


Saat hampir sampai di persimpangan. Orang itu menembak dua ban mobil yang dikendarai Armand.


Secara otomatis mobil itu langsung oleng. Bahkan sempat berputar-putar. Sebelum akhirnya, berhenti melintang di tengah jalan. Untung jalanan pagi itu masih lengang. Jika tidak mungkin banyak kendaraan yang tertabrak mobil mereka.


Belum hilang kepanikan mereka. Tiba-tiba dari arah berlawanan. Ada sebuah truk yang melaju kencang menuju ke arah mereka.


'' DEVAN AWAS !!!'' teriak Armand.


BRAKKKK...

__ADS_1


...----------------...


CRASS..


'' Aww.. '' Renita memasukkan jarinya yang teriris kedalam mulut. Agar darahnya terhenti.


'' Kenapa Non ?''. Bi Lastri mendekat dengan membawa Marvello dalam gendongan nya.


'' Ya ampun Non ! kok bisa berdarah gini. sebentar Bibi ambilin obat dulu ".


Renita tak menghiraukan kepanikan bi Lastri. Rasa khawatirnya semakin menjadi. Dia segera mengambil handphone nya dan mendial nomor suami nya.


Tersambung tapi tak kunjung di angkat oleh empunya.


'' Angkat dong mas.. Jangan buat aku tambah kepikiran''. Renita mondar-mandir tak tentu arah dengan handphone menempel di telinganya.


'' Non sini lukanya Bibi obati dulu. Biar gak infeksi''.


Bi Lastri mulai meneteskan obat merah ke luka itu. Meniup nya hingga kering, lalu membalut luka itu dengan plester.


'' Non kenapa bisa sampai ke Iris gini tangan nya ?''


'' Perasaan aku gak enak bi. Kepikiran mas Armand mulu ''. Renita menatap sendu ke depan.


'' Coba di hubungi tuan Non..'' saran Bibi.


'' Udah tapi nggak di angkat dari tadi ''.


'' Mungkin lagi nggak bisa di ganggu kali Non. Kan katanya tadi mau ketemu orang bule ''. Bi Lastri memang sempat mendengar ucapan Armand tadi pagi.


Karena dia sedang membersihkan teras sewaktu Armand akan berangkat kerja.


'' Semoga aja ya bi ''. Renita mencoba berfikir positif. Meskipun pikiran negatif nya lebih mendominasi.


'' Ya sudah Non istirahat. Biar bibi yang nerusin masak. si Non jaga aden kasep saja'' Kata bibi.


Renita mengangguk mengiyakan. Memang saat ini pikiran nya tengah kacau. Di paksakan memasak pun percuma tak akan konsentrasi.


Tadi Renita mencoba mengalihkan kekhawatiran nya dengan memasak. Berharap perasaan itu segera hilang. Tapi pada akhirnya, bukannya hilang justru tangannya yang menjadi korban irisan pisau.


Renita memilih menhampiri putranya yang sedang asik tengkurap dan berbalik di karpet depan TV. Tingkah imut Marvello berhasil membuat lupa akan rasa cemas nya.


Tapi itu tak berlangsung lama. Handphone nya berdering tanda ada telepon masuk. Senyumnya mengembang kala membaca ID penelepon.


'' Hallo mas '' Sapa Renita dengan riang.


Senyum itu perlahan memudar dengan tubuh membeku saat mendengar kabar dari seberang.


...----------------...


Jeng.. Jeng.. terlalu lebay gak sih ?


Comment ya..


Tapi jangan lupa sapa juga teman-teman nya. Like, ❤ , vote, dan hadiah . Biar gak iri..

__ADS_1


Oke sampai sini dulu. See you next part.


Babay..


__ADS_2