
''Kamu kenapa kok kelihatan kaget begitu, Ren?" tanya Amalia yang sedikit heran saat melihat reaksi menantunya.
''Eh, gak apa-apa kok, Ma," jawab Renita sedikit tergagap takut ibu mertuanya mengetahui masalahnya.
''Yuk, temui dia." Amalia melangkah lebih dulu meninggalkan Renita yang masih mematung di tempat.
''Jadi ini yang mau dijelaskan sama Mas Armand kemarin? Bodoh banget sih, Ren ... Gak nyoba dengerin dia dulu. Kalau udah gini gimana coba, mana terlanjur marahan lagi." Renita merutuki kebodohannya sendiri di dalam hati.
Dia menggigit bibir bawahnya, memikirkan bagaimana cara minta maaf pada suaminya nanti.
''Terkejut, 'kan?"
Renita terjengkit ketika mendengar suara bariton dari arah belakangnya.
''Gak pengen minta maaf? Ayo, cium tangan." Armand menyodorkan tangan kanannya meminta sang istri untuk menciumnya.
Tak ada tanggapan apapun yang keluar dari mulut ibu satu anak itu. Justru, dia memalingkan muka dengan wajah cemberutnya.
''Ama, Apa ... Cini. Main cama titi," teriakan Vello mengalihkan sejenak perseteruan pasangan itu.
''Iya," jawab Renita tak kalah berteriak.
Dia hendak melangkah, namun ada tangan kekar yang tiba-tiba menggenggam tangannya.
''Gak usah pegang-pegang, lepas! Kita masih musuhan ya," sewot Renita lengkap dengan wajah juteknya.
''Kalau mau lepas, usaha lepasin sendiri," ucap Armand dengan menahan senyum.
Renita mencoba menarik tangannya namun tangan kekar sang suami malah mengeratkan genggamannya.
''Curang kamu!"
''Biarin. Udah berapa hari aku gak bisa pegang-pegang istriku," ucap pria itu dengan santai.
Jujur, Renita tak bisa menahan senyum mendengar semua itu. Alhasil, dia hanya bisa melipat bibir ke dalam.
''Kalau mau senyum jangan ditahan," sindir Armand.
__ADS_1
''Dasar laki!" geramnya dalam hati.
''Loh, ini, 'kan mbak-mbak yang ngantri di belakangku sewaktu di supermarket kemarin," ucap wanita itu dengan rasa terkejutnya.
"H-hai," sapa Renita kikuk
Dia hanya menunjukkan deretan giginya, malu sudah berburuk sangka pada wanita itu.
''Ya ampun ternyata ini istrinya Mas Armand. Kenalin, aku Celline keponakan Papa Awan." Wanita itu menyodorkan tangannya yang langsung disambut oleh Renita.
''Renita."
''Tenang, Kak Renita. Tempo hari aku cuma pinjam Mas Armand sebentar, buat nganter aku periksa kandungan. Suami aku itu super duper sibuk, sedangkan aku trauma periksa sendirian. Aku pernah disangka hamil gak ada suami," papar Celline.
''Kok bisa?" tanya Renita yang mulai tertarik dengan cerita wanita itu.
''Salah sasaran, Kak Ren. Aku dikira simpanan suami orang. Untung suamiku muncul di waktu yang tepat."
Renita meringis mendengar kalimat terakhir dari mulut Celline. Dia berganti melirik kearah suaminya.
''Tampangmu itu memang pantas jadi pelakor, Lin," celetuk Armand.
''Armand," ucap Amalia penuh peringatan.
Armand hanya merotasi bola matanya. Sifat manja sepupunya tidak berubah meski ia hampir menjadi ibu.
''Maaf, ya, Cel. Aku sempat berburuk sangka sama kamu.''
''I'ts, okey. Aku sudah biasa. Lagian, siapa pula yang mau jadi simpanan pria kayak Mas Armand. Udah mahal senyum, pelit lagi."
''Apa katamu?" Armand melotot ke arah sepupunya. "Kalau kau pelit, siapa yang membelikan segala macam ngidammu waktu itu. Kau bahkan merebut kartu kerditku, masih kau bilang pelit? Dasar." lanjut pria itu dengan kekesalannya.
''Ih, tapi 'kan langsung diganti sama Robert," sanggah Celline tidak terima.
''Tetap saja aku tidak terima kau bilang pelit."
''Aduh, sudah-sudah. Mama pusing dengar kalian adu mulut. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Gak malu sama anak kecil." Amalia segera menyela perdebatan itu sebelum bertambah parah.
__ADS_1
''Mereka selalu seperti itu ya, Ma?" tanya Renita.
''Iya mirip kucing sama guk-guk.''
...----------------...
''Jadi, Apa kau masih mau mencari PRIA IDAMAN LAIN, Sayang?" tanya Armand dengan menekan kalimat terakhirnya.
''Embuh, aku sek pegel," jawab Renita dengan memalingkan muka.
(Aku masih jengkel).
Amalia dan sepupu Armand sudah berpamitan pulang beberapa menit yang lalu. Kini, giliran pasangan suami-istri itu untuk melanjutkan sesi debatnya di ruang keluarga ditemani siaran berita yang ada di televisi.
''Kok gitu, 'kan aku terbukti tidak bersalah, Ren," ujar Armand setengah frustasi.
''Tetap saja, kamu salah, Mas." Wanita itu bersikukuh dengan pendiriannya.
''Kok gitu?"
"Mestinya waktu itu kamu langsung nyamperin aku, bukan malah celingak-celinguk gak jelas. Aku aja bisa lihat kamu dengan jelas, masa kamu enggak? Bilang aja kamu gak niat," cerocosnya tanpa henti disertai wajah super julid.
''Astaga...."
Kini, Armand percaya jika prinsip wanita selalu benar dan lelaki selalu salah itu nyata adanya. Contohnya langsung di depan mata, wanita ajaibnya. Jika seperti ini, dia mau menjelaskan sampai berbusa pun tidak akan berpengaruh.
''Terserah kamulah, Ren." Armand memilih kembali ke ruang kerja untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
''Issh, sekali nyebelin tetep nyebelin. Udah tau istri ngambek, uring-uringan bukannya dibujuk main tinggal pergi aja." Renita menggerutu kesal, meninggalkan tempat itu dengan menghentakkan kaki.
...----------------...
Udah segini dulu ya ... Aku putuskan beberapa part lagi novel ini akan tamat. Aku mau fokus sama si Maura. Apalah dayaku yang tidak mampu adil untuk keduanya.
Ideku udah mentok sampai sini. Takutnya kalau dilanjutkan lagi malah makin ribet mirip sinetron kesukaan emak-emak. Eh, yang ngomong juga emak-emak deng....
So, tetap stay tune, ya....
__ADS_1
Jangan lupa jempolnya....
Babay...