My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Lega...


__ADS_3

''Alhamdulillah, kami bisa menyelamatkan keduanya, beruntung segera di bawa kemari.


Kami juga berhasil menghentikan pendarahan nya tapi pasien harus istirahat tota, tidak boleh stress ataupun dalam tekanan. Pasien juga harus dirawat inap untuk memantau agar tidak terjadi pendarahan susulan,'' tutur dokter itu.


Semua bernafas lega mendengar


penuturan dokter.


''Apa saya boleh melihatnya?'' tanya Armand.


''Silahkan! Setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat. Saya permisi.''


...----------------...


Amalia dan Amanda datang dengan penuh kepanikan. Setelah Renita mendapat kamar inapnya. Armand segera menghubungi ibunya, bagaimanapun juga ibunya harus mengatahui masalah ini.


Armand menceritakan semua yang dia ketahui tentang permainan Monita. Bahkan mengirimkan bukti rekaman CCTV yang di kantonginya. Laki-laki itu, juga menceritakan rencana untuk membalas wanita ular itu.


Tentu saja, Amalia geram tapi sekuat tenaga dia menahan emosinya.


Amalia tak kalah terkejut ketika Armand juga menceritakan, jika Renita sedang mengandung cucunya. Dan kini, sedang berada di rumah sakit.


''Gimana, keadaan cucu mama, Ar?''


''Mereka berdua nggak apa-apa. Dokter berhasil menghentikan pendarahan nya.'' Armand memeluk wanita yang melahirkannya .


Amalia bernafas lega.


''Jadi, yang kakak tunjukkan semalam?'' Amanda menutup mulutnya tak percaya


''Iya, itu milik sekretarisku. Dia aku perkosa saat aku dalam pengaruh obat.''


Amanda semakin terperangah mendengarnya.


''Kok bisa, obat apa? Kenapa kamu gak pernah cerita sama mama?'' tanya Amalia dengan kekesalannya.


Armand pun menceritakan peristiwa naas itu, di mulai dari Monita datang membawa pesanan kopinya. Setelah minum kopi itu, dia merasa tak sadar. Hingga ketika bangun dia dalam keadaan tak memakai apapun bersama sekretarisnya.


Amalia dan Amanda terkejut mendengar semua cerita Armand.


'' Lalu, Kenapa Renita tidak meminta tanggung jawabmu, Ar?'' tanya Amalia.

__ADS_1


''Waktu mama datang marah-marah ke kantor bersama wanita sialan itu. Sebenarnya, Renita ingin memberitahukan tetang kehamilannya. Dia kesal, ketika aku menunjukkan semua foto dan video murahan itu di hadapannya. Ditambah aku juga tidak mau mengakui anak yang dikandung Monita. Lalu, dia mengurungkan niatnya, memilih untuk aborsi..''


Amalia mengeplak punggung kekar anaknya dengan kesal.


'' Dasar anak bodoh! Ya, jelas dia urung. Pasti dia mikir, kamu juga tidak akan mau mengakuinya, di tambah dia tak punya bukti,'' kesal wanita paruh baya itu.


''Sekarang, mama mau lihat dia! huh, punya anak laki satu saja bikin pusing minta ampun."


...----------------...


''Ya ampun, Va, gue lemes banget. Loe gak pengen apa beliin gue makanan? Gue hampir jantungan tiga kali, tau gak sih loe?'' Wina menyandarkan tubuhnya di sofa ruang rawat renita.


''hilih, lebay loe,'' cibir Reva yang sibuk dengan ponselnya. Apalagi, yang dia utak atik kecuali tik tok nya.


''Anjay! Ramai banget fyp dance tik tok gue kemaren,'' pekik Reva.


''Sssst, berisik tau gak sih loe berdua. Si Reni belum sadar, loe berdua udah kek pasar,'' tegur Dania.


Sedangkan, David terus memandangi wanita yang dia cintai. Tak peduli dengan trio heboh yang selalu buat keributan tak tau tempat.


Pelas teri di buntel godong..


Seng tak tresnani di saut uwong..


Yang kau ucapkan dulu...


Wina mengikuti lagu yang dia dengarkan melalui headset ya.


''Loe nyindir, Win?'' tanya Reva.


''Nyindir siapa?'' tanya Wina yang masih menggerakkan kepala mengikuti irama musik yang dia dengar.


''Loe kira, gue gak tau? Arti itu lagu,'' sewot Reva.


''Win! loe bisa diem gak, sih? Pusing gue, loe gerak mulu. Gue mau merem bentaran,'' keluh Dania dengan nada kesalnya.


''Kalian bertiga,kalau mau ribut, sana di luar! Gak lihat ada orang sakit, ribut mulu gak tau tempat,'' omel David.


Ketiganya langsung diam seketika.


'' Ya ampun, Renita.'' Amalia tiba-tiba masuk dan langsung menghampiri wanita yang masih belum sadarkan diri itu.

__ADS_1


''eh, kalian siapa?'' tanya Amalia baru menyadari ada orang di ruang rawat itu.


''Kami teman cs-nya Renita, Nyonya,'' jawab Dania sopan.


''Yang cowok ini cs-nya juga?" Amalia menunjuk seorang laki-laki yang bersama mereka.


'' Dia mantannya, Tan, Awwww!'' Reva mengaduh ketika Wina menginjak kakinya.


''Loe gak bisa jaga sikap atau gimana, sih? Dia itu ibunya pak Armand..'' bisik Wina dengan merapatkan giginya.


Wina menangguk sedikit disertai ringisan.


David hanya mengangguk sopan.


''Ya, sudah kalau begitu. Kami mau pamit dulu. Ketiga anak ini harus kerja lagi karena hanya izin sampai makan siang. Permisi.'' David memutuskan pamit sebelum lebih malu lagi akibat ulah ketiga gadis itu.


''Oh, iya, makasih ya, udah mau di repotin,'' kata Amalia dengan ramahnya.


''Tidak nyonya, sama sekali. Renita udah bagian dari kami,'' jawab Dania.


''Mari.'' Dania segera menarik tangan kedua temannya.


...----------------...


''Rencanamu setelah ini apa, Ar?'' tanya Amalia.


Setiawan juga berada disana. Setelah, diberitahu istrinya.


Sedang, Amanda memilih pulang dahulu karena tak bisa lama-lama meninggalkan putrinya. Nanti, dia kembali lagi bersama suaminya, katanya tadi sebelum pergi.


'' Ya, kita lanjutkan saja acara pernikahan nya. Sayang sudah bayar mahal 'kan? Aku akan memberi kejutan padanya.'' Armand menyeringai.


Tanpa mereka tahu, Renita mendengar semua itu. Dia sudah sadar hanya saja dia masih ingin memejamkan mata.


' kata nya mau tanggung-jawab, preeettt,'' batinnya kesal.


Renita mengepalkan tangannya yang terbebas dari infus. Baru sadar sudah mendengar kenyataan pahit ini.


''Sepertinya, ada yang ingin kamu sampaikan, Ar? Kita bicara diluar, takut mengganggu istirahat Renita. Papa juga mau bicara sama kamu,'' ajak Setiawan.


'' Baiklah.'' Armand beranjak diikuti papanya. Tak lama terdengar suara pintu di tutup.

__ADS_1


Renita memilih tidur kembali, dia tak ingin memikirkan hal yang membuatnya sakit hati.


__ADS_2