
"Bagaimana bisa? Tidak mungkin, ini pasti salah."
Renita menatap nanar benda kecil di tangannya. Dia sengaja bangun subuh-subuh untuk memastikan, apa yang dikatakan para sahabatnya kemarin tidaklah benar. Awalnya, dia ingin mengabaikan semua itu, tapi di dorong rasa penasaran yang kuat. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengeceknya secara langsung. Agar ia bisa menunjukkan kepada mereka kalau semua dugaan mereka, salah.
Kemarin, dia sengaja meminta salah satu pegawainya untuk membelikan alat tes kehamilan. Tak tanggung-tanggung, wanita itu membeli lima buah sekaligus dengan jenis dan merek yang berbeda.
Renita kembali mengambil alat kedua, lalu mencelupkan ke wadah yang berisi air sen*nya dan hasil tetap sama.
"Positif," gumam Renita
Dia menggeleng tidak percaya. Wanita itu tetap menyangkal keras, jika alat tes kedua itu juga salah. Dia melakukan hal yang sama kepada alat yang lain, hingga semua habis tapi tetap menunjukkan hasil yang sama. Justru yang terakhir, garis dua pada alat tes tersebut tercetak dengan jelas.
Renita terduduk lemas di closed sembari memegang kelima testpack yang menunjukkan garis dua. Dia masih tidak percaya dengan kenyataan ini.
Berarti rasa pusing dan mual setiap pagi yang ia kira asam lambung adalah gejala ini. Yang membuat ia tidak terlalu nafsu makan, dan hanya ingin memakan buah-buahan juga ini penyebabnya.
"Kenapa aku tidak menyadarinya?"
___________
Di kamar lain....
Armand mondar-mandir tidak jelas di tempatnya. Dia memikirkan nasehat sahabatnya. Apa dia harus berbicara dengan istrinya? Bagaimana, jika pada akhirnya akan seperti kemarin lusa. Hanya berakhir dengan perdebatan.
Semalam suntuk Armand tidak bisa memejamkan mata gara-gara memikirkan ini, hingga jarum jam menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Setelah berfikir ulang, akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi kamar yang di tempati istrinya.
Semenjak pagi itu hingga beberapa hari ini, Armand memang memutuskan pisah kamar sementara dengan sang istri. Dia memilih tidur bersama putranya.
"Ren," panggil Armand pelan ketika membuka pintu.
Matanya melirik tempat tidur yang ternyata kosong, hanya saja selimutnya sedikit berantakan karena habis terpakai. Dia melangkah pelan sembari terus memanggil sang istri. Melihat pintu kamar mandi yang terbuka lebar, Armand segera menghampirinya. Di dapatinya, Renita tengah termenung diatas closed dengan menatap lima benda di tangannya.
"Ren, sedang apa kamu?"
Suara Armand mengagetkan wanita itu.
Tanpa sadar, Renita menjatuhkan semua benda di tangannya.
"M-mas, kamu disini?"
Karena penasaran, Armand memungut kelima benda kecil itu. Senyumnya merekah sempurna saat mengetahui kenyataan istrinya tengah berbadan dua.
"Ren, ini benar, 'kan?" tanya Armand untuk memastikan.
Renita mengangguk lemah.
Pria itu langsung memeluk erat istrinya, harapannya terwujud.
"Terimakasih. Akhirnya aku akan punya anak lagi," ucapnya dengan antusias.
Berbeda dengan sang suami yang merasa bahagia. Renita menampakkan raut sebaliknya, dia tampak murung. Berharap ini hanyalah mimpi, dalam hatinya masih menyangkal keras bahwa kelima alat itu salah.
"Kamu kenapa? Kamu tidak bahagia dengan kehamilanmu ini?" cecar Armand dengan tatapan menelisik.
Renita menggeleng pelan. "Bukan begitu," lirihnya.
"Aku takut," lanjut Renita dengan menundukkan kepalanya.
"Apa yang kamu takut kan? Tatap aku! Katakan semuanya...."
"Aku takut tidak bisa membagi kasih sayangku pada Vello. Aku takut, suatu saat Vello menganggap kita tidak adil. Aku takut dia menganggap kita lebih menyayangi adiknya. Aku takut...." Renita tak dapat melanjutkan perkataannya karena mulutnya di bungkam terlebih dulu dengan jari telunjuk suaminya.
"Ssstt, kita akan merawat mereka sama-sama. Aku akan bantuin kamu merawat mereka. Bila perlu kita sewa jasa pengasuh untuk jaga-jaga, saat kamu dan aku sama-sama sibuk," kata Armand untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Prett, kamu aja selalu sibuk sama kertas-kertasmu itu, sok-sokan mau bantu," sewot Renita cepat.
"Oke, mulai saat ini aku akan berusaha membagi waktu untuk kalian."
"Janji, ya...."
Armand mengangguk mantap.
"Tapi, usahaku...."
"Aku tetap mengizinkan kamu menjalankan semuanya, asalkan jangan terlalu capek. Aku tidak akan melarangmu seperti dulu."
Renita mengangguk diiringi senyum manisnya.
"Nanti, kita periksakan dia."
"Memang kamu gak kerja?" tanya Renita.
"Kita berangkat setelah makan siang," putus Armand.
"Baiklah."
"Aku harap dia perempuan," ucap Armand dengan mengusap perut rata itu.
"Kalau cowok lagi, gimana?" tanya Renita menggoda suaminya.
"Ya kita buat terus sampai jadi cewek," sahut Armand dengan entengnya.
''Itukan maunya kamu," cibir wanita itu.
"Emang, biar jadi kesebelasan. Kalau perlu tiap tahun kamu isi," kata Armand dengan jahilnya.
PLAKK!
"Bodo amat."
Renita meninggalkan suaminya sendirian di kamar mandi. Dia ingin melanjutkan kembali tidurnya.
"Ren," bisik Armand.
Dia ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri, tangannya merangkul mesra perut rata itu, mengusapnya pelan.
"Hmmm...."
"Aku jenguk dia ya," rengek Armand dengan manja.
"Gak! Aku mau tidur," sahut Renita dengan memejamkan matanya.
"Ren, tapi ini sudah berdiri," pintanya dengan nada memohon.
"Tidurin di kamar mandi pakai sabun."
"Tega kamu...."
_________
"Bisa dilihat, 'kan Bapak, Ibu. Itu ada kantung kecil pada rahim. Itu artinya, Anda memang positif, Bu," tutur dokter berkacamata dengan menunjuk pada monitor besar.
Salah satu tangannya terus menggerakkan sebuah alat pada area perut Renita.
Renita mengangguk pelan. Armand tak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaannya, seulas senyum tak pernah pudar dari bibirnya.
"Itu masa anakku? Kok cuma bulatan kecil seperti itu. Berbeda sama bentuk Vello dulu," celetuk Armand.
__ADS_1
"Mas, diem," bisik Renita.
Dokter wanita itu tersenyum maklum, dengan telaten pula dia menjelaskan.
"Karena usianya baru dua minggu, Pak. Nanti, jika sudah memasuki bulan ke-tiga, janin akan terbentuk sempurna."
"Saya ingin melihat jenis kelam*nnya," kata Armand dengan antusias.
"Ih, belum bisa, Mas," sahut Renita pelan.
"Masa belum bisa?" tanyanya dengan polos.
"Belum, Bapak. Jenis kelam*n baru bisa dilihat saat kandungan memasuki bulan ke-empat," ucap dokter itu lagi.
Pemeriksaan pun selesai.
"Ini saya resepkan vitamin. Tolong, diminum secara teratur hingga habis." Dokter memberikan secarik kertas pada Renita.
"Baik, Dok. Tapi...."
"Iya, Bu. Barangkali ada yang ingin di pertanyakan?"
"Saya baru pasang kembali bulan kemarin, kenapa saya bisa hamil?"
"Ibu memakai apa?"
"Disini, Dok." Renita menunjukkan lengan kirinya.
Dokter itupun tersenyum. "Kejadian ini mungkin disebabkan karena keefektifan KB Implan yang berkurang."
"Penyebabnya ada berbagai hal. Penggunaan yang melewati batas. Biasanya, batas maksimal penggunaan selama tiga tahun, bila melebihi itu dan belum diganti dengan yang baru. Kinerja KB implan itu akan berkurang dan menyebabkan kehamilan."
"Pemasangan yang tidak tepat, bisa jadi setelah dipasang alat itu mengalami ekspulsi atau keluar dari bawah kulit. Dan yang terakhir, reaksi penggunaan obat-obatan atau penyakit lain yang di derita," tutur dokter itu panjang lebar menjelaskan secara detail pada pasangan muda di depannya. (Sumber: www.google.com/Skata)
"Kemarin sewaktu pasang, memang setelahnya alat itu sempat keluar sih, Dok. Tapi saya tidak pernah berfikir, jika itu juga menjadi pemicu kehamilan saya kali ini," jawab Renita.
"Lalu, saya harus melepasnya atau membiarkannya, Dok?" tanya Renita lagi.
"Terserah ibu saja. Karena sejatinya, KB implan tidak membahayakan bagi janin," pungkas dokter itu dengan senyum ramahnya.
"Baik, Dok. Terimakasih."
"Apa saya bisa bercint* dengan istri saya, Dok?" tanya Armand tiba-tiba.
Renita mencubit gemas lengan suaminya, sungguh dia sangat malu saat ini.
"Maaf ya, Dok. Mulutnya memang kadang tidak punya rem."
"Bisa asal dilakukan dengan pelan. Karena baru memasuki trimester awal."
"Yes! Baik. Terimakasih, Dok," seru Armand. Dia sudah seperti mendapat jackpot
"Permisi...,'' ucap pria itu sambil menarik paksa tangan istrinya keluar ruangan.
...----------------...
Mohon koreksi, jika ada kesalahan 🙏. Karena akupun hanya bermodalkan Google. Dan pengetahuanku mengenai itu juga minim.
Yok, dukung. Tinggalkan jejak kalian, angkatan jempolmu, Bestie....
Sebar mawar sebanyak-banyaknya, biar wanginya semerbak kemana-mana, hehehe....
(lebay terus ah, perasaan....)
__ADS_1
Babay.... See you next part