My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Hanya Saran....


__ADS_3

Sepasang suami istri terlihat bergandengan tangan keluar dari Bandara. Si pria menggandeng mesra si istri yang tengah berperut buncit. Dari arah luar tampak seorang supir sudah standby menunggu kedatangan mereka.


"Silahkan, Tuan." si sopir berbaju hitam membukakan pintu untuk kedua majikannya.


"Kita langsung pulang atau ke rumah nyonya terlebih dulu, Tuan?" tanya sopir yang sudah siap dengan kemudinya.


"Ke tempat Renita dulu, aku kangen pengen ketemu dia," rengek Reva dengan bergelayut manja di lengan sang suami.


"Memang kamu gak capek?" tanya Rio.


Reva menggeleng pelan.


"Aku takut kamu kecapekan, Reva. Pulang dulu ya. Nanti sore atau malam, aku yang akan mengantarmu sendiri sekalian aku juga mau ketemu Armand," bujuk Rio.


Pria ini terlihat lebih sabar dan perhatian, semenjak Reva mengandung buah hatinya. Dengan telaten pula, dia menuruti semua keinginan wanita itu. Seperti saat ini, dia rela meninggalkan pekerjaannya di sana, hanya demi menemani istrinya yang ingin melahirkan dekat dengan keluarganya. Kehamilan Reva sudah memasuki bulan ke delapan. Itu artinya, satu bulan lagi mereka akan bertemu dengan sang buah hati.


"Pokoknya, aku mau ke rumah Renita dulu. Nih, mumpung semuanya pada kumpul disana," kata Reva dengan menunjukkan ponselnya.


Wanita itu, masih kekeh dengan keinginannya.


Kalau sudah begini, Rio hanya bisa menghela nafas. Tidak ada jalan lain, selain menuruti keinginan bumil satu ini. Sebab, jika tidak begitu. Bisa dipastikan, Reva akan mengeluarkan jurus ngambeknya selama berhari-hari.


"Baiklah, kita ke kediaman Armand Setiawan dulu, Pak."


"Baik, Tuan."


Mobil pun membelah jalanan kota besar di siang terik itu. Beruntung, tak ada kemacetan meski kendaraan lumayan padat. Hingga tak berselang lama, mereka tiba di pelataran rumah Renita.


Reva tampak antusias, keadaan rumah sahabatnya sangat berbeda dari terakhir dia kemari. Sekarang, banyak orang berlalu lalang, juga ada satu mobil box yang digunakan untuk mengantar pesanan ke tangan pelanggan.


Ibu hamil satu itu, sudah semangat empat lima untuk turun, namun dengan sigap sang suami menahannya.


"Sabar. Pelan-pelan dan hati-hati."


Reva merotasi bola matanya, terkadang suaminya ini terlalu over protective.


"Iya, aku cuma hamil Devario bukan sakit parah," sungutnya.


"Ayo, aku akan mengantarmu kesana." Rio mengulurkan tangannya.


Mau tak mau, wanita itu menerimanya, lalu mereka melangkah bersama menuju tempat ketiga sahabatnya berada.


"Reva!" pekik Wina yang melihat seorang wanita hamil mendekat ke tempat mereka.


"ARRGGH! Akhirnya gue bisa ketemu loe lagi. Gue kangen." Wanita itu langsung menghambur memeluk sahabat sekaligus musuh cekcoknya.


"Iya, gue juga kangen." Reva membalas pelukan Wina sembari mengelus punggungnya


"Win, biarin si bumil duduk dulu. Noh, muka lakinya udah di tekuk , gegara loe main serobot bininya," celetuk Renita.


Wina hanya menunjukkan deretan gigi putihnya, berganti menuntun sahabatnya ke tempat yang lain berada.


"Armand ada?" tanya Rio.

__ADS_1


"Ada, dia di taman belakang. Kesana aja...."


"Aku kesana dulu, nanti kalau sudah capek hubungi aku,'' pesan Rio sebelum meninggalkan istrinya.


Reva hanya mengangguk.


"Ada yang bucin, nih, ye...," celetuk Dania yang tengah menimang keponakannya.


"Au ah, kadang sampai risih gue. Lebay dia," sahut Reva.


"Balasan setimpal buat loe, dulu 'kan loe segitu bucinnya sama Doni. Sekarang suami loe sendiri gak kalah bucin ke elo, Va." Renita ikut menimpali.


Raut wajah Dania berubah murung setelah mendengar hal itu.


"Dia kenapa, tuh?" bisik Reva menyenggol lengan Renita.


Renita menggeleng pelan, kemudian beralih ke Wina bertanya melalui tatapannya. Dan tanggapan Wina pun sama, dia mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


Mata Reva berbinar ketika melihat aneka potongan buah yang tersaji di depan Renita, di dekatnya tersaji pula sambal gula merah yang terlihat sangat menggiurkan di matanya.


"Rujak buah, kebetulan gue udah lama pengen ini. Disana gak ada," seru Reva.


Tanpa basa-basi, ibu hamil itu langsung melahapnya.


"Reva, punya gue itu. Loe beli sendiri sono."


Renita yang tidak terima segera menjauhkan rujak buahnya dari sang sahabat.


"Elah, Ren minta dikit doang. Tapi itu kenapa banyak mangga mudanya? Mana asem banget lagi. Loe ngidam, ya?" tanya Reva.


"Loe pakai apa?" tanya Dania.


"Pakai yang susuk, nih...." Renita memperlihatkan bekas sayatan kecil yang ada di lengan kirinya.


"Eh, jangan salah, Ren. Tetangga depan rumah gue, pakai kayak itu bisa hamil. Dia stress banget anaknya udah tiga masih kecil-kecil semua. Malah di kasih lagi," tutur Dania panjang lebar.


"Bener, yang dia bilang, Ren." Wina ikut membenarkan, "kadang meskipun kita pakai kontrasepsi masih kebobolan."


Renita terdiam, tapi dalam hatinya menyangkal keras dugaan itu.


"Mending loe cek dulu, deh, Ren." Reva memberi saran.


"Gak ah, gue yakin gak hamil."


"Ini anak keras kepalanya kambuh. Disuruh ngecek dulu kok. Siapa tahu beneran jadi," balas Reva dengan gemas.


"Gak ada salahnya di coba," ucap Wina.


"Enggak, Gengs.... Ini gue pas pengen aja. Lagian Vello masih kecil, ah. Jangan hamil dulu. Seenggaknya, dia umur enam tahunan dulu lah.... Nungguin besaran dikit. Takut gak keurus nanti." Renita tetap pada pendapatnya.


"Udah bahas yang lain aja. Laki gue sensi sama masalah ini." Renita mengajak sahabatnya untuk membahas hal lain.


"Loe lagi ada masalah sama laki loe?" tanya Wina yang mulai kepo.

__ADS_1


Renita mengangguk pelan. Dia mulai menceritakan awal mula kemarahan suaminya.


...----------------...


"Bengong aja." Rio menepuk pelan pundak Armand yang duduk membelakanginya.


Armand yang merasa terkejutpun menoleh. "Rio! Kapan datang? Duduk-duduk...."


Pria itu menggeser posisinya agar sang sahabat bisa duduk di sebelahnya.


"Barusan."


"Istriku ngeyel minta langsung kesini. Katanya mumpung semua kumpul," lanjut pria itu lagi.


"Pasti mereka sekarang asik nge-gosip. Kebiasaan Renita cs kalau sudah bersatu." Armand terkekeh kecil sambil menghisap dalam nikotin di tangannya.


"Kebiasaanmu tidak berubah, Ar," kata Rio yang sedari tadi memperhatikan tingkah sahabatnya.


Tampak, puntung rokok hampir memenuhi wadahnya dengan satu bungkus yang sudah kosong.


"Kau sedang ada masalah?" tanya Rio dengan tatapan menelisik.


"Hanya menenangkan pikiran. Kadang aku berpikir, apa aku terlalu egois." Pandangannya tertuju pada anaknya yang tengah bermain bola di temani Bi Lastri.


Marvello terlihat riang, bahkan tawanya terdengar sampai ke telinga Armand saat kaki mungilnya berhasil menendang bola karetnya.


"Ada apa?" tanya Rio.


"Aku ingin istriku segera hamil, justru dia malah memasang kembali alat sialan itu di lengannya. Alasannya, anak masih terlalu kecil. Padahal, banyak pasangan lain yang memiliki anak disaat anaknya masih seumuran Vello. Bahkan, yang lebih kecil dari Vello sudah memiliki adik pun banyak." Tatapan berubah kesal setiap kali mengingat hal itu


Dia kembali menghirup dalam nikotinnya, lalu menghembuskan kasar ke udara.


"Aku tidak ingin mengguruimu, Ar. Bagaimanapun juga, pengalamanmu berumah tangga lebih banyak dari aku. Aku hanya ingin memberi saran, lebih baik kau bicarakan baik-baik dengan istrimu."


Rio terdiam sejenak untuk melihat reaksi sahabatnya. Setelah di rasa tidak ada respon yang berarti, dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Aku tidak menyalahkan istrimu juga tidak membenarkan. Masalah momongan memang masalah serius, mungkin istrimu ada ketakutan sendiri di balik alasannya."


Armand terdiam mendengar itu, dia tidak menyangkal tidak pula menanggapi.


Terjadi keheningan beberapa saat diantara keduanya, hingga dering ponsel milik Rio memecah keheningan itu. Dia berjalan menjauh untuk mengangkat telponnya. Tak lama setelahnya, dia kembali untuk berpamitan.


"Aku pulang dulu. Mommy sudah menunggu dari tadi di rumah. Esok atau lusa kita bisa bertemu lagi."


"Iya, itu gampang bisa diatur," jawab Armand singkat.


"Pikirkan baik-baik ucapanku tadi."


...----------------...


Hallo.... Ada yang kangen Duo R, aku sempilin sedikit buat pengobat rindu.


(Mode lebay on)

__ADS_1


Hayuklah, tingalkan jejak kalian....


Babay


__ADS_2