
Tring-tring-tring....
Tangan Renita meraba sekitarnya untuk mencari asal suara. Setelah mendapatkannya tanpa melihat siapa yang memanggil, dia mengangkatnya begitu saja.
''Hallo,'' jawab Renita dengan suara khas bangun tidur.
''Reni, muka loe kagak kelihatan,'' pekik Reva yang berada di seberang sana.
''Eh.''
Renita baru menyadari, jika itu panggilan video.
''Apa? hoam...,'' tanya Renita dengan mata masih terpejam.
''Astaga, Bu Bos! Iya-iya gue paham loe habis dimakan sama pak bos. Tapi, kagak usah di pamerin juga keles. Ada jomblo ngenes disini,'' sindir Wina.
''Apa? Astaga!'' Renita tak dapat menutupi keterkejutannya. Rasa kantuk yang mendera menguap begitu saja.
Dia segera menutupi bercak-bercak merah yang berada di sekitar leher dan dadanya.
''Isssh, kalian kek nggak ada waktu aja. Orang molor di gangguin. Gue masih capek! Semalam baru nyampek si dia langsung nerkam. Mana berkali-kali mintanya,'' keluh Renita.
''Disini masih jam satu malam, Ren,'' celetuk Reva.
''Hah! jam satu.'' Renita segera melihat jam di ponselnya, ''Jam enam, Reva....''
''Kita beda,'' sahut Reva.
''Beda gimana?''
''Gue kagak di Indonesia, gue udah di bawa terbang ke tempat kerja si anak mami.''
''Kok loe nggak pamitan ke gue,'' balas Renita tidak terima. Dia ingin duduk tapi bagian perutnya terasa berat karena tertimpa tangan kekar suaminya.
''Mas, tanganmu singkirkan dulu. Aku mau duduk,'' pinta Renita.
''Hmmm....''
Bukan menyingkirkan, justru pria itu semakin mengeratkan dekapannya.
''Renita, ada jomblo ngenes. Jangan tunjukkan kemesraan ke dia,'' celetuk Wina.
''Habis ngeselin dianya,'' sungut Renita, ''Nya, sorry ya, gue cuma pakai selimut doang. Jangan pengen loe, kagak punya musuh soalnya.'' Renita malah menggoda si jomblo ngenes.
''Kagak, gue merem. Mata suci gue ternodai gara-gara kalian. Terutama tuh, kakak ipar gak ada akhlak. Tiap mesra-mesraan di depan gue mulu.'' Dania bersuara setelah sedari tadi membungkam mulutnya.
Reva tak bisa meredam tawanya. Hingga, sang suami yang tertidur di sampingnya menggeram kesal.
''Malam, Reva. Lanjutkan besok telponnya.'' Rio menegur istrinya, tubuhnya sangat letih. Karena terlalu lama cuti, pekerjaannya menjadi menumpuk.
''Tinggal tidur aja, nggak usah dengerin kita.''
''Suaramu di kecilkan,'' sahut Rio dengan kesal.
Dia membalikkan tubuh membelakangi si istri dengan menutup kedua telinganya dengan guling.
''Kenapa, Va?'' tanya Renita.
''Biasa, si anak mami protes. Gue terlalu berisik.''
__ADS_1
''Loe udah jebol apa belum, Va?'' tanya Wina tanpa rasa malu.
''Jebol apaan?''
''Jebol gawang, Reva,'' ucap Wina dengan gemasnya.
''Gue nggak pernah main bola,'' jawab Reva masih belum paham, kemana arah pembicaraan sahabatnya.
''Astaga, Gengs. Si Reva lemotnya kumat,'' celetuk Wina lagi.
''Va, loe padahal udah gak sama Doni Dono, kenapa lemotnya dia ngikut ke elu, sih?'' Renita menimpali.
''Masa gitu aja kagak tahu, gue yang belum pernah aja langsung paham,'' sahut Dania tak mau kalah.
Mendengar nama Doni disebut, wajah Reva mendadak sendu. Sampai saat ini dia masih berusaha melupakan pria yang berhasil memikat hatinya. Padahal hampir satu bulan dia menikah.
'Ternyata, waktu satu bulan tidak cukup untuk melupakanmu,' batin Reva.
''Reva, woy! Malah bengong.'' teriak Renita memanggil-manggil sahabatnya.
Sedangkan, Reva masih asik dengan pikirannya sendiri.
''Reva!'' teriak Wina.
''Apa! Gue gak budek gak usah teriak-teriak,'' kesal Reva.
''Loe mikirin apa, sih?'' tanya Dania.
''Pasti mikirin si Doni,'' tebak Wina, matanya memicing tajam kearah sahabatnya.
''Nyebut, Va. Ingat suami! Hempaskan masa lalu,'' ucap Renita untuk menghibur sahabatnya itu.
''Pssst, ada yang dengar. Meskipun merem telinganya tajam ini orang. Bisa berabe gue kalau cemburunya kumat. Mana posisi gue memungkinkan lagi.'' Renita melirik seseorang yang masih terlelap dengan mendekap tubuhnya.
''Langsung diterkam lagi ya, Ren,'' lanjut Dania lagi.
''Win, adik ipar loe paham bener masalah begituan. Kebelet dia, buruan cariin, gih,'' kata Renita.
Reva hanya memperhatikan kehebohan para sahabatnya. Tanpa ada niatan untuk bergabung.
''Gengs, gue ngantuk, bye!'' kata Reva tiba-tiba.
Dia menutup sambungan telponnya begitu saja. Padahal dia duluan yang menelpon para sahabatnya tadi.
Setelah, mendengar nama Doni disebut. Timbul rasa tidak nyaman di hatinya.
Dia memilih membaringkan tubuhnya membelakangi sang suami, lalu memeluk erat guling yang tak terpakai.
'Kenapa susah sekali melupakanmu, Don? Padahal dulu kamu tak pernah menganggapku. Apa sebegitu dalamnya perasaanku terhadapmu?'
Rio memperhatikan punggung wanita yang membelakanginya. Sedari tadi dia belum tidur, lebih tepatnya tidak bisa tidur. Dia termasuk tipe orang yang mudah bangun. Selelah apapun dirinya, sengantuk apapun dia, jika ada yang berisik mengusik tidurnya. Pasti dia akan terbangun.
''Apa ada orang lain yang telah memiliki hatimu, Va?'' Rio mencoba bertanya.
Reva yang terkejut segera membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.
''Aku kira kamu sudah tidur.'' Reva mengalihkan pembicaraan.
''Apa dihatimu sudah ada nama orang lain?'' tanya Rio sekali lagi dengan wajah datarnya.
__ADS_1
Reva menghela nafas, kemudian menunjukkan senyum terbaiknya.
''Lupakan saja.''
''Jawab pertanyaanku dengan jujur!'' paksa Rio.
''Kepo amat, sih. Jadi orang,'' balas Reva nge-gas.
''Aku hanya bertanya tinggal kamu jawab. Apa susahnya?'' ucap Rio dengan meninggikan suaranya.
''Udahlah, gak usah dibahas. Katanya tadi ngantuk. Tinggal tidur aku udah gak teleponan sekarang.'' Reva kembali membelakangi suaminya.
''Aku masih trauma, Va,'' kata Rio dengan nada rendahnya.
Reva hanya diam tak berniat untuk menanggapinya.
''Aku berharap kamu tidak mengecewakanku seperti dia. Aku harap kamu yang menyembuhkan traumaku.''
Rio menghela nafas ketika tak mendapat tanggapan dari wanita itu. Dia mengira istrinya suda terlelap.
...----------------...
Di belahan bumi lain, ketiga wanita masih melanjutkan kehebohannya.
''Reva kenapa, Gengs?'' tanya Renita.
''Tau.'' Dania mengedikkan bahunya, ''Mungkin dia masih baper, Ren. Pas loe nyinggung si Doni.''
''Masa sih?'' Renita belum menyadari kesalahannya.
''Loe nggak sadar, Ren? Reva belum bisa move-on dari Dono,'' kata Wina.
''Segitu cintanya dia ke Doni sampai gak bisa move-on gitu.'' Renita menggelengkan kelapanya. Tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu itu.
''Padahal suaminya udah ganteng maksimal, mirip artis Korea lagi. Gue aja mau kalau di kasih seperti itu,'' lanjutnya lagi.
Dia tak sadar ucapannya telah menyulut api cemburu pria yang menempeli dirinya. Armand meremat keras aset berharga istrinya.
Renita menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya.
''Loe kenapa, Ren?'' tanya Dania yang menyadari raut wajah sahabatnya yang tampak berbeda.
''Gue udahan dulu, kebelet.'' Renita beralasan.
Dia mematikan sambungannya begitu saja. Karena bayi besarnya mulai berulah.
''Mas, kebiasaan ganggu aja,'' protesnya.
''Kamu yang ganggu tidurku,'' jawab Armand dengan suara seraknya.
Dia memulai aksinya, mengulang kegiatan panas mereka di pagi hari.
...----------------...
Maaf ya, jika membingungkan. Semoga kalian pada faham.
Jangan lupa jempolnya, Bestie....
Babay....
__ADS_1