
Renita memandangi dua Laki-laki beda usia di depan nya yang masih terlelap. Armand memeluk posesif Putranya. Marvello juga terlihat begitu nyaman dalam dekapan Ayahnya.
Biasanya Marvello akan bangun beberapa kali di tengah malam. Tapi tidak untuk semalam Dia terlihat begitu nyenyak. Entah karena pengaruh obat atau keberadaan Sang Ayah.
Ada rasa bersalah menelusup dalam hatinya. Apakah Dia terlalu kejam ?? Telah memisahkan Ayah dan Anak itu.
'' Jam berapa sekarang..'' Renita tersentak mendengar suara Armand.
'' Masih jam 6..''
Renita mengecek suhu tubuh anaknya.
'' sudah turun..'' gumamnya.
'' Ren..'' Armand menarik tangan istrinya hingga duduk di pangkuannya.
'' Eh.. '' Renita terkejut dengan tindakan spontan itu. Tangannya otomatis memeluk leher Suaminya.
'' Masih marah ??'' Bisik Armand.
Nafas hangatnya menerpa wajah Wanita itu.
'' Gak..'' Renita memalingkan mukanya.
'' Bener ??'' Goda Arman. '' Gak takut kehilangan Aku ??''.
Renita mengernyit. Ada apa dengan Pria ini ??
'' Nglindur ??''
Armand menahan tawanya. '' Sadar.. Sangat sadar 1000%''
'' Hilih lebay..'' Renita mencebik
Armand mengambil handphone nya dan memutar Video yang dikirimkan padanya semalam.
Mata Renita membelalak mendengar rekaman itu. Itu.. itu.. Percakapannya dengan kedua cs-nya kemarin.
Renita mengumpat dalam hati. Siapa yang melakukan ini.
' Dasar para Cs gak ada akhlak.. kurang kerjaan.. Gue di kibulin..'
Armand mengulum senyum hingga melipat bibirnya. Sungguh lucu melihat wanita ini kesal.
'' Masih nggak mau ngaku Mama..'' bisik Armand menggoda.
'' Gak '' sewot nya.
'' Gak tapi kok tangannya posesif gini di leher Aku..''
Sadar akan hal itu. Renita segera menjauh kan tangannya.
Dia segera berdiri menjauh keluar kamar.
'' Ren kok malah pergi..'' Armand mengekori Renita menuju dapur.
Dilihatnya Renita tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Hanya menu sederhana. Nasi goreng plus telur ceplok. Tapi terlihat begitu menggoda di mata Armand.
'' Hemmm enak nih..''
Renita menggeplak tangan Arman.
__ADS_1
'' Belum sikat gigi juga.. Maen comot aja..''
Armand menurut. Dia bergegas ke kamar mandi untuk sikat gigi sekalian cuci muka.
'' Mau teh apa kopi..??''
'' Kopi pahit aja.. Karena manisnya udah di kamu ''.
Renita bergidik mendengar gombalan receh Armand. Kemasukan setan dari mana Orang ini ? Pikirnya.
Armand memeluk Istrinya dari belakang. Menciumi ceruk leher wanita itu dalam-dalam. Renita menggeliat kegelian. Ada sensasi aneh mengalir dalam darahnya.
'' Issshh.. Gak banget mesra-mesraan kok depan kompor ''. Kata Renita.
Memang posisi keduanya saat ini berada di depan kompor karena Renita tengah merebus air untuk menyeduh kopi.
'' Lha maunya di mana ?? Di kamar.. Ayoo ada yang kosong satu itu.. Mumpung Marvello masih tidur..'' Armand menaik turun kan alisnya.
'' Nggak usah macem-macem.. nih kopinya di minum..''
'' Makasih sayang..'' Armand mencium pipi Renita.
Renita semakin bergidik ngeri melihat sikap Armand.
...----------------...
'' Ren mau ya.. Pulang ke rumah ?'' Armand memohon. Kini mereka tengah menikmati sarapan.
Renita hanya melirik sekilas dan melanjutkan makannya kembali.
'' Sayang kalo di biarkan kosong lama-lama. Nanti di huni setan.. Emang kamu gak takut ?''
Armand melotot mendengarnya, '' Apa maksudmu ''.
'' Ya kan kamu setannya ?''
Armand menghela nafas.
'' Gimana mau ya.. Gak usah ngalihin pembicaraan..''
Renita berfikir sejenak hingga akhirnya mengangguk mengiyakan.
'' YESSSS..'' Teriak Armand
'' Ooeeeeekk..''
Renita melotot pada suaminya. Sedang Armand mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
...----------------...
Armand mengajak Anaknya jalan-jalan di luar sekalian berjemur. Demam nya sudah turun.
Kini bayi setengah mbull itu sudah kembali ceria.
Sedang Renita sedang membereskan semua barang nya. Termasuk laptop yang sempat di tinggal. Dia bawa serta.
Lumayan bisa buat hiburan di rumah nanti.
Dari dalam kamar Renita mendengar tawa lepas Putra nya bersama Sang Ayah. Mengintip dari jendela kamar. Terlihat Armand sedang menggosok-gosokkan dagu yang di tumbuhi bulu-bulu halus ke pipi Marvello.
Renita tersenyum. Mungkin ini keputusan yang tepat.
__ADS_1
Kembali bersama Armand. Memperbaiki semuanya. Demi Sang Anak.
Dia juga tidak ingin Marvello kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Renita kembali melanjutkan kegiatannya. Semua sudah tertata rapi. Kunci rumah ini juga akan Dia kembalikan pada pemiliknya.
'' Pulang sekarang apa nanti ?''
Renita keluar menenteng satu tas besar berisi pakaian. Juga Ransel berisi sisa barangnya di rumah ini.
'' Sekarang...''
Marvello langsung menggerakkan tangannya ke arah Ibunya. Meletakkan tas yang dia bawa. Renita langsung meraih putranya.
'' Seneng ya maen sama Papa..'' Renita menciumi pipi tembem bayi itu.
Marvello tertawa kegirangan. Terdengar ocehan tak jelas dari mulut mungilnya. Tak lupa kesenangan nya yang bermain air liur. Sampai belepotan kemana-mana.
'' Iihhh dek.. kebiasaan deh.. bedak nya hilang kan gara-gara semburan maut mu..'' Gerutunya sambil mengelap pipi dan bibir mungil itu.
'' Kalo anaknya semburan maut.. kalo Ibu nya lirikan maut..'' Celetuk Armand yang sedang menutup bagasi mobil.
Renita langsung mengerucutkan bibirnya.
'' Udah nggak usah ngambek.. bercanda.. Yuk masuk..'' Armand membukakan pintu mobil untuk Istrinya.
Mobil perlahan meninggalkan Pelataran kontrakan Renita. Membelah jalanan kota menuju rumahnya.
Marvello tampak tenang duduk di pangkuan Ibunya dengan menggigit mainan berbentuk jari di tangannya.
Tapi lama kelamaan Bayi setengah mbull itu mulai merengek. Renita yang tanggap segera memberinya ASI.
Armand melirik ke arah putranya yang rakus melahap sumber kehidupannya itu. Entah kenapa jakunnya ikut naik turun. Seolah menginginkan juga.
'' Jadi pengen..'' gumamnya.
'' Apa..??'' Renita menoleh ke arah suaminya.
'' Nggak cuma iri aja sama Dia..'' Armand kembali fokus kemudi nya.
'' Iri kenapa..??'' Otaknya masih me loading.
'' Itu punyaku..??''
Renita membelalak, memukul keras lengan suaminya, '' Auuuhh sss hhh.. Panas Ren..''
'' Bisa-bisanya mesum di tengah jalan...'' sungut Renita.
Marvello melepas sumber kehidupannya dan menatap lekat kedua orang tuanya. Tak lama Dia kembali melahap benda itu.
'' Yahhh.. Di lahap lagi.. Nanti giliran Papa ya nak...''
'' Udah fokus sama jalan. Awas nyusruk..'' Kata Renita sewot.
'' Iya.. Tapi nanti giliran ku ya...'' Armand menaik turunkan alisnya.
'' Tau ah....''
Renita menutup telinga putra nya agar tidak mendengar kemesuman Bapaknya.
Sedang Marvello sudah terpejam dengan tetap menikmati sumber nutrisi nya.
__ADS_1