
''Kamu jahat, Mas. Aku benci sama kamu.''
Bugh-bugh-bugh.....
''Aduh, ampun, Ren.''
Karena tak siap untuk menghindar, Armand hanya bisa mengaduh kesakitan.
Plakkk
Renita mengakhiri serangannya dengan pukulan keras pada lengan kekar berkeringat itu.
''Aww! Panas, Ren.''
''Bodo amat,'' sahut Renita.
Nafasnya kembang kempis, sebab emosi yang masih menyelimuti. Tatapan tajam ia hujamkan kepada pria di depannya.
''Kamu jahat!''
Armand mematikan puntung rokok di tangannya. Niat hati ingin memeluk wanitanya, tapi yang dipeluk langsung menghempaskan kasar tangan itu.
''Gak usah pegang-pegang,'' ucap Renita dengan kesewotannya
''Judesnya, istri siapa, sih?'' goda Armand.
Dia menyentil pelan bibir bimoli itu.
''Dibilangin, gak usah pegang-pegang. Masih aja.''
''Wow, pemandangan yang sungguh indah,'' kata Armand.
Renita baru sadar, jika selimut yang menutupi tubuhnya melorot ke bawah. Sehingga, terpampanglah bagian tubuh yang seharusnya tidak dilihat oleh suaminya.
''Itu mata di jaga.'' Renita menutup kesal mata suaminya.
Dia segera membenahi posisi selimutnya. Jika tidak, bisa di pastikan dia akan mendapat serangan lanjutan dari pria itu.
''Udah! Aku mau ke kamar mandi.''
__ADS_1
Sepertinya, wanita itu masih enggan beramah tamah dengan sang suami. Terlihat dari nada bicara dan raut wajahya.
Armand hanya bisa mengalah, membiarkan istrinya melakukan yang dia inginkan.
''Aww! ssshh....'' Renita merintih saat baru menapakkan kakinya di lantai.
Inti tubuhnya terasa sangat ngilu. Suaminya melakukan itu berkali-kali dan lumayan kasar.
''Mau aku gendong?'' Armand menawarkan diri.
''Gak usah! Aku bisa sendiri,'' sewot Renita.
Meski tertatih-tatih dengan berjalan sepelan mungkin, Renita tetap memaksakan kehendaknya. Tangannya meraih apapun yang bisa dia jadikan pegangan.
''Arrgghh!'' pekik Renita terkejut ketika Armand mengangkat tubuhnya secara tiba-tiba.
''Mas, turunkan aku! Aku bisa sendiri,'' teriaknya.
Renita terus memukuli punggung kekar itu. Bahkan, kakinya pun tak bisa diam.
Tapi Armand tak memedulikan itu semua. Dia terus membopong tubuh sang istri hingga sampai ke kamar mandi.
''Aku bisa sendiri.''
''Tidak ada penolakan!'' tegas Armand.
''Tidak ada bantahan!'' balas Renita, ''sudah sana keluar. Aku bisa sendiri.''
Renita mendorong tubuh suaminya. Tapi, Armand tak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Pria itu malah menyilangkan tangannya di depan sang istri.
''Pergi,'' usir Renita.
''Masih marah juga?'' tanya Armand.
Renita memilih menutup rapat mulutnya. Jujur, dia masih kesal dengan pria ini.
''Maafkan aku.'' Armand berlutut di hadapan sang istri dengan menggenggam lembut tangannya.
Renita memalingkan muka enggan menatap wajah itu.
__ADS_1
''Tatap aku.'' Armand memegang lembut pipi istrinya, lalu mengarahkan kepadanya.
Renita berkaca-kaca. Bisa dipastikan, air matanya akan luluh, jika dia berkedip satu kali saja.
''Maki aku, hina aku. Pukul aku sampai kamu puas. Tapi, aku mohon, jangan pernah berfikiran untuk meninggalkan aku lagi,'' pinta Armand dengan wajah memelas.
Jujur, hatinya sakit melihat air mata itu. Dia tidak ingin wanita ini meneteskan air matanya lagi.
Kristal bening yang sedari tadi sudah terbendung, akhirnya luluh juga. Renita menangis dalam diam di depan suaminya.
''Sudah, jangan menangis lagi!'' kata Armand mengusap lembut pipi Renita.
''Aku bantu bersihkan, ya.''
Renita mengangguk.
Armand menyingkap selimut yang membalut tubuh mungil itu. Dia mulai membersihkan darah kering ada di sekitar pah* hingga pangkalnya.
''Ini pasti sakit, 'kan?''
Renita mengangguk. Terkadang, desisan pelan keluar dari mulutnya saat merasakan perih di area bawahnya.
''Apa terlalu kasar? Sampai lecet seperti ini,'' tanya Armand.
Sesekali dia mendongak menatap wajah istrinya.
Lagi-lagi, hanya anggukan sebagian balasan dari wanita itu.
''Di mana Renita ku yang selalu cerewet? Kenapaa mendadak jadi pendiam seperti ini?''
''Lebih baik diam seperti ini, daripada membuat kepala pusing,'' jawab Renita datar.
''Aku rindu suara bawelnya,'' sahut Armand pelan.
''Selesai, kamu mandi dulu. Nanti kalau sudah selesai panggil aku lagi,'' ucap Armand sebelum beranjak keluar.
...----------------...
Udah segini dulu, udah mentok. Besok lagi, ya.... Nanti malam mau nyari wangsit dulu....
__ADS_1
Babay...