My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Rencana Perjodohan


__ADS_3

''Kau tenang saja, Ar. Masalah bujuk membujuk biar menjadi urusan tante,'' kata wanita di seberang sana.


"Makasih, lho, tan. Sudah mau membantu rencanaku," ucap Armand penuh kesopanan.


''Mestinya yang berterima kasih itu kami, bukan kamu. Kau mau repot-repot mikirin jodoh untuk Rio. Kau tenang saja, Akhir pekan besok 'kan?'' tanya mama Rio.


''Iya, Tan. Tapi sekali lagi, saya tegaskan! Jika gadis itu, hanya dari kalangan biasa. Apa tante tak keberatan?''.


''Ooo, tentu tidak. Mau dari kalangan manapun, bagi tante yang terpenting dia bisa menerima dan membahagiakan putra tante, itu sudah cukup. Percuma dari kalangan atas, jika bisanya cuma nyakitin anak tante,'' sergah mama Rio. Terselip kegeraman dalam nada bicaranya.


''Ya sudah, kalau begitu. Sekali lagi terimakasih ya, Tan. Mau membantu."


''Iya sama-sama, bye....''


Armand menyeringai senang setelah panggilannya berakhir.


...----------------...


''Hallo, Yo.'' Armand menelpon sahabatnya.


''hmmmm''


''Akhir pekan besok, ada acara tidak ? Aku mau mengajakmu jalan-jalan ke kota S, sekalian jenguk kerabat istriku disana. Kapan lagi kita bisa keluar sama-sama seperti dulu?mumpung kau belum balik ke LN,'' bujuk Armand


''Aku lihat jadwalku dulu,'' sahut Rio sekenanya


''Kapan lagi, Yo? Mumpung kau masih disini. Ayolah, kalau kau sudah kembali ke tempat asalmu, kita tidak akan bisa keluar bareng seperti dulu.'' tak patah arang, Armand terus membujuk sahabatnya.


''Luangkanlah waktumu sehari saja! Kau tak'kan jatuh miskin. Meskipun, kau bolos kerja seminggu,'' lanjutnya lagi.


Di seberang sana, Rio tampak berfikir. Ada benarnya juga kata Armand. Terlebih, pria itu teringat wejangan ibunya untuk mengekspor tempat-tempat disini, untuk menyegarkan pikiran


''Baiklah,'' putus Rio pada akhirnya.


Senyum merekah tersungging di bibir Armand. Batinnya bersorak senang, 'Rencana membujuk Rio berhasil.'


''Oke, kita berangkat sabtu pagi. Ku jemput di apartemenmu,'' ujar Armand dengan antusias.

__ADS_1


"hmmm"


''Gimana, Mas?'' tanya Renita setelah panggilan suaminya berakhir.


''Berhasil, tinggal ke rencana ke dua. Reva jadi urusanmu.''


''Kamu yakin ini akan berhasil?'' tanya Renita.


''Selalu yakin!'' jawab Armand penuh semangat.


''Nanti kalau mereka marah, bagaimana?''


''Aduh, Ren, kamu ngak usah banyak tanya. Kamu tinggal kondisikan si Reva terutama kedua orang tuanya,'' keluh Armand frustasi.


Dia frustasi bukan karena rencananya. Melainkan, istrinya yang selalu banyak tanya dengan segala keraguannya.


''Berarti, yang harus aku hubungi orang tuanya Reva, dong?''


''Iya, Renita sayang,'' ujar Armand dengan gemasnya.


'hemm.. Salah lagi, dasar banteng betina maunya selalu benar,' batin Armand.


...----------------...


''Hallo, Bun,'' sapa Renita ketika sambungan teleponnya terhubung.


"Renita?" tanya Bunda memastikan.


''Iya, Bun. Bagaimana keadaan Ayah?'' tanya Renita basa-basi.


''Alhamdulillah, sudah baikan. Tinggal menunggu masa pemulihan baru boleh pulang. Tensi darahnya masih tinggi,'' jawab Bunda dengan suara khasnya lemah lembut.


''Bun, di situ ada Reva nggak?''


''Nggak ada, Ren. Dia baru keluar, mau cari makan katanya. Kenapa? mau bicara penting sama Reva,'' tanya Bunda.


''Emmm, begini Bun. Gimana ya, Reni bingung ngomongnya.'' Renita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


''Ada apa, Ren? Kalau ada yang penting biar bunda panggilkan Reva," saran Bunda.


''eh, Jangan-jangan, Bun. Kalau bisa Reva jangan sampai tahu hal ini,'' sergah Renita cepat.


Bunda mengernyit bingung, begitupun Ayah Reva yang juga ada disana.


''Begini, Bun. Sebenarnya, Reva sudah punya pacar disini. Pacarnya Reva, mau kasih kejutan dengan kedatangannya. Selama ini, mereka pacaran jarak jauh gitu, Bun. Karena pacarnya Reva kerja di LN, sekalian ingin jenguk Ayah,'' tutur Renita.


Wanita itu, melirik kesal suaminya yang setia menguping pembicaraan mereka. Sedang yang di lirik tersenyum puas.


''Ya ampun, Alhamdulillah, anak kita akhirnya punya pacar, Yah seorang TKI,'' ucap Bunda memberitahu suaminya dengan nada gembira. Ayah Reva juga mengucap penuh syukur mendengar kabar ini


Renita hanya bisa meringis mendengar suara bahagia Bunda. Gara-gara suami Kompeni nya, dia harus bohong pada orang tua. Armand sendiri mati-matian menahan tawanya mendengar sangkaan orang tua Reva, jika sahabatnya di bilang TKI. Padahal dia seorangpun bos besar disana.


''Hallo, Ren, masih dengar Bunda 'kan?''


''I-iya, Bun,'' jawab renita dengan gugup.


''Besok jam berapa kesininya? Sama kamu 'kan?'' tanya bunda penuh antusias.


''Iya, Bun, sama suami Reni juga. Kami berangkat pagi dari sini, Bun. Mungkin sampai disana agak siangan,'' kata Renita.


''Kamu tenang saja, kejutan kalian akan berhasil,'' ucap Bunda meyakinkan.


''Te-terimakasih ya, Bun.''


''Sama-sama. Hati-hati buat besok,'' pesan Bunda sebelum mengakhiri panggilannya.


''Pokoknya dosanya kamu yang tanggung ya, Mas. Gara-gara kamu aku jadi bohongin orang tua,'' kesal Renita, ''Aku nggak mau tahu, ini harus berhasil! Aku nggak mau malu, titik!''


''Iya-iya, terimakasih, ya, Sayangku. Sudah mau bantu rencanaku." rayu Armand.


Kalau sudah ngambek begini, banteng betinanya harus di rayu-rayu biar tidak tambah parah.


''Besok aku akan menjelaskan, sejelas-jelasnya ke orang tua Reva.'' Armand memberi pengertian kepada istrinya.


''Terserah!"

__ADS_1


__ADS_2