My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Acara Duo 'R'


__ADS_3

Suasana di kediaman orang tua Reva tampak ramai. Para tetangga berkumpul untuk membantu persiapan acara. Tenda sederhana terpasang di depan rumah sebagai ciri khas si tuan rumah sedang mempunyai hajatan di kampung. Sound system sederhana juga sudah berbunyi memekakkan telinga. Hingga, terdengar sampai lingkungan RT sebelah tempat tinggal mereka.


Di dalam tenda, tampak petugas Kantor Urusan Agama sudah standby di sana, yang akan menghalalkan ikatan sepasang anak manusia. Yang mana, setiap perbuatan mereka bisa di jadikan ladang pahala bagi keduanya.


Dihadapan Ayah Reva, seorang pemuda tampan dan berkharisma, tampak gagah dengan setelan jasnya sedang menanti kehadiran mempelai wanitanya. Songkok hitam yang bertengger di kepalanya menambah nilai plus tersendiri, bagi para hawa yang melihatnya.


Rio tak dapat menutupi kegugupannya, tangannya sudah berkeringat dingin. Kakinya juga tak enak diam, bergerak-gerak tak jelas di bawah meja.


''Diam, Yo. Meski gugup, jangan di tunjukkan,'' bisik Armand yang sengaja mendekatinya.


''Aku nggak tahu, kenapa bisa gugup seperti ini? Lebih baik aku berhadapan dengan para bos besar daripada dengannya,'' balas Rio tak kalah berbisik tapi matanya melirik ke arah Ayah Reva.


Armand hanya mengulum senyumnya. 'semoga ini menjadi pernikahan pertama dan terakhirmu, Yo,' batinnya.


''Armand,'' panggil Amalia.


Armand yang merasa terpanggil pun menoleh. Dilihatnya sang mama melotot ke arahnya. Memberi isyarat agar dia kembali ke tempat duduknya.


Armand menyempatkan menepuk pundak sahabatnya dan memberi semangat agar tidak gugup lagi.


''Kamu ngapain, sih, Mas? Pakai kesana segala. Kurang kerjaan banget,'' tegur Renita saat suaminya sudah kembali duduk di sampingnya.


''Aku cuma memperingatkan dia supaya tidak gugup. Gugupnya nanti saja, pas malam pertama,'' kelakar pria satu anak itu.


Renita mencubit gemas perut bagian samping milik. Kenapa selalu urusan kasur yang ada di otak pria ini? Ibu satu anak itu menatap sebal suaminya.


''Awsss, Ren. Tanganmu mirip kepiting aja. Sedari pagi nyubitin aku terus.'' Armand mengusap perutnya yang terasa panas.


''Masih untung perut bukan 'anu' mu yang aku cubit,'' sewot Renita.


''Mau dong,'' jawab Armand dengan mengerling nakal ke arah istrinya.


''Armand, Reni,'' panggil Ibu Ratu dengan nada penuh peringatan.


''Maaf, Ma. Anak mama mesum nggak lihat tempat,'' cengir Renita dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


''Nggak.....''


''Diam!''


Sepasang sejoli itu langsung diam, mengunci mulutnya rapat-rapat. Takut petuah panjang lebarnya kembali terdengar.


...----------------...


Reva masuk dengan diapit Bunda dan Marina. Kemudian di dudukkan di samping calon imamnya. Rio sendiri sempat terpana melihat calon istrinya tampak berbeda dari biasanya. Tapi dia segera menyadarkan dirinya, malu jika sampai ketahuan.

__ADS_1


Prosesi ijab kabul pun dimulai, Ayah Reva menjabat tangan Rio. Kemudian mengangkatnya tegas di susul suara lantang Rio hanya dengan sekali tarikan nafas. Setelahnya, terdengar kata 'sah' menggema di dalam tenda itu.


Semua orang menghela nafas lega. Kedua orang tua Reva pun merasakan hal yang sama. Ketakutannya selama ini tidaklah terbukti. Mereka takut anak gadis satu-satunya tidak laku karena di usia yang menginjak dua puluh lima tahun belum pernah sekalipun dekat laki-laki.


Marina menyusut air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Dia berhasil mempertemukan putra tunggalnya dengan wanita yang tepat. Seandainya, suaminya masih hidup pastilah dia juga berbahagia menyaksikan pernikahan putra mereka.


'Putra kita telah bertemu wanita yang tepat, Pi. Sesuai keinginan Papi,' batinnya mengharu.


Tak terkecuali sepasang pengantin baru. Reva sempat menitikkan air matanya, entah bahagia ataukah sedih. Yang jelas hidupnya sekarang tak sebebas dulu. Kemanapun dia pergi, haruslah seizin suaminya.


Rio sendiri merasakan hal yang sama. Seolah batu besar yang sedari tadi menghimpit, terangkat dari pundaknya. Dia meraih jemari tangan Reva, di pasangkan cincin di jari manisnya. Di susul Reva yang melakukan hal yang sama. Lalu mengecup punggung tangan sang suami. Di balas kecupan lama di keningnya oleh Rio.


''Kapan aku punya pasangan seperti mereka,'' gumam Dania dengan tangan masih setia merekam acara itu.


Dia sedang melakukan live streaming di sosial media miliknya. Guna memenuhi permintaan teman-temanya dikantor.


Dania membayangkan, bagaiamana rasanya berada di posisi itu. Bohong, jika dia tidak iri melihat teman-temannya sudah memiliki pasangan. Dania pun juga ingin seperti mereka


''Nanti, jika ada laki-laki yang tepat,'' jawab David cepat.


''Ck, tajem bener telinganya.'' Dania berdecak kesal.


Gadis muda itu, melirik kesel sang kakak yang seolah sedang memamerkan kemesraannya di hadapan dirinya.


'Ck tidak disini tidak di rumah. Selalu seperti itu, pamer,''


'Gue sadar, gue jomblo. Tapi, ya nggak gini juga kali. Pamer kemesraan depan umum terutama jomblo ngenes seperti gue,' batinnya dengan menahan kesal.


...----------------...


''Mereka so sweet 'kan, Mas? Jadi pengen,'' rengek Renita dengan manjanya. Dia mengamit lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar itu.


''Gitu aja, aku juga bisa.'' Armand mencebikkan bibirnya.


''Lalu, kenapa dulu kamu nggak ngelakuin itu ke aku?'' protes Renita tidak terima.


''Astaga, Ren. Masalah kecil seperti itu saja kamu permasalahkan? Setiap hari juga aku sudah melakukan yang lebih dari itu.''


Armand menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.


''Tapi 'kan rasanya beda,'' cicit Renita.


''Beda bagaimana? Orang kamu juga menikmatinya kok,'' jawab Armand nge-ngas.


Keduanya tidak sadar, jika perdebatan nyeleneh mereka di dengar jelas oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya. Mereka yang mendengar itu, hanya bisa geleng-geleng sendiri.

__ADS_1


''Ssstt, Pak Bos, Bu Bos. Kalian sadar nggak, sih? Suara kalian berdua melebihi toa masjid, terdengar kemana-mana,'' tegur Wina dengan memelankan suaranya.


Di sampingnya, ada David yang setia merengkuh pinggang sang istri. Dengan tangan satunya mengusap lembut perut buncit yang berisi calon buah hatinya.


''Iri bilang bos,'' sahut Renita.


''Idih, sorry ya. Gue ngiri sama loe? Punya gue aja nggak kalah kek punya loe, Ren." Wina membanggakan suaminya.


''Lihat, nih. Langsung jadi sebulan kemudian.'' Wina menujuk perut buncitnya.


''Heh, Wina! Punya gue juga hebat keles. Sekali tembak langsung jadi.'' Agaknya, ibu satu anak itu tak mau kalah.


''Noh, buktinya yang molor di pangkuan mertua gue." Renita menunjuk si anak dengan dagunya.


''Ren, sudah.'' Armand memperingatkan istrinya. Saat netranya melirik,'''' Mamanya sudah memeberikan tatapan tajamnya ke arah mereka.


''Ssssttt, Sayang, sudah! Malu di dengar orang,'' bisik David pada istrinya.


Dia sudah menahan malu, semenjak istrinya mengeluarkan kalimat frontalnya tadi.


''Apa, sih, Mas. Orang si Reni yang mulai,'' sahut Wina tidak terima.


''Biarin,'' balas Renita cuek, ''Situ duluan yang bangga-banggain punya situ.''


''Astaga....'' keluh Armand frustasi.


Ini tidak akan selesai, jika keduanya masih tidak ada yang mau mengalah.


''Renita!''


''I-iya, M-ma.'' Renita kikuk sendiri mendengar peringatan dari mama mertuanya.


''Diam!''


''Ba-baik, Ma.''


...----------------...


Terimakasih, buat kalian yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Sebenarnya, part ini sudah aku ketik dari kemarin malam. Cuma pas mau di up, apalah daya. Gigi nyut-nyutan, siang tadi juga susi alias super sibuk. Jadi, baru bisa di up malam ini.


Jangan lupa dukungannya ya. Jempol tinggal tekan, GRATIS.


VOTE & HADIAHNYA seikhlasnya saja.


Tapi, minta kopinya dong. Untuk menemani begadang malam ini. Nanti kalau di otak lancar, aku mau up lagi.

__ADS_1


Oh, ya satu lagi. Follow my akun di apliaksi ini ya...


Babay...


__ADS_2