My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Dia....


__ADS_3

"Kita harus bicara." Armand menarik paksa tangan sang istri yang baru keluar dari kamar putranya.


''Lepas, gak usah tarik-tarik!" Renita mencoba menarik tangannya namun Armand justru mengeratkan genggamannya.


''Masalah ini tidak akan selesai kalau kamu terus menghindar dari aku. Harus berapa kali aku bilang, kamu salah paham, Renita."


''Salah paham, bagaimana? Jelas-jelas wanita itu menarik tanganmu masuk ke ruangan dokter kandungan. Kamu kira mataku ini gak normal, mataku buram, begitu?" ucapnya dengan nada tinggi


''Aku bukan wanita bodoh, Mas." Genangan air tampak menumpuk di kedua pelupuk matanya.


''Oke, aku paham. Kamu sangat menginginkan keturunan lagi. Dan aku sadar diri kalau aku gak bisa hamil, meski pemeriksaan menunjukkan baik-baik saja. Seandainya, kamu mau mengatakannya secara baik-baik, Gak sembunyi-sembunyi seperti ini. Mungkin, aku akan menerima walaupun sakit. Tapi itu lebih baik daripada aku tahu dia sudah hamil besar." Air mata mengalir deras ke pipi mulusnya tanpa bisa dicegah.


Dia meremas kuat baju bagian depannya, berharap itu akan mengurangi rasa perih yang teramat dalam hatinya. Beberapa hari belakangan, memang Renita berusaha untuk tegar. Tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di hadapan sang suami dengan cara menghindar. Akan tetapi malam ini, benteng pertahanan yang susah payah ia bangun, runtuh tak bersisa. Dalam keheningan malam itu, hanya terdengar isakan Renita.


Ingin rasanya, Armand merengkuh punggung yang bergetar itu, namun Renita segera mmenjauh untuk menghindar.


''Jangan mendekat!"


"Ren ..." Tak menghiraukan penolakan wanita itu, Armand masih berusaha mendekati sang istri.


''Jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu," teriaknya dengan air mata berderai.


''Lebih baik, sekarang kamu urus simpananmu itu. Sebentar lagi, dia yang akan mewujudkan keinginanmu, 'kan? Gak usah peduliin aku sama Vello."


''Ren, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Armand menjambak rambutnya frustasi.


Entah kenapa begitu sulit bicara dengan wanita keras kepala ini.


''Aku gak peduli penjelasanmu, Mas. Aku tidak akan percaya ucapan dari mulut seorang pengkhianat."


Renita melangkah memasuki rumah mmeningggalkan sang suami yang mengeram kesal.


''Dia bukan seperti yang kamu kira. Dia itu—"


''Arrrghh!"


Pria itu berteriak kesal. Lagi dan lagi usahanya terganggu dengan deringan telpon sialan dari saku celananya.


''Hallo!" bentak Armand.

__ADS_1


''Mama punya salah apa sama kamu, tiba-tiba kamu bentak mama. Mama cuma telpon anak mama, apa itu salah, Armand!" Amalia balik membentak putranya.


''Astaga ... Maaf, Ma," desahnya frustasi karena tidak melihat terlebih dulu identitas si penelepon.


''Ada apa, Ma?" tanyanya dengan nada lirih.


''Sepupumu datang ke rumah tadi sore sama Robert. Besok pagi, rencananya mau mengajak dia ke rumah kamu biar kenal sama istrimu. Bilangin Renita, jangan kemana-mana. Sudah itu aja, mama gak ganggu kamu lagi."


''Tapi, Ma—"


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, sambungan telpon diputus sepihak oleh Amalia.


''Terserahlah!"


 


...----------------...


''Semalam mama telpon, keponakan papa yang tinggal di luar negeri datang. Mama mau ajak dia kesini, tidak usah kemana-mana."


''Hemm...."


''Dasar kancil," batin Armand saat mengingat peristiwa semalam.


"Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini?''


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut istrinya. Wanita itu justru asik menikmati sarapannya seolah-olah suara Armand hanya angin lalu. Wanita itu mendadak menjadi pendiam, padahal biasanya bibir tipisnya tak berhenti berceloteh.


''Terserahlah, Ren. Yang penting aku sudah berusaha untuk menjelaskan semuanya." Armand memilih menyudahi sarapannya sebab tak ingin menimbulkan keributan di pagi hari.


''Karena kamu sudah menyakitiku, maka jangan salahkan aku jika aku membalas perbuatanmu."


Armand mengepalkan tangan ketika mendengar interupsi dari sang istri.


''Apa maksudmu?" tanya Armand menahan geram.


''Aku juga bisa mencari pria idaman lain," jawab Renita dengan santainya.


''Jangan macam-macam, Renita!" hardik Armand.

__ADS_1


''Seharusnya, aku yang bilang seperti itu ke kamu."


Dengan berani, dia menatap mata tajam suaminya yang telah diselimuti kabut hitam. Dia tidak menyadari jika lava pijar dalam diri suaminya sudah berada di puncak yang siap keluar kapan saja.


"Jangan memancing emosiku, Renita," geram Armand.


Karena malas meladeni pria di belakangnya, Renita memilih beranjak tanpa menghabiskan sarapannya. Selera makannya mendadak hilang karena ulah sana suami.


_________


Renita mempertajam pendengarannya saat mendengar lengkingan keras dari bibir kecil putranya. Suara itu berasal dari taman belakang tempat biasanya Marvello bermain di luar. Karena biasanya jika bersama pembantu Vello tidak seceria itu.


"Onty, lempal bolanya...."


"Cekayang, ganti Eyo lempal, onty tangkap."


Suara itu terdengar jelas di telinga Renita. Dia masih menerka-nerka, siapa yang sedang bersama putranya.


"Onty, siapa yang dipanggil aunty sama Vello? Apa mungkin Amanda? tapi kalau dia kok aku gak dengar suara anak kecil lain."


"Ren, lagi apa kamu?"


Renita sedikit terjingkat ketika mendengar suara ibu mertuanya dari arah belakang.


"Eh, mama. Sudah lama, Ma?"


"Baru saja. Yuk, ikut mama. Ada yang ingin mama kenalkan sama kamu," ajak Amalia dengan menarik pelan tangan menantunya.


"Siapa, Ma?" tanya Renita dengan kening berkerut.


"Sudah ikut aja, nanti kamu juga tau."


Renita mematung di tempat ketika melihat siluet seorang wanita yang tengah membelakanginya. Wanita berambut panjang berperut buncit tengah tertawa riang bersama putranya.


"Ma ... Dia, 'kan—"


"Loh, kamu sudah kenal sama dia. Bagus kalau begitu, pasti Armand sudah cerita. Dia anak bungsu dari adik laki-laki papa yang menetap di LN."


"HAH!"

__ADS_1


__ADS_2