My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kamu Salah Paham, Ren!


__ADS_3

"Ren, aku mau bicara sama kamu...."


"Vello, hati-hati ya, Sayang." Renita berteriak memperingati putranya.


''Ren," panggil Armand dengan wajah memelas, namun wanita itu tetap tak menghiraukan.


Helaan nafas kasar terdengar dari mulut ayah satu anak itu. Ini adalah percobaan kesekian dari Armand tetapi selalu mendapat respon yang sama, diabaikan. Renita sibuk dengan dunianya sendiri.


Pada saat, Armand berniat langsung menjelaskan tiba-tiba ponselnya berdering. Sehingga mau tidak mau, dia harus mengangkatnya.


''Hallo...."


''Mas, kamu di mana?" tanya seorang wanita di seberang sana.


Renita yang mendengar itupun hanya bisa mengepalkan tangannya kuat.


''Bisa-bisanya dia teleponan sama simpanannya saat ada aku," batinnya menahan geram.


''Lagi di Mall pusat kota, sama istri dan anakku."


Renita berdecih mendengar pengakuan suaminya. Dia memilih memalingkan muka ke arah lain muak rasanya berhadapan dengan pria ini.


''Aku kesana ya, Mas. Sekalian, aku pengen mengenal istrinya Mas Armand," ucap wanita itu dengan antusias.


''Jangan macam-macam kamu," sela Armand cepat, "kesalahpahaman kita belum selesai. Kedatanganmu malah bikin runyam," sewotnya.


''Lah, maka dari itu. Aku bantu meluruskan...."


''Aku bisa sendiri."


''Bisa sendiri kok sampai berhari-hari gak kelar," dumelnya di seberang sana.


Renita yang merasa panas mendengar semua itu memilih beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan sang suami yang masih asik bercakap dengan madunya.


''Ren, mau kemana?" tanya Armand setengah berteriak dengan ponsel masih menempel di telinga.


Renita hanya menoleh sekilas, kemudian melengos begitu saja tanpa menjawab pertanyaan pria itu.


...----------------...


Renita berkeliling mengitari pusat perbelanjaan. Dia butuh pengalihan dari panas hati dan otaknya. Dia melangkahkan kaki memasuki supermarket, kebetulan kebutuhan pribadinya dan putranya memang sudah habis.


Renita menyusuri stand demi stand dengan mendorong trolli. Matanya awas mencari barang yang dicari, sesekali berhenti untuk mengambil barang tersebut, kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


Pada saat Renita sedang mencari susu untuk Marvello, tanpa sengaja telinganya mendengar perdebatan seorang wanita berperut buncit dengan seorang pria. Awalnya, dia mengabaikan karena merasa itu bukan urusannya. Namun, ketika dia melihat dengan jelas siapa wanita itu. Renita memilih mundur beberapa langkah untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.


''Itu, 'kan wanita yang bersama Mas Armand di rumah sakit waktu itu," gumamnya dengan mata memicing.


''Siapa pria yang bersamanya?"

__ADS_1


''Kok manggil sayang segala. Apa mungkin wanita itu punya pria idaman lain?"


''Jangan-jangan—"


Renita membekap mulutnya tidak percaya dengan praduganya sendiri.


''Mungkinkah ini karmamu, Mas? Kau berselingkuh di belakangku, dia berselingkuh di belakangmu. Jangan-Jangan anak dalam kandungannya juga bukan anakmu, melainkan anak pria itu." Renita masih sibuk dengan asumsinya sendiri.


Dia segera menyelesaikan acara belanjanya, kemudian mulai membuntuti wanita itu. Entah kenapa, dia sangat penasaran apa yang mereka bicarakan.


Ternyata, kedua orang itu hendak membayar di kasir. Tanpa berfikir panjang, Renita segera mengantri tepat di belakang wanita itu.


''Sudah semua? Tidak ada yang terlewat, 'kan?" tanya pria bule yang bersama wanita hamil itu.


''Yes, Honey. Semua sudah lengkap," jawab wanita itu.


''Good, jangan sampai my baby in here kekurangan nutrisinya." Pria itu tampak mengusap lembut perut wanita itu di depan umum.


''Dia hanya kurang perhatian darimu, Honey."


Sungguh, jika bukan untuk memenuhi dahaga dari rasa penasarannya. Mungkin, Renita sudah menjauh sejak tadi.


''Ehem, hem!" Dia berdehem keras di belakang pasangan itu. Tujuannya untuk mengingatkan jika mereka masih berada di tempat umum. Agar mereka menjaga sikap, kemesraan mereka disaksikan banyak pasang mata di sana.


Wanita itu menoleh karena merasa terganggu dengan deheman keras Renita.


''Maaf, tenggorokan saya sedikit serak. Bukan maksud mengganggu," cengirnya dengan menyisipkan sebuah sindiran.


Renita hanya menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan wanita itu.


''Dasar pelakor gatal."


Dia segera maju dengan trollinya untuk melakukan proses pembayaran.


...----------------...


Renita menghentikan langkahnya ketika mendengar deringan keras dari ponsel yang ada di dalam tas kecilnya. Dilihatnya, ternyata Armand yang menghubungi.


''Hemm...." Renita menjawab malas panggilan itu.


''Kamu di mana? Vello nangis nyariin kamu." Terdengar suara gusar di seberang sana, diiringi suara tangis anaknya yang semakin histeris.


''Ya kamu diemin lah, Mas. Apa gunanya kamu ikut kalau diemin anak aja gak bisa."


''Ya ampun, tega kamu!" balas Armand dengan kesal.


''Ya harus dong. Situ aja tega sama aku," jawab Renita tak kalah sewot.


''Aku udah berkali-kali, kamu itu salah—''

__ADS_1


''Udah-udah, aku gak mau debat sama kamu. Aku mau lanjut belanja. Itu anak kamu diemin. Kalau mau pulang, silahkan! Aku bisa pulang sendiri. Bye!" Renita mematikan sepihak sambungan teleponnya, kemudian melanjutkan kembali acara berburu diskon seorang diri.


...----------------...


Rasanya Armand ingin mengumpat saat itu juga. Renita benar-benar keras kepala, egois semaunya sendiri. Melupakan emosi yang bersarang dalam dada, Armand kembali berusaha menenangkan sang anak yang menangis dalam gendongannya.


''Ama, huhuhu ... Ama...."


''Sama papa ya ... kita cari eskrim...."


''Dak mau, pokok cama ama. Papa jeyek."


Armand hanya bisa meringis, tangisan puteranya semakin keras dan histeris. Dia hanya bisa menahan malu menjadi tontonan banyak orang.


''Ren, aku tau kamu marah sama aku. Tapi ya jangan seperti ini juga," batin Armand merutuki sikap istrinya.


"Vello, diam ya.... Kita beli mainan yuk. Vello mau apa? Papa turuti. Mumpung kita masih di Mall."


Berbagai macam cara dia lakukkan agar anaknya tenang, namun Marvello tetap bersikukuh menginginkannya ibunya. Tangisan balita itu, berhasil membuat kepalanya pening.


''Mas Armand."


Pria itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya.


"Kamu ngapain di sini? Aduh, kalau Renita melihat kamu. Bisa makin runyam nanti. Udah sana, kamu cepat pergi," usirnya dengan mendorong pelan tubuh wanita itu.


''Iih, apaan sih, Mas. Aku cuma ingin kenalan sama istri mas. Dihalangin mulu," sungutnya kesal.


''Gak kesal bagaimana? Kamu biang kerok masalah aku."


''Lagian aku kesini gak sendirian. sama dia masih di toilet."


''Terserah!"


''Ini anak kamu? Ya ampun lucunya. Tapi kok nangis?" Wanita itu mengabaikan rasa kesal pria di depannya.


Dia memilih menghibur anak laki-laki yang ada dalam gendongan Armand.


''Kamu mau apa, Dek?''


"Ama," jawabnya nyaris tanpa suara.


"Ama cibuk. Gini aja, aunty habis beli coklat. Adek mau." Wanita itu mengeluarkan sebuah coklat dari kantong plastik yang ada di tangannya.


Marvello mengangguk masih dendam isakan kecilnya.


''Ini buat kamu tapi janji gak boleh nangis lagi ya...."


Tanpa banyak bicara, tangan mungilnya menerima coklat yang disodorkan kepadanya. Berhasil, tangisnya mereda membuat Armand menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


''Untung ada kamu."


__ADS_2