
Renita menjalani hari-hari nya seperti biasa. Menganggap kejadian naas itu. Hanyalah mimpi terburuk dalam hidupnya.
Tak ada perubahan yang signifikan dalam sikapnya. Masih protes, jika si Kompeni semena-mena terhadap nya. Dan selalu berfikir positif bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada tubuhnya.
Renita juga bersyukur hanya para cs-nya dan bos yang tahu mengenai peristiwa itu. Jika sampai menyebar, bisa di pastikan dirinya akan menjadi trending topic di kantor.
Armand yang melihat Renita kembali semangat merasa lega. Karena pikiran buruknya, jika Renita akan pergi menjauh tidak terjadi.
Tanpa Armand ketahui Renita sudah merencanakan resign. Setelah deadline yang dia kerjakan rampung. Setidaknya, itu yang bisa dia lakukan sebagai dedikasi terakhirnya pada perusahaan. Yang sudah menampungnya beberapa tahun belakangan ini.
Lalu, Bagaimana kabar hubungannya dengan David?
Hubungan nya dengan David mulai renggang. Lebih tepat nya Renita yang menjauh. Renita selalu bisa menghindar, jika David ingin menemuinya.
Renita merasa, jika dia sudah tak pantas untuk tetap bersama laki-laki itu. Mengingat dirinya kini, sudah tak seperti dulu sebelum peristiwa naas itu terjadi.
Jika teman-teman nya bertanya. Kenapa akhir-akhir ini dia jarang bersama David? Maka Renita s'lalu menjawab sibuk, sedang menggarap dealine, si Kompeni kumat, lembur dan masih banyak alasan lainnya lagi.
Padahal Dia memang sengaja. Berharap dengan seperti ini. David akan sakit hati lalu meninggalkan dirinya.
''Pak, deadline yang bapak berikan pada saya sudah rampung.'' Renita meletakkan tumpukan map di atas meja.
''Dan ini..'' Renita juga menyodorkan sebuah amplop putih.
Armand menghentikan pekerjaannya, ''Apa ini?''
''Surat pengunduran diri saya...''
Armand menatap tajam Renita. Ternyata sikap tenang wanita ini kemarin, hanya sebuah kamuflase untuk mengecohnya. Sungguh wanita yang cerdik.
__ADS_1
''Kamu tidak bisa mengundurkan diri begitu saja. Kamu masih terikat kontrak dan jika kamu melanggarnya maka..'' Armand menolaknya mentah-mentah
''Saya tahu! Saya akan membayarnya sesuai perjanjian,'' potong Renita cepat.
Masalah ini memang sudah dia pikirkan sebelum nya.
''Apa alasan kamu mengundurkan diri..?''
''Saya mau pulang kampung!''
''Yakin hanya itu?'' tanya Armand, ''Bukan untuk menghindar dari saya?'' lanjut pria itu.
Renita menganggukkan kepalanya.
''Bagaimana, jika saya minta dua kali lipat dari yang ada di perjanjian? Itung-itung sebagai ganti rugi...'' Armand beranjak dari tempat duduk nya dan berdiri tepat di hadapan Renita.
''Saya akan membayarnya,'' jawab Renita tegas.
'Dia bahkan rela kehilangan semua uangnya. Hanya untuk menjauhiku..' batin Armand.
''Saya tidak bisa menerima surat resign dari kamu..'' Armand merobek amplop itu tanpa membuka nya terlebih dulu.
Renita membelalakkan mata melihat itu
''Saya juga tidak mau menerima uang mu. Uang saya sudah banyak,'' lanjutnya lagi.
Perlahan namun pasti, Armand berjalan mendekati Renita. Dengan reflek, Renita memundurkan langkah nya. Waspada, jika bosnya kembali macam-macam terhadap nya.
''Saya tidak akan membiarkanmu pergi. Bisa jadi dalam perutmu sedang tumbuh darah dagingku.'' Armand menatap intens wanita itu.
__ADS_1
Renita menelan ludahnya kelat, tubuhnya terbentur di dinding. Armand segera mengunci dengan kedua tangannya.
''Sejak saat itu, kau sudah menjadi milikku, Renita. Tak 'kan ku biarkan milikku jauh dariku..'' bisik Armand.
Renita menahan nafasnya, jantungnya berdetak tak karuan. Entah karena takut atau karena yang lainnya dia tak tahu.
Yang jelas, dia ingin segera keluar dari situasi ini.
Armand tersenyum kecil melihat kegugupan wanita ini. Dia melepas kungkungannya yang membuat Renita bernafas lega.
''Pikirkan sekali lagi renita, jika seandainya kamu sudah keluar dari sini lalu kamu hamil. Apa yang akan kamu lakukan ?''
''Apa kamu mau mempermalukan orang tuamu dengan kehamilanmu itu. Hamil tanpa ada suami yang mendampingi. Apa nanti kata orang-orang terhadap dirimu?''
''Tapi itu masih andai. Lagian waktu itu bukan masa subur saya. Bapak mau menerimanya atau tidak! Keputusan saya tidak berubah.'' Renita beranjak menuju pintu.
Armand berdecak, Kenapa wanita ini selalu punya stok jawaban untuk mendebat nya.
''Aku akan bertanggung jawab!'' tegas Armand.
Renita menghentikan langkah nya.
Armand langsung memeluknya dari belakang.
''Tolong jangan pergi!''
Renita membeku di tempat. Entah kenapa? dia merasakan ada cinta yang besar untuknya.
Renita menjadi bimbang, hingga pada akhirnya..
__ADS_1
''Baiklah saya akan tetap bekerja disini. Tapi saya ingin bukti dari ucapan bapak..''
''Baik akan aku buktikan..''