
Armand termenung ditemani sebatang rokok dan secangkir kopi. Setelah pertengkaran dengan istrinya waktu itu. Dia memilih pulang ke rumah Orang tuanya.
' Saya menyesal menikah dengan bapak '
Kata-kata itu selalu terngiang di benaknya.
Dia menghirup rokoknya dalam-dalam dan mengepulkan asapnya ke udara. Berharap suara gaib itu hilang seiring dengan hilangnya dengan hilangnya asap.
' Apakah Dia harus melepaskan Renita ?'
' TIDAK!!!??'' Sudut hatinya menolak mentah-mentah pikiran itu.
Selain alasan Anak. Dia juga tidak siap harus kehilangan Renita.
Wanita yang Dia kagumi dan Cintai diam-diam selama Satu tahun ini.
Dia sengaja memberinya banyak pekerjaan. Sering membuatnya lembur. Hanya demi bisa lebih lama lagi dengan Wanita Pujaannya. Bisa dibilang pekerjaan hanyalah modus nya saja waktu itu.
Dia selalu merindukan wajah jutek nan judes Renita. Entah kenapa berhasil membuat Renita kesal seperti moodboster sendiri baginya.
Dia wanita berbeda. Saat Para Wanita berusaha mencari perhatiannya. Wanita itu justru sebaliknya.
Menurut nya Renita karyawan paling berani diantara karyawan nya yang lain. Terutama karyawan Wanita.
Disaat mereka berusaha menampilkan sisi Anggun dan lembutnya saat berhadapan dengan nya. Tapi tidak dengan Renita. Dia selalu menampakkan ekspresi seolah muak melihat nya. Tidak ketinggalan tatapan tajam sepaket lirikan maut.
Dan yang paling membuat Armand gemas. Renita selalu berhasil menjawab semua perintah nya. Rasanya ingin menyumpal bibir tipis wanita itu dengan bibirnya.
Armand terus menyunggingkan senyumnya. Kenapa semenyenangkan ini membayangkan wajah Pujaan hatinya.
'' Pa samperin gih Anakmu itu. Dari tadi mama perhatiin senyum-senyum terus. Mama takut Dia kesambet''. Pandangan Amalia tak lepas dari Putranya.
'' Biar lah ma.. Armand butuh menenangkan pikiran nya..'' Jawab Setiawan yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya.
'' Kalo itu bukan malah tenang Pa.. Kesambet iya.. Mana duduknya di bawah pohon mangga lagi''. Amalia memang terkadang suka Overthinking sendiri.
'' Udah Papa... Gak usah maen HP mulu.. Cepet samperin Dia. Kasih pencerahan Anaknya. Biasanya kalo Papa yang ngomong Dia manut mau denger. Beda kalo sama Mama. Yang ada Mama ditinggal ngoceh sendiri kayak orang gila..'' Kesal Amalia.
Mau tak mau Setiawan beranjak dari duduknya. Pusing sendiri mendengar kultum panjang lebar si Nyonya.
'' Gimana mau manut. Nasehatin sama marahin nggak ada bedanya. Sama-sama bikin pusing..'' Dumel Setiawan.
'' Mama denger..''
...----------------...
''Ehheemmm..''
Bayangan indah wajah Renita buyar saat mendengar suara deheman Setiawan.
'' Boleh Papa duduk..''
__ADS_1
Armand mengangguk. Dia mengambil sebatang rokok yang baru dan menyulut nya kembali.
'' Gimana sudah tenang..? Satu bungkus hampir habis..''
Setiawan sudah hafal kebiasaan Putra nya jika sedang kalut. Dia akan terus merokok sampai pikiran nya tenang.
Armand menghela nafas dan mematikan rokok nya, '' Belum..''
'' Apa yang mengganggu pikiran mu...??'' Tanya Setiawan.
'' Dia menyesal menikah dengan ku..'' Lirih Armand.
'' Lantas Apa Kau akan melepasnya begitu saja Ar..?? Membiarkan Dia pergi..''
Mata Armand berkilat tajam, '' TIDAK...!!??''
'' Sampai Kapanpun, Aku tidak akan melepas nya''. Tegasnya.
Setiawan tersenyum tipis mendengar nya.
'' Lalu Kenapa Kau masih disini ? Temui Istrimu. Seminggu lebih Kau tak menengok nya. Apa tak rindu dengan anakmu ?''
'' Ajak Dia bicara baik-baik. Bicara dengan wanita harus dengan kepala dingin dan setumpuk kesabaran. Jangan ikut emosi jika Dia emosi. Ingatlah prinsip Wanita selalu benar''.
'' Sifat Renita itu sebelas duabelas dengan Mama. Jika Kau bisa menghadapi Mama mu. Papa yakin Kau juga bisa menghadapi Istri mu''. Sebelum pergi Setiawan menepuk pelan pundak Putra nya.
Armand terdiam mencerna baik-baik nasehat Papa nya.
' Isi hati Istri Bapak yang sesungguhnya.. From Wina..'
Armand segera mendownload dan menontonya. Tak berapa lama Senyum cerah tersungging dari bibir nya.
Memasukkan kembali handphone ke dalam saku. Dan bergegas menemui sang Pemilik Hati.
'' Pa si Armand benar-benar kesambet itu..'' Kata Amalia saat melihat Armand pergi dengan senyum lebar nya.
'' Terserah..'' Setiawan memilih masuk kamar. Sebelum kultum Nyonya terdengar lagi.
...----------------...
Di kontrakan.
'' Ooeeekkk..''
'' ooooeekkk...''
Renita berusaha menenangkan Marvello yang tengah menagis kencang.
Mencoba memberinya ASI mungkin lapar pikirnya. Tapi hanya sebentar kemudian menangis lagi.
Pikiran nya semakin kalut saat meraba suhu tubuh Marvello panas tinggi.
__ADS_1
'' Diem ya ganteng.. Sini mimi punya Mama kayak biasa ya.. Habis itu tidur..'' Renita berusaha tenang. Katanya jika menghadapi baby menangis pikiran dan hati si Ibu harus tenang. Agar si baby bisa segera berhenti.
Marvello masih seperti tadi. Malah semakin meronta di gendongan Ibunya. Di usia nya yang memasukinya Dua bulan Marvello mulai aktif-aktifnya.
'' Aduhh.. jangan gitu sayang nanti jatuh.. Badannya mulai embul kamu.. Tenang ya sayang.. udah malem nanti ada hantu lewat kalo nangis teruss''. Ketenangan Renita mulai terkikis. Karena Marvello semakin histeris.
'' Tenang ya dek.. Mama bingung mesti gimana lagi nenangin kamu..'' Pada akhirnya Renita ikut menangis.
Ini pengalaman pertamanya memiliki bayi. Dia juga sendirian. Tak ada yang membantu menenangkan anaknya. Sedang Malam semakin larut.
Ternyata mengurus bayi seorang diri tidak lah mudah. Kadang Dia juga menyesal dengan keputusan nya untuk tinggal sendiri seperti ini. Tapi lagi-lagi gengsi dan ego yang menahannya.
Suara tangis Marvello terdengar kencang hingga keluar pagar. Armand yang baru sampai langsung berlari memasuki rumah. Khawatir dengan putra nya.
'' Ren.. '' Armand melihat Istrinya tengah kepayahan menenangkan putranya dengan air mata berderai.
Tanpa basa basi Armand mengambil alih putranya dan menenangkan dalam gendongan nya.
'' Ssstttt.. sssttt.. Ini Papa.. anak cowo nggak boleh cengeng.. kangen hemm sama Papa. Papa udah disini..''
'' ini kenapa bisa panas gini Ren..'' Tanya Armand.
'' Tadi habis imunisasi. Aku gak tau bakal panas gini. Tadi siang baik-baik saja''. Renita mengelap Airmatanya dengan tissu.
'' Di kasih obat pereda gak..''
'' Iya bentar..'' Renita segera mengambil obat nya.
'' Itu obat untuk orang dewasa Ren.. masa mau di kasih ke bayi..''
'' Iya benar ini obatnya. Dosisnya seperempat..''
Renita segera membagi obat itu menjadi empat. Menghaluskan salahsatunya tak lupa di beri air larutan gula.
Kemudian diminum kan ke bayi mungilnya menggunakan pipet. Tubuh Marvello di tahan Armand agar tidak meronta. bayi itu menjerit keras. Mungkin merasakan pahit dari obat yang di minum kan.
Renita meniup-niup ubun-ubun Marvello agar tidak tersedak. Lama kelamaan tangis Marvello mulai mereda hanya tinggal Rengekan kecil dari mulut nya.
'' Sini.. sini.. mimi Mama. Habis itu tidur lagi ya ganteng..'' Renita segera memberinya ASI.
Tak butuh waktu lama Marvello kembali terlelap.
...----------------...
Jangan lupa dukungannya ya..
LIKE, ❤ , COMMENT...
VOTE & HADIAH.. seikhlasnya saja..
Babay...
__ADS_1