My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kembali....


__ADS_3

Trrrtt-trrrt-trrrtt....


''Hallo, Ma....''


''Armand, pulang!''


Armand menjauhkan ponselnya dari telinganya. Pekikan dari Ibu Ratu, sukses membuat telinganya berdengung.


''Mama, tolong kecilkan suara mama. Telingaku pengang, Ma,'' protes Armand.


''Mama nggak mau tahu. Dalam dua hari kedepan kamu sudah harus berada di rumah. Ingat tanggungjawab, Armand! Sepuluh hari lebih kamu berlibur. Pikirkan nasib ribuan karyawanmu. Jangan buat papa semakin sibuk! Gara-gara kamu, papa jarang ada waktu buat mama. Darah tinggi papa juga kambuh akibat kecapekan,'' omel Amalia panjang lebar.


Armand memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.


''Ma, aku disini bukan sekedar liburan. Aku juga tetap kerja, Ma. Work from home."


''Tidak usah mencari pembenaran kamu! Mama nggak mau tahu. Pokoknya dua hari ke depan, kamu sudah harus ada di rumah juga sudah masuk kantor, titik,'' titah Ibu Ratu tanpa bisa dibantah lagi.


''Iya, Ma, iya....''


''Awas kalau tidak nurut!'' ancam Amalia sebelum mengakhiri panggilannya.


''Siapa, Mas?'' tanya Renita dengan meletakkan secangkir kopi di hadapan suaminya.


Armand menyulut rokoknya, hanya dengan itulah rasa pusingnya bisa hilang.


''Mama.''


''Kenapa mukamu seperti tertekan begitu?'' tanya Renita.


''Mama nyuruh kita segera pulang,'' jawab Armand dengan suara rendahnya.


''Iya tinggal pulang, beres, 'kan?'' sahut Renita dengan entengnya.


''Aku juga kepikiran seperti itu, Ren. Tapi....'' Armand menggantungkan ucapannya.


''Apa? Karena masalah si Nesa yang belum kelar?''


Armand mengangguk lemah. ''Aku nggak enak aja. Masalah disini belum selesai, kita pulang begitu saja.''


''Ya, apa urusannya sama kita, Mas? Orang itu juga salah si Nesa sendiri. Lagian semalam orang tua pacarnya juga sudah melamar dia.''


''Apa kamu tidak apa-apa? Tidak menghadiri pernikahan sepupu kamu itu.''


''Dengan senang hati,'' sahut Renita cepat.


Armand menggeleng tak percaya, segitu bencinya Renita terhadap sepupunya itu.

__ADS_1


''Tidak baik, Ren. Menyimpan kebencian dalam hati.'' Armand menasehati istrinya.


''Aku nggak benci, Mas. Cuma masih kesel aja kalau ingat semua ucapan mereka yang terlalu menyakitkan.'' Renita tersenyum kecut.


''Sudah, jangan diingat! Jika itu membuatmu sedih. Jadi, kita pulang kapan? Aku nurut maunya kamu.''


''Besok juga boleh. Nanti aku bilang ke ibu.''


...----------------...


''Kamu beneran nggak mau menghadiri acara pernikahan sepupumu, Ren?'' tanya Armand sekali lagi saat mereka tengah memasukkan barang-barang ke dalam mobil.


Dia bertanya hanya sekedar memastikan, barang kali sang istri berubah pikiran.


''Nggak, Mas! Gak bosen apa? Dari semalam itu mulu yang ditanyakan. Kita pulang hari ini ya hari ini. Kerjaan kamu sudah menggunung. Kasihan duo kacung kamu itu, punya bos mirip Kompeni begini,'' sahut Renita dengan kejengkelannya.


Semalam Renita, sudah berbicara pada orang tuanya, jika dia akan pulang esok pagi. Dan orang tua Renita menyetujui, karena memang anak menantunya lumayan lama berada disini. Rasa rindu mereka juga sudah cukup terobati.


''Ren, ini si Vello bangun.'' Asih menghampiri putrinya dengan menggendong cucunya.


''Eh, tumben udah bangun.'' Renita meraih putranya yang sepertinya akan menangis. Terlihat bibir mungil itu sedikit bergetar dan matanya sudah memerah.


Marvello memang seperti itu, dia sering menangis, jika saat bangun tidak melihat ibunya.


''Yang mau pulang kok nangis,'' ucap Asih.


''Yuk, mandi sama nenek sambil lihat-lihat burungnya kakek,'' lanjut wanita paruh baya itu. Tangannya menengadah mengajak cucunya supaya mau ikut bersamanya.


''Ren, siapkan semua keperluan Vello, biar ibu yang dandani dia,'' titah Asih sebelum masuk kembali ke dalam rumah.


''Iya, Bu.''


''Mama, gak pengen lihat burungnya papa?'' Armand berbisik menggoda istrinya.


Renita langsung menoleh marah suaminya. ''Mau, nanti ku sembelih itu burung terus aku kasih makan ke kucing. Puas!''


''Astaga, Ren. Tega kamu,'' balas Armand dengan wajah memelasnya.


Dia segera menutupi aset kebanggaannya dengan kedua tangannya.


''Makanya, pagi-pagi gak usah mesum.'' Renita berlalu begitu saja. Dia hendak mempersiapkan pakaian anaknya sebelum dia selesai mandi.


''Tapi, nanti saja di rumah,'' kata wanita itu sembari mengerlingkan mata kearah suaminya.


''Dasar wanita ajaib.'' Armand menggelengkan kepalanya, melihat punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar.


Armand melanjutkan kembali kegiatannya menata barang bawaannya yang tidak sedikit. Ditambah oleh-oleh yang dibawakan mertuanya yang sama banyaknya. Dia menata serapi mungkin agar bisa termuat semua.

__ADS_1


...----------------...


''Bu, Pak, kami pamit dulu, ya. Maaf, jika selama disini kami sering merepotkan bapak sama ibu,'' ujar Armand.


''Ndak, ibu ndak repot sama sekali. Ibu malah seneng kedatangan anak menantu. Iya, 'kan, Pak?'' Asih meminta persetujuan suaminya.


''Benar, Mand. Kami justru senang kalian disini. Suasana jadi rame, tidak membosankan. Maklum, selama ini hanya rengekan manja si Rendy yang membuat ramai rumah ini,'' kata Mahmud sembari melirik putra bungsunya.


Rendy mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan bapaknya.


Armand terkekeh kecil, dia sudah pahan dengan perangai adik iparnya yang manja, jika sedang menginginkan ini itu.


''Tau tuh. Udah gede juga masih aja kek anak kecil. Gak malu apa sama Vello?'' celetuk Renita dari dalam mobil, karena wanita itu sedang menyusui anaknya.


Setelah mandi tadi , Marvello kembali merengek meminta sumber nutrisinya. Sepertinya, dia masih ngantuk karna bangun terlalu pagi.


''Nyamber aja kayak petir,'' sahut Rendy dengan sewotnya.


''Biarin, wleee...." Renita menjulurkan lidahnya untuk membuat adiknya semakin kesal.


''Bu, Mbak Reni itu lhooo....'' Rendy mengadu kepada ibunya dengan nada manjanya.


''Uwes, Meneng! Opo ora isin karo masmu.'' Asih melotot kearah putranya.


(Sudah, Diam! Apa tidak malu dengan masmu)


Rendy mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ibunya sudah mengeluarkan gertakan pelannya.


''Ya sudah, Bu, Pak, Rendy. Kami pulang dulu, takut kesiangan nanti macet,'' pamit Armand lagi. Dia menyalami kedua mertuanya juga adik iparnya, kemudiannya memamsuki mobil.


''Ini cucu nenek sudah tidur belum?'' Asih menghampiri cucunya yang masih asik dengan sumber nutrisinya. Terlihat matanya terpejam tapi bibirnya masih asik menikmati asi-nya.


''Baru merem, Bu,'' jawab Renita pelan.


''Bu, aku pulang dulu.'' Renita menyalami ibunya dari dalam mobil.


Asih menciumi kedua pipi putrinya. Sesayang itu dia kepada anak-anaknya. Meski, mereka sudah beranjak dewasa, terkadang Asih masih memperlakukan mereka seperti anak kecil. Adakalanya, dia juga tegas kepada anak-anaknya saat tingkah laku mereka keterlaluan.


''Sampaikan permintaan maafku ke pakde sama bude ke Nesa juga. Soalnya, Mas Armand harus segera masuk kantor. Kerjaannya sudah menggunung,'' ucap Renita lagi.


''Iya, Nduk, nanti ibu sampaikan.''


Renita berganti menyalami bapak juga adiknya.


''Ingat, Ren! Sering-sering bantu bapak sama ibu di rumah. Jangan hape-an mulu kalau pas libur.'' Renita berpesan kepada adiknya.


''Iya....''

__ADS_1


''Assalamu'alaikum....''


Perlahan, mobil yang di kendarai Armand meninggalkan pelataran rumah mertuanya. Armand menyempatkan membunyikan klakson tanda pamit sebelum menjauh dari rumah itu.


__ADS_2