
''RENITA!''
Armand berteriak seperti orang gila yang berhasil mengejutkan semua orang yang ada di disana.
Dia membuka setiap ruangan di tempat itu. Bahkan, dia juga menendangnya, jika ada pintu yang terkunci.
Mendengar keributan itu, seorang petugas keamanan mendekat mencoba untuk menenangkan dirinya.
''Bapak, tenang pak. Bapak bisa mencari orang yang di maksud dengan cara baik-baik, tidak membuat kegaduhan seperti ini, Pak.''
"KAMU BILANG SAYA HARUS TENANG! DISAAT DIA MAU MEMBUNUH ANAKKU, HAH!''
Armand menarik kerah depan sekuriti itu hingga tubuhnya terangkat sedikit.
"TUNJUKKAN TEMPATNYA! ATAU AKU AKAN MELAPORKAN PRAKTEK ILLEGAL INI!'' ancam Armand.
"Ba-baik, Pak," jawab sekuriti itu dengan suara bergetar. Lalu, mengantarkan Armand keruangan yang di maksud.
Di dalam ruangan.
Renita sudah berbaring di ranjang pasien dengan kaki yang di buka lebar. Dia memejamkan matanya berusaha untuk meyakinkan dirinya, jika ini jalan yang tepat.
Sekelebat bayangan orang tuanya hadir dalam benaknya. Teringat akan kasih sayang ibunya yang selalu memanjakannya.
Ibunya yang telaten menyuapinya setiap pagi ketika akan beragkat sekolah. Meski waktu itu, dia sudah duduk di bangku SMA.
" ayo sarapan dhisik nduk, engko loro weteng," pinta ibunya.
( ayo sarapan dulu nak, naanti sakit perut..)
"*Aku telat, Bu." Renita sibuk menguncir rambutnya dan memoles bedak di wajah nya*.
"Wes ra usah kakean protes! Awakmu macako karo mangan, tak dulang."
(Sudah jangan usah protes! Kamu dandan saja sama makan, ibu suapi..)
Renita membuka mulutnya, makan dengan diikuti ibunya kesana kemari.
Renita menagis mengingat itu semua.. Apakah, dia ibu yang kejam? Semoga anaknya kelak mau memaafkannya.
'Maafkan aku, aku terpaksa demi kebaikan semuanya..'
"Sudah siap, Mbak?" Renita membuka matanya.
"Mbak pikirkan lagi baik-baik, sebelum semuanya terlambat. Apa, Mbak sudah yakin? Jika masih ragu, lebih baik urungkan saja sekarang," nasehat si Bidan.
"Saya sudah yakin!" tegas Renita.
Reva lemas mendengar jawaban sahabatnya. Dia masih berharap salah satu cs-nya segera tiba..
"Baiklah! Mari kita mulai. Tahan ya, ini akan sakit."
BRAKKKK
Pintu di tendang keras oleh Armand.
"APA YANG KAU LAKUKAN!" teriak Armand. Dia mendorong tubuh wanita paruh baya yang sedang memegang perut Renita.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itu terkejut, termasuk Renita. Melihat kedatangan Armand yang di ikuti seorang security dan seorang perempuan muda.
Reva bernafas lega, Wina datang di waktu yang tepat.
'' B-b-bos!''
''Sini kamu!"' Armand menarik paksa tangan sekretarisnya keluar dari ruangan itu.
'' Lepas! Gak usah tarik-tarik.'' Renita meronta berusaha melepas cengkeraman tangan pria di depannya.
Armand tak menghiraukan itu. Dia terus menarik Renita hingga di dekat mobilnya lalu mendorong nya masuk, disusul pintu yang di tutup dengan kasar. Kemudian, dia juga ikut masuk kedalam nya.
Renita memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kram. Terdengar ringisan pelan darinya.
''Apa yang kau lakukan? JAWAB!" sentak Armand yang masih di liputi kemarahannya.
''Melakukan yang terbaik," jawab Renita dengan wajah datar.
''Kau mau membunuhnya, kau bilang terbaik!'' Armand menunjuk perut rata wanita di sebelahnya. Laki-laki itu tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita ini.
'' LALU AKU HARUS APA? MEMPERTAHANKAN NYA, IYA? LALU MEMBUAT MALU KELUARGA KU DI KAMPUNG. ITU 'KAN YANG BAPAK MAU?'' Renita menatap tajam ke arah Armand.
Tak berselang lama, terdengar isakan kecil dari mulutnya. Dia sudah lelah menghadapi semua ini.
''Aku akan tanggung jawab," ujar Armand setelah terjadi keheningan beberapa saat.
Renita terkekeh sinis. ''Aku gak sudi di madu! Lebih baik kamu tanggungjawab sama anak kamu yang lain itu, gak usah peduliin aku."
Melihat Renita akan membuka pintu, Armand segera menguncinya
Armand menulikan pendengaran nya.
''ssshhh," ringisnya.
Renita sudah tidak tahan lagi dengan kram di perutnya. Armand menoleh saat mendengar desisan dari mulut sekretarisnya.
''Kamu, kenapa ?'' tanya Armand khawatir.
''Perutku,'' lirih Renita. Wanita itu, menggigit bibirnya demi meredam rasa sakit yang menderanya, keringat sebiji jagung membanjiri pelipisnya.
''Kita kerumah sakit."
Armand semakin panik ketika melihat darah mengalir ke paha wanita itu. Armand segera memasang sabuk pengaman untuk wanita di sampingnya lalu menancap gasnya.
Renita mencengkeram kuat tangan Armand untuk melampiaskan rasa sakitnya. Wajahnya semakin pucat saja.
''Kamu harus bertahan kita segera sampai..''
...----------------...
''Aduh, Win, si Reni mau di bawa kemana?'' karena panik Reva mondar mandir tidak jelas di depan klinik.
Wina masih mengatur nafasnya. ''Udah, hhhh.. Biarin aja, gue mau istirahatin jantung gue hhhh.. Loe gak lihat, kaki gue masih gemetar?''
Tak lama setelah nya, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Keluarlah Dania dan David yang juga tampak khawatir.
''Dimana, Renita?'' tanya David dengan gusar.
__ADS_1
''Berhasil 'kan rencana kita semalam? Di mana, Renita sekarang?'' tanya Dania yang juga tak kalah panik.
''Rencana berhasil, si Wina datang di waktu yang pas. Sekarang, dia di bawa pergi sama Pak Armand,'' jelas Reva.
''KENAPA KALIAN BIARKAN?''bentak David.
Suara keras David berhasil membuat semuanya terkejut. Wina yang masih menenangkan diri sampai harus memegang dadanya sendiri
'Bisa serangan jantung mendadak gue, kalau gini caranya,' batinnya.
David segera mengambil ponsel nya lalu mengutak-atiknya.
''Kita mau ngejar pakai apa, Bang? Lari juga percuma kagak kekejar,'' jawab Reva.
''Ya sudah, masuk semua! Kita susul dia, aku berhasil menemukan titik keberadaan Renita,'' seru David.
...----------------...
Armand menunggu di depan ruang IGD dengan harap-harap cemas. Sebentar berdiri sebentar duduk, mencoba mengintip ke dalam tapi dia tak bisa melihat apa-apa.
''BRENGSEK!'' David datang dengan kemarahan nya.
BUGH..
BUGH...
BUGH...
Reva dan Dania memekik melihat David langsung menyerang Armand
Armand yang tak siap dengan serangan dadakan itupun langsung tersungkur.
'' BAJINGAN! LOE UDAH NGERUSAK CEWEK YANG GUE CINTAI, LOE JUGA GAK MAU TANGGUNGJAWAB. BAJINGAN!'' maki David.
Armand berdiri sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibir nya. David yang hendak menghajar Armand lagi langsung ditahan oleh adiknya.
''Sudah, Bang sudah. Ini rumah sakit jangan buat keributan.''
Nafasnya kembang kempis akibat emosi
''Kalau sampai terjadi sesuatu sama Renita. Gue nggakk akan ngelepasin loe!'' David menunjuk muka Armand dengan tatapan tajamnya.
Tak lama, seorang dokter wanita keluar. Menatap satu persatu semua yang ada disana kemudian menghembuskan nafas pelan.
...-...
...---------------...
Sek sek rehat dulu, tunda dulu.
Maaf, jika semrawut ya..
pokok jempolnya jangan lupa.
oke..
Babay..
__ADS_1