My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Amalia bertindak


__ADS_3

Amalia tengah menikmati waktu santainya di gazebo halaman belakang bersama sang suami. Keduanya membahas banyak hal, yang membuat mereka tak bisa menyembunyikan tawanya. Hingga, waktu santai mereka terganggu dengan dering telpon dari ponsel Amalia.


''Hallo, BI Lastri,'' jawab Amalia.


''Ibu gawat, Bu.... Aduh, bagaimana ngomongya ya?'' Terdengar suara panik Bi Lastri diseberang sana.


''Ada apa, Bi? Coba bibi jelasin pelan-pelan ke saya,'' kata Amalia.


Setiawan yang melihat itu pun, mengisyaratkan agar istrinya mengeraskan suaranya. Dan Amalia menuruti.


''Mbak Reni sama Tuan, Bu. Mereka bertengkar,'' ucap Bi Lastri masih dengan nada yang sama.


''Alah, Bi. Itu sudah biasa. Kayak gak hafal tabiat mereka tiap harinya.''


''Bukan begitu, Bu. Mbak Reni pergi dari rumah.''


Ucapan Bi Lastri mengejutkan pasangan paruh baya itu. Setiawan dan Amalia saling memandang satu sama lain.


''Reni pergi kemana, Bi?'' tanya Amalia.


''Tidak tahu, Bu. Cuma tadi Mang Udin masukin koper besar sama tas bepergiannya Aden Kecil,'' jelas Bi Lastri.


''Memang mereka ada masalah apa, Bi? Kok Reni sampai kabur seperti itu.'' Amalia mencoba mengorek informasi dari pembantu anaknya.


''Belakangan ini saya sering mendengar Tuan bentak-bentak Mbak Reni. Padahal, Mbak Reni sudah bicara baik-baik. Tuan Armand juga mengabaikan Den Vello, pernah meninggalkan Aden kecil menangis histeris karena minta gendong tapi tidak di turuti sama Tuan, Bu. Dan yang terakhir, Tuan pernah marah besar gara-gara tidurnya keganggu sama suara tangisan Den Vello. Dan pelampiasannya selalu ke Mbak Reni,'' tutur Bi Lastri panjang lebar, menceritakan masalah majikannya.


''Saya juga sering melihat Mbak Reni diam-diam menangis sendirian, Bu,'' lanjut Bi Lastri lagi.


''Saya tidak tahu harus berbuat apa. Makanya, saya lapor ke ibu. Saya mau ikut campur juga tidak berani.'' Bi Lastri mengakhiri ucapannya.


Setiawan menghela nafas mendengar semua itu. Sedangkan Amalia, raut wajahnya sudah memerah, menahan geram.


''Iya, bibi sudah melakukan tindakan yang tepat. Terimakasih untuk laporannya.''


Sambungan pun terputus.


''Dengar, Pa. Anakmu itu,'' kata Amalia dengan kejudesannya


''Anak mama juga, sifatnya aja mirip mama. Emosian,'' sahut Setiawan tak mau kalah


''Papa!''


Wanita itu pergi dengan kekesalannya, meninggalkan sang suami.


''Mau kemana, Ma?''


''Ngurusin anakmu!'' teriak Amalia sebelum menghilang dari balik pintu.


...----------------...


''Lepas! Aku gak mau ikut kamu lagi.'' Renita berteriak di sepanjang jalan keluar Bandara.

__ADS_1


Dan teriakannya itu, sukses membuat orang-orang disana menoleh ke arahnya.


''Dasar tuli! Aku bilang lepas ya lepas!'' maki Renita yang berusaha memberontak dari cekalan tangan kekar itu. Tapi tidak berhasil, justru Armand semakin mengeratkan genggamannya.


Armand mengabaikan teriakan wanita itu. Beruntung dia sempat mengambil alih anaknya, jadi dia bisa leluasa menyeret istrinya kembali bersamanya.


''Ada apa ini, Pak?'' Seorang petugas keamanan menghadang langkahnya.


''Jangan ikut campur! Ini urusan rumah tangga saya,'' geram Armand dengan nada dinginnya.


''Pak, jangan dengarkan dia! Tolong saya, Pak. Saya gak mau kembali bersamanya,'' pinta Renita dengan tatapan memohon pada petugas itu.


''Sekali kau melangkah, pekerjaanmu tamat,'' ancam Armand.


Petugas itupun hanya bisa diam menyaksikan drama rumah tangga pasangan di depannya.


''Aku gak mau ikut! Aku mau pergi dari hidupmu.'' Renita menatap tajam suaminya.


''Masuk!'' Armand mendorong kasar tubuh istrinya ke dalam mobil.


Dia berganti meletakkan anaknya yang terlelap di kursi kecil bagian belakang mobilnya, tak lupa memasang pengaman pada tempat itu.


Melihat ada celah, Renita langsung membuka pintu, lalu berlari tanpa arah menjauhi suaminya.


Armand yang sadar istrinya kembali kabur pun langsung mengejarnya.


''Renita!'' Armand berteriak memanggil sang istri.


Bunyi klakson panjang menyadarkan wanita itu akan posisinya. Renita hanya bisa mematung sembari berteriak saat melihat sebuah mobil melaju kencang kearahnya.


''Arrrgghhh!''


''RENITA, AWAS!'' Armand berteriak panik, segera menyusul sang istri dan....


Hap!


Armand menarik tangan Renita dan mendekap erat tubuh gemetarnya.


''Kamu aman," ucap Armand dengan jantung yang masih berdebar hebat.


Pria itu mencium puncak kepala Renita berkali-kali. Beruntung dia tepat waktu menyelamatkan wanitanya.


''Kita pulang.''


...----------------...


Amalia sudah berkacak pinggang, ketika melihat mobil putranya terparkir di halaman rumah. Wanita paruh baya itu sudah siap mengeluarkan petuah panjang lebarnya untuk anak dan menantunya.


''Bagus, ya kalian! Gak malu sama umur, bertengkar terus mirip anak kecil,'' kata Amalia dengan suara meninggi.


Bahkan, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru rumah.

__ADS_1


''Mama kok bisa disini?'' tanya Armand dengan raut kebingungannya.


''Kenapa? Apa mama gak boleh mengunjungi cucu mama, heh.'' Wanita paruh baya itu, melotot tajam kearah putranya.


''Untung mama kesini, jadi mama bisa tahu masalah kalian. Coba kalau tidak, mama tidak akan pernah tau.''


Amalia tidak mengatakan yang sebenarnya, jika dia mendapat laporan dari pembantu anaknya. Tujuannya, untuk melindungi Bi Lastri.


''Mama heran sama kalian, kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik. Bukan kabur-kaburan begini. Kalian ini sudah tua, Armand, Renita. Tingkah kalian jangan seperti anak ABG baru mengenal cinta. Rumah tangga bukan untuk permainan. Terlebih, ini udah ada buntut. Gak kasihan sama anak?''


Amalia mengomeli anak menantunya di depan teras dan tak membiarkan mereka masuk terlebih dulu.


''Kadang mama juga pusing sendiri dengan kalian. Satunya, gak mau mengalah. Satunya lagi, semaunya sendiri.'' Amalia menghela nafas.


''Permisi, Ma. Aku masuk dulu,'' lirih Renita.


Tanpa menunggu jawaban sang mertua, wanita itu melenggang masuk begitu saja. Tak peduli ibu mertuanya akan menganggapnya menantu yang tidak sopan. Yang dia butuhkan saat ini, adalah ketenangan dirinya.


Armand memandang nanar punggung sang istri yang lebih memilih masuk ke kamar tamu, bukan ke kamar mereka yang berada di lantai atas.


''Kau lihat, Ar. Akibat ulahmu itu,'' kata Amalia yang ikut memperhatikan menantunya.


''Mama bisa diam tidak? Jangan buat Armand semakin pusing,'' sahut Armand dengan kesal.


''Kamu kalau di diamkan semakin menjadi, Ar. Untung, kau bisa membawa Renita pulang. Coba kalau tidak, jika sampai Renita beneran pulang ke rumah orang tuanya. Apa yang akan kau sampaikan pada mertuamu?''


Armand memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


''Mama sebaiknya pulang. Mama urus saja suami mama. Tidak usah mengurusi rumah tanggaku.''


''Apa kamu bilang? Di nasehati orang tua bukan dengerin malah ngusir,'' ujar Amalia tidak terima.


''Sini, Marvello biar sama mama.'' Amalia mengambil alih cucunya yang berada di gendongan putranya, ''sebelum masalahmu dengan istrimu selesai. Jangan harap anakmu kembali!''


Amalia masuk ke dalam mobilnya.


''Nanti kalau Vello minta susu, gimana, Ma?''


''Kamu kira mama gak mampu membelikan dia susu? Sudah sana, selesaikan masalahmu. Ayo, Pak, jalan!''


Mobil Amalia berjalan perlahan meninggalkan rumah itu.


Armand hanya bisa menghela nafas pasrah. Kenapa masalah kantornya selesai, berganti rumah tangganya yang bermasalah.


...----------------...


Semoga tidak bosan ya dengan kisah rumah tangga Kompeni. Maunya mau aku buat tamat cerita ini. Tapi, entah hati masih belum rela. Masih banyak bayangan di kepalaku akan kisah mereka.


Jangan lupa dukungannya. Tabur bunga yang banyak untuk cerita ini, biar wangi semerbak kemana-mana.... Asal jangan bunga setaman, nanti jadi horror.... hehehe bercanda


Babay...

__ADS_1


__ADS_2