My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Perasaan Aneh 2


__ADS_3

"Tuan, Mbak Reni...."


Bi Lastri mendatangi kedua majikannya yang tengah menikmati waktu santai setelah makan malam di ruang keluarga.


''Ada apa, Bi? Sini duduk di kursi," ucap Renita pada asisten rumah tangga yang berdiri tak jauh darinya.


"Tidak usah, Mbak. Saya hanya sebentar. Saya mau meminta izin untuk pulang kampung selama beberapa hari, mungkin paling lama seminggu. Ibu saya sakit keras, Mbak. Dia terus mencari saya," kata Bi Lastri dengan menundukkan kepala.


"Baiklah, saya izinkan. Nanti, kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya, Bi." Armand menanggapi.


''Kalau keadaan sudah kondusif, bibi segera kembali ya. Terlebih satu bulan lagi istri saya mau melahirkan. Pasti kami sangat membutuhkan bantuan bibi," pinta Armand dengan sopan.


"Baik, Tuan. Pasti saya akan segera kembali kalau disana sudah bisa di tinggal. Terima kasih, saya permisi...," pamit Wanita baya itu kembali ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang akan di bawa esok pagi.


"Mama pergi, Bi Lastri pulang kampung, kamu ngantor. Lengkap sudah kesendirianku. Siapa yang bantu aku jagain Vello yang super aktif. Mana perut udah mirip semar, mudah capek pula," keluh Renita selepas kepergian Bi Lastri. Dia menyandarkan kepala di pundak kekar sang suami.


"Kamu tenang saja, aku yang bakal bantu kamu. Bila perlu aku ajak Vello ke kantor. Pasti banyak karyawan yang mau jadi pengasuh dadakan. Mereka selalu gemas sama si Vello hingga rebutan mau ngajak." Armand berusaha menenangkan istrinya sembari mengusap lembut perut yang berisi bayinya.


"Princess papa, diam-diam ya. Jangan nakal di perut mama!" Armand berucap lembut di depan perut istrinya, sesekali menciumnya.


Armand mengembangkan senyum ketika mendapat respon dari dalam sana. Pergerakannya sangat intens hingga terlihat dari luar.


"Aktif ya, kamu."


"Tapi, aku minta kamu jangan capek-capek ngurus catering. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan baby. Biar mereka saja yang mengerjakan buat apa punya pegawai banyak."


"Iya. Aku juga sayang sama dia. Aku udah gak sabar buat ketemu dia, Mas," ucap Renita dengan manja.


"Sama..."

__ADS_1


"Tapi—" Renita menggantung ucapannya.


"Kenapa?"


"Aku mau lahiran normal."


Armand menghembuskan nafas kasar. Berulang kali wanita ini mengutarakan keinginannya, tapi hal itu tidak memungkinkan. Disebabkan pada kelahiran pertama Renita melalui jalur operasi. Dan itu mengaharuskan pada kelahiran kedua. Hal itu juga sudah di konsultasikan pada dokter yang biasa memeriksa kandungan Renita, jawabannya tetap sama, harus operasi.


"Gak bisa, Ren. Kamu harus operasi! Takut terjadi apa-apa sama luka jahitan yang sebelumnya, apalagi baru tahun lalu."


Air mata tampak mengenang di pelupuk mata wanita itu. Mungkin, jika dibuat sekali kedip kristal bening itu akan jatuh. Semenjak hamil, perasaan Renita semakin sensitif, dan dia menyadarinya. Setiap kali keinginannya tidak terpenuhi, dia.akan merajuk, marah, bahkan menangis seperti ini.


''Sudah, gak usah sedih. Aku akan menemanimu waktu lahiran nanti. Bila perlu aku ikut masuk."


Tak ada tanggapan apapun dari mulut Renita.


''Sudah malam, sekarang waktunya tidur. Vello sudah tidur sedari tadi." Armand mengulur tangan, mengajak sang istri menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dengan pasrah, Renita menerima uluran tangan itu.


''Bibi, hati-hati ya.... Nanti kalau sudah sampai segera hubungi aku." Renita berpesan pada wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


''Iya, Mbak Reni. Nanti bibi kasih kabar."


''Ini ada sedikit buat bibi." Renita menempelkan sebuah amplop berwarna putih ke tangan wanita itu.


"Apa ini, Mbak?" Bi Lastri menerima dengan tangan bergetar.


Sudah bisa di tebak jika isi amplop itu adalah uang, namun dia tidak bisa memastikan berapa jumlahnya yang jelas isinya lumayan tebal.


''Tidak usah, Mbak. Gaji saya lebih dari cukup. Saya ... Saya tidak pantas menerima ini."

__ADS_1


Karena merasa sungkan, Bi Lastri berniat mengembalikan, namun segera di tolak halus oleh Renita.


''Buat bibi, barangkali bisa sedikit membantu." Renita menggenggam lembut tangan yang memegang amplop itu.


''Alhamdulillah, terima kasih, Mbak Reni, Tuan," ucapnya pada kedua majikannya yang kebetulan Armand baru datang menghampiri.


"Ke stasiun di antar Mang Udin saja, Bi. Saya masuk siang hari ini, jadi bisa menemani Renita jaga Marvello."


"Baik, Tuan. Sekali lagi terima kasih. Saya pamit dulu," ucap Bi Lastri seraya melangkah menuju mobil.


Namun belum sempat membuka pintu, wanita paruh baya itu kembali mendekati sang majikan.


"Ada apa, Bi?" tanya Renita bingung ketika si bibi kembali menghadapnya.


"Gak tau kenapa? Tiba-tiba ada perasaan gak enak saja. Kayak berat gitu ninggalin Mbak Reni. Ada rasa cemas yang tidak jelas di hati bibi. Mbak Reni hati-hati ya...."


Renita dan Armand saling menatap satu sama lain. Berbagai pertanyaan muncul dalam benak mereka akan ucapan ART-nya.


''Bibi, tenaga saja ... Saya akan selalu menjaga Renita."


Ucapan Armand sedikit mengurangi kecemasan wanita paruh baya itu. Akhirnya, mau tak mau dia segera undur diri sebelum ketinggalan kereta.


''Yuk, masuk," ajak Armand pada istrinya.


Tapi, Renita segera menahan lengan suaminya.


''Ada apa?"


"Aku kok takut, Mas. Kemarin mama juga bilang seperti itu. Meminta ku berhati-hati, meski mama sempat bilang gak apa-apa tapi tatapannya sangat jelas menununjukkan ketakutan. Tapi, apa itu? Aku gak tau," ujar Renita dengan raut penuh kekhawatiran.

__ADS_1


''Wajar mereka seperti itu, karena mereka orang yang paling dekat denganmu. Sudah tidak usah terlalu dipikirkan nanti malah stres. Semua akan baik-baik saja, mereka hanya berpesan."


__ADS_2