
''Bang, boleh gue masuk?'' Dania mengetuk pintu kamar David yang sengaja di biarkan terbuka. Dia juga tampak melamun.
''Ada apa?'' tanya David dengan pandangan David tetap lurus ke depan.
''Loe, kenapa sih, Bang? Seperti gak punya gairah hidup, gitu. Akhir-akhir ini, gue lihat loe sering melamun.''
''Renita mengakhiri hubungan kita..''
Dania menghela nafas. Dia sudah menduga pasti masalah dengan sahabatnya.
''Bang, bukan gue ngebelain dia ya. Renita itu insecure, secara dia sudah gak punya yang dia banggain lagi. Yang berharga dalam hidupnya sudah hilang. Kalau gue ada di posisi dia, gue gak yakin bisa setegar itu.'' Dania mencoba memberikan pengertian pada kakaknya.
''Dia hamil..''
'' WHATT?''
David berdecak kesal karena adiknya berteriak tepat di telinganya. ''Suaranya di kecilkan bisa tidak, sih?''
''Sorry, Bang gue terkejut. Renita tidak pernah cerita apapun ke kita,'' kata Dania, ''Semenjak peristiwa itu, dia menjadi lebih tertutup,'' sambungnya dengan tatapan sendu.
''Gue juga sedih , kehilangan sosoknya dia. Gue kangen Renita yang tukang nyablak seperti dulu, dia banyak berubah, Bang..'' Dania memeluk erat kakaknya.
David membalasnya tak kalah erat. Hanya, dia tempat bermanja sang adik, setelah kedua orang tuanya tiada dua tahun lalu, akibat kecelakaan beruntun di sebuah tol. Kedua orang tuanya meninggal ditempat.
''Dan, Abang boleh minta tolong?''
Dania mendongak. ''Apa, Bang?''
''Tolong awasi Renita buat abang. Laporkan kepada abang apapun itu.''
Dania tersenyum dan mengangguk.
''Abang sudah bucin banget sama Renita,'' goda Dania
David mengernyit. ''Apa itu?''
''issshh, Abang maennya kurang jauh. Budak cinta Bang..'' Dania merotasi matanya malas.
__ADS_1
David mengacak rambut adik satu-satunya
''Ada aja kamu. Sudah tidur sana! Besok kerja."
''Iyaaaa..''
...----------------...
Di kediaman Gerald.
Dua keluarga tengah berkumpul di ruang tamu, dengan Monita di apit ibu ayahnya. Armand beserta kedua orang tuanya. Kebetulan, Amanda beserta keluarga kecilnya juga ikut karena suaminya sedang ada proyek di negara ini.
Mereka mulai membicarakan acara pernikahan Armand dan Monita, di mulai dari menetukan tanggal hingga mengurus segala perintilan pernikahan yang memang tidak sedikit.
Merry ingin pernikahan mewah untuk putrinya. Dan tak tanggung-tanggung, Merry juga meminta dua persen saham dari perusahaan Setiawan sebagai mahar.
Tuan setiawan dan nyonya Amalia menyanggupinya. Biar bagaimanapun, Monita bisa hamil seperti itu karena ulah putranya.
Armand menunjukkan sikap datarnya, enggan memberi pendapat apapun. Sebenarnya, bisa saja dia menunjukkan rekaman CCTV yang di kantonginya.
Tapi, Armand masih ingin melihat sampai sejauh mana, Monita bermain-main dengannya. Dia tengah memikiran cara untuk menemukan ayah dari anak yang di kandung wanita itu.
Acara pernikahan sepakat di adakan dua minggu lagi. Harus diadakan secepat mungkin, sebelum kandungan Monita semakin besar. Takut berdampak buruk bagi nama baik keluarga.
Senyum merekah selalu tersungging di bibir pasangan ibu dan anak itu. Rencana mereka berhasil.
Aku harus mencari siapa laki-laki itu. Akan ku seret dia kemari, batin Armand geram.
Seringaian terbit dari bibirnya kala, sebuah ide terlintas di otaknya.
...----------------...
Monita senang bukan kepalang, saat Armand mengajaknya untuk ngobrol berdua. Mereka duduk di sebuah kursi di taman belakang.
''Sini ponselmu!'' Armand meminta ponsel yang ada di tangan Monita.
Monita sudah memasang sikap waspada,
__ADS_1
''Untuk apa?''
''Ck, aku ingin memasukkan nomorku ke ponselmu, kenapa tidak mau?'' Armand mulai melancarkan aksinya.
Tentu saja, Monita senang bukan kepalang mendengarnya. Tanpa bersusah-payah meminta, dia bisa mempunyai nomor pria itu. Dengan senang hati, dia menyerahkan benda pipih itu. Bahkan, membuka password-nya di hadapan laki-laki itu..
'Dasar bodoh.'
''Aku orangnya mudah cemburu. Aku tidak suka pasanganku menyimpan nomor laki-laki lain.'' Armand mulai mengutak-atik benda pipih itu.
Monita menahan nafasnya, untung dia sudah memblokir nomor kekasihnya.
Armand membuka satu persatu sosial media milik wanita itu, terutama aplikasi hijau. Karena dia yakin, dia bisa menemukan informasi disana.
''Monita, aku haus tolong ambilkan aku minum,'' kata Armand pura-pura serak, ''Ponselmu kupinjam dulu, aku harus menyortir beberapa akun laki-laki yang ada di sosial media milikmu Boleh 'kan?'' Alasan yang klise.
Tanpa curiga, Monita mengiyakan lalu beranjak mengambilkan minum untuk pria itu. Yang ada dipikirannya sekarang, Armand sudah berada dalam genggamannya. Dan sebentar lagi mereka menikah.
Pertama, Armand menemukan nomor manager wanita itu. Dia segera menyimpan nomor itu di ponselnya. Tidak sampai disitu, dia juga membuka setelan aplikasi untuk melihat kontak yang di blokir, hanya satu nomor. Dia juga menyalin nya. Berharap kedua nomor ini bisa memberinya petunjuk.
Armand memang secerdik itu. Menghadapi orang-orang licik harus memggunakan cara licik.
Saat Monita kembali, Armand sudah selesai dengan urusannya.
''Sudah handphone-nya?'' tanya Monita.
Armand hanya mengangguk dan meminum minumannya.
...----------------...
yuk tinggal kan jejak. Aku cuma minta jempol lhoo, gratis. Tinggal pencet doang..
VOTE, HADIAH seikhlasnya saja..
monggo kerso..
Semoga selalu terhibur dengan karya semrawut ini..
__ADS_1
babay...