
"Hallo, Gengs...," sapa Renita saat panggilan videonya di angkat oleh ketiga sahabatnya.
Tampak Dania tengah berada di kantin kantor sedang menikmati makan siangnya. Wina hanya memperlihatkan bagian wajahnya karena sedang menyusui. Dan Reva yang tengah bersantai dengan perut buncitnya.
"Gue kangen sama kalian," kata Reva dengan mata berkaca-kaca.
"Sama, gue kagak ada partner berantem. biasanya, 'kan lu, Va. Yang suka nyolot ucapan gue."
"Ah, Wina. Meskipun nyebelin loe ngangenin," jawab Reva dengan manjanya.
Sedangkan, Renita dan Dania hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Loe berdua aneh, kalau dekat kagak pernah absen adu mulut. Pas jauh begini kangen-kangenan. Entar kalau ketemu reunian lu pada, berpelukan kayak Teletubbies," sahut Dania dengan sewotnya.
"Ih, adek ipar loe kenapa, Win? Sensi amat," tanya Reva.
"Biasa.... Habis kenal omel abangnya," jawab Wina
"Dasar kakak ipar gak ada akhlak lu. Gue di marahin bukannya bela malah diem ae kek patung," sewot Dania.
"Salah sendiri, lagi deket sama cowok kagak pernah cerita ke gue," sahut Wina tak mau disalahkan.
"Dimarahin kenapa?" tanya Renita.
"Noh, bujang lapuk kakaknya Wina, si biang kerok. Gegara mulut lemesnya dia, gue kena marah habis-habisan." Dania menusuk kasar pentol bakso yang ada di mangkoknya.
"Kenapa sih, Win?" Renita meminta penjelasan.
"Kak Andrew ngadu ke bang David. Dia pacaran sama Devan di rumahnya. Seminggu yang lalu," jawab Wina.
"HAH! sumpah demi apa? Loe sama si gunung es," teriak Reva yang tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Udah bucin malah," sahut Renita.
"Kok loe tau?" tanya Wina dan Reva bersamaan.
"Istri bos gitu," ucap Renita jumawa.
"Gara-gara itu, abang minta Devan buat nemuin dia. Mau diapain coba. Ah, taulah, pusing gue." Kekesalan Dania bertambah setiap kali mengingat masalahnya.
"Ya tinggal bilang, Nya. Pan pacar sendiri," kata Reva.
"Masalahnya dia mengangumi dalam diam," ucap Renita mendramatisir.
Yang mana hal itu, langsung disambut gelak tawa kedua sahabatnya yang lain.
__ADS_1
"Eh, udah. Gara-gara curhatan si Dania. Gue melupakan tujuan gue menghubungi kalian."
"Apa, Ren?" tanya mereka penasaran.
"Jadi gini...."
Renita mengutarakan rencananya untuk mengajak para cs-nya bergabung ke usaha yang baru dia rintis. Dia juga menjelaskan sistem pembagian hasilnya secara rinci.
"Kalian mau, 'kan?" tanya Renita.
"Ide bagus tuh. Gue tertarik," celetuk Reva.
"Gue yang modalin usaha lu. Jatah bulanan gue lebih dari cukup kalau cuma buat modal begituan doang mah," lanjutnya lagi.
"Wuih, istri sultan, Guys." Wina menimpali.
"Gue juga tertarik. Gue ambil bagian sama kayak Reva. Sekalian juga gue pengecek laporan. Hasil akhirnya gue yang kirim ke elu," lanjut Wina.
"Gue bagian promosi," celetuk Dania, "lumayan bisa buat sampinga,'' sambungnya dengan menaik turunkan alisnya
"Oke, deh. Aku gak nyangka kalian bakal seantusias ini, menerima ajakan gue. Makasih, Gengs. Kalian memang the best," ucap Renita dengan mata berkaca-kaca.
...----------------...
Tanpa terasa tiga bulan sudah, Renita menjalani usaha bersama para cs-nya. Kini, mereka juga menambah menu catering dalam usahanya. Semua dilakukan di rumah Renita. Alasannya, tentu agar Renita bisa tetap mengurus keluarga kecilnya.
Renita juga sudah menambahkan dua orang pegawai untuk membantunya. Dia memanfaatkan paviliun kosong yang terletak di bagian samping rumah sebagai tempat usahanya.
"Huh, capeknya...," keluh Renita.
Dia merenggangkan otot-otot leher dengan menggerakkan ke kanan ke kiri. Tubuhnya terasa sangat letih. Padahal, pekerjaannya belum selesai. Dia masih memeriksa laporan keuangan yang baru di kirim Wina.
"Nih, diminum dulu."
Secangkir kopi dengan asap mengepul tersaji di hadapan Renita. Wanita itu mendongak, ternyata sang suami cukup pengertian, memberi sesuatu yang ia butuhkan.
"Terimakasih, Sayangku," ucap Renita diiringi senyum termanisnya.
"Sudah malam, lanjutkan besok," titah Armand.
Pria itu menyalakan televisi hendak menyaksikan acara bola kesayangannya.
"Nanggung, Mas. Sebentar lagi selesai. Besok juga waktunya menggaji Risa sama Anton," kata Renita, menyebut dua orang pegawainya.
"Kamu sendiri bukannya tidur malah nyalain tivi," omelnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
__ADS_1
"Aku mana bisa tidur kalau gak ada kamu."
"Halah, gombal," sangkal Renita tapi dia tidak bisa menahan senyumnya.
"Biarin, gombal sama istri sendiri gak ada yang melarang. Asal tidak ke istri orang," sahut Armand dengan entengnya.
Renita langsung menatap tajam suaminya. "Jangan macam-macam kamu!"
"Mana berani aku. Banteng betina kalau ngamuk mengerikan," ucap Armand tanpa sadar ucapannya itu berhasil menyulut api di kedua telinga istrinya. Jika bisa di gambarkan, tampak asap panas mengepul dari ubun-ubun wanita itu.
"Coba ulangi lagi, Mas."
Armand terkesiap, baru sadar akan kesalahannya.
"Bukan begitu." Armand merapatkan tubuhnya ke tubuh sang istri. Tangannya dengan segera merangkul mesra pundak putih yang terekspos itu. "Kamu cantik, seksi, pintar. Aku bangga memilikimu."
Pria itu mengeluarkan rayuan mautnya untuk menyelamatkan diri dari amarah wanita ini.
"Gak mempan!"
Hening....
Renita kembali sibuk dengan sederetan angka. Armand mulai fokus pada televisi karena pertandingan club kesayangannya di mulai.
"Aku udah selesai, kamu tidur sekarang apa nanti?" tanya Renita memecah keheningan diantara mereka.
Dia melirik ke arah jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Kamu duluan saja, nanggung sudah setengah mainan," jawab Armand tanpa mengalihkan fokusnya dari layar di depannya.
"Ya sudah, tapi jangan malam-malam," pesannya sebelum pergi meninggalkan sang suami.
Renita menghentikan langkahnya saat merasakan kepalanya terasa sangat pusing. Bahkan, wanita itu sampai harus bersandar pada pegangan tangga untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak terjatuh. Armand yang menyadari hal itupun segera mendekat.
"Kamu kenapa, Ren?" tanya Armand dengan nada khawatir.
"Gak tau, tiba-tiba kepalaku pusing sekali. Rasanya seperti berputar semua," kata Renita dengan memegangi kepalanya.
"Aku antar ke kamar."
Renita hanya mengangguk. Dia dipapah sang suami menaiki tangga.
"Makanya, jangan terlalu dipaksakan, Ren. Bila perlu tambah pegawai lagi, satu atau dua orang. Aku yang akan membayar mereka," oceh Armand.
Renita sudah tidak fokus dengan ocehan suaminya. Yang dia rasakan kepalanya bertambah pusing, hingga akhirnya....
__ADS_1
BRUKK!