My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 23: Mulut-Mulut Kurang Kerjaan


__ADS_3

Devan berdiri menatap figura besar yang berada di ruang tengah, memandang gambar dirinya yang masih berusia sepuluh tahunan tengah diapit kedua orang tuanya. Gambar yang sempat diambil beberapa bulan sebelum sang ayah meninggalkan ia dan sang ibu untuk selamanya. Semua yang ada disana menunjukkan senyum bahagia.


Pandangannya lurus ke depan dengan bibir terkatup rapat. Dia tidak banyak bicara sejak pulang dari pemakaman sang ibu, bahkan dia juga mengabaikan sanak saudara dan kerabat dekat dari pihak sang istri. Pikirannya masih menyangkal keras, jika Sekar telah tiada. Ucapan terakhir wanita baya itu masih terngiang jelas di telinganya.


"Jangan terlalu lelah bekerja, Van. Pikirkan juga kesehatanmu. Jangan gadaikan kesehatan untuk mengejar dunia, tidak ada guna. Sekarang kau punya istri, perhatianmu semakin bertambah. Kau harus bisa membagi waktu dengan keluarga. Jangan sampai Dania mendapat kenyamanan dari bahu pria lain." Sekar memulai pembicaraannya saat putra semata wayang memijat kedua kakinya bergantian.


"Kamu beruntung, Van. Mendapat wanita sebaik Dania. Baik, sopan, lemah lembut dan menyayangi ibu seperti ibu kandungnya sendiri. Mendapatkan Dania serasa ibu punya anak perempuan. Tolong jaga dan sayangi dia. Jangan sia-siakan dia. Bila di hatimu masih belum ada perasaan apapun padanya, pupuklah perasaan itu. Cinta datang karena terbiasa."


Devan hanya bisa mengangguk mengiyakan ketika mendengar petuah dari sang ibu.


Sepasang tangan lembut membelit perut kekarnya dari belakang. Tindakan itu berhasil menarik paksa kesadaran Devan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Dania.


"Aku paham kesedihanmu tapi aku mohon jangan berlebihan seperti ini. Kasihan ibu di sana, jalannya dipersulit karena anaknya belum ikhlas. Saat ini, yang ibu butuhkan doa dari putranya yang berbakti." Dania berucap dengan menyandarkan kepalanya di punggung kekar sang suami.


Dia akan berusaha menguatkan pria rapuh ini.


Devan membalikkan tubuhnya, lalu kembali memeluk erat wanita pilihan ibunya. Menumpukan dagu di pucuk kepala wanita itu dengan mata terpejam. Tanpa terasa, air matanya meleleh tanpa bisa di cegah.


Dania segera mendongak saat merasakan ada setetes air mata yang membasahi kulit kepalanya. Dilihatnya, sang suami tengah menangis dengan mata terpejam. Tangannya terulur menghapus sisa kristal bening itu.


Devan membuka mata ketika merasakan ada tangan lembut yang menyentuh permukaan wajahnya. Dia melerai dekapannya, kemudian menatap intens wanita yang telah menjadi istrinya.


Dania hanya tersenyum, lalu berkata, "aku akan selalu ada bersamamu. Jangan menangis lagi."


Tanpa banyak bicara, laki-laki berusia tiga puluh dua tahun itu kembali mendekap sang istri dengan lebih erat dari sebelumnya.


''Aku akan berusaha menuruti keinginan terakhir ibu. Aku anggap ini sebagai bakti terakhir ku pada ibu," batin Devan.


...----------------...

__ADS_1


Tanpa terasa seminggu berlalu setelah kepergian Sekar. Devan dan Dania juga sudah menjalani aktivitas seperti biasa karena tuntutan pekerjaan.


Kondisi Devan jauh lebih baik. Itu semua berkat sang istri yang selalu ada bersamanya. Sepasang pengantin baru itu juga masih menempati kediaman Sekar dan sepakat untuk menetap di sana. Karena merasa sayang jika rumah itu di biarkan kosong. Meskipun, tidak terlalu besar namun di dalamnya menyimpan banyak kenangan yang berarti.


''Kamu tidak keberatan, 'kan? Berangkat dari sini yang notabene jaraknya lumayan jauh?" tanya Devan sebelum menyalakan mesin mobilnya.


''Sama sekali tidak," tegas wanita itu diiringi senyum manisnya.


''Kemanapun kamu pergi, aku akan selalu ikut bersama mu karena kamu suamiku," sambung Dania.


Devan yang mendengar hal itu hanya menanggapi dengan senyum manisnya. Dia patut bersyukur, mendapat seorang istri yang tak banyak menuntut seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Pilihan ibunya memang tidak pernah salah.


Devan menyalakan mesin mobil, perlahan kereta besi itu berjalan meninggalkan pelataran rumah. Disebabkan jarak tempuh yang cukup jauh, mereka harus berangkat lebih pagi dari biasanya.


Sesampainya di tempat kerja, sepasang anak adam itu berjalan beriringan memasuki lobby. Dan hal itu tak luput dari pengamatan orang-orang sekitar. Ada dari mereka yang menatap penuh telisik, ada pula yang saling berbisik.


''Perasaan dari kemarin, si Dania kok sering berangkat sama pulang bareng Pak Devan. Apa mereka punya hubungan khusus," bisik salah satu dari mereka yang masih terdengar di telinga Dania.


''Aku dengar-dengar, sih mereka berdua udah nikah." seorang wanita yang lain menimpali.


''Masa sih? Jangan bilang kejadian sekretaris yang di tiduri atasan seperti waktu itu, terulang lagi." Devan yang baru mendengar hal itupun hanya bisa mengerutkan kening.


Dia melirik sang istri, bertanya melalui isyarat matanya. Tapi, Dania hanya menanggapi dengan acuh.


''Jangan-jangan, si Dania berhasil menggoda Pak Devan terus dinikahi gegara dia udah melendung duluan." Wanita satunya lagi menimpali dengan suara sedikit keras, sehingga temannya yang lain memberi isyarat untuk memelankan suaranya.


Dania hanya menggelengkan kepala mendengar asumsi dari mulut-mulut kurang kerjaan. Dia jadi teringat kejadian terbongkarnya skandal Renita dan si Bos dulu.


''Pimpinan tertinggi di perusahaan ini saja mereka santap, apalagi aku yang cuma karyawan biasa. Dilahap habis tak bersisa. Masa bodoh lah, nanti kalau capek juga berhenti sendiri mulutnya," batin wanita itu tak ingin ambil pusing.

__ADS_1


Dania segera mencekal lengan sang suami ketika melihat gelagatnya hendak menghampiri para wanita kurang kerjaan itu dengan wajah penuh amarah. Bersamaan dengan dengan itu pula, pintu lift terbuka. Dia segera menyeret suaminya memasuki lift.


''Tuh, 'kan. Seribu persen yakin, mereka ada hubungan khusus. Si Dania berani narik-narik tangan Pak Devan, di depan umum lagi."


Ucapan terakhir yang mereka dengar sebelum pintu lift tertutup rapat, bahkan Devan sempat menatap tajam para wanita itu. Dan merekam satu per satu wajah mereka di dalam ingatannya.


''Kenapa kamu menahan ku untuk menegur mereka?" tanya Devan dengan nada dinginnya.


''Buat apa? Tidak penting," jawab wanita cuek sembari memperhatikan warna kutek pada kuku-kuku tangannya.


''Tapi mereka telah menuduh mu yang bukan-bukan, Dania." Devan mengeram kesal, tidak habis pikir bagaimana wanita ini masih bisa sesantai itu setelah mendengar ucapan pedas mereka. Dia saja yang tidak di gosipkan merasa panas sendiri.


''Biarkan saja, nanti kalau capek juga berhenti sendiri. Percuma buang-buang tenaga meladeni mereka. Yang terpenting kita tidak melakukan hal itu. Biar bukti yang membungkam mulut nyinyir mereka."


Devan tersenyum tipis mendengar tanggapan wanita itu. Dia tidak menyangka jika wanita ini benar-benar dewasa dan bijak menghadapi masalahnya.


''Kalau senyum jangan setengah-setengah," sindir wanita itu.


Devan segera berdehem mengembalikan ekspresi datarnya. Dia tidak menyangka istrinya ini mengetahui apa yang dia lakukan.


"Jeli sekali penglihatannya."


...----------------...


Jangan lupa tinggalin jejak kalian, like, favorit, dan komentar. Karena komentar kalian sangat berarti buat penulis remahan seperti ku ini...


Jangan bosan-bosan ya buat mantengin cerita ini. Oh ya, jangan mampir juga ke rumahnya si Maura.


See you next part....

__ADS_1


Babay....


__ADS_2