
"Makanya, jangan terlalu dipaksakan, Ren. Bila perlu tambah pegawai lagi, satu atau dua orang. Aku yang akan membayar mereka," oceh Armand.
Renita sudah tidak fokus dengan ocehan suaminya. Yang dia rasakan kepalanya bertambah pusing, hingga akhirnya....
BRUKK!
"Ren!" Armand berteriak panik ketika tubuh istrinya terkulai lemas di tangannya.
"Ren, bangun."
"Ren."
Dia menggoyang pipi istrinya berkali-kali, hingga mencubit tangannya untuk membangunkan wanita itu, tapi nihil. Tak ada pergerakan apapun darinya.
Armand membopong tubuh Renita ke kamar, membaringkan dengan hati-hati, tak lupa menyelimutinya. Setelah itu, dia segera menghubungi dokter keluarganya, memintanya segera datang untuk memeriksa sang istri.
"Kamu kenapa sih, Ren? Sampai pingsan seperti ini. Aku 'kan sudah bilang, jangan terlalu capek." Armand mengajak berbicara wanita yang tidak sadarkan diri itu.
"Aku masih sanggup membiayai hidupmu, aku masih sanggup memenuhi semua keinginanmu. Tanpa perlu, bersusah payah seperti ini. Kamu terlalu keras kepala, Ren."
Laki-laki itu, terus saja mengoceh tanpa tahu, istrinya mendengarkan atau tidak.
"Permisi, Tuan." Suara pembantunya mengalihkan perhatian Armand.
"Ada yang mencari, katanya dokter keluarga Tuan Setiawan. Apa Tuan memanggilnya?"
"Iya, suruh dia segera naik ke lantai atas," jawab Armand singkat.
"Baik, Tuan."
Tak menunggu lama, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu.
"Malam, Tuan."
"Cepat periksa istriku. Dia tiba-tiba pingsan saat akan menaiki tangga," kata Armand.
Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
Dokter wanita itu mengangguk, lalu menjalankan tugasnya. Di mulai dari memeriksa denyut nadi hingga tensi darah Renita.
"Bagaimana keadannya?" tanya Armand.
Wanita itu melepas stetoskopnya. "Kondisinya sangat lemah, tensi darahnya rendah, 90/110. Dia kelelahan dan...."
"Dan apa?" tanya Armand lagi dengan tidak sabar.
"Ini hanya perkiraan saja. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa memeriksakannya ke rumah sakit," jelas dokter itu.
"Maksudnya, dia...."
Dokter wanita itu mengangguk pelan.
"Saya resepkan obat penambah darah dan vitamin. Pastikan dia meminumnya saat sadar nanti."
"Anda tidak usah khawatir, beberapa saat lagi dia akan segera sadar. Kalau begitu saya permisi," pamit wanita itu dengan sopan.
__ADS_1
"Terimakasih. Dan maaf merepotkanmu dini hari begini," kata Armand dengan nada rendah.
"Tidak apa-apa, Tuan. Itu sudah menjadi tugas saya," ucapnya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Armand menggenggam lembut tangan istrinya. Dia menatap dalam wajah lelap itu. Pikirannya berkecamuk, perkataan dokter terus menghantui pikirannya.
"Seandainya itu benar, pastilah aku akan menjadi orang yang paling bahagia. Karena keinginanku terwujud. Seandainya, tidak. Mungkinkah aku akan kecewa. Tidak, aku tidak akan seperti itu. Aku akan terus menggempurmu sampai dia jadi." pria terus saja bermonolog.
Tatapannya, beralih pada perut istrinya, kemudian tangannya mengusapnya lembut.
"Aku harap dia sudah hadir disini," gumamnya.
Terdengar lenguhan pelan dari mulut Renita. Armand mengalihkan perhatiannya pada sang istri.
"Akhirnya, kamu sadar," ucap Armand saat melihat mata istrinya terbuka.
"Dimana ini?" tanya Renita dengan nada lemah.
"Kamu di kamar. Semalam, kamu mendadak pingsan."
Melihat pergerakan wanita itu yang ingin bangun, Armand segera membantunya. Renita menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang sembari memejamkan mata.
"Jam berapa ini, Mas?"
"Baru pukul enam pagi."
"Matamu terlihat sayu. Kamu gak tidur?" tanya Renita.
"Aku gak bisa tidur. Aku terlalu khawatir dengan keadaanmu." Armand menatap intens wajah istrinya yang terlihat sangat pucat, bibirnya tampak kering.
"Bagaimana, sudah lebih baik?"
Armand terdiam mendengar jawaban istrinya, dugaannya semakin kuat.
"Kita periksa ke dokter, ya," bujuk Armand.
"Buat apa? Aku tidak apa-apa. Hanya kecapekan. Mungkin asam lambungku kumat. Beberapa hari ini aku sering telat makan."
"Kita ke dokter untuk memastikan saja," paksa Armand.
"Memastikan apa?" tanya Renita sesekali memegang kepalanya yang masih berdenyut.
"Perkiraan dokter kamu hamil," kata Armand.
Renita terkekeh kecil. "Ngaco kamu. Aku baru bongkar pasang bulan kemarin."
"Bongkar pasang, apa?" tanya Armand dengan polosnya.
"Kontrasepsi."
"Astaga, Renita. Aku 'kan sudah bilang tidak usah di pasang lagi alat itu. Aku ingin punya anak lagi," ucap Armand menahan kesal.
"Aku pikir Vello masih terlalu kecil buat di adek-in, Mas."
"Itu terus alasanmu, aku masih sanggup sewa pengasuh," ucap Armand setengah membentak
__ADS_1
Dia benar-benar kesal, pupus sudah harapannya.
Renita tak berani membantah, karena dia memang salah. Dan suaminya terlanjur emosi..
"Ya, maafin aku, Mas," lirih Renita.
Armand tak menghiraukan itu. Dia memilih pergi dengan membanting pintu.
________
"Mas, kamu marah sama aku." Renita mengekor kemanapun suaminya melangkah.
"Aku tahu aku salah. Maafin aku. Masa cuma gara-gara itu. Kamu segitu marahnya sama aku."
Setelah peristiwa itu, Armand memang mendiamkan istrinya selama beberapa hari. Tidak ada teriakan manjanya saat pagi, seperti yang biasa dia lakukan. Semua kebutuhannya, dia persiapkan sendiri. Bahkan, tidurpun dia memilih pisah kamar. Semua itu dia lakukan agar istrinya sadar, agar tidak terus-menerus mengedepankan egonya.
Armand menghentikan langkahnya, lalu berbalik dengan menatap tajam wanita itu.
"Kamu bilang cuma. Setelah kamu buat aku kecewa, amu masih menganggap sepele hal itu," kata Armand dengan kesal.
"Tapi, aku masih tetap mengurusmu dan Vello dengan baik di tengah kesibukanku," bantah Renita.
"Selama ini aku tidak pernah menuntutmu. Aku selalu menuruti semua keinginanmu. Meski, aku melarang dan kamu memaksa apa aku marah? Tidak, 'kan? Aku hanya ingin kamu hamil. Berikan aku anak lagi," lirih Armand.
"Aku 'kan sudah bilang. Kalau sudah rezeki, kita pasti diberi, Mas. Tidak usah dipaksakan."
"Tapi tidak dengan menghalanginya juga, Renita." Armand menyergah cepat perkataan istrinya.
"Kalau sudah rezeki, meski aku pakai kontrasepsi, pasti jadi."
"Wanita ini...." Armand mengeram kesal.
Ada saja jawaban yang keluar dari mulutnya. Niat hati ingin mendiamkannya selama berminggu-minggu, malah dia sendiri yang tidak tahan.
"Sudahlah, capek ngomong sama kamu." Armand memilih mengakhiri perdebatan ini, karena jika di teruskan pasti ujungnya hanya ada keributan.
Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan sang istri yang menatap nanar kepergiannya.
"Mau kemana, Mas?!" tanya Renita dengan berteriak.
Armand hanya mengangkat satu tangannya tanpa berbalik, sembari meneruskan langkahnya.
"Niat bicara baik-baik malah berakhir seperti ini.''
"Sabar, Mbak. Tuan hanya kecewa tidak marah," kata Bi Lastri yang melihat perdebatan mereka.
Baginya, seperti ini bukan hal baru baginya dan pegawai yang lain. Kadang wanita paruh baya itu, tidak habis pikir dengan kedua majikannya itu.
"Apa salah ya, Bi? Aku menunda kehamilan karena mikir anak masih kecil. Kenapa kok sampai segitu marahnya."
Bi Lastri hanya bisa menanggapi dengan senyuman. Dia tidak berani ikut campur terlalu jauh dengan masalah mereka.
"Mbak Reni yang sabar saja."
...----------------...
__ADS_1
Terlalu lebay gak sih? Enggak ya....
Masih nyambung 'kan?