
Armand menghela nafas lega. Dia baru saja menyelesaikan rapat bersama para dewan direksi, terkait hilangnya dana proyek yang berjumlah besar itu. Para pelaku sudah ditemukan termasuk pelaku utama, yang tidak lain manager keuangannya. Mereka sudah dijerat secara hukum dan bersedia menerima segala konsekuensi, karena telah berani korupsi uang perusahaan.
Akhirnya, masalah yang telah membuatnya pusing tujuh keliling, dan uring-uringan selama beberapa hari ini terselesaikan juga.
Sebab ini, dia juga telah mengabaikan anak dan istrinya. Seringkali, dia melampiaskan kekesalannya pada sang istri. Dan dia sadar betul akan hal itu.
Armand mengambil jasnya dan bergegas pulang ke rumah. Dengan tergesa menuju parkiran mobilnya. Dia ingin segera sampai rumah dan meminta maaf pada Renita. Pasti wanita itu, sangat kecewa terhadap sikapnya akhir-akhir hari ini.
"Maafkan aku, Ren,'' gumam Armand di sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit, mobil yang dia kendarai sudah memasuki pekarangan rumahnya. Pria itu mengerutkan kening, ketika melihat Mang Udin, sopir pribadinya. Tengah sibuk memasukkan beberapa tas berukuran besar ke dalam mobil.
Armand masih berfikir positif dan tak menaruh curiga apapun. Dalam fikirannya, mungkin Mang Udin akan pulang kampung.
''Loh, bapak sudah pulang?'' tanya Bi Lastri dengan keterkejutannya.
''Iya, saya ingin bertemu Renita. Dimana dia, Bi?''
''Di dalam, Pak. Sedang beres-beres."
''Ya sudah. Bibi bisa lanjut kerja,'' kata Armand.
''Tap-tapi, Pak....'' Bi Lastri tidak lagi menyelesaikan ucapannya, karena majikannya keburu masuk ke dalam rumah.
''Semoga tidak terjadi perang besar,'' gumam Bi Lastri.
...----------------...
''Ren, aku ingin....'' Perkataan Armand terhenti, ketika melihat istrinya sudah rapi, tengah bersiap menggendong putranya yang berada di tempat tidur.
''Kamu mau kemana, Ren?'' tanya Armand.
Renita diam, mengabaikan pertanyaan suaminya. Malas rasanya meladeni pria itu.
Dia segera membawa Marvello kedalam gendongannya, lalu keluar begitu saja.
''Ren, kamu mau kemana?'' tanya Armand dengan mengejar langkah istrinya.
Renita masih bungkam.
''Ayo, Pak. Kita berangkat,'' kata Renita saat sampai di teras rumah.
Disana, sudah ada Mang Udin yang selalu standby.
''Ren, jawab aku!'' sentak Armand dengan mencekal pergelangan tangan sang istri.
''Lepas!'' jawab Renita tak kalah keras.
Renita melepas paksa genggaman itu, matanya menyorot tajam. Sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Melihat majikannya sudah berada di dalam, Mang Udin segera mempersiapkan diri di balik kemudi.
''Jalan, Mang,'' titah Renita.
Baru saja, Pria paruh baya itu hendak menginjak pedal gas. Armand menghadang mobil itu.
''Jawab aku, Renita. Atau aku akan tetap seperti ini,'' teriak Armand.
''Mang Udin akan ku pecat, kalau kamu nekat pergi, Ren,'' ancam Armand.
''Jalan, Pak,'' perintah Renita.
''Tapi, Mbak....''
''Saya bilang jalan ya jalan,'' sahut Renita dengan kesalnya, ''tidak udah takut, saya masih mampu menggaji mamang.''
Mang Udin dibuat terkejut melihatnya. Selama ia bekerja disini, baru kali ini ia melihat kemarahan majikan wanitanya ini.
''Jalan, tabrak saja,'' titah Renita tanpa mau dibantah.
Meski ragu, Mang Udin tetap menjalankan perintah majikannya.
''Maaf, Tuan,'' ucap Mang Udin sebelum tancap gas.
Armand reflek menghindar. Dia bergegas menuju mobilnya untuk mengejar kepergian sang istri.
''Ibu harus tahu ini,'' kata Bi Lastri setelah kedua mobil itu menjauhi pekarangan rumah.
...----------------...
Sesekali, matanya melirik kearah belakang, dimana mobil sang suami berada tepat di belakangnya.
''Ngebut, Mang, ngebut!'' teriak Renita dengan paniknya.
''Aduh, Mbak Reni. Saya gak bisa ngebut. Jalanan ramai. Nanti yang ada kita celaka,'' keluh Mang Udin.
Melihat kepanikan wanita itu, Pria paruh baya itupun ikut panik. Tapi, dia berusaha fokus pada jalan di depannya.
Renita menghela nafas frustasi. Tanpa sengaja, matanya melirik lampu lalu lintas yang sudah berwarna kuning.
''Mang tambah kecepatannya, jangan sampai kita terjebak lampu merah!''
Dan Mang Udin pun menuruti perintah wanita itu. Mereka berhasil lolos dari lampu merah. Sedangkan, mobil Armand malah terjebak di sana.
''****!'' Armand mengumpat kesal, ketika dia terpaksa berhenti. Dan melihat mobil istrinya kian menjauh.
Pria itu menyunggar rambutnya kasar. Wajahnya terlihat sangat gusar, tatkala lampu tak kunjung berwarna hijau.
''Kau mau kemana, Renita?'' geram Armand.
__ADS_1
Netranya, melirik papan hijau yang berada tepat di depannya.
''Bandara,'' gumam Armand.
Seringai tipis terbit di bibirnya.
''Terimakasih ya, Mang,'' ucap Renita dengan tulus, ketika mereka sampai di Bandara.
''Ini buat mamang.'' Renita menyerahkan amplop tebal berwarna coklat ke tangan pria itu.
''Apa ini, Mbak?''
''Buat jaga-jaga, kalau Mas Armand beneran mecat mamang.''
Renita masuk ke dalam Bandara dengan menyeret kopernya beserta tas kecil berisi kebutuhan anaknya, yang diletakkan diatas koper. Tak lupa, dia berpesan agar sopirnya itu berhati-hati saat pulang.
''Terimakasih, Mbak Reni!'' teriak Mang Udin dari luar sana.
Renita menoleh sejenak, lalu mengangguk diiringi senyum manisnya.
Kini, wanita itu sudah berada di ruang tunggu keberangkatan pesawat. Beruntung, Marvello tertidur setelah diberi ASI tadi. Jadi, Renita tak terlalu di repotkan dengan kerewelannya.
''Tidur yang nyenyak ya, Sayang. Kita akan ke rumah nenek,'' kata Renita dengan mengecup lembut kening putranya.
Bukan tanpa alasan, dia main kabur-kaburan seperti ini. Dia sudah terlanjur marah dan kesal pada suaminya. Tanpa alasan yang jelas, dirinya selalu menjadi objek kemarahan Armand. Setiap kali, Renita mengajak sang suami bicara baik-baik. Armand selalu menanggapinya dengan kasar. Tak jarang pula, bentakan keras keluar dari mulut pria itu.
Dan satu lagi, yang membuat Renita kecewa. Armand juga mengabaikan putranya. Renita pernah tanpa sengaja melihat Marvello merangkak menghampiri ayahnya untuk meminta gendong. Bukan disambut, pria itu malah tega, meninggalkan anaknya yang menangis histeris karena permintaannya tak dituruti. Padahal sebelumya, Armand tak pernah bersikap seperti itu.
Mungkin, Renita masih terima dan bersabar. Saat Armand mengabaikannya. Tapi dia tidak akan terima, saat Armand mengabaikan anaknya. Dia merasa, jika keberadaan dirinya dan Marvello sudah tidak dibutuhkan lagi oleh pria itu.
Padahal, jika Armand mau mengatakan semua masalahnya. Renita akan senang hati mendengarkan. Tapi, pria itu tak pernah mengatakan apapun padanya. Malah menjadikan dirinya objek pelampiasan.
Setetes air mata jatuh ke pipi Renita, kala mengingat semua itu. Dia membiarkan air mata itu mengalir deras tanpa berminat menghapusnya. Dia hanya ingin semua beban hatinya sirna.
Renita tersentak saat merasakan sebuah tangan mengusap lembut pipinya.
''Jangan menangis,'' ucapnya.
Renita memalingkan mukanya, enggan rasanya dia menatap wajah itu.
''Maafkan aku.''
Renita masih diam tak menanggapi. Raut wajahnya semakin dingin saat tahu orang itu adalah suaminya.
''Maki aku, Ren. Pukul aku, tampar aku. Aku rela, asal kamu tidak mendiamkan aku seperti ini. Apalagi, sampai kamu dan Vello nekad meninggalkanku.''
Terdengar suara pemberitahuan, jika pesawat yang ditumpangi Renita akan segera berangkat.
Renita beranjak dari tempat duduknya, membiarkan suaminya yang menatap nanar kepergiannya.
__ADS_1
''Sambut ketenganmu, Mas. Tidak ada lagi kecerewetanku yang akan membuat kepalamu pusing, tak ada lagi suara tangis Vello yang mengganggu tidurmu. Jangan mencariku! Karena aku tak'kan pernah menemuimu.''