My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Hari H


__ADS_3

Mata Asih berkaca-kaca saat melihat putrinya telah selesai di rias. Renita tampak cantik dan anggun dengan gaun putih yang membalut tubuhnya.


''Ibu kok nangis ?'' Renita menghapus setitik air mata yang menetes di pipi ibunya.


''Ndak, ibu bahagia. Ibu merasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin Ibu melahirkanmu, menyusui dan menggendongmu, Ren. Baru kemarin, Ibu menghadapi kemanjaanmu yang makan mesti di suapin dulu baru mau makan. Sekarang, putri Ibu sudah menjadi seorang ibu,'' tutur Asih panjang lebar.


Tanpa banyak kata, Renita langsung menghambur memeluk ibunya. Wanita itu, terisak di pelukan sang ibu.


'Loh, kok nangis?'' Asih melerai pelukan putrinya. ''Nanti make-upnya luntur."


''ini Waterproof bu, ibu ngerusak suasana haruku aja,'' sungut Renita.


Asih tertawa di buatnya, ''Sudah, hari ini nggak pantas buat nangis. Di hari bahagiamu, Reni nggak boleh sedih. Harus full senyum!''


''Ibu tau dari mana kata-kata anak muda itu, bu ?''


''Siapa lagi kalau bukan adikmu. Setiap hari yang di putar lagu itu terus. Ibu sampai bosan dengernya,'' kata Asih.


Renita tertawa mendengarnya.


Di ruangan lain.


''Gantengnya anakku, akhirnya keinginan mama terwujud. Sekarang, mama sudah tenang karena melihatmu sudah menikah. Nggak perlu di bayang-bayangi rasa takut kalau kamu tidak laku, apalagi sampai kamu nggak suka perempuan,'' kata Amalia dengan merapikan pakaian yang di kenakan putranya.


''Mama kira dulu kamu nggak normal, Ar. Tiap di kenalkan perempuan selalu menolak dan bilang tidak tertarik. Tapi setelah mama mendengar, kamu menghamili anak orang. Entah kenapa mama justru bangga sama kamu.''


Armand mengernyit bingung.


''Mamamu terlalu bahagia waktu itu, Ar. Papa di desak mulu untuk segera menikahkan kamu sama Renita,'' sahut Setiawan yang juga berada di sana.


''Mama memang wanita teraneh di dunia,'' celetuk Armand.


Amalia melotot mendengarnya, ''Apa kamu bilang ?''


Armand mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


''Nggak sopan!" kesal Amalia lalu meninggalkan putranya begitu saja.


''Mau kemana, ma?'' tanya Setiawan.


''Nengok mantuku." Amalia menghilang di balik pintu.


...-------------...


Di tempat acara..


Pada area pintu masuk, terdapat penanda dari papan kayu bertuliskan 'Welcome to My Wedding' di lengkapi pula penyiram tanaman yang di penuhi bermacam-macam bunga.


Saat memasuki tempat acara para tamu di sambut dengan rangkaian bunga-bunga segar di kombinasi dengan bunga-bunga kering serta dedaunan hijau menghiasi pilar-pilar di tempat acara itu. Hiasan yang sama juga terdapat pada meja tamu dan tempat catering. Disana juga ada panggung hiburan yang di sediakan oleh pemilik acara untuk memeriahkan acara ini.

__ADS_1


Di tambah pula lampu-lampu gantung berwarna kuning yang menambah kesan romantis. Perpaduan warna coklat dan pastel sangat kental di dalamnya.


Armand sengaja memilih konsep Rustic pada resepsinya kali ini. Menurutnya konsep ini sangatlah cocok untuk karakternya, sederhana namun tetap terlihat mewah.


Tempat pelaminan, sudah pasti menggunakan material kayu dengan hiasan bunga baby breath yang tertata rapi dan akar sintetis pada pilarnya.


Rustic merupakan konsep dekorasi yang identik dengan warna kalem. Misalnya saja warna pink atau warna pastel lainnya, coklat, dan bunga-bunga dengan warna yang senada. Selain itu rustic juga tak ketinggalan dengan unsur lampu yang menggantung. Hal ini menjadikan suasana antar para tamu yang datang menjadi lebih akrab dan hangat. (sumber:www.google.com)


Armand menggandeng erat tangan istrinya saat memasuki tempat acara. Kedatangannya di sambut tepuk tangan meriah dari para tamu.


Senyum ramah tak pernah pudar dari pasangan pengantin agak lama itu. Sesekali keduanya menganggukkan kepala saat menyapa tamu yang lebih tua.


"Gila si Reni cantik banget," Reva berdecak kagum.


"Iya," Dania menyetujuinya.


"Nanti kalau gue nikah, gue minta resepsinya bertemakan Maleficent. Nyari yang antimainstream gitu," khayal Reva.


"Ya, loe yang jadi Maleficent yang sudah kehilangan sayapnya," celetuk Wina yang ada di sampingnya.


''Yang..,'' David memperingati istrinya.


Wina menanggapi dengan cengirannya.


''Ogah! Gue maunya jadi Aurora. Imut-imut menggemaskan kayak gue,'' Reva memegangi kedua pipinya. Wanita itu semakin tenggelam dalam khayalannya.


''Amit-amit Iya,'' gumam Dania tapi masih terdengar di telinga Reva.


''Lebih pantas loe, Win. Yang jadi Maleficent, muka loe kan jutek gimana gitu. Dapet banget feel-nya,'' sahut Reva dengan tatapan julidnya pada Wina.


''SUDAH, DIEM! Kebiasaan ribut nggak tau tempat,'' David menatap tajam ketiga wanita di dekatnya. Ketiganya langsung mengunci mulut mereka rapat-rapat.


Armand dan Renita tak hentinya menebar senyum saat menyalami para tamu yang luar biasa banyaknya.


Acara resepsi mereka berlangsung meriah karena Amalia menyewa organ tunggal yang terkenal di kota itu, untuk menghibur para tamu. Bahkan, ada orang yang dengan Pedenya menyumbangkan suara sumbangnya di atas panggung. Tapi justru itu yang menjadi hiburan sendiri bagi mereka.


Kemeriahan acara semakin menjadi ketika salah satu artis papan atas Ibukota turut hadir. Sorak sorai dari para tamu terutama kaum muda memenuhi gedung itu.


Renita sendiri sama antusiasnya dengan mereka. Ibu satu anak itu, mungkin sudah ikut berbaur bersama orang-orang yang berjoget ria di bawah panggung. Jika Armand tak mencegahnya.


''Mas, aku mau foto sama dia. Suami online ku dulu itu.''


Armand melotot mendengarnya.


''Nggak ada suami online. Disini ada suami nyatamu.''


''Mas,'' pinta Renita dengan tatapan memohon.


''Nggak!'' Armand menolak tegas.

__ADS_1


Melihat istrinya memandang laki-laki itu penuh kekaguman saja, hatinya sudah panas. Apalagi ini, Renita minta foto bareng. MIMPI! Dia tidak rela istrinya berdekatan dengan laki-laki lain. Apalagi sampai bersentuhan, batinnya bergemuruh.


''Permisi tuan, waktunya ganti baju.'' salah satu pegawai WO menghampiri mereka.


''Baiklah,'' Armand menuntun istrinya turun dari pelaminan untuk berganti baju.


Tak menunggu lama, Armand dan Renita kembali memasuki tempat acara dengan busana yang berbeda. Renita memakai gaunnya yang berwarna nude yang menampilkan punggung mulusnya. Armand juga memakai setelan jas berwarna senada menyesuaikan dengan gaun istrinya.


Bukan hanya busana keduanya yang berbeda. Melainkan, raut wajah Armand juga tampak berbeda dari sebelumnya. Raut mukanya keruh sekeruh air got yang menghitam. Lebih masam dari Asam Jawa. Karena apa ?


Karena busana yang dipakai istrinya.


Tibalah di penghujung acara..


Para muda-mudi yang masih lajang sudah berkumpul di depan pelaminan. Inilah acara yang mereka tunggu-tunggu sedari tadi.


Pelemparan buket bunga pengantin.


Katanya, entah dari mulut siapa. Mereka sangat mempercayai mitos, jika bisa menangkap buket bunga itu, maka orang yang menangkapnya akan segera menyusul.


Reva dan Dania tak kalah antusias. Kedua gadis itu, memilih barisan yang paling belakang. Karena mereka malas, jika harus berdesak-desakan dengan yang lain.


''Oke kaum lajang, siap-siap ya. Acara lempar bunga akan di mulai. Deg-degan 'kan pastinya? Siapa kira-kira yang bisa menangkapnya ya?'' Suara MC pria terdengar begitu renyah di telinga para tamu yang hadir.


Armand dan Renita juga sudah berada di posisi membelakangi para lajang di bawahnya.


''Mari kita hitung sama-sama,'' kata MC pria.


''Satu,dua, tiga...''


Bunga terlempar ke belakang lalu...


Hap..


Bunga itu mendarat sempurna pada dua orang berbeda gender yang tidak sengaja bertabrakan saat berebut. Keduanya sama-sama mematung karena terkejut buket itu mendarat di tangan mereka.


Riuh tepuk tangan para tamu menyadarkan lamunan keduanya. Sepasang anak adam itu bersitatap sebentar.


''Buat kamu saja,''


...----------------...


Siapa tuh ?


Aku curhat sedikit boleh ? Dari sekian banyak part yang ada di novel ini. Part inilah yang banyak menguras otak. Aku nulis bab ini mulai jam 03.45 pagi. Baru rampung sore ini. Karena harus mencari bahan resepsi si Kompeni di mbah Google.


Makanya dukung yah,


LIKE, ❤, COMMENT, VOTE & HADIAH..

__ADS_1


Babay...


__ADS_2