My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Jalan Terakhir


__ADS_3

''Kalian kira aku sakit? Aku tidak mau!'' Mita berteriak marah pada suster yang membantu merawatnya.


PRANK..


PRANK


Mita menampik gelas yang ada di tangan suster. Tak hanya itu, dia juga membanting semua yang ada di dekatnya.


Suster tampak pucat melihat Mita mengamuk. Dia segera keluar dari tempat itu.


''Ada apa ini?'' tanya Aryan yang mendengar keributan itu.


''No-na, me-nga-muk lagi tu-tuan,'' ucap suster itu terbata. ''Di-dia me-no-lak minum obat,'' lanjutnya lagi masih dengan ketakutan yang sama.


Meski ini bukan pertama kalinya menghadapi pasien yang mengamuk, tapi bagi suster amukan Mita sangat mengerikan.


Aryan menghela nafas. Sebulan sudah Mita seperti ini. Wanita itu, selalu menolak untuk meminum obatnya dan mengamuk tak jelas. Padahal obat itu sangat penting untuk mengontrol emosinya.


Flashback..


Waktu itu, Aryan memanggil psikiater yang biasa menangani Mita untuk memeriksa kondisinya. Psikiater itu mengatakan, jika emosi putrinya bisa terkendali asal meminum obatnya secara teratur sampai dua bulan ke depan. Setelahnya bisa di lanjut hingga enam bulan agar kondisinya benar-benar stabil


''Kondisi putri bapak menjadi seperti ini, karena Mita jarang meminum obatnya. Saya sudah meresepkan beberapa obat, tapi kebanyakan selalu utuh. Obat di berikan hanya ketika kambuh saja. Padahal tidak seperti itu aturannya. Mita harus mengkonsumsi obatnya secara teratur dan berturut-turut sampai waktu yang di tentukan. Jika tidak, ya seperti ini hasilnya,'' dokter wanita itu menghela nafas.


''Lalu bagaimana sekarang dok ?'' tanya Aryan saat itu.


''Untuk sementara saya resepkan obat ini dulu. Saya akan memantaunya secara intens selama dua sampai empat minggu ke depan. Pastikan obat ini masuk ke dalam tubuhnya agar mudah untuk melakukan tindakan selanjutnya,'' kata dokter wanita itu sambil memberikan secarik kertas pada Aryan.


''Saya akan mengirim perawat untuk membantu memantau perkembangannya,'' lanjutnya lagi.


''Baik dok, terimakasih,'' kata Aryan


Dokter itu mengangguk, ''Permisi,''


End..


''Biar saya saja," Aryan meminta obat yang ada di tangan Suster. Selalu seperti ini, Mita harus dipaksa terlebih dulu untuk meminum obatnya.


''Bagaimana perkembangannya?'' tanya Aryan.


Suster itu menggelengkan kepala petanda tidak ada perubahan apapun untuk putrinya.


''Kamu sudah memberikan laporan pada dokter Ressa ?''


''Sudah tuan,'' Suster itu menunduk hormat.


''Baiklah,'' kata Aryan sebelum memasuki kamar putrinya.

__ADS_1


...----------------...


''Mita,'' Aryan memanggil putrinya.


Tapi tak mendapat respon apapun darinya.


Kondisi kamarnya, jangan di tanya. Sudah seperti kapal pecah. Pecahan vas bunga, pecahan gelas, selimut teronggok di lantai juga isi dari bantal tidur berhamburan di kamar itu.


Aryan berjalan dengan hati-hati mendekati putrinya agar tidak terkena pecahan kaca yang ada disana.


''Minum dulu," Aryan menyerahkan segelas air putih untuk Mita


''Aku tidak mau!'' Mita menatap tajam ayahnya.


''Biar hati kamu tenang,'' Aryan beralibi. Padahal minuman itu sudah di campur obat untuk Mita.


Menghadapi wanita ini, harus pintar-pintar berstrategi.


Mita meraih gelas itu dan meminumnya hingga tandas tanpa rasa curiga. Dia juga mengabaikan rasa pahit yang menerpa indra pengecapnya.


Tapi setelah itu, Mita membanting gelasnya di hadapan Aryan.


''Kenapa kau membanting nya?'' tanya Aryan.


''Aku mau mati,''


''Aku mau mati,''


''Gara-gara aku mama mati hihihi.. mama mati karena aku,'' pandangan Mita kosong ke depan.


Jujur, hatinya sakit melihat kondisi putrinya yang seperti ini. Tubuh yang dulu ramping, kini bertambah kurus saja. Cekungan matanya tampak jelas dengan lingkaran yang menghitam. Wajah yang dulu selalu terpoles make-up tebal, kini tampak semakin pucat. Pandangan matanya selalu kosong seperti orang yang tak memiliki gairah hidup.


Kepergian Linda seolah mengajak serta jiwa Mita ikut pergi.


''Sadarlah Mita, ayah bersamamu. Ayah akan selalu ada untukmu,'' lirih Aryan dengan air mata yang hampir tumpah.


...----------------...


''TUAN! TUAN !!'' Bibi berteriak histeris dari arah dapur. Ketika melihat Mita ingin menggores pergelangan tangannya dengan pisau.


''Non Mita letakkan benda itu ya, nanti tangannya sakit berdarah,'' meskipun takut, Bibi berusaha setenang mungkin menghadapi majikannya.


''Minggir ! Aku mau mati !'' Mita menatap tajam orang yang ada di depannya.


''Atau kau saja yang mati, heh!'' Mita menyeringai. ''Kau harus mati, Armand. Kau tak boleh bahagia diatas penderitaanku hahaha..'' Wanita itu beralih menodongkan pisau yang sedari tadi di pegangnya ke arah Bibi


Sontak si Bibi semakin takut di buatnya. Wanita paruh baya itu, berusaha menghindari dengan memundurkan langkahnya perlahan. Tapi sayang tubuhnya harus terhenti karena membentur tembok.

__ADS_1


''Sadar non, ini bibi bukan Armand,'' lirih bibi. Keringat dingin sudah mengalir di seluruh tubuhnya.


''Aku tidak peduli! Kau harus mati Armand!''


''HENTIKAN MITA!'' teriak Aryan.


Mendengar teriakan dari pembantu di rumah itu, Aryan segera menghentikan pekerjaannya. Padahal saat itu, dia tengah meeting zoom bersama para direksi di perusahaan nya.


Pria itu datang bersamaan dengan suster yang merawat Mita.


''Dia harus mati!'' Mita mengayunkan pisaunya dan..


JLEBB!!


''AAARRRGGHH.."


Bibi membekap mulutnya, ketika melihat tubuh majikannya bersimbah darah. Aryan tertusuk di bagian perutnya.


''hihihi.. Dia mati, Armand mati. Hihihihi..'' Mita cekikikan sendiri dengan perbuatanya.


si Bibi langsung keluar dengan kepanikan nya untuk meminta bantuan. Tak berapa lama dia datang bersama dua orang satpam untuk menolong Aryan.


Sedang Mita sendiri sudah di tangani suster yang merawat nya. Wanita itu, sengaja dibuat tidak sadar agar tidak membahayakan orang lagi.


Suster berganti menangani Aryan, berusaha menghentikan darah yang mengalir dengan cara mengikat kuat lukanya.


''Cepat bawa Pak Aryan ke rumah sakit! Lukanya cukup dalam. Saya takut organ vitalnya ikut terkena,'' titah suster itu.


Kedua satpam ini mengangguk, mereka segera membopong tubuh Aryan ke mobil yang sudah di persiapkan.


''Lalu, Bagaimana dengan non Mita ?'' tanya bibi dengan panik.


''Bibi tenang saja, saya sudah menelpon pihak rumah sakit untuk membawa nona Mita,'' ucap suster itu.


''Rumah sakit jiwa?'' tanya Bibi.


''Iya bi, ini jalan terakhir yang kita tempuh.''


...----------------...


Sebelumnya aku minta maaf, jika di part ini tidak sesuai dengan ilmu kedokteran. Aku mencari informasi ini dari mbah Google dan aku simpulkan sendiri.


Jika kesimpulanku ini ada kesalahan. Mohon, dikoreksi ya 🙏🙏. Tulis di kolom komentar.


Berikan sarannya juga, maafkanlah otak cetekku ini..


Jangan lupa like, ❤ , vote dan hadiahnya..

__ADS_1


Babay..


__ADS_2