My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Belum Ada Perubahan


__ADS_3

"Ren, diam! Aku sedang pusing. Suaramu itu membuatku tambah pusing."


"Coba cerita ke aku, apa masalahmu, Mas? Meskipun, aku gak bisa bantu. Setidaknya, itu bisa mengurangi bebanmu," ucap Renita dengan nada dibuat selembut mungkin.


Karena, ia tahu suaminya sedang dalam masalah besar.


"Gak usah sok tau, kamu!" bentak Armand sebelum berlalu meninggalkan sang istri.


"Kamu bisa tidak mendiamkan anak nangis. Aku pusing, tidurku terganggu. Ngurus satu anak saja tidak becus!"


BRAKK!


Armand tak memedulikan tangisan anaknya yang semakin kencang, setelah mendengar suara pintu yang ia banting.


"Sudah ya, Sayang.'' Renita menenangkan putranya dengan mata berkaca-kaca.


________


Renita menatap kosong jendela kaca di hadapannya. Bayangan itu masih terekam jelas dalam benaknya, bentakan itu masih terdengar jelas di telinganya. Semua masih terasa nyata, meskipun kejadiannya sudah beberapa hari yang lalu.


Mungkin benar, jika ada yang mengatakan. Wanita memang mudah memaafkan tapi akan sangat sulit melupakan.


"Ren, buka pintunya. Dua hari kamu tidak keluar sama sekali." Terdengar suara dari luar di susul ketukan bertubi-tubi.


Siapa lagi pelakunya, jika bukan Armand. Tapi Renita tak peduli, dia masih setia dengan kebungkamannya.


"Tolong, Ren. Jangan seperti ini terus. Kita harus bicara. Jangan diam seperti ini. Masalah ini tidak akan selesai, kalau kamu terus bungkam," bujuk Armand.


Pria itu, terus saja mengetuk pintu untuk kesekian kalinya.


"Ren, maafkan aku. Aku gak peduli. Seribu kali pun aku akan meminta maaf. Asal, kau mau membuka mulut."


"Kamu tidak kasihan sama Vello. Dia di tahan sama mama. Kita dilarang menemuinya sebelum masalah kita selesai," ucap Armand dengan keputus-asaannya.


Pria itu menghela nafas, istrinya terlanjur sakit hati. Akan sangat sulit dibujuk, jika sudah begini.


Armand merutuki kebodohannya sendiri. Andai saja waktu itu, dia tidak melampiaskan semua kekesalannya kepada sang istri. Pasti saat ini rumah tangganya masih baik-baik saja.


Yang namanya penyesalan pasti datangnya di akhir, kalau di depan namanya pendaftaran.


Sejurus kemudian, Armand teringat sesuatu. Dia segera menggeledah seluruh laci yang ada di dekat ruangan itu. Senyum merekah terkembang di bibirnya, saat dia menemukan yang dia cari. Kunci cadangan.


Dengan sangat berhati-hati dan nyaris tanpa suara, Armand membuka pintu yang terkunci itu. Berhasil, pintu terbuka dan Renita tak menyadari. Dia masih setia dengan lamunannya, dengan posisi membelakangi pintu.


Armand mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan pemilik rumah. Tanpa basa-basi, dia langsung memeluk erat sang istri dari belakang.


"Maafkan aku," bisik Armand.


Renita bergeming, tak menolak maupun memberontak. Wanita itu masih menatap kosong kearah depan.


"Bicaralah, Ren. Maki aku seperti kemarin, jika itu bisa membuatmu lega dan memaafkan aku. Jangan diamkan aku seperti ini," pinta Armand masih dengan posisi yang sama.


"Kamu mengulangi kesalahanmu lagi, Mas," kata Renita dengan nada datarnya.

__ADS_1


"Aku tahu, maka dari itu aku minta maaf," jawab Armand lagi.


Renita melepas paksa belitan tangan yang melingkar pada perutnya. Dia berbalik, menatap tajam sang suami.


"Simpan semua kata maafmu. Aku tidak butuh! Dulu kau juga begitu, hingga aku melahirkan prematur. Aku tidak tahu kesalahanku apa, kau lampiaskan semua kemarahanmu padaku. Dan kemarin...." Renita tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Wanita itu menggeleng tidak percaya.


"Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Mas. Apa aku ini hanya kau jadikan pelampiasanmu saja?" tanya Renita dengan nada rendahnya.


"Tidak seperti itu, Ren."


"Bahkan, kamu tega meninggalkan Marvello yang menagis histeris. Hanya karena ingin di gendong ayahnya."


"Oke, aku terima, jika kamu mengabaikan aku. Tapi aku tidak akan pernah terima, kamu mengabaikan anakku, darah dagingmu. Seharusnya, kamu biarkan aku mati tertabrak mobil. Tapi, kenapa kamu malah menyelamatkanku?"


"Aku tidak...."


"Tidak ingin kehilangan alat pelampiasanmu, iya!" teriak Renita, menyela sanggahan suaminya.


"Maafkan aku, Ren." Armand berlutut di hadapan sang istri, lalu memeluk perut ratanya.


Pria itu menumpahkan semua tangisnya disana. Seumur-umur, baru kali ini dia menagis. Demi wanita yang bertahta di hatinya.


Renita memalingkan muka. Dia tidak ingin luluh dengan semua itu.


"Ceraikan aku."


"Apa kamu bilang?" tanya Armand dengan dinginnya.


"Ceraikan aku! Aku ingin pergi dari hidupmu." Renita mengulang perkataannya.


Dengan berani, wanita membalas tatapan tajam pria itu.


"Tidak akan!" Armand menolak tegas.


"Jika kamu tidak mau. Aku yang akan mengajukan."


Ucapan itu, berhasil menyulut api emosi dalam diri Armand.


"Jangan macam-macam, Renita," geram Armand.


''Hanya satu macam. Cerai!'' Renita bersikukuh dengan keinginannya.


"Tidak, Renita!'' Suara Armand menggelegar di kamar itu.


Bi Lastri yang berada tak jauh dari ruangan itupun dibuat terkejut. Dia segera mendekat, takut jika tuannya kalap.


Wanita paruh baya itu menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Armand menindih tubuh Renita diatas tempat tidur. Sedangkan, Renita sendiri terus memberontak memukuli tubuh sang suami.


Perlahan-lahan, dia menutup pintunya. Membiarkan pasangan itu menyelesaikan masalah mereka dengan caranya sendiri.


...----------------...

__ADS_1


''Bagaimana dengan mereka, Bi,'' tanya Amalia melalui sambungan telponnya.


''Barusan habis bertengkar hebat, Bu. Tuan Armand sampai berteriak keras. Saya saja dibuat kaget. Tapi, setelah saya datangi, mereka malah seperti itu di tempat tidur,'' tutur Bi Lastri dengan sangat pelan, takut ada yang mendengar pembicaraannya.


Amalia menghela nafas.


''Ya sudah, bibi pantau mereka terus. Jika ada apa-apa segera laporkan kepada saya.''


''Baik, Bu....''


Sambungan oun terputus.


''Bagaimana, Ma?'' tanya Setiawan yang tengah bermain dengan cucu gembulnya di atas karpet, tak jauh dari tempat istrinya.


''Belum ada. Mereka malah habis bertengkar hebat yang berakhir di kasur,'' jawab Amalia.


''Apa semua laki-laki memang seperti itu? Jika sedang ada masalah dengan pasangan. Ujung-ujungnya selalu dibawa kesana. Bukannya diselesaikan dengan baik-baik,'' gerutu Amalia.


''Ya, kalau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Langsung saja di bawa kesana, Ma,'' sahut Setiawan dengan entengnya.


''Dasar bapak sama anak, sama saja. Omes semua.'' Amalia mengambil Marvello dalam gendongannya, lalu mengajaknya pergi begitu saja.


''Apa itu omes?'' tanya Setiawan yang baru mendengar singkatan asing itu.


''Loh, cucu papa mau dibawa kemana?''


''Aku bawa keluar. Teman-teman arisan pada bawa cucu semua.''


''Astaga, Ma.... Vello bukan barang. Yang selalu jadi ajang pamer,'' teriak Setiawan memperingati istrinya.


Namun, terlambat. Mobil yang di tumpangi Amalia sudah menjauh.


''Dasar nini-nini rempong.''


...----------------...


Armand menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang. Tampak asap rokok mengepul dari mulutnya, dengan tubuh hanya berbalut selimut. Di sampingnya ada seorang wanita tengah membelakangi dirinya dengan isak tangis yang keluar dari mulutnya. Siapa lagi, jika bukan Renita. Dengan keadaan yang sama seperti pria di sampingnya.


Keadaan kamar itu, tak ubahnya seperti kapal pecah. Pakaian berserakan di lantai, kertas tissue berceceran dimana-mana, juga kondisi tempat tidur yang seperti habis terkena serangan ****** beliung.


Karena merasa kesal dengan ulah sang suami, Renita bangun dari posisinya, lalu memukuli tubuh kekar itu berkali-kali.


...----------------...


Bersambung....


Hehe....


BTW, terlalu lebay gak sih? Enggak ya, di otakku hanya itu yang muncul. Semoga tidak bosan dengan alur ceritanya....


Jangan lupa tinggalkan jejak. Beri hati kalian untukku, biar tambah semangat halunya....


Babay....

__ADS_1


__ADS_2