
Pagi-pagi, Renita sudah berkutat di dapur. Tangannya begitu lincah mengolah bahan masakan, mondar-mandir kesana kemari untuk mengambil apa yang dia butuhkan.
Tak lama harum masakannya menguar.
Setelah matang, Renita mencicipi sedikit masakannya.
''Hemmm, pas....''
Dia mematikan kompor, lalu menuang ke dalam wadah. Menyiapkannya beserta lauk di meja makan. Bumil itu tersenyum puas dengan hasilnya.
Tak lupa, dia juga membersihkan peralatan-peralatan yang habis dia pakai tadi.
Ditengah kegiatannya, tiba-tiba ada tangan kekar melingkar di perut nya yang sudah tampak membuncit. Usia kandungannya memasuki bulan ke lima.
''Hemmm, harumnya....'' Armand menyesapi leher istrinya, menghirup aromanya dalam-dalam.
''Belum mandi kok harum.''
''Keringatmu memang harum, Sayang. Apa karena hamil, ya?''
Pria itu mengembangkan senyumnya, saat merasakan pergerakan dalam perut istrinya.
''Adek iri gak disapa juga. Tau aja ada papa disini.''
Armand membalikkan tubuh Renita, lalu berjongkok di depan perutnya.
''Udah bangun kamu? Berisik dengar mama masak. Mama kalau masak kayak mau tempur ya, dek.'' Armand mengajak anaknya berbicara.
Perut Renita kembali bergerak-gerak, bahkan lebih intens dari sebelumnya sampai empunya merasa ngilu.
Armand menempelkan telinganya ke perut istrinya dengan senyum yang semakin terkembang.
''Udah dong, Dek. Iya, mama tau kamu seneng di sapa papa. Tapi jangan buat mama ngilu juga,'' kata Renita dengan mengelus perutnya.
''Yuk makan, adek lapar, 'kan?'' ajaknya.
Renita dan Armand menikmati sarapan paginya dengan penuh kehangatan dan perhatian dari Armand.
setelah selesai, Renita mengantar Armand sampai ke depan rumah.
''Nanti ada jadwal di luar apa nggak?'' tanya Renita.
Pasalnya, setelah proyek terlaksana. Armand lebih sering berada diluar daripada di kantor. Tak jarang pula, dia pulang terlambat.
''Nggak, hari ini nggak ada kunjungan ke proyek, full di kantor.''
''Aku bawain makan siang mau?''
Armand tersenyum mengiyakan. ''Boleh, tapi ingat, hati-hati. Kalau berangkat akai supir mama,'' pesan Armand.
''Aku berangkat.'' Armand menyempatkan untuk mencium kening istrinya.
''Bye....'' Renita melambaikan tangan, saat mobil mulai berjalan. Dan dibalas bunyi klakson dari suaminya.
Setelah meeting waktu itu, hingga pelaksanaan proyek berjalan hampir satu bulan. Tak ada perubahan yang signifikan dari sikap Armand, masih perhatian dan lembut padanya.
Rasanya tak pantas, jika Renita mencurigai suaminya tanpa alasan yang jelas. Armand bersikap seperti waktu itu, karena memang mereka sudah bersahabat lama.
...----------------...
Bekal sudah tertata rapi di wadah kedap udara, agar tetap hangat saat di santap nanti. Renita bmenyusunnya ke dalam papper bag.
__ADS_1
Wanita itu, juga sudah rapi dengan dress hamilnya. Yang membuatnya terlihat cantik meski dengan riasan tipis.
''Yuk Dek, ke rumah oma. Jalan kaki aja sekalian olahraga, biar sehat.'' Renita mengajak bicara anak dalam perutnya.
Renita berjalan ke rumah mertuanya dengan berjalan santai. Tak lupa, dia juga menyapa orang-orang yang dia temui.
Renita mengernyit saat melihat mobil asing terparkir di halaman rumah mertuanya.
''Mungkin tamunya mama,'' katanya dalam hati.
Renita melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
sesampainya di depan pintu, Renita dapat mendengar suara wanita dan mama mertuanya sedang bercanda riang.
''Assalamualaikum....''
''Eh, mantu mama kesini, sama siapa?'' Amalia menyambut riang kedatangan menantunya.
Renita mencium tangan ibu mertuanya, lalu duduk di sampingnya.
''Sendiri, Ma. Itung-itung olahraga.''
''Eh, iya, kenalkan sahabatnya Armand waktu sekolah dulu, Mita.'' Amalia memperkenalkan tamunya.
Renita menoleh ke arah wanita di depannya. Sedikit terkejut tapi kemudian kembali bersikap biasa saja.
'' loh ini kan sekretaris nya Armand kan tan ?'' tanya Mita.
'' iya sekretaris sekaligus istri Armand yang tante ceritainn tadi. Dia juga lagi hamil cucu tante..''
'' kata tante armand menikah baru dua bulanan. kok perut istrinya udah gede gini''.
pembahasan ini begitu sensitif bagi renita. Amalia juga merasakan nya.
'' belum nemu yang pas tan.. pengennya yang seperti Armand..'' kata Mita. matanya melirik ke arah renita.
' apa ini maksudnya.. loe mau jadi ulet bulu..' batin renita.
'' ya udah ma.. aku mau ke kantor nganterin makan siang.. pinjam supirnya boleh..?'' renita memilih menghindari wanita ini.
'' boleh sebntar mama panggilkan dulu. kebetulan mama juga gak kemana-mana hari ini..''
'' Joko... Joko..''
''iya nya..''
'' tolong kamu antar mantu ku ini ke Kantor.. inget jangan sampai lecet.. awas kamu..''
Bukan Amalia namanya jika tak memberikan petuah nya.
Lelaki itu mengangguk.
'' mari mbak..''
Renita menyalami mertuanya dan wanita didepannya. '' aku duluan ya...''
Wanita itu hanya mengangguk tapi matanya memancarkan ketidaksukaan begitu kentara.
...----------------...
'' Hai Mas...'' Renita menyapa suaminya yang tengah berkutat dengan layar lipatnya.
__ADS_1
'' oh Hai.. Uluh cantiknya..'' Armand menghampiri istrinya dan menuntun nya duduk di sofa.
'' heleh gombal..'' Jawab renita tapi tersenyum juga.
'' adek rewel gak.. minta ini itu nggak..'' Armand mengelus perutnya.
'' nggak lagi anteng dia.. makan sekarang apa nanti..'' Tanya renita. Memang kebetulan kedatangan nya pas memasuki waktu makan siang. Tangannya mengeluarkan bekal satu per satu.
'' boleh tapi suapin ya.. aku sambil kerja..'' Armand mengambil laptop di mejanya.
'' kebiasaan banget sih..'' Tapi tak urung tangannya mulai menyuapi suaminya.
'' seperti biasa selalu enak..'' Puji Armand.
Renita tersenyum mendengar nya.
'' mas..''
'' hmmm..''
'' tadi aku ketemu temen mas yang waktu itu..''
Armand menoleh sebentar '' siapa..?''
'' yang kata mu sahabatmu itu..''
'' Mita..??'' Armand memastikan.
renita mengangguk.
'' ketemu dimana ??'' tanya Armand tapi matanya masih fokus pada pekerjaan nya.
'' di rumah mama.. Tapi aku ngerasa dia gak suka gitu sama aku..''
'' nggak mungkin.. dia baik kok orang nya.. perasaan kamu aja kali.. udah gak usah di pikir.. nanti stress kasihan adek..'' Armand menghentikan pekerjaannya.
Renita mengangguk meski ragu.
'' yaudah sini gantian aku suapin.. belum makan kan..''
Renita menggelengkan kepala nya.
'' mas pernah menjalin hubungan sama si Mita Mita itu..'' tanya renita di sela makannya.
''nggak cuma sahabat dari kelas satu SMA..nggak lebih''. Armand masih telaten menyuapi istrinya.
'' mas pernah ada rasa sama dia ?''
''nggak...''
'' gimana kalo dia ada rasa sama mas..''
Armand menghentikan kegiatannya. Menatap istrinya lekat.
'' itu nggak mungkin Renita.. Kami cuma sahabat nggak lebih..''
'' tapi buat apa dia masih melajang.. padahal usianya udah 30 an lebih.. aku juga bisa lihat dari tingkah lakunya, cara dia mandang kamu.. itu beda mas.. aku ngerasain itu.. aku rasa dia punya rasa sama kamu..''
Armand memegang kedua lengan istrinya.
'' Perasaan wanita hamil itu sensitif.. Kamu gak usah mikir aneh-aneh.. aku gak akan macem-macem ren.. Aku selalu sadar kalo aku sudah punya istri dan sebentar lagi aku punya anak.. Udah ya.. jangan mikir itu lagi..'' Armand menarik renita dalam pelukan nya.
__ADS_1
Renita mengangguk dalam dekapan suaminya.
Jujur dia masih belum puas. Masih ada yang mengganjal di hatinya.