My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Bagus, Vel!


__ADS_3

"Gimana, Mas? Kamu berhasil bicara sama istrimu?" tanya seorang wanita melalui panggilan video.


''Gak! Dia terlanjur marah, terlanjur salah paham. Belum apa-apa udah mencak-mencak," keluh Armand dengan wajah keruhnya.


''Ini semua juga gara-gara kamu manja amat. Tinggal periksa sendiri aja pakai minta antar segala," lanjutnya lagi.


''Ya ogah kali, Mas. Nanti dikira aku hamil tanpa suami padahal enggak."


''Usaha lebih keras, dong, Mas. Mas Armand yang kurang usah malah nyalahin aku," sungutnya kesal.


''Kamu juga rewel banget, tinggal periksa di kotamu saja. Mesti jauh-jauh ke sini." Armand masih mengeluarkan keluh kesahnya tanpa memedulikan protes dari wanita itu.


''Ih, Mas, kamu gak peka banget jadi orang. Aku itu pengen ketemu mama...."


''Jangan buat masalah kamu. Aku gak mau dibikin pusing dengan segala tingkahmu." Armand menyela cepat perkataannya.


''Cukup sekali ini saja, lain kali tidak!"


Renita yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka hanya bisa mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak menyangka jika suaminya setega itu padanya.


Karena tak ingin hatinya semakin sakit, wanita itu segera meninggalkan tempatnya. Nahas, kehadirannya diketahui terlebih dahulu oleh suaminya.


"Ren, sini aku akan mengenalkanmu pada seseorang."


Renita hanya melirik sinis. Dia bisa melihat dengan jelas rupa wanita yang telah merebut suaminya. Dia hanya memalingkan muka, berlalu tanpa sepatah kata yang terucap menuju kamarnya.


Di dalam sana masih terdengar pembicaraan suaminya dengan wanita itu, hingga Renita sampai harus menutup kedua telinganya. Semua janji Armand kembali terngiang di telinganya bagaikan kaset rusak yang di putar berulang-ulang.


''Kamu tenang saja, aku tidak akan berpaling darimu...."


''Tidak masalah aku tidak punya keturunan."


''Kita sudah punya Marvello...."


"Aku tidak berpaling....''

__ADS_1


''Aku tidak berpaling...."


"Aku tidak berpaling...."


''Dasar penghianat!" teriak Renita.


''Pantas dia mengatakan tidak masalah ternyata punya wanita lain yang lagi hamil besar di belakangku.'' Renita bermonolog.


''Apa benar, sekarang aku mandul?"


"Apa segitu pentingnya seorang anak sampai dia setega itu. Sejak kapan mereka menikah atau hanya simpanan?"


Wanita itu masih sibuk dengan pemikiran sendiri, semakin dipikir semakin membuat sakit hatinya.


...----------------...


Semenjak hari itu, Renita mendiamkan suaminya. Dia enggan bertegur sapa ataupun sekedar tersenyum. Mereka memang tinggal di satu atap yang sama tetapi bagaikan orang asing. Senyumnya hanya akan di tampilkan ketika ada keluarga, para sahabatnya juga sang putra diantara mereka. Setelah tidak ada, Renita akan kembali menunjukkan wajah datar seperti sebelumnya. Marvello terlalu cerdas untuk memahami keadaan sekitar. Dia akan selalu tanggap jika ada yang aneh dengan orang tuanya.


''Ama, anti Eyo mau mandi boya," ucap Vello pagi itu ketika mereka tengah berkumpul di meja makan


''Boleh, nanti sama mama ya ... Kita mandi bola, terus ke rumah balon yang buesar. Setelah itu, ke kedai es krim kesukaan Vello."


"Mau, Ama. Eyo mau tapi cama apa juga ya," pintanya dengan mata berkedip lucu.


Senyum Renita perlahan memudar ketika mendengar permintaan itu. Dia masih malas untuk berinteraksi dengan suaminya. Rasa sakit di hati terlalu besar atas penghianatan pria itu.


''Papa sibuk, Sayang...." Wanita itu berusaha memberi pengertian pada putranya.


''Cibuk teyus, cibuk teyus ... Eyo dak cuka. Ama uga cibuk tapi Ama masih mau Eyo ajak main," protes balita itu dengan bibir mengerucut lucu.


"Papa 'kan cari uang, Sayang. Nanti kalau uang papa habis bagaimana?"


''Kayo uang Apa habis ya pakai uang Ama. Uang Ama uga banyak cekali." Kedua tangan mungil itu membentuk bulatan sebesar jangkauannya.


Renita menghembuskan nafas kasar. Dia merutuki kecerdasan anaknya yang terlalu over, sedangkan Armand hanya bisa menekan mulutnya untuk tidak tersenyum. Dalam hati dia bangga dengan putranya.

__ADS_1


''Lanjutkan, Vel! Buat mamamu tak berkutik sampai papa bisa ikut."


"Iya, Ama. Cama Apa juga ya," rengeknya dengan menggoyangkan lengan sang ibu.


''No, no! Papa kerja." Renita menolak dengan tegas, kemudian kembali melanjutkan sarapan yang tertunda.


''Ote, bial Eyo yang biyang ke Apa."


Renita melotot mendengarnya.


"Apa mau, 'kan ikut Eyo mandi boya?" tanyanya dengan menghampiri sang ayah.


''Apa boyos aja. Nanti eyo biyang ke opa." Mulut mungil itu terus berceloteh lucu membuat siapapun yang mendengar menjadi gemas.


''Emang Vello bisa?" Armand balik bertanya, lalu mengangkat tubuh anaknya untuk di dudukkan ke pangkuan.


''Bica, dong...."


''Coba gimana bilangnya?"


''Opa, Apa mau ikut Eyo mandi boya. Eyo culuh apa boyos. Opa, dak boyeh mayah." Vello memperagakan seolah dia tengah berbicara dengan Setiawan.


''Dari mana Vello tau, opa marah kalau papa bolos?"


''Ama ceyayu biyang itu," jawabnya polos.


Armand langsung melirik sang istri yang masih asik menikmati sarapannya, seolah tidak terganggu dengan pembicaraan mereka.


''Ama bohong, Opa gak pernah marah tuh kalau papa bolos."


Seketika, Renita menghentikan kunyahannya beralih menatap tajam sang suami.


"Ciyus, Apa?" tanya Vello memastikan.


''Duarius, kalau bisa seribu rius malah," jawab Armand.

__ADS_1


''Ama! Ama dak boyeh bohong. Kata oma bohong itu doca, temannya cetan." Marvello berteriak kesal di sisi ibunya dengan bibir semakin mengerucut.


Armand menahan tawa mendengar putranya memarahi sang istri. Jika sudah seperti ini, pasti Renita akan membiarkan dirinya ikut meskipun dengan terpaksa. Tapi, tidak apa-apa. Yang terpenting, dia mempunyai kesempatan untuk meluruskan masalahnya dengan sang istri, sebelum wanita itu bertindak nekad.


__ADS_2