My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Mendapatkan nya..


__ADS_3

''Saya menghamili anak bapak. Usia kandungannya sudah tiga bulan. Saya memperkosanya sebab....''


BRAKKK!!


Mahmud menggebrak meja dengan kuat.


Renita langsung memeluk erat ibunya. Sungguh, dia teramat takut akan amukan ayahnya.


Mata Ayah Renita, sudah berkilat akibat emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Tangannya mengepal, ingin rasanya dia menghajar pemuda di hadapannya ini.


''Kenapa kau memperkosa putriku?'' tanya Mahmud dengan geram.


Hilang sudah keramahan yang dia tunjukkan.


''Sebab saya tidak sadar. Saya dalam pengaruh obat, saya dijebak waktu itu.'' Armand menjawab dengan tenang. Meskipun, rasa gugup menguasai dirinya.


''Saya ingin melamar Renita dengan meminta baik-baik pada Bapak..''


''Apa karena putriku mengandung anakmu? Kau ingin menikahinya,'' tanya Mahmud masih dengan nada dinginnya.


'' Tidak!'' tegas Armand, ''Saya melamarnya karena murni saya mencintai dan menyayanginya. Ada atau tidak anak dalam perutnya, saya sudah berencana melamar Renita jauh-jauh hari. Meskipun waktu itu, dia sudah memiliki kekasih..'' Mata Armand menatap hangat wanita yang tengah mendekap erat tubuh ibunya.


Renita tercengang mendengar itu semua. Berarti dugaan yang selalu disangkalnya selama ini, benar. Berarti perkataan Armand sewaktu mabuk malam itu sebuah kebenaran.


Sedangkan, Asih sudah menangis sedari tadi ketika mendengar nasib putrinya yang begitu miris. Sebenarnya, dia sudah curiga, ada yang aneh dengan kepulangan putrinya yang mendadak. Tidak biasanya putrinya seperti itu. Apalagi, pulang dengan membawa teman, Renita pasti menghubunginya terlebih dulu.


Naluri seorang ibu memang tak pernah salah. Dia sudah menduga, jika putrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Meski putrinya selalu menampakkan keceriaan dan kemanjaannya.


''Jika aku enggan memberi restu, bagaimana?''


'' Pak....''


Asih menghentikan ucapannya, setelah mendapat tatapan tajam dari suaminya. Seolah-olah mengatakan, 'jangan ikut campur'.


Renita juga ingin protes, tapi Armand segera mengisyaratkan dengan gelengan kepalanya.


Armand turun dari tempat duduk nya. Dia memposisikan dirinya duduk tepat di hadapan Mahmud.


''Saya akan bersujud dikaki Bapak. Sampai bapak memberikan restu. Bila perlu, saya akan mencium kaki bapak. Bapak bisa hajar saya sampai bapak puas.''


Armand sudah menunduk dihadapan Mahmud, berniat melakukannya.


''Tidak perlu!'' Mahmud menahan kedua lengan Armand. Memintanya untuk bangun dan didudukkan disamping nya.


''Hanya Allah yang pantas kamu sembah, bukan aku. Bohong, jika aku tidak marah mendengar putri yang ku jaga mati-matian dengan nyawaku, di nodai laki-laki. Bahkan, sampai hamil.'' Mahmud berkata dengan suara rendahnya.


''Mungkin, ini jalan yang sudah Allah gariskan untuk Renita. Aku percayakan putriku kepadamu. Jaga dia, sayangi dia seperti aku menjaga dan menyayanginya.'' Mahmud menepuk pelan pundak Armand.


''Itu artinya...''


Mahmud mengangguk pelan.


Armand langsung mencium tangan pria paruh baya itu bertubi-tubi. ''Terima kasih, Pak. Terima kasih..''


Renita dan Ibunya menangis bahagia, ada rasa lega di hatinya. Ternyata, apa yang dia bayangkan tidak terjadi.


Dia kira, ayahnya akan menghajar Armand habis-habisan hingga babak belur, ternyata tidak. Ayahnya benar-benar bijak.


'Reni bangga punya ayah seperti Bapak..'


"Assalamu'alaikum..''

__ADS_1


Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahunan masuk ke dalam rumah. Senyumnya mengembang saat melihat siapa yang dia temui.


''Wehhh, Mbak Bro..''


Renita memukul keras lengan adiknya.


''Mbak Bro, Mbak Bro. Ora weruh lak enek dayoh, jaga sikap!'' Wanita itu melotot ke arah adiknya.


( Gak lihat kalau ada tamu )


Rendy menoleh ke arah pemuda yang duduk di sebelah ayahnya.


''Lah, iki lak mas-mas sing viral kemarin. Sing gak sido kawin karo model luar negri kae thoo,'' celetuk Rendy saat melihat Armand untuk pertama kalinya


(Lah, ini kan mas-mas yang viral kemarin. Yang tidak jadi kawin sama model luar negeri itu).


Kedua orang tuanya mengernyit bingung mendengar perkataan putra bungsu nya.


Sedang Renita, sudah gemas sendiri dengan adiknya. Ingin rasanya dia menyumpal mulut lemes itu. Tidak tahu apa, jika suasana baru saja mendingin.


''Viral apa sih, Ren? Jangan membuat ibu bingung,'' tanya Asih yang masih belum ngeh dengan maksud putranya.


''Sebentar,sebentar.'' Rendy merogoh saku jeansnya untuk mengambil ponsel.


Dia membuka akun sosial media miliknya, lalu menunjukkan video yang viral kemarin pada orang tuanya.


''Sek piye-piye? Jelaskan ke ibu sejelas-jelasnya. Ibu masih belum paham, Ren.''


Armand pun menjelaskan kronologi kejadian itu sedetail mungkin. Bahkan, dia juga menunjukkan rekaman yang dia miliki. Ketika dia tidak sadar pada waktu itu. Tentu saja, dengan men-skip peristiwa nahas itu.


Bapak dan Ibu Renita mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


''Jadi, kalian sama-sama korban?'' tanya bapak.


''Ya, begitulah, Pak. Tapi saya lega semuanya sudah terselesaikan..''


''Ren, salim dulu, itu calon mas iparmu,'' titah Ibunya.


''Mas gak salah, mau menikah sama dia? gak takut kupingnya panas, Mas? Dia itu bawelnya minta ampun. Mending cari yang lebih cantikkan, deh, Mas..''


Renita melototi adik durhakimnya.


''Awas kon, yo! Ogah aku nguwehi duit jajan maneh,'' kesal Renita.


( Awas kamu, ya! Ogah aku memberi uang jajan lagi ).


''Sek-sek, kalau Mas Armand ini calonnya Mbak Reni, berarti wanita yang mas maksud kemarin.... Dan Mbak Reni sekarang lagi hamil?'' tebak Rendi


Armand mengangguk mengiyakan.


'' WAH, TOKCER, JOS GANDOS! SEKALI TUSUK LANGSUNG JADI..'' Rendi berteriak heboh, ''Apa jurusnya, Mas?'' tanya Rendi dengan menaik turunkan alisnya.


Renita melempar sandal bulu-bulu yang yang di pakainya, hingga mengenai punggung adiknya.


''Cepat masuk, Ren! Gak usah ngajarin yang aneh-aneh ke Mas Armand,'' perintah Renita dengan kesalnya


Renita ingin melepas sandal satunya lagi. Tapi, Rendi sudah buru-buru kabur masuk ke kamarnya.


...----------------...


Renita termenung sendiri di teras samping rumahnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Entah kenapa, matanya sulit terpejam. Sedangkan, semua penghuni rumah sudah terlelap.

__ADS_1


''Gak tidur?'' Armand menghampiri wanita itu lalu duduk di sampingnya.


''Gak bisa tidur..''


'' Bagaimana perasaanmu?'' tanya Armand.


''Lega, lega banget, seperti habis melepas batu di pundak..''


Armand menggenggam lembut tangan wanita itu. ''sama..''


''Besok Papa sama Mama mau kesini untuk melamarmu secara resmi,'' lanjutnya


Renita menyandarkan kepalanya di bahu kekar laki-laki itu.


''Aku hanya orang biasa, apa keluarga bapak bisa menerima kami?''


''Lebih baik bersanding dengan orang biasa tapi tulus apa adanya. Dari pada bersanding dengan orang sepadan tapi penuh tipu muslihat,'' jawab Armand.


''Kamu tenang saja, keluargaku bukan tipe orang yang melihat dari status sosial seseorang. Mereka lebih mementingkan budi pekerti dari pada harta,'' ucapnya.


''Terima kasih,'' ucap Renita tulus dengan mata berkaca-kaca


''Bapak kenapa tidak tidur?'' tanya Renita


''Baru ingin tidur, lagi ambil air di dapur. Melihat pintu samping terbuka, niatnya mau menutup. Eh, taunya ada kamu, ya sudah aku susulin, itung-itung pacaran..''


''Ishhh, gak modal. Wakil presdir kok pelit,'' cibirnya


Armand terkekeh pelan.


''sshhuutt.. ssshuutt..''


Sepasang sejoli itu menoleh ke asal suara. Dilihatnya, Rendy berdiri di tengah pintu.


''Jangan pacaran mulu, sudah malam. Nanti ada setan,'' bisik pemuda itu.


Reni mendengus kesal mendengarnya.


''Iya, setannya lagi ditengah pintu. Sirik!" Renita ngeloyor masuk begitu saja.


''Awas, Mas! Dia kalau tidur ngorok kek speaker masjid. Mas siapin kapas buat tutup kuping,'' kata Renita memperingatkan calon suaminya.


''Dasar kakak durjana..''


''Adek durhakim..''


'Rendi, Renita tidur sudah malam..' sahut ibunya dari dalam kamarnya.


''Iya, Bu,'' jawab mereka bersamaan.


Armand hanya menggeleng melihat tingkah kakak beradik di depannya.


...----------------...


Jangan lupa tinggal kan jejak ya..


Angkat jempolnya, like, ❤ , comment, vote seikhlasnya saja..


Follow juga my akun di aplikasi ini ya..


Babay...

__ADS_1


__ADS_2