My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Petuah Keras Ibu Ratu


__ADS_3

''Marvello! Cucu oma, yuhuu!''


Pagi-pagi, Amalia sudah menghebohkan kediaman putranya.


''Ma, pagi-pagi jangan teriak-teriak.''


Terdengar, suara Setiawan menegur istrinya.


''Papa kenapa , sih? Mama cuma manggil cucu. Nggak usah sewot,'' sembur Amalia. Kemudian berlalu begitu saja.


''Tapi, tidak usah teriak-teriak begitu, Ma.''


''Isssh, Papa, pagi-pagi sudah cerewet,'' sewot wanita paruh baya itu


''Astaga! Pagi-pagi bikin gaduh rumah orang,'' keluh Armand ketika mendengar keributan di lantai bawah.


Ayah satu anak itu, melongok dari lantai dua dengan memangku putranya.


''Ada apa?'' tanya Renita dari belakang. Wanita itu, menghampiri suaminya masih mengenakan jubah mandinya.


''Biasa, Ibu Ratu pagi sudah heboh di rumah orang,'' sahut Armand tanpa melihat ke arah istrinya.


''Ooo, Mama,'' gumamnya.


Renita ikut melongok seperti suaminya. Tampak sang mertua menyapa Bi Lastri yang sedang mengepel lantai. Tertangkap di indra pendengarannya, ketika ibu mertuanya menanyakan dimana cucunya.


''Astaga, Renita!'' Armand melotot ketika melihat penampilan istrinya, ''Bajumu, mana? Kenapa keluar dengan pakaian seperti ini?'' geram Armand karena jubah mandi yang di pakai istrinya terlalu mini. Dengan panjang hanya sebatas paha. Belum lagi aset bagian atasnya tercetak dengan jelas disana.


''Ganti bajumu!'' sentaknya.


''Apa sih, Mas? Main teriak-teriak di telinga orang,'' protesnya.


''Ganti bajumu, Renita. Di bawah ada Papa,'' kata Armand dengan merpatkan giginya.


''Papa juga tak 'kan naik ke atas, Mas,'' jawabnya enteng. Berlalu begitu saja, masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap.


''Ren, kau....''


Teriakan Armand terhenti karena kedatangan ibunya.


''Hallo, cucu Oma. Sudah ganteng ya.''

__ADS_1


Pipi gembul itu selalu menjadi sasaran kegemasannya, diciuminya berkali-kali sampai Marvello meronta di pangkuan tangan ayahnya.


''Ma, sudah. Dia gerak-gerak mulu ini. Lihat tuh, lipstik mama belepotan di pipi anakku,'' ujar Armand.


''Sembarangan!'' Amalia mengeplak keras lengan kekar putranya, ''Ini lipstik mahal,'' protesnya tidak terima.


''Sudah sana! Kamu siap-siap. Kebiasaan tiap mau pergi bareng Mama. Mama mesti nunggu kalian,'' perintah wanita paruh baya itu. Marvello juga sudah berpindah dalam kuasanya


Hari ini, Armand sekeluarga akan berangkat menuju kota kelahiran Reva untuk menghadiri undangan sahabatnya waktu itu.


''Mama yang datangnya kepagian,'' gumamnya.


''Ngomong apa kamu!'' sembur Amalia dengan melotot tajam ke arah putranya.


''Nggak, Ma. Bukan apa-apa,'' elak Armand.


''Yuk, Vello ke bawah sama Oma. Kita temui Opa yuk,'' ajak Amalia penuh kelembutan pada cucunya.


Bayi gembul itu juga tampak girang di gendongan omanya. Terlihat beberapa kali bibirnya menyunggingkan senyum lebar, memperlihatkannya dua gigi yang masih malu-malu menampakkan diri.


''Sana masuk! Awas lama.'' Nada bicaranya berubah drastis kepada putranya.


...----------------...


Sesampainya di kamar.


Armand mendapati istrinya masih belum berganti baju. Wanita itu, justru masih sibuk mengemasi barang-barang miliknya juga milik sang suami ke dalam koper. Sedangkan kepunyaan anaknya, sudah siap di koper kecil yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.


Melihat penampilan istrinya yang terlalu aduhai. Membuat jiwa kelakiannya bangkit. Perlahan namun pasti, dia mendekati istrinya. Lalu memeluknya dari belakang.


Renita yang terkejut, menghentikan kegiatannya sejenak. Saat merasakan tangan kekar membelit perutnya.


''Ih, Mas. Kebiasaan! Ngagetin orang aja,'' protes wanita itu. Dia mencubit kesal lengan suaminya.


''Aw, kenapa malah di cubit, sih?'' tanya Armand. Meski sakit, dia tak melepaskan belitannya.


''Kamu terlalu seksi,'' bisiknya di telinga sang istri.


Armand menyusuri leher jenjang istrinya, menghirup aromanya dalam-dalam. Darah Renita berdesir, kala nafas hangat itu menerpa permukaan kulitnya.


''M-mas,'' ucap Renita di tengah serangan suaminya.

__ADS_1


Armand tak menghiraukan panggilan itu. Dia semakin intens menikmati permukaan lembut itu. Harum kulit tubuh istrinya, menyapa indra penciumannya. Membuat api dalam diri laki-laki itu semakin membara. Tubuhnya semakin panas.


''M-mas, su-sudah. Kita di tung-guh M-ma-mama.'' Renita berusaha menyadarkan dirinya. Tak dapat di pungkiri, sentuhan itu juga membangkitkan api dalam dirinya.


Armand berdecak tak suka. Dengan terpaksa dia harus melepaskan mainannya. Karna dia sendiri pun belum bersiap-siap sama sekali..


Renita kembali mencubit gemas suaminya, kali ini di perut ratanya.


''Aw, kenapa di cubit lagi, sih? Dikira tidak sakit apa?'' sungutnya


''Makanya, jadi orang jangan mesum. Lihat orang pakai beginian aja langsung on,'' sewot Renita.


''Kamu terlalu aduhai, Sayang,'' rayu Armand.


Bukan meleleh atau terpana, Renita justru bergidik ngeri. Sejak kapan suaminya yang datar mirip papan triplek itu pandai merayu?


''Cepetan mandi, Mas!'' titah wanita itu disertai lengkingan suaranya.


''Belum mandi juga, Ar! Astaga...'' Amalia yang tiba-tiba masuk membawa cucunya ikut menyahut.


''Eh, Mama,'' sapa Renita malu-malu.


Pasalnya, dia masih memakai pakaian yang terlalu mini.


Tak menghiraukan sapaan menantunya. Amalia justru mengomeli putranya habis-habisan. ''Mama 'kan sudah bilang, Ar, 'Jangan lama-lama. Mama tunggu dibawah'. Untung si Vello pup, kalau tidak begitu, bisa lebih lama lagi kalian. Sudah sana, mandi!"


Amalia beralih mengomeli menantunya. "Dan kamu, Ren. Cepat ganti bajumu! Sudah tahu, suami otak ngeres begitu. Pakai pakaian seperti ini."


''Tap-tapi, Ma. Vello kan....''


''Marvello biar mama yang urus. Kamu tunjukkan saja dimana barang-barangnya,'' potong Amalia cepat.


Sebelum berganti baju, Renita menunjukkan perlengkapan anaknya terlebih dahulu.


Baru setelahnya, segera berlalu menuju ruang ganti sebelum Ibu Ratu mengeluarkan petuah panjang lebarnya. Armand pun demikian, dia segera membersihkan diri, sebelum Ibu Ratu kembali murka.


''Ingat! Jangan lama-lama. Bisa-bisa kita semua ketinggalan pesawat. Waktu kita tinggal satu jam lagi. Belum lagi perjalanan ke bandaranya,'' petuah Amalia kembali terdengar saat akan keluar kamar anak menantunya.


''Kamu, Armand! Jangan macam-macam di waktu mepet ini.'' Peringatan keras Ibu Ratu kembali menggema.


''Iya,'' jawab Armand setengah hati.

__ADS_1


__ADS_2