
Kehamilan Renita memasuki bulan kelima, perutnya sudah tampak membesar bahkan lebih besar dari kehamilan pertamanya. Hari ini ada jadwal check-up kandungan. Yang mana hal itu disambut dengan antusias oleh Armand. Karena inilah hari yang ditunggu-tunggu, dia akan mengetahui jenis kelamin anak yang di kandung sang istri.
"Kamu gak kerja?" tanya Renita.
Wanita hamil itu, mondar-mandir kesana kemari menyiapkan sarapan mereka yang kesiangan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, sedangkan Armand masih mengenakan pakaian santai sambil membaca koran di meja makan di temani secangkir kopi panas.
"Hari ini kita check-up pagi. Aku udah gak sabar."
Renita hanya mencebik mendengar itu.
Pada saat akan berbalik ke dapur, tiba-tiba ada tangan kecil yang memeluknya dari belakang.
"Mama...," rengeknya manja.
"Eh, pintarnya anak mama bangun gak nangis." Renita mendudukkan diri pada kursi yang ada di dekatnya, kemudian membawa sang anak ke pangkuan.
Marvello langsung memeluk manja ibunya meskipun terhalang perut yang membuncit.
"Peyut ama geyak-geyak, Eyo eyi."
(Perut mama gerak-gerak, Vello geli).
Armand yang mendengar itupun hanya bisa mengerutkan kening. Dia masih kurang memahami ucapan yang keluar dari mulut putranya. Berbeda dengan Renita yang tertawa mendengarnya.
"Apa eyek Aya oyang ua. Keyut-keyut." Balita itu berganti mengomentari wajah sang ayah yang masih belum berubah.
(Papa jelek kayak orang tua. Kerut-kerut).
"Papa 'kan emang udah tua, Dek," kelakar Renita dengan menahan tawanya.
Marvello tumbuh menjadi anak yang aktif dan selalu ingin tahu. Setiap kali, dia mendengar perkataan asing yang keluar dari mulut orang sekitarnya, balita itu akan merespon dengan cepat.
"Ama, capa yang eyak-eyak nini?" tanyanya dengan memegang perut ibunya.
(Mama, siapa yang gerak-gerak disini?)
"Adek, Sayang."
"Eyo, Ama." Vello mengedipkan matanya beberapa kali yang terlihat semakin imut di mata ibunya.
(Vello, Mama).
"No!" Renita menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri.
"Adeknya kakak Vello. 'Kan sebentar lagi Vello punya adik."
Dengan sabar, wanita itu menjelaskan kepada putranya.
"Marvello mau apa enggak punya adik bayi?" Ganti Armand yang bertanya pada putranya.
"Au-au." Balita itu menggelengkan kepala dengan semangat.
(Mau-mau).
"Mau tapi kok geleng," gumam Armand.
"Mau apa gak?" tanya Renita.
"Au."
Lagi-lagi, di respon dengan gelengan.
__ADS_1
(Mau).
"Mulut bilang mau tapi kepala tidak. Yang benar yang mana, Vel?" Armand merasa gemas sendiri melihat tingkah putranya.
"Udahlah, gak selesai-selesai meladeni Vello. Ini mandiin dia. Aku juga mau siap-siap." Renita menyerahkan putranya pada sang suami, kemudian berlalu ke kamarnya.
"Ayo, kita jadi kapal terbang," teriak Armand dengan memposisikan tubuh putranya sejajar dalam gendongannya.
"Apang bang...," teriaknya riang.
(Kapal terbang).
Lengkingan mungil itu menghilang di balik pintu sebuah kamar.
...----------------...
"Bagaimana, Dok?" tanya Armand, netranya serius menatap monitor besar di depannya.
Kini, mereka sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Renita. Mereka berangkat berdua karena Marvello diculik nenek rempongnya sewaktu akan diajak ke rumah sakit. Dan Armand hanya bisa mengiyakan dari pada nanti terkena omelan panjang dari ibunya.
"Sebentar ya, Pak. Ini masih saya cari. Sepertinya, si baby malu kucing-kucing," jawab Dokter itu dengan sabar.
"Dari pada bapaknya malu-maluin," celetuk Renita.
Dia selalu kesal setiap kali mengingat saat sang suami dengan tidak malunya, menanyakan masalah hubungan suami-istri kepada dokter waktu itu.
"Malu-maluin, gimana?"
"Nanya masalah ranj*ng dengan santainya," sewot wanita itu.
"Itu terus yang diingat-ingat. Memang salah aku tanya? 'Kan gak tau," ucap Armand dengan wajah tanpa dosa.
''Terserah."
''Nah, ketemu."
Pekikan keras itu mengalihkan perhatian Armand dan Renita.
"Apa, Dok?" tanya Armand dengan antusias.
"Sebentar, Pak. Sepertinya cewek tapi belum terlalu jelas. Saya coba cari posisi yang jelas. Semoga saja si baby gak malu-malu lagi," kata Dokter itu sambil menggerakkan sebuah alat di area perut Renita.
"Nah, ini sudah jelas."
Armand menunggu dengan antusias penjelasan wanita berjas putih itu.
"Bayinya perempuan sesuai dengan harapan Pak Armand. Dia juga sehat, berat badan normal sesuai usia. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Yesss!"
...----------------...
Selepas periksa kandungan, Armand mengajak sang istri mampir ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Dia ingin membeli segala macam pernak-pernik untuk bayinya. Renita berusaha menasehati suaminya, agar tidak terlalu terburu-buru karena usia kandungan belum ada tujuh bulan. Tapi, pria itu tak mengindahkan nasehat itu. Baginya, itu semua hanya mitos orang dulu, sedangkan kita sudah hidup di jaman modern.
Mendengar itupun, Renita hanya bisa pasrah. Percuma melarang manusia merasa kepala satu ini, pikirnya.
''Mas, bagus yang mana, ini apa ini?'' Renita menunjukkan dua buah baju bayi yang menurutku sangat lucu.
''Ambil aja dua-duanya," kata Armand dengan memegang trolly.
Renita hanya menurut saja, dia mencari beberapa potong baju untuk bayi baru lahir, lalu mencari baju yang ukurannya sedikit lebih besar dari sebelumnya. Tak lupa, mereka juga mencari segala perintilan lainnya.
__ADS_1
''Ren, cari stiker dinding sekalian. Secepatnya, aku mau mendesain kamar si baby. Itu juga, kenapa kamu ngambil bajunya cuma segitu? Apa gak kurang?"
"Gak, ini lebih dari cukup. Baju seperti ini muatnya cuma sebentar, besaran dikit udah gak bisa dipakai. Mending yang ukurannya agak besar beli lebih banyak, Mas."
Armand hanya mengangguk.
"Ya ampun! Ini lucu banget sih," pekik Renita saat melihat berbagai aksesoris untuk bayi perempuan.
"Ren, pelan-pelan.'' Armand hampir jantungan sendiri melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba berlari menuju tempat yang di tuju.
"Dasar wanita, tadi sok nolak. Pas udah belanja lupa segalanya," gumamnya sambil mendorong cepat troli yang di bawanya.
Hampir satu jam sepasang suami-istri itu belanja semua kebutuhan anak kedua mereka. Ada juga beberapa kebutuhan ibu hamil itu sendiri, belanjaan mereka jangan ditanya, tiga troli penuh sampai Armand harus meminta pegawai untuk membantunya. Renita selalu kalap ketika berbelanja, segala sesuatu yang menurutnya menarik langsung diambil tanpa berfikir panjang.
Sekarang, wanita hamil itu sudah berada di mobil dengan segelas ice boba di tangannya. Dia mengistirahatkan kaki yang terasa pegal setelah berjalan terlalu lama.
''Udah, gak ada yang ketinggalan?'' tanya Armand yang sudah siap untuk menjalankan mobilnya.
"Ada, bekasnya," jawab Renita dengan memejamkan mata.
"Ditanya serius jawabnya seperti itu," gerutu Armand.
Mobil mulai berjalan meninggalkan parkiran pusat perbelanjaan itu.
"Bener, 'kan, Mas? bekasnya ketinggalan."
"Hmmm.''
...----------------...
Setelah menempuh perjalanan selama empat pulih lima menit. Akhirnya, kendaraan Armand memasuki pelataran rumahnya.
Di teras rumah sudah ada Amalia dan Setiawan tengah menemani cucu lelakinya bermain. Tampak Marvello tengah berceloteh di hadapan sang opa dengan antusias, dan Setiawan sesekali menanggapi dengan tertawa.
''Kalian ini dari mana saja? Berangkat dari pagi, hampir sore begini baru pulang."
Renita hanya menunjukkan deretan gigi putihnya. Sedangkan,Armand segera membuka pintu bagasi mobil, lalu memanggil Mang Udin untuk membantu membawa barang belanjaannya untuk di bawa masuk ke rumah.
''Astaga, kalian ini habis merampok apa gimana?''
Amalia menggelengkan kepala melihat berbagai macam barang yang di turunkan dari mobil.
"Ini kebutuhan bayi semua?" tanya wanita paruh baya itu.
Renita hanya mengangguk menanggapi.
''Usia kandunganmu belum genap tujuh bulan, Ren. Pamali membeli kebutuhan bayi, apalagi sampai sebanyak ini." Amalia berusaha menasehati anak menantunya.
''Itu hanya mitos orang tua dulu, Ma. Kita sudah hidup dijaman modern." Armand menimpali.
"Justru, nasehat orang tua dulu mesti dituruti, Ar. Mereka tidak akan mengatakan itu jika tidak ada sesuatu yang terjadi setelahnya. Dan kebanyakan hal buruk."
"Mama, sudah deh. Jangan buat Renita kepikiran. Tadi bayi kami sehat-sehat aja kok. Dan satu lagi, dia perempuan," kata Armand sebelum menghilang di balik pintu dengan sekotak belanjaannya.
"Akhirnya, kalian punya sepasang. Selamat ya, Sayang." Amalia langsung memeluk menantunya.
Rasa cemas akan petuahnya hilang begitu saja berganti rasa gembira.
"Sehat-sehat ya, Cantik. Oma gak sabar ketemu kamu. Nanti gantian kamu yang jadi ajang Oma selanjutnya," ucap Amalia dengan mengusap lembut perut buncit itu.
''Iya, Oma." Renita menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
...****************...
Kita ke Kompeni dulu, Dania masih semedi memikirkan masalahnya anggap saja dia lagi nyari wangsit