
Pagi ini, Reva sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Wanita itu, menilik penampilannya sekali lagi di depan cermin. Setelah dirasa sempurna, dia meraih tas yang tergeletak tak jauh darinya, berjalan menuju pintu juga tak lupa menguncinya. Dia melangkah dengan tenang menuju halte bus yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya.
Reva telah kembali ke ibu kota. Acara lamaran dadakan waktu itu, berhasil membawa pengaruh positif bagi kesehatan sang ayah. Terbukti, kondisi Ayahnya berangsur membaik juga sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit.
Oleh sebab itu, Reva memutuskan untuk segera kembali bekerja sebelum pekerjaannya semakin menumpuk. Belum lagi, dia harus mengurus cuti pernikahannya.
Reva menghela nafas. 'Menikah' sesuatu yang belum terlintas di benaknya dalam waktu dekat ini. Meskipun, selama ini memang dia sering mengejar-ngejar pria incarannya, Doni. Tapi, wanita itu tak mau main-main untuk yang namanya 'pernikahan'.
Baginya, pernikahan merupakan sesuatu yang sakral, dilakukan hanya sekali seumur hidup, 'kalau bisa'.
Tapi kondisinya sekarang sudah sebagai calon istri seseorang. Seseorang yang belum pernah dia kenal sama sekali. Bertemu pun hanya beberapa kali. Itupun sebagai orang asing.
Lagi-lagi Reva menghela nafas, kali ini lebih dalam lagi. Dia memikirkan rumah tangga seperti apa yang akan dia jalani nanti? Nama lengkap calon suaminya saja tidak tahu, mungkin pria itu juga sama. Tidak tahu namanya.
Pria berwajah tampan, bermata sipit. Sungguh menenangkan saat dipandang. Tapi, jangan salah ketika sudah mendengar suaranya. Reva berani menjamin seratus persen, kata-katanya mampu mengoyak hati siapa saja yang menjadi sasarannya.
TIINN....
Suara klakson panjang berhasil menyentak lamunannya. Wanita itu, memperhatikan sekelilingnya. Ternyata, dia sudah sampai di halte bus tempat tujuannya.
''Masuk,'' titah tegas seorang pria dengan wajah datarnya dari dalam mobil.
''Kamu! Kok bisa disini?'' Reva tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ia kembali memperhatikan sekitarnya. Masih sepi hanya ada dia seorang disana.
''Masuk!'' kali ini disertai geraman dari pria itu.
''Ogah!'' Reva menolak tegas.
Bahkan gadis itu, tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
''Saya sudah meluangkan waktu untuk menjemputmu, ya? Tolong hargai usaha saya!'' kata Rio dengan menahan emosinya.
''Heh, Bung! Gue nggak minta loe jemput.''
''Kalau bukan disuruh mami, saya nggak sudi melakukan ini. Membuang waktu saja.''
''Dasar loe-nya aja yang anak mami,'' cibir Reva.
''Kamu....'' Rio menyorot tak suka gadis yang berdiri tak jauh dari mobilnya.
__ADS_1
''Apa, hah!'' tantang Reva sembari berkacak pinggang. ''Sana loe! Gue juga gak sudi di jemput laki modelan kayak loe.'' Reva menendang keras ban mobil mewah itu.
''Awas kamu ya! Kalau sampai ada lecet sedikit saja di mobil saya, kamu harus tanggungjawab.'' Rio mengeratkan rahangnya. Pagi-pagi sudah di buat emosi oleh seorang wanita.
"Bodo amat!''
Disaat bersamaan bus yang di tunggu telah tiba. Tanpa mengucap sepatah dua patah kata, Reva langsung melangkah memasuki kendaraan persegi panjang itu. Meninggalkan Rio dengan sejuta kekesalannya.
...----------------...
"Calon manten datang guys,'' sindir Dania dengan suara lantangnya saat melihat Reva tiba di pintu ruangan divisinya.
Sontak, beberapa orang yang ada disana bertanya-tanya, siapa yang di maksud gadis itu?
Reva yang tidak merasa disindir, cuek bebek saja. Malah melenggang santai menuju kubikelnya lalu mendudukkan dirinya senyaman mungkin. Dan mulai mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda beberapa hari.
Wina dan Dania bersitatap, saling memberi isyarat melalui tatapan mereka.
''Va, loe mau kawin ya? Kok nggak kabar-kabar, sih.'' Siska menghampiri Reva yang mulai serius dengan layar di hadapannya.
''Wah, akhirnya loe dapetin si Doni, Va. Congrats, ya. Jangan lupa undangannya,'' sahut yang lainnya.
''Ngadain pesta lajang, Va,'' sahut staf cowok yang ada disana.
''Berarti loe pulang kemarin mau lamaran ya. Eh, tapi bentar deh. 'Kan si Doni di kantor mulu pas loe balik?'' Melly tetangga kubikelnya memberondong Reva dengan berbagai pertanyaannya.
''Jangan bilang loe dijodohkan?'' Siska memicing tajam.
Reva sudah di seperti gula yang tengah di kerubungi para semut dengan sejuta ke-kepoan-nya.
''Bentar-bentar ini pada ngaco apa gimana? Pagi-pagi udah ngerubungin gue,'' tanya Reva. Dia masih belum ngeh dengan situasi ini.
''Kalian dapat kabar darimana? Kalau gue mau kawin,'' lanjutnya lagi.
Semua yang mengerubungi Reva menunjuk ke arah Wina dan Dania.
''Astagah,'' desah Reva dengan menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
'Pasti si Reni yang ngabarin mereka. Dasar emak-emak ember,'' batinnya kesal.
__ADS_1
''Kamu kenapa, Va? Seperti frustasi gitu,'' tanya Melly.
''Nggak, nggak apa-apa,'' jawab Reva dengan senyumnya, ''Gue pulang kemarin karena bokap masuk rumah sakit. Soal pertanyaan kalian, apa gue mau kawin? Jawabannya iya tapi bukan sama Doni.''
''Kalian nggak usah tanya kok bisa? Bisa. Gue sama si Doni emang nggak ada apa-apa, guenya aja yang kegatelan sama dia. Kekepoan kalian semua sudah terjawab, sekarang kembali ke tempat masing-masing, sebelum Pak Danu datang. Kena sembur tau rasa loe pada,'' lanjutnya panjang lebar.
Kerumunan para semut kepo itupun membubarkan diri karena mereka sudah mendapat apa yang mereka cari.
''Va, gimana ceritanya? Sampai loe di jodohkan gitu,'' bisik Wina.
Daniapun ikut mendekat demi mendengar cerita sahabatnya satu ini. Dia juga penasaran siapa laki-laki yang menjadi calonnya.
''Siapa dia?''
Belum sempat Reva menjawab, Dania sudah menyela.
''Pria itu,'' jawab Reva singkat.
Dania yang paham langsung membelalakkan matanya. ''Sumpah demi apa?'' pekik Dania.
Semua orang menoleh kearahnya karena mendengar pekikan itu.
''Pria itu, siapa dia, Reva?'' tanya Wina dengan gemas. Pasalnya hanya dia yang tidak tahu calon suami sahabatnya ini.
''Sudahlah, kalau disuruh cerita sekarang gue nggak bisa. Kerjaan gue numpuk banget, nanti aja kalau sempat. Nanti Pak Danu lihat, bisa kena sembur.''
''Kalian bertiga, kalau mau gosip silahkan keluar!'' suara lantang Pak Danu mengejutkan ketiga wanita ynag tengah berkumpul itu.
''Nggak, Pak.'' Dania langsung kembali ke tempatnya. Sedangkan Wina, tanpa banyak bicara, dia sudah duduk nyaman di tempatnya.
''Baru juga mingkem mulut gue, udah nongol aja, panjang umur, Pak,''' gumam Reva.
''Dan kamu Reva, saya tunggu pekerjaanmu secepat mungkin. Istirahat harus sudah ada di meja saya,'' ujar pria paruh baya itu.
''Iya, Pak.''
''Kerja yang bener, jangan gosip mulu,'' tegur pria itu sebelum masuk ke ruangannya.
''Iya, Pak.''
__ADS_1