My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Pengantin ala Duo 'R'


__ADS_3

Akhirnya, serangkaian acara demi acara di kediaman orang tua Reva selesai juga. Para tamu undangan satu per satu meninggalkan tempat itu dengan membawa souvenir yang di hadiahkan dari si pemilik acara.


Termasuk rombongan sahabat Reva beserta keluarganya dari Ibukota.


''Kita pamit ya, Va,'' kata Renita dengan memeluk hangat sahabatnya.


''Terimakasih, kalian mau jauh-jauh hadir di acara sederhana di rumah gue ini,'' ucap Reva tulus dari hati.


''Apa, sih? Yang nggak buat sahabat kita ini,'' goda Renita dengan mencolek dagu sahabatnya


''Loe kalau mau malam pertama, jangan berantem mulu! Kagak jadi-jadi ntar,'' serobot Wina yang ikut merangkul sahabatnya.


''Yang.''


David mendelik tajam ke arah istrinya. Kalimat yang di keluarkan istrinya selalu frontal sedari tadi.


''Hehe, piiiss, Husband.'' Wina nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya.


''Kemana, nih? Reva yang selalu berisik, judes dan cerewet kok ilang. Ini seperti bukan Reva yang gue kenal, deh,'' celetuk Dania, ''Dari tadi bawaannya kok pengen nangis mulu.''


Reva tertawa mendengar ucapan satu-satunya sahabat yang masih melajang ini.


''Bisa ae loe, Nya.'' Lagi-lagi Reva menyusut genangan kristal bening yang menggenang di pelupuk matanya.


''Sudah jangan nangis mulu. Ini hari bahagia loe, Va. Lupakan dia! Sudah ada suami yang 'kan selalu ada untukmu,'' nasehat bijak meluncur dari mulut gadis itu.


''Iya, gue coba lupakan dia yang gak pernah peduli sama perasaan gue.'' Reva tersenyum kecut.


Rio yang mendengar itu, langsung menatap tajam istrinya. 'Siapa yang mereka maksud?'


''Do'a in gue supaya cepet nyusul loe,'' ujar Dania.


''Ehem, kode keras, Mas Dav.'' Renita menaik turunkan alisnya.


''Ren,'' geram Armand. Panas hatinya mendengar istrinya memanggil nama mantannya seperti sewaktu mereka pacaran dulu.


''Apa, sih? Gaje.'' Renita memutar bola matanya malas.


''Aku tidak suka kamu manggil dia seprti itu,'' rajuk Armand.


''Kebiasaan! Cemburu nggak tahu tempat.'' Renita pergi begitu saja meninggalkan suaminya.


''Ren! Kok malah pergi. Mestinya 'kan aku yang marah. Bukan kamu,'' protes Armand.


''Ren!''


Armand langsung mengejar istrinya.


''Sahabatmu, tuh!'' bisik Reva pada suaminya.


Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang sudah di butakan oleh cinta.


...----------------...


Malam harinya di kamar pengantin...


Reva sedang sibuk dengan benda pipih di tangannya. Dia sibuk mencoba berbagai efek di aplikasi kesayangannya. Apalagi, jika bukan Tik tok.


Wanita itu, tidak sadar. Kegiatannya sedari tadi di perhatikan secara intens oleh pria yang kini telah menjadi imamnya.


Rio hanya menggelengkan kepalanya, kenapa dia bisa bertemu gadis seperti ini. Reva memang gadis yang berbeda.


''Gak bosen? Dari tadi cengar-cengir tidak jelas depan ponsel.'' Rio duduk di samping istrinya.


''Nggak,'' jawab Reva singkat.


''Sudah malam. Tidur!'' Rio beranjak menuju tempat tidur yang biasa di pakai Reva.

__ADS_1


Reva menghentikan kegiatannya. Matanya melotot melihat Rio dengan santainya berbaring di sana.


''Eh-eh, kalau kamu tidur si situ, terus aku tidur dimana?''


Rio mengerutkan keningnya. ''Ya, disampingku lah,'' jawabnya tanpa rasa bersalah.


''Nggak boleh!'' sarkas Reva cepat.


Rio bangun dari posisi rebahannya. ''Kenapa?''


''Aku nggak mau tidur seranjang sama kamu.'' Reva menyilangkan tangan di dadanya.


''Kenapa?''


''Ya, pokoknya nggak mau.'' Reva memalingkan mukanya.


''Aku butuh alasan.''


''Alasannya, aku nggak mau. Titik.''


''Kalau cuma itu alasan kamu, mending aku tidur saja.'' Rio kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Bahkan, dengan santainya dia memakai selimut yang ada disana dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.


''VARIO!'' teriak Reva dengan kesalnya.


Rio tak menggubrisnya, dia malah memejamkan mata.


''Nyebelin banget, sih.'' Reva menghentakkan kakinya dengan kesal.


Mau tidak mau, dia harus tidur satu tempat dengan pria ini.


Baru juga, Reva memejamkan matanya, dia sudah di kejutkan dengan tangan kekar yang menimpa perutnya. Dia mencoba melepas belitan tangan itu, berberapa kali mencoba malah semakin erat. Sampai akhirnya, Reva pasrah dan melanjutkan tidurnya.


Setelah memastikan istrinya benar-benar pulas, Rio membuka matanya. Mencolek lengan istrinya beberapa kali, tidak mendapat respon. Perlahan-lahan, pemuda itu membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya. Di pandanginya lamat-lamat wajah tenang itu. Menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.


''Sebenarnya, kau cantik Reva.''


Rio terkekeh sendiri mendengar ucapannya.


Seolah takdir atau kebetulan, saat akan pulang, dia bertemu lagi dengannya. Melihat wanita ini termenung sendirian di pinggir jalanan sepi. Tiba-tiba ada rasa kasihan menyusup dalam hatinya. Dia seperti mendapat bisikan untuk menolong gadis itu. Padahal, sebelumnya dia tak pernah se-peduli itu terhadap wanita.


''Apakah aku sudah tertarik denganmu?'' gumamnya.


''Sebenarnya, aku tidak benar-benar menolak di jodohkan denganmu waktu itu. Hanya saja, bayang-bayang penghianatan mantan tunanganku dulu, s'lalu menhantuiku. Rasa trauma itu masih ada. Dan aku harap kamulah wanita yang bisa mengobati traumaku.''


Ditariknya tubuh mungil itu, untuk lebih merapat kepadanya. Mendekap nya erat, hingga tanpa sadar dia juga ikut menyusul istrinya berselancar ke alam mimpi.


...----------------...


Pagi harinya...


Reva merasa tidurnya kali ini lebih nyaman dan nyenyak dari biasanya. Dia mendekap erat sesuatu yang dia kira guling. Menyurukkan kepalanya agar lebih tenggelam dalam dekapan gulingnya.


'Tunggu dulu, kenapa ada aroma parfum cowok di guling gue?' batin Reva bingung.


Dia merabanya dan sedikit menekannya.


'Sejak kapan? Guling gue jadi keras begini.'


Perlahan, Reva membuka matanya. Matanya membeliak sempurna, kala dirinya tengah memeluk erat seorang pria yang ada di tempat tidurnya.


''AAAAAA! LOE SIAPA?'' jerit Reva yang berhasil memekakkan telinga pemuda itu.


Rio terpaksa bangun meski matanya masih terasa berat. Dia menutup kedua telinganya dengan mata terpejam.


''Loe, udah ngapain gue, hah!'' Reva menyerang tubuh pria itu secara bertubi-tubi, dengan bantal yang ada di dekatnya.


''Kurang aja!'' maki Reva.

__ADS_1


Bugh-bugh-bugh...


Rio yang tak siap pun tidak bisa menghindar. Laki-laki itu, hanya menghadang serangan Reva dengan tangan yang di silangkan di depan wajahnya.


Bugh-bugh-bugh....


Bugh-bugh-bugh


Bugh-bugh-bugh


"Ampun, Va. Ampun! Aku suamimu!"


Reva menghentikan serangannya. ''Ap-apa?''


''Aku suamimu,'' kesal Rio.


''Astagah!'' Reva menepuk dahinya pelan kala teringat, jika dia sudah menikah.


''Ya, ma-maaf,'' kata Reva dengan rasa bersalahnya.


''Maaf, maaf. Gara-gara suaramu, aku terbangun. Kalau sudah begini, aku pasti tidak akan bisa tidur lagi. Aku masih ngantuk,'' dumel pria itu.


''Aku sudah minta maaf 'kan?'' sahut Reva tidak terima.


''Terserah!''


Rio merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya kembali.


''Dasar pikun,'' gerutunya


''Apa kamu bilang?'' Reva melototkan matanya.


''Pikun.''


''Dasar mulut mercon!'' Reva kembali menyerang pemuda itu dengan bantal di tangannya.


''Hentikan, Reva!'' teriak Rio dengan kesal karena lagi-lagi tidurnya di ganggu.


''Lagian kamu ngapain, pakai acara peluk-peluk aku segala.''


''Bukannya kamu yang meluk aku?'' Rio memiringkan senyumnya.


Reva terdiam tak bisa menjawab.


''Jadi, disini kamu yang salah,'' bisik Rio di telinga istrinya, ''Dan kamu harus di hukum.'' Rio meniup pelan telinganya.


''Hu-hukum?'' Tubuh Reva meremang kala nafas hangat itu menerpa permukaan kulitnya.


''Ya, di hukum. Karena aku sudah menahannya dari semalam.'' Rio menyeringai.


''Apa itu?'' cicit Reva.


Tanpa basa-basi, Rio segera menyerang bibir mungil itu. Menyesa*nya bergantian bagian atas dan bawahnya. Semakin lama semakin menuntut, hingga Reva hampir kehabisan nafasnya.


''hhhh, hhhh, hhhh."


Reva menghirup dalam-dalam pasokan oksigen di sekitarnya. Saat serangan itu terlepas darinya.


Plak...


''Loe mau bunuh gue, ya.'' Reva menatap kesal suaminya.


''Heh, yang sopan berbicara dengan suami,'' kata Rio dengan nada penuh peringatan.


''Bodo amat.''


''Morning kiss," bisik Rio di depan muka wanitanya.

__ADS_1


Setelah itu, melenggang dengan santainya menuju kamar mandi.


''Modus.''


__ADS_2