My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 7: Siapa Dia?


__ADS_3

Minggu pagi di akhir pekan ini, Dania berencana jogging di sebuah taman kota. Pertama-tama, dia melakukan pemanasan dan peregangan agar otot-otot tubuhnya tidak kaku. Setelah dirasa cukup, dia mulai melakukan lari-lari kecil beberapa putaran.


Pada saat, dia hendak mengakhiri putarannya, netranya menangkap sosok yang sangat familiar. Dia mendekat dengan langkah pelan untuk memastikan, bahwa dugaannya salah.


"Aku gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu. Setelah sekian lama," ucap seorang wanita pada pria di sampingnya.


"Aku juga, dan kamu tambah cantik aja. Beda dengan yang dulu." Si pria menimpali.


Dania mengernyit, suara itu sangat persis dengan suaranya. Dia berinisiatif membuntuti dua orang itu dengan jarak aman, sekira bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Haduh, aku capek, Van," keluh si wanita.


"Sama, ngadem disana dulu." Devan menunjuk sebuah bangku kosong yang terletak tak jauh darinya.


Dua orang itu memutuskan untuk beristirahat disana. Melihat itu, Dania segera mencari tempat yang tak jauh dari dua orang itu. Dia masih penasaran, siapa wanita yang bersama tunangan jadi-jadiannya.


"Oh, ya kamu kerja dimana sekarang, Van?" tanya wanita itu.


"Aku jadi asisten pribadinya Armand Setiawan di perusahaan X."


"Wow! Hebat kamu. Bisa kerja di perusahaan besar itu," puji wanita itu dengan mata berbinar.


Sorot kekaguman tertampak jelas di matanya.


"Kamu sendiri, sekarang kerja dimana?"


"Aku baru pulang dari LN. Aku dipindahkan ke cabang sana sama kantor di tempatku bekerja. Ya, aku cuma bawahan, nurut ajalah ya ... Daripada dapat pesangon, meskipun harus jauh dari keluarga," kelakar wanita itu.


"Dan inipun aku ambil cuti tahunan. Jadi gak lama lagi, aku berangkat lagi," lanjutnya.


"Hebat juga kamu. Aku akui otakmu dari dulu memang encer. Jadi, gak heran kalau kamu di pindahkan kesana."


"Bisa aja kamu. Otakmu juga lumayan."


Sepasang anak Adam itu terus saja berbincang membicarakan berbagai hal, tak jarang canda tawa keluar dari mulut keduanya. Tanpa mereka tahu, ada hati yang panas melihat semua itu.


"Siapa dia? Kenapa Pak Devan akrab sekali dengannya? Selama aku bekerja dengannya tak pernah dia seramah itu terhadap wanita," batin Dania bertanya-tanya.


Ingin rasanya, dia menghampiri mereka. Memperkenalkan diri sebagai tunangan Devan tapi niatnya urung ketika mengingat pertunangan ini hanyalah sebuah sandiwara.


Dan sandiwara itu dia yang memulai. Dania bagaikan terperangkap dalam senjata makan tuan.


Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk meninggalkan dua orang itu, tak sanggup rasanya mendengar semua canda tawa mereka. Karena Devan sendiri tak pernah sedekat itu dengannya. Dia menyimpan sendiri rasa cemburu yang membakar hatinya.


_________________

__ADS_1


"Nya, kumpul yuk. Di cafe yang di Jalan Mawar. Itu tempat ter-hits saat ini. Makanannya enak-enak, tempatnya juga asik," ajak Wina yang tiba-tiba masuk ke kamar adik iparnya.


"Ayo, deh. Gue juga butuh penyegaran. Winda ikut gak?"


Dania yang tengah suntuk langsung menyetujui ajakan kakak iparnya, dia ingin me-refreshkan hati dan pikirannya, akibat peristiwa yang ia lihat pagi tadi.


"Gak. Mas David yang bakal ngemong dia. Si Reni sama Reva juga udah otw kesana. Kita kumpul-kumpul kayak dulu lagi berempat tanpa anak tanpa suami." Wina menaik-turunkan alisnya.


"Haish, kalian para istri berlagak perawan. Udah sana keluar! Gue mau siap-siap dulu."


"Oke. Jangan lama-lama! Entar duo bumil itu mencak-mencak," teriak Wina dari luar kamar.


"Iya!" sahut Dania tak kalah keras.


______________


Wina dan Dania celingak-celinguk mencari keberadaan dua sahabatnya. Mereka sudah sampai di tempat yang dijanjikan.


"Woy! Sini," teriak Renita dengan melambaikan tangannya.


"Itu mereka," kata Wina.


Sepasang kakak beradik ipar itu segera menghampiri kedua sahabatnya yang tengah asik menikmati makanan yang mereka pesan.


"Astaga, kalian!"


"Hehe, laper," cengir Renita sambil terus menikmati makanannya.


"Kalian ini lomba makan apa gimana, sih ceritanya?" Wina tak habis pikir dengan duo bumil di hadapannya.


"Maklum, Win. Kita ini dua mulut dan dua perut," sahut Reva.


"Ngeles ae lu, Va."


"Biarin! Udah sana pesen sendiri daripada ngiler liatin kita makan," perintah Renita pada kedua sahabatnya itu.


"Iye," sahut Wina keki.


Wina memanggil seorang waiters untuk memesan makanannya. Seorang wanita berseragam cafe tersebut tampak mencatat semua pesanan Wina dan Dania.


"Baik, di tunggu ya, Kak," ucap pelayan itu dengan ramah.


Disaat mereka menunggu pesanan datang, telinga Dania seperti mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Dia segera menoleh ke asal suara untuk memastikan. Dan benar saja, Davan bersama wanita tadi pagi juga berada disana. Mereka duduk agak jauh dari tempat duduknya.


Dania mengalihkan perhatiannya kearah para sahabatnya, mereka tengah asik dengan kegiatan masing-masing diselingi canda tawa khas mereka. Sebelum ketiga wanita heboh itu menyadari kehadiran tunangannya bersama wanita lain. Dania segera beralasan ingin ke belakang sebentar.

__ADS_1


"Gengs, gue kebelet mau ke toilet bentar."


"Oke," sahut Wina.


Dania segera beranjak dari tempat duduknya. Setelah dirasa aman dari jangkauan para sahabatnya, wanita itu segera mengambil tempat duduk yang tak jauh dari tempat Devan dan wanita yang bersamanya. Tak lupa dia juga memakai masker dan kacamata hitam agar tidak ketahuan. Dengan posisi membelakangi, Dania bisa leluasa mendengar apa saja yang mereka bicarakan.


"Makasih ya, Van. Udah ngajak aku ke tempat se-asik ini. Tempatnya bertema anak muda banget."


"Apa Pak Devan ngajak jalan itu cewek. Hih, kenapa gak ngajak gue aja, sih?" Dania menggerutu dalam hatinya.


Dania masih setia dengan pengintaiannya bahkan dia melupakan para sahabatnya dan pesanannya.


"Van, ada yang mau tanyakan ke kamu. Tapi kamu jangan marah ya?" tanya Wanita itu terdengar ragu-ragu.


Dania memasang telinganya baik-baik demi mendengar apa yang akan ditanyakan wanita itu. Sungguh, dia sangat penasaran. Sepertinya hal yang serius.


"Apa? Tanyakan saja, aku gak akan marah kok."


Dania mengernyit, sejak kapan Pak Devan yang terkenal dengan julukan 'Gunung Es' berbicara selembut itu sama wanita.


"Kamu sudah punya pacar belum?"


"Kenapa memangnya?" Devan balik bertanya.


"Ih, jawab aja kenapa sih," sahut wanita itu dengan manja.


"Belum. Memang kenapa?"


Jawaban itu bagaikan sambaran petir yang menyambar di siang bolong bagi Dania. Dia mengepalkan tangannya kuat, demi menahan amarah yang sengaja disulut oleh pria itu.


"Cukup sudah! Aku memang mencintainya tapi bukan berarti aku bisa dipermainkan seperti ini," geramnya dalam hati.


Saat hendak menghampiri tempat duduk pria itu, tiba-tiba handphone-nya berdering tanda ada panggilan masuk. Dania yang sedang diliputi awan hitam pun menjawab panggilan itu dengan kesal.


"HALLO!"


"Nya, loe kemana aja sih? Lama amat. Darurat, Nya, darurat." Terdengar suara panik kakak iparnya di seberang sana.


"Ada apa? Ngomong pelan-pelan," ucap Dania menenangkan.


"Loe cepetan kesini. Gawat, Dania, Gawat!!"


"Iya, gue denger gak usah diulang-ulang. Gawat kenapa?"


Dania sudah ingin meledakkan emosinya saat itu juga.

__ADS_1


"REVA KONTRAKSI!!!"


__ADS_2