My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Lamaran++


__ADS_3

''Assalamu'alaikum,'' ucap Setiawan ketika sampai diambang pintu.


''Walaikumsalam,'' jawab semua orang yang ada di dalam rumah.


Rombongan Setiawan memasuki rumah, setelah di persilahkan masuk. Mereka duduk di tempatnya masing-masing.


Tak lama, Renita keluar dengan balutan kebaya sederhana yang membalut sempurna tubuhnya. Dia terkejut, ketika melihat ketiga cs-nya ikut hadir dalam acara ini. Dan juga..., David.


Mata mereka sempat bertemu. Tatapan sendu yang diberikan padanya. Renita memilih memalingkan mukanya. Dia masih tak sanggup melihat wajah itu. Jujur masih ada sekelumit rasa dalam hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Takdir mereka cukup sampai disini.


Renita masih berusaha menghapus rasa itu. Dan belajar membuka hati untuk calon suaminya.


''Perkenalkan, saya Setiawan selaku ayah dari putra saya, Armand. Saya disini bermaksud meminta izin sekaligus restu meminang putri bapak Renita Claudia, untuk dijadikan pendamping hidup untuk putra saya, Armand...''


Ada rasa sakit di hati David mendengar itu semua. Seharusnya, dia yang berada di posisi itu. Manusia hanya mampu berencana, yang menjadi penentu tetaplah yang Maha Kuasa pemilik takdir.


Dan acara tetap berlanjut dengan pihak Renita telah memberi restunya.


''Saya ingin acara ini dilanjut dengan menikahkan keduanya, saat ini juga..'' Ucapan Setiawan mengejutkan semua yang hadir disana. Tak terkecuali Armand sendiri. Karena memang sang papa tak pernah membicarakan hal ini sebelumnya.


''Pa, Armand mau menikah sah secara langsung, bukan siri seperti ini,'' protes Armand.


''Siapa yang bilang papa akan menikahkan kalian secara siri? Papa akan menikahkan kalian secara sah.''


''Papa sudah mempersiapkan semuanya.'' Setiawan meminta asistennya untuk menunjukkan kelengkapan dokumen pernikahan Armand dan Renita.


''Dan ini, papa juga membawa serta penghulunya. Kamu tenang saja, pernikahan kalian akan tercatat sah secara agama dan negara.'' Setiawan menunjuk seorang pegawai Kantor Urusan Agama di kota itu.


Keluarga Renita juga baru menyadari, jika salah seorang dari rombongan itu adalah petugas KUA di tempat mereka.


''Betul, Pak, Bu. Pak Setiawan sudah mengurus kelengkapan dokumennya. Semua sudah lengkap, tinggal tanda tangan orang tua mempelai wanita dan kedua pengantin sendiri,'' jelas pak penghulu.


''Tapi, apa tidak terlalu terburu-buru? Berilah waktu untuk kami mempersiapkan acara ini secara layak.'' Salim mencoba bernegosiasi.


''Bukankah niat baik harus di segerakan, Pak?'' Setiawan menatap penuh arti pada ayah calon menantunya.


Mahmud tampak berfikir sejenak. ''Baiklah, jika memang itu yang terbaik. Niat baik memang sebaiknya jangan di tunda-tunda.''


Semua saudara menoleh kearah pria paruh baya itu. Semakin kuat kecurigaan mereka, jika memang ada yang disembunyikan.


Sedang Renita sendiri hanya bisa pasrah. Dia kira hanya lamaran biasa malah menjadi lamaran plus plus..


David jangan di tanya, melihat wanita yang dicintainya, dipinang di depan matanya saja hatinya sudah sakit. Di tambah dia harus menyaksikan pernikahannya. Mungkin, jika hatinya bisa dilihat oleh mata sudah membiru bernanah.


''Sabar ya, Bang. Yang ikhlas jangan nyimpen dendam,'' bisik Dania untuk menenangkan kakaknya.


''Iya, Bang. Abang pasti bisa dapat pengganti Renita.'' Wina menaik turunkan alisnya mencoba menghibur si sad boy di sampingnya.


''Semangat move-on, Bang. Cayooo!''


David tersenyum tipis melihat wanita disampingnya.


Karena semua sudah setuju. Akhirnya, acara di lanjut dengan menikahkan Armand dan Renita.


Armand menjabat tangan Mahmud, tanda akad akan dimulai.


''Saya nikah kan dan kawinkan, Ananda Armand Setiawan bin Setiawan. Dengan putri saya, Renita Claudia binti Mahmudin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.''


Mahmud menegaskan genggamannya.


''Saya terima nikah dan kawinnya, Renita Claudia binti Mahmudin dengan mas kawin tersebut tunai.'' Armand menjawab tegas dengan satu tarikan nafas.

__ADS_1


Lega..., itulah yang Armand rasakan.


''Bagaimana saksi?'' tanya Penghulu.


SAH..


SAH...


SAH..


Biasanya teriakan yang paling keras adalah suara para laki-laki. Tapi tidak disini, trio hebohlah yang paling antusias. Bahkan, Doni yang berada di samping mereka sampai harus menutup kedua telinganya.


Luluh sudah airmata Renita. Dia mencium tangan Armand, laki-laki ynag sudah sah menjadi imamnya. Armand menghapus air mata itu dengan jemarinya.


Mereka tidak menyangka, akan secepat ini menjadi pasangan suami istri.


...----------------...


''Kenapa papa tidak bilang dulu ke aku? Kalau acaranya jadi seperti ini,'' protes Armand saat duduk berdua dengan ayahnya.


''Kenapa, bukannya kamu senang?'' Bukan menjawab Setiawan malah menggoda putranya.


Armand kikuk sendiri, dia menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


''Papa pusing denger mama kamu ngomel mulu. Dia terlalu khawatir dengan nasib cucunya. Dia juga trauma dengan peristiwa kemarin, melihat kamu gagal menikah.''


''Itu, 'kan memang sudah aku rencanakan, Pa,'' ujar Armand sembari menghisap nikotin disela jarinya.


''Tapi, tetap saja papa yang jadi sasaran mamamu. Padahal itu juga perkaranya, dia yang mulai,'' gerutu Setiawan.


''Oh, jadi papa mau bilang, kalau mama yang salah, gitu.'' Amalia sudah berkacak pinggang di belakang suaminya.


''Gak, mama gak pernah salah. Mama selalu benar.''


Di sisi lain.


Renita sedang direcoki trio heboh dengan kehebohannya.


''Sumpah, Ren, langsung ramai tik tok gue. Gegara gue up acara akad loe tadi,'' kata Reva dengan antusias.


Dia menunjukkan berandanya yang baru beberapa menit sudah mendapat ratusan like dan puluhan komentar.


''Eh, sumpah nikahan gue loe buat konten.'' Renita melotot melihat itu.


Reva mengangguk memasang wajah polosnya.


''Loe pajang dimana lagi ini?'' cecar Renita.


''Disosmed gue. live on sosmed malah,'' jawab Reva.


''Astaga, Reva,'' keluh Renita dengan memejamkan matanya.


Pastilah banyak yang tahu status nya kini, termasuk orang-orang kantor.


''Sabar ya, Ren, punya temen kek dia mesti banyakin sabar. Pak Danu aja sampek kumat dartingnya gegara tuh anak.'' Dania menunjuk Reva dengan dagunya.


''Eh, Mas Dav, dimana? Aku mau ngomong sebentar sama dia,'' Renita celingak-celinguk mencari keberadaan mantan kekasihnya.


''Tadi katanya ke kamar mandi,'' jawab Dania.


Renita segera menuju belakang rumahnya. Ternyata, yang dicari sedang duduk termenung sendirian.

__ADS_1


''Mas Dav,'' panggilnya pelan.


David menoleh dan tersenyum. ''Duduk sini,'' titah David dan Renita menurutinya.


''Aku minta maaf,'' kata Renita dengan lirih.


Dia menundukkan kepalanya, matanya sudah berkaca-kaca. Bohong, jika dia tidak sedih. Tapi mau bagaimana lagi?


''Sudahlah! tidak apa-apa. Semoga kamu bahagia. Jaga baik-baik kandunganmu! Jangan pernah lagi berfikir untuk menghilangkannya, banyak pasangan diluar sana yang sudah lama menantikan kehadirannya, tapi tak kunjung di beri.'' David menasehati wanita disampingnya.


Renita mengangguk dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Tanpa mereka tahu, tiga orang gadis yang super kepo berdesakan demi mendengar apa yang mereka bicarakan.


''Mereka ngomong apa?'' tanya Wina dengan ke-kepoan akutnya.


''Gak denger gue, cuma si Reni kek nangis, gitu,'' jawab Dania.


''Ihhh, gue gak bisa dengar, Gengs,'' sungut Reva karena posisinya berada paling belakang.


''Sedang apa kalian?''


Suara bariton di belakangnya mengejutkan mereka. Ketiga gadis itu segera menoleh. ''Eh, Pak Bos....''


''Sedang apa?'' tanya Armand sekali lagi dengan tatapan yang mengintimidasi.


''Lagi nonton orang gak bisa move on.... Awwssshh....'' Reva mengaduh saat kakinya diinjak keras oleh Wina.


''Biar mereka menyelesaikan masalahnya,'' kata Armand, kemudian berlalu bgitu saja.


...----------------...


Di dapur.


Sekumpulan ibu-ibu yang terdiri dari adik dan kakak ipar asih juga para tetangga yang tadi ikut membantu acara. Sedang membersihkan peralatan-peralatan makan para tamu dan memanaskan kembali sisa makanan yang masih layak.


Tak lupa tangan bekerja mulut pun juga ikut bekerja.


''Eh, si Reni kok lansungan gitu ya, Mbak?'' tanya Mbak Nanik yang memulai acara gibahnya.


''Biarinlah! Mungkin Kang Mahmud lebih menjaga saja. 'Kan Reni sebentar lagi balik ke kota lagi, tho,'' sahut adik dari Asih.


''Iyo, sih, tapi 'kan kayak ada yang aneh, gitu. Paling dugaanku tadi bener, Bi.'' Mbak Nanik belum menyerah begitu saja. Justru malah meminta persetujuan Bi Siti yang berada di sampingnya.


''Wes, lah, Nik, jangan su'udzon! Nanti jatuhnya fitnah. Gak enak juga, kalau sampai si Asih dengar,'' tegur Bi Siti yang tidak ingin melanjutkan acara ghibah ini.


''Eh, iyo, lho, aku juga curiga. Kalau ada yang disembunyikan sama si Mahmud. Apa mungkin si Reni mbobol dulu, ya? Kalau iya, aduh! Rusak keponakanku. Terlalu lama hidup di kota jadi gak karu-karuan, gitu. Dulu sok nolak laki-laki yang mau di jodohkan sama dia. Lah, sekarang....''


Baru juga suasana tenang. Istri Pakde Salim sudah jadi kompor.


''He'eh, Bude, sedari siang aku sudah curiga. Si Reni pasti mlendung dulu. Aduh! Reni masa segampang itu? Padahal kelihatannya baik, lho. Ya walaupun kadang omongannya langsung tembus ke jantung.'' Mbak Nanik menimpali.


''Iya, ya, kalau Reni mlendung dulu berarti sudah berkali-kali anu sama atasannya itu. Gak mungkin, 'kan? Sekali anu langsung jadi....'' Bi Siti yang semula tidak mau tahu jadi ikut menimpali.


Dan acara ber-ghibah ria itu masih berlanjut. Tanpa mereka tahu, Armand mendengar semuanya.


Jika tidak dicegah Renita, mungkin dia sudah mengeluarkan amarahnya pada orang-orang yang ada di dapur itu.


Renita mengenggam lembut tangan suaminya, lalu mengajaknya masuk kedalam kamar.


''Sudah, aku tidak apa-apa. Biarkan mereka berkata sesuka hatinya, kita tinggal tutup telinga saja.'' Reni mengusap lembut lengan kekar suaminya.

__ADS_1


Armand langsung memeluk istrinya dengan erat, matanya berkaca-kaca. Jika bukan karena ulah nya, Reni tak mungkin berada di posisi ini.


''Maafkan aku. Besok kita kembali!''


__ADS_2