
"HALLO!"
"Nya, loe kemana aja sih? Lama amat. Darurat, Nya, darurat." Terdengar suara panik kakak iparnya di seberang sana.
"Ada apa? Ngomong pelan-pelan," ucap Dania menenangkan.
"Loe cepetan kesini. Gawat, Dania, Gawat!!"
"Iya, gue denger, gak usah diulang-ulang. Gawat kenapa?"
Dania sudah ingin meledakkan emosinya saat itu juga.
"REVA KONTRAKSI!!!"
"APAH!"
Rasa kesal yang sempat bersarang dalam hatinya menguap begitu saja, berganti dengan rasa panik.
"Iya, ini kita mau bawa dia ke rumah sakit. Ketuba*nya pecah. Loe dimana?" Kepanikan Wina semakin menjadi, sebab Reva terus merintih kesakitan sambil mencengkram kuat lengannya.
"Oke, gue segera menyusul kalian."
Dania mengakhiri begitu saja sambungan teleponnya, lalu bergegas ke parkiran. Dia bahkan melupakan amarahnya terhadap Devan, tunangan jadi-jadiannya.
"Lakinya dia udah di hubungi belum?" tanya Dania saat berada di dalam mobil.
"Udah tapi gak diangkat. Entah kemana ini orang. Kagak tau bininya mau brojol apa," gerutu Wina.
Dia segera menyalakan mesin mobilnya, kemudian bergegas menuju rumah sakit.
"Cepetan! Sakit banget gue gak tahan." Reva menanca*kan kuku panjangnya ke kulit Dania yang tengah memeganginya, sedangkan Renita sibuk mengelap peluh yang keluar dari pelipis Reva.
"Arrrggghhh! Sakit Reva." Jeritan Dania memenuhi seisi mobil.
"Aduh, Nya, jangan bikin gue tambah panik dong! Gue lagi fokus nyetir ini," protes Wina.
"Loe gak ngerasain, gimana perihnya kulit gue, Wina," sahut Dania dengan kesal.
"Ssstt, udah! Gak usah debat. Fokus nyetir, Win. Biar gue coba hubungi lakinya sekali lagi." Renita segera melerai perdebatan kedua saudara ipar itu, sebelum berakhir dengan perang saudara.
"Sumpah, huh-huh ... Sakit banget. Masih jauh enggak, sih? huh-huh...," tanya Reva di sela nafasnya yang tersenggal.
"Sebentar lagi. Loe bertahan, Va," ucap Wina.
"Gue gak kuat," ujar Reva dengan lemas bahkan wanita itu hampir menutup matanya, namun segera di sadarkan oleh Dania.
"Va, sadar! Loe gak boleh tidur." Dania menepuk keras pipi wanita hamil itu.
"Gimana, udah di respon, Ren?" Dania bertanya kepada wanita dengan benda pipih yang setia menempel di telinganya.
"Masih nyambung, bentar kita tunggu," sahut Renita.
"Sumpah pengen gue bejek itu laki satu," kata Dania berapi-api.
Renita mengisyaratkan agar semuanya diam.
__ADS_1
"Hallo, Rio. Loe kemana aja, sih? Ditelepon dari tadi gak diangkat. Gak tau suasana genting apa gimana?'' cerocos Renita tanpa henti begitu teleponnya tersambung.
"Maaf, tadi ada rapat dadakan dengan dewan direksi."
"Kerjaan mulu, kagak tau bini loe lagi kesakitan mau brojol," ujar Renita masih dengan kekesalan yang sama.
"HAH!''
"Hah-heh, hah-heh. Reva mau melahirkan, Devario! Loe lakinya, buruan kesini kita udah sampai di rumah sakit pusat kota," teriak bumil satu itu.
"Buruan! Kita udah di parkiran rumah sakit."
Lengkingan emas Renita berhasil menyentak lamunan seorang pria di seberang sana.
"Apa?! Melahirkan."
"Iya!!!"
"Oke-oke, aku segera kesana sharelock, sekarang."
______________
Dari ujung koridor terlihat seorang pria berlari dengan nafas terengah-engah, menghampiri ketiga wanita yang tengah resah menunggu di depan sebuah ruangan.
Renita mondar-mandir layaknya setrikaan dengan sesekali mencoba mengintip ke dalam, sedangkan Wina tengah mengobati luka bekas cakaran di kulit putih Dania yang di timbulkan oleh kuku tajam milik Reva.
"Dimana, Reva?" tanya Rio dengan nafas tersengal-sengal, tampak keringat membanjiri pelipisnya.
"Akhirnya, nongol juga. Buruan masuk ke dalam. Dia nungguin loe dari tadi."
Renita mendorongnya kasar tubuh jangkung itu. Mau tak mau, Rio terdorong paksa hingga masuk ke dalam.
"Ini lagi, kenapa nyusul segala sih laki atu," gumamnya kesal.
"Ya ampun, Ren. Aku panik banget. Tadi aku nyusul kamu kesana. Kata petugas cafe ada ibu hamil di bawa ke rumah sakit. Pikiranku langsung ke kamu. Kamu enggak apa-apa, 'kan? Mana yang sakit? Bilang ke aku." Armand memutar-mutar tubuh istrinya untuk memastikan jika wanita itu tidak apa-apa.
"Aduh, Mas. Kalau begini yang ada aku malah pusing. Ini badan orang bukan kitiran," kesal Renita.
"Pak Armand, istri bapak tidak apa-apa, utuh semuanya. Justru saya yang mesti di kasihani. Nih, lihat perih semua tangan saya gegara kuku macan bumil itu," celetuk Dania dengan menunjukan goresan luka di tangan kanannya.
"Syukurlah."
_____________
Di dalam ruangan.....
"Sakit, Mas," teriak Reva dengan menjambak rambut Rio sebagai pelampiasannya.
"Aarrgghh!" teriak Rio bersamaan dengan teriakan istrinya.
"Iya, ibu dorong lagi ibu. Tarik nafas, hembuskan." Seorang dokter memberi instruksi.
"Dokter, saya gak kuat," ujarnya dengan lemah, wajahnya terlihat semakin pucat.
"Lakukan operasi saja, Dok. Saya ingin keduanya selamat," pinta Rio dengan tegas.
__ADS_1
Kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
"Pembukaan sudah sempurna, Pak. Istri Anda hanya kekurangan tenaga, jadi biar saya tambah dengan infus," ucap Dokter itu.
Dokter yang melihat itu pun segera memberi tindakan.
"Suster, tambah infusnya. Pasien butuh tambahan tenaga."
"Baik."
Suster segera melakukan yang di perintahkan.
"Ibu, masih kuat?" tanya Dokter.
Reva mengangguk lemah.
"Saya beri tambahan tenaga, ibu hanya perlu bantu dorong ya." Si dokter memberi instruksi.
"Tarik nafas, dorong kuat-kuat," ucap dokter memberi semangat.
"Eerrgghh!!!"
"Oek ... Oek ... Oek ..."
Suara tangis bayi memenuhi ruangan itu.
Rio segera memeluk erat sang istri denhan menciumi seluruh wajahnya, air mata mengalir begitu saja. Akhirnya, sang buah hati yang dinanti lahir dengan selamat.
Reva yang masih lemah hanya bisa pasrah menerima perlakuan sang suami. Dirinya benar-benar letih, tapi matanya tak lepas dari makhluk mungil kemerahan yang tengah di bersihkan oleh suster.
"Selamat bapak, ibu bayinya sehat dan sempurna. Jagoan." Suster menyerahkan bayi mungil itu ke dalam dekapan ibunya.
Senyum cerah terkembang sempurna saat Rio mendengar anaknya laki-laki, sesuai dengan keinginannya selama ini.
"Hallo, jagoan Daddy. Welcome to the world, Boy."
____________
Sementara di luar ruangan......
Semua menghela nafas lega setelah mendengar tangisan bayi dari dalam sana. Ketiga wanita itu saling berpelukan, rasa bahagia ikut menyelimuti mereka.
"Gue penasaran sama anaknya di Reva, cewek apa cowok, ya?" Dania menerka-nerka.
"Nanti juga tau," sahut Renita.
"Namanya juga penasaran, Ren."
"Maklum si Dania udah kebelet." Wina menimpali
"Apaan, kagak ya," sangkal gadis itu.
"Tenang nanti buat adonan sendiri sama si gunung es," kata Renita dengan menahan tawanya.
"Ishh, kalian...."
__ADS_1
"Kalau perlu tips, bisa langsung kontak kakak ipar biar adunan kagak bantet."
Armand hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah ajaib Renita cs. Nyatanya, pernikahan tak bisa mengubah semua tentang mereka, selalu heboh tidak kenal tempat. Taoi, dia juga salut dengan kekompakan dan kesetiaan mereka.