
"Huh, gara-gara elu, Va. Kita kesiangan sampai di mari. Mana hampir makan siang. Kasian sama Renita perut udah besar ngurusin semuanya sendiri." Wina menggerutu panjang lebar begitu keluar dari mobil.
"Ya maaf, si Billy kagak mau gue tinggal sama bapaknya. Tau aja tuh bayi kalau emaknya mau hang-out," ucap Reva membela diri.
"Lagian, kalau gue bawa Billy. Gak akan bisa bantu kalian. Tau sendiri, 'kan gimana tingkah tuh anak kalau sama gue, manjanya ngalahin bapaknya," lanjutnya lagi.
"Namanya juga bayi, Reva. Elu mah, gue getok itu kepala lama-lama," serobot Dania yang memang sengaja izin tidak masuk.
Ketiga wanita itu langsung memasuki paviliun tempat usaha mereka. Para pegawai terlihat hilir mudik menata pesanan pelanggan ke mobil box yang sudah di sediakan.
"Gimana aman, San?" tanya Wina pada seorang wanita yang tengah membantu menyiapkan nasi beserta lauk ke dalam sebuah kotak.
"Aman, Bu Wina," jawab Santi.
"Hari ini ada pesanan kue ulang tahun juga, gak lupa, 'kan?" tanya Dania.
"Kalau itu tanya bagian bakery saja, Bu. Saya juga belum ngecek kesana. Dari tadi sibuk ngurusin catering dua tempat ini," ujar Santi dengan tangan luwes mengerjakan pekerjaannya.
Gadis muda itu termasuk pegawai paling lama di sana. Yang kini, dipercaya Renita cs untuk mengawasi pekerjaan para pegawai lain.
"Oke, aku cek dulu. Soalnya, customer mau ambil jam empat sore." Dania berlalu ke tempat yang di tunjukkan.
"Si bumil kemana?" tanya Reva yang sedari tadi hanya diam menyaksikan semua keriwehan yang ada di sana.
"Tadi katanya mau nidurin Mas Vello dulu, Bu. Gak tau kok sampai sekarang belum keliatan. Mungkin ikut ketiduran, Bu Reni dari tadi bolak-balik keluar masuk karena Mas Vello gak bisa ditinggal," papar gadis muda itu.
Reva hanya mengangguk. "Ya udah aku susul si bumil ke dalam rumah dulu."
Ibu muda itu langsung menuju ke arah rumah yang berjarak hanya beberapa meter saja. Matanya membelalak sempurna ketika melihat sang sahabat tak sadarkan diri di depan pintu. Reva bergegas menghampiri, keterkejutannya semakin bertambah saat melihat ada banyak darah yang berada disekitaran wanita hamil itu.
"RENITA!" teriaknya dengan histeris.
"Ada apa, Va?" tanya Wina dengan panik.
Dia segera berlari ke dalam rumah ketika mendengar lengkingan suara Reva.
"Astaga, Reni!"
"Va cari kain buat membalut darahnya," titah Wina dengan kepanikannya.
Dia meletakkan kepala Renita ke pangkuannya, mengguncang keras pipi wanita itu agar tersadar.
"Ren, sadar, Ren. Bangun!"
"Aldi! Aldi, cepat kemari bawa teman," teriak Wina memanggil salah seorang pegawai laki-laki.
"Iya, Bu."
__ADS_1
"Tolong, angkat Renita bawa ke mobil saya. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit. Darahnya gak mau berhenti, takut terjadi apa-apa dengan bayinya."
"Baik, Bu."
Aldi segera memanggil dua orang temannya yang lain, lalu mengerjakan apa di perintah atasannya. Diikuti Wina dan Reva dari belakang.
Situasi siang bertambah kacau dan rumit. Pesanan belum terselesaikan, kini di tambah keadaan Renita yang pendarahan parah seperti itu. Wina mengumpat kesal saat nomor Armand tak dapat tersambung.
"Kamp*t si Pak Bos. Kagak tau apa bininya lagi sekarat, ponselnya malah mati."
"Dania, lo jaga Vello. Gue sama Reva mau ke rumah sakit," perintah Wina sambil memasuki mobil.
"Iya, nanti gue nyusul sama Devan."
"Reva, loe hubungi si Dono. Suruh bilang ke si bos istrinya gawat darurat," titah Wina mulai menyalakan mesin mobil.
"Hah, kok gue. Lo aja kenapa, sih?"
"Loe mau gue timpuk sendal, Va. Keadaan Renita lebih penting. Ini bukan waktunya baper sama mantan," teriak Wina dengan kesal.
"Iya..."
Reva segera mencari ponselnya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya lagi memangku tubuh sahabatnya yang terkulai lemas.
"Ren, bertahan ya.... Ini gue lagi usaha hubungi laki loe."
"Udah belum, Va?" Wina bertanya dengan melirik sekilas dari spion depan.
"Belum di angkat."
"Mereka pada kemana sih?" keluh Reva sembari terus menghubungi nomor mantan atasan dan mantan terindah bergantian.
"Ssst, diem diangkat sama si Dono."
"Hallo, Don. Loe lagi sama Pak Armand gak? Ini gawat, cepet kasih teleponnya ke Pak Armand."
"Tidak bisa. Pak Armand masih rapat dengan investor asing."
"Astaga, Doni. Gue telen hidup-hidup loe. Ini suasana udah panas jangan bikin tambah runyam. Si Renita pendarahan parah, darahnya gak berhenti. Kita baru sampai di rumah sakit pusat kota," cerocos Reva dengan berapi-api.
"Buruan! Bukan waktunya buat lemot," ucapnya lagi dengan nada semakin meninggi ketika tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya
"Iya-iya, gue bilangin Pak Armand."
...----------------...
Armand berlari mencari ruangan di mana istrinya berada. Penampilannya tak karuan, peluh membanjiri perlipis, rambut jauh dari kata rapi. Ketakutan dan kepanikan bercampur menjadi satu. Pria itu segera berlari ketika melihat kedua sahabat sang istri tengah menunggu cemas di depan sebuah ruangan.
__ADS_1
"Bagaimana Renita?" tanya Armand dengan nafas tersengal-sengal.
Keduanya kompak menggeleng lemah. Yang membuat Armand tidak bisa berpikir jernih. Dia memaksa masuk ke ruangan itu, tapi sayang pintunya terkunci dari dalam. Dia terus menggedor pintu berkaca buram itu, namun nihil tak ada respon apapun dari dalam sana.
"Bapak yang tenang. Kita juga cemas, Pak. Kalau bapak buat keributan yang ada nanti malah di usir sama sekuriti," sahut Wina masih menahan kekesalannya.
Armand menduduki diri pada kursi dengan kedua telapak tangan menangkup wajah. Pria itu terus merapal doa dalam hati untuk keselamatan sang istri dan calon buah hatinya.
"Kenapa Renita bisa seperti ini?"
Wina segera memberi kode pada Reva untuk menjawab pertanyaan dari Armand.
''Saya tidak tahu, Pak. Tadi saya sudah menemukan Renita pingsan di dekat pintu dengan bersimbah darah."
"Bukannya kalian dari tadi bersamanya?" tanya Armand dengan nada tinggi.
''Kita baru sampai sekitar jam sebelas," jawab Reva dengan penuh ketakutan.
Mantan atasannya ini tidak berubah masih menyeramkan ketika marah.
Armand hanya memejamkan mata. Dia menyesal telah meninggalkan sang istri sendirian di rumah. Untuk marah pun percuma. Pria itu hanya diam dengan wajah dinginnya.
"Suami pasien." Suara seorang dokter wanita memecah kebekuan diantara mereka bertiga.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"
Dokter itu tampak menghela nafas pelan.
"Maaf, Pak. Kami...."
"Apa maksud dari kata maafmu?" Armand memotong ucapan dokter tersebut dengan nada marah.
Wina dan Reva dengan sigap menenangkan pria itu.
"Sabar, Pak. Dengarkan dulu penjelasan dokter," kata Wina.
"Silahkan dilanjut, Dok." Reva mempersilahkan.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyematkan keduanya. Tapi, Tuhan lebih sayang kepada putri bapak. Akibat benturan itu bayi Anda tidak bisa terselamatkan. Dan kondisi Nyonya Renita sangat lemah. Dia kehilangan banyak darah, kami membutuhkan donor darah secepatnya."
Reva dan Wina menutup mulut tak percaya mendengar itu semua, sedangkan Armand terduduk lemas di lantai dengan lutut sebagai penyangga. Tatapannya kosong ke depan.
Dia berharap ini hanya mimpi buruk semata, ketika bangun dia masih melihat sang istri dengan perut buncitnya.
"Apa saya bisa melihat putri saya, Dok?" tanya Armand dengan tatapan kosongnya.
"Silahkan, Pak."
__ADS_1