
Pagi harinya....
Reva disibukkan mempersiapkan sarapan untuk sang suami. Dia sudah menyiapkan dua menu, tidak mewah tapi mampu menggugah selera bagi siapapun yang melihatnya.
''Kamu masak apa?'' Rio datang dengan setelan rapi khas orang kantoran. Dia menaruh jasnya di sandaran kursi meja makan.
''Cuma nasi goreng sama sandwich,'' jawab Reva. Tangannya dengan cekatan mempersiapkan peralatan makan juga kopi untuk suaminya.
''Terimakasih,'' ucap Rio diiringi senyum tulusnya saat menerima kopi buatan istrinya.
''Tumben,'' celetuk Reva.
''Kenapa?''
''Biasanya gak pernah tuh, bilang makasih atau segala macamnya.''
Dengan santainya wanita itu, melahap nasi gorengnya. Baginya, belum sarapan kalau belum makan nasi.
''Diem kek patung pancoran atau kalau gak gitu, cuma hmmmm. Mirip orang lagi sakit tenggorokan,'' lanjut Reva lagi.
Rio menggelengkan kepalanya mendengar celotehan wanita yang telah menjadi istrinya ini.
''Lalu, dimana letak kesalahannya?''
''Gak ada,'' balas Reva dengan mengedikkan bahunya.
''Rev,'' panggil Rio pelan.
''Hmmm....''
''Aku ingin kita menjadi suami istri sungguhan.''
Reva menghentikan kunyahannya, lalu menatap lekat suaminya.
''Jadi, maksudmu selama ini kita bukan suami istri sungguhan. Pernikahan ini cuma kau anggap permainan, begitu?'' Reva menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan pria ini.
''Bu-bukan begitu, maksudku....'' Rio menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
''Terus?'' Reva menyela ucapan suaminya dengan kesewotannya.
''Ya, kita jalani rumah tangga ini dengan sebaik-baiknya. Tidak ada mantan diantara kita. Meskipun, hanya sekedar mengingatnya.''
''Baiklah.'' Reva menjawab dengan lesu.
''Tapi aku tidak janji,'' gumamnya.
''Kau bilang apa?''
''Tidak, bukan apa-apa,'' elak Reva, ''Oh, ya sudah siang. Kau harus berangkat kerja,'' kata Reva untuk mengalihkan perhatian suaminya, karena Rio masih memberikan tatapan curiga kepadanya.
''Aku berangkat dulu.''
''Hmmm....''
''Apa?''
Reva mendongak ketika melihat suaminya tak kunjung pergi, malah menyilangkan tangannya di dada.
''Kau lupa, Rev?''
Wanita itu mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
''Apa?''
''Barusan aku bilang, aku ingin kita menjadi suami istri sungguhan. Kenapa kamu masih berada disini?''
__ADS_1
''Lah, terus, aku harus berada dimana?''
''Aku mau berangkat kerja. Mestinya, kamu mengantarkan aku ke depan pintu sambil di gandeng tangannya,'' jelas Rio dengan merapatkan giginya untuk menahan kesal,
kenapa hal sepele seperti ini saja harus diajarkan.
''Astaga...,'' keluh Reva, ''Lebay banget, sih.'' Reva berdecak, tak urung dia juga berdiri menuruti keinginan si anak mami. Reva berjalan dengan mendahului suaminya.
Tapi sejurus kemudian, Rio segera menyisipkan jari-jarinya di sela jemari istrinya.
''Biar mesra,'' bisiknya.
Reva mematung diperlakukan seperti itu, dia masih terkejut sekaligus heran. ''Kenapa Rio menjadi seperti ini? Sikapnya aneh. Apa kepalanya habis terbentur, sewaktu mandi tadi?'' Reva bergelut dengan pikirannya sendiri.
''Aku berangkat....''
Cup
Rio mengecup lembut dahi istrinya.
Kecupan basah itu berhasil menyadarkan lamunan wanita itu. Dia memegang keningnya sendiri. Dilihatnya, si pelaku tengah memberikan senyum termanisnya.
''Bye.... Hati-hati! Nanti, jika ada yang bertamu. Kalau kamu tidak mengenalnya tidak usah dibukakan pintu,'' pesan Rio sebelum pergi.
Bagaikan kerbau yang di cocok hidungnya, Reva mengangguk begitu saja.
''Fix, dia habis terbentur!"
...----------------...
Trrrtt-trrrrtt-trrrrtt....
''Hmmm....'' Reva menjawab panggilan suaminya dengan malas.
''Bisa antarkan bekal makan siang, Sayang?''
''Antarkan makan siang, Sayang!'' geram Rio diseberang sana.
Reva mengedipkan matanya beberapa kali. Mungkinkah dirinya salah dengar?
''Sayang, Reva. Halloo..., kok bengong.'' Rio berucap di seberang sana karena tak mendapat respon dari lawan bicaranya.
''U-ulangi lagi yang kam-kamu katakan barusan,'' kata Reva dengan tergagap.
''Antarkan makan siang, Sayang,'' kata Rio dengan nada dibuat selembut mungkin.
''Kamu gak salah makan, 'kan, Yo?''
''Tidak, kenapa?''
''Kepalamu gak kebentur, 'kan tadi?'' tanya Reva lagi.
''Tidak, Reva. Kenapa?''
''Kamu aneh. Sumpah! Jangan-jangan ini bukan kamu.''
''Sudah! Gak usah ngelantur. Cepat masakin aku makan siang, lalu antar ke kantor. Kalau sudah sampai di depan lobby beri tau aku.'' Rio memutus sepihak panggilannya.
''Ternyata benar-benar dia.''
Matanya membelalak ketika melihat jam di ponselnya.
''RIO! SUMPAH YA! WAKTU MEPET BEGINI DI SURUH MASAK.''
Reva berteriak kesal karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit.
__ADS_1
''Dasar anak mami, KUTUKUPRET!'' maki Reva.
Dia sudah seperti pasien yang kabur dari Rumah sakit Jiwa yang berteriak di unit apartemennya. Beruntung, dia sendirian disana.
...----------------...
Disisi lain....
Devario tak kuasa menahan tawanya saat melihat tingkah Reva dari layar ponselnya. Ternyata, semenyenangkan ini bisa mengerjai wanita itu. Tanpa sepengetahuan istrinya, Rio menghubungkan rekaman CCTV di apartemen ke ponsel miliknya.
Dan ini merupakan hobby barunya, memperhatikan semua tingkah Reva secara diam-diam.
"Sepertinya, aku telahh jatuh hati padamu," gumamnya.
"Aku suruh masak, dia malah pesan makanan. Dan apa itu? Menatanya di kotak bekal. Jika memang beli, kenapa tidak dibawa kemari beserta bungkusnya? Kurang kerjaan sekali dia." Rio terus menggerutu dengan mata masih tertuju pada ponselnya. Hingga, membuat heran si asisten yang sedari tadi memperhatikannya
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Rio tanpa mengalihkan pandangannya.
"Anda aneh, Tuan."
Rio terdiam, sudah dua kali dalam sehari, dia mendengar kata itu. Satu dari sang istri dan satu lagi dari asistennya. Tapi Rio tak peduli, dia malah mengedikkan bahunya acuh.
"Hallo, Reva...." Suara Rio mengangkat telpon dari sang istri.
"Oke, aku akan meminta asistenku untuk menjemputmu. Kau tunggu disana!"
Rio segera memberi perintah pada bawahannya itu. Sedangkan, dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tak berapa lama, terdengar pintu terbuka, Rio memasang sikap cueknya untuk menyambut sang istri.
"Cepat sekali, aku baru meminta asistenku untuk menjemputmu," ucap Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangannya.
"Letakkan saja makanannya disana. Aku tidak sabar menyicipi masakanmu.'' Rio masih dalam posisi yang sama.
Dia menyeringai samar.
"Aku tahu kau merindukan masakanku, Devario."
Rio langsung mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara yang paling dikenalinya.Tatapannya menajam, seolah ingin menguliti hidup-hidup manusia di depannya.
"Kenapa kau bisa masuk?" tanya Rio dengan nada dinginnya.
Dia mengepalkan tangannya kuat, demi menahan emosi yang mulai menguasai dirinya.
Wanita itu menyentuh lembut kepalan tangan itu. Tanpa aba-aba, dia juga langsung duduk di pangkuan Rio.
"Menyingkir dariku!" geram Rio.
Tanpa rasa takut sedikitpun, wanita itu malah memeluk erat tubuh Devario. Menyadarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
''Aku merindukan tempat ini. Tempat ternyamanku sejak dulu,'' ucap wanita itu penuh kelembutan.
''RIO! KUTUKUPRET, BUAYA DARAT!''
...----------------...
Hayo lhoo.... Ketahuan kau Rio.
Mbak Miss emang suka bikin salah paham, ya, hehehe.... Part Reva dulu ya. Untuk Renita masih menari-nari tralala di otak.
Maafkan aku ini yang jarang up. Mungkin upnya akan sedikit terganggu sampai hari selasa, mau nyari daging gratisan gengs....
Kakak ipar mau ada hajatan....
Jadi, mohon kesabarannya ya... Jangan kabur, nanti aku nangis, lhoo....
__ADS_1
Dukung yuk..., like, ❤, comment, vote dan hadiahnya.....
Babay....