My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Syarat dari Armand


__ADS_3

''Mas, aku bosan,'' ucap Renita manja.


Dia menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, ekor matanya mengawasi pergerakan sang anak yang tengah lincah bergerak kesana kemari di taman belakang.


''Mau kemana? Nanti aku antar, belanja, pantai atau tempat lain yang ingin kamu kunjungi,'' kata Armand tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar lipat di pangkuannya.


''Bukan jalan-jalan, bukan juga liburan. Intinya, aku bosan di rumah terus gak ada kegiatan,'' sungut wanita itu dengan memajukan bibirnya.


Armand meletakkan laptopnya, lalu beralih menatap istrinya. ''Kamu mau apa?''


Renita mengembangkan senyumnya, suami Kompeninya sudah menangkap sinyal darinya.


''Aku mau ada kegiatan yang menghasilkan cuan,'' ucap wanita itu dengan antusias.


''Apa uang yang ku berikan kurang, Ren? Kalau kurang kamu tinggal bilang. Tidak usah bingung mau cari uang segala. Kamu cukup fokus ke aku sama anak,'' omel Armand menolak tegas keinginan istrinya.


''Tapi aku ingin ada kegiatan, Mas,'' rengeknya.


''Mengasuh Marvello juga termasuk kegiatan,'' jawab Armand datar.


Renita menggembungkan pipinya kesal.


''Aku mau buka usaha tapi dari rumah, jadi keluarga ke urus, usaha juga ke urus. Lagian ada Bi Lastri yang bakal bantuin.''


Tak patah arang, Renita berusaha keras membujuk sang suami agar menyetujui keinginannya.


''Bayangan tak seindah ekspektasi. Hanya segelintir orang yang mampu mewujudkan itu semua. Mungkin sekarang kamu bisa ngomong seperti itu, tapi saat kamu sudah menjalaninya belum tentu kamu bisa mewujudkannya.''


''Istri punya keinginan usaha bukannya di dukung malah di kasih ceramah,'' gerutu Renita.


Dia pergi begitu saja dengan membawa rasa kesalnya.


''Renita....''


''Ren.''


Armand menghembuskan nafas, panggilannya tak dihiraukan sama sekali oleh istrinya.


''Dapat pikiran dari mana sih, dia? Siapa yang mengomporinya?'' tanya Armand dalam hati.

__ADS_1


...----------------...


Renita tengah sibuk dengan ponsel di tangannya, bahkan dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Sampai-sampai kehadiran suami dan anaknya tak dia hiraukan.


Armand yang melihat itu memicing tajam, kecurigaan merasuk begitu saja dalam hatinya. Sebab, akhir-akhir ini istrinya selalu sibuk dengan benda pipih itu.


Armand memcoba mengintip diam-diam, apa yang dilakukan Renita. Jiwa keponya meronta, dia harus memastikan kecurigaannya ini benar apa tidak.


"Kamu sedang chat sama siapa, Ren?"


Suara bariton itu berhasil mengagetkannya, bahkan dia hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.


"Seseorang," jawab Renita singkat tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Kalau ditanya suami jawab yang benar, Renita," ucap Armand dengan kesal.


"Seseorang, Mas," sahut Renita dengan gemas.


Dia sudah bingung membalas beberapa pesan masuk ke nomornya, si suami malah membuat dirinya bertambah pusing.


Karena geram diabaikan sedari tadi, Armand merebut paksa benda pipih yang sedari tadi menjadi prioritas istrinya.


"Ih, Mas, balikin gak?"


"Mas!" Renita berteriak kesal.


"Ssstt, diam! Biar ku periksa dulu."


"Terserah!"


Armand menghela nafas setelah mengetahui semua isi pesan itu. Yang ternyata dari beberapa orang yang memesan kue pada istrinya. Dia memejamkan mata guna meredam emosi dalam dirinya.


"Dasar wanita keras kepala!" batinnya.


"Puas! Masih curiga sama aku?" tanya Renita dengan kejudesannya.


"Sini! Aku masih harus balas chat dari mereka," ucap Renita dengan merebut paksa benda yang ada di tangan suaminya.


Dia kembali menyibukkan diri dengan benda pipih itu lagi.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu memulainya?" tanya Armand dengan dingin.


"Seminggu yang lalu. Awalnya aku cuma iseng, Mas. Bikin-bikin kue, lalu aku posting di sosmed. Eh, taunya malah banyak yang tertarik. Di tambah lagi, kue buatanku sering di bawa ke acara arisannya mama. Jadi deh, banyak teman-teman mama yang ketagihan. Kata mereka, 'kue buatanku enak gak bikin eneg, manisnya juga pas'," tutur Renita panjang lebar.


Armand mengangguk paham. Sekarang dia mengerti, kenapa istrinya bersikukuh membuka usaha dari rumah. Bisa jadi wanita ini mendapat hasutan dari berbagai pihak bahkan mamanya sendiri.


"Jadi, boleh ya, Mas...," pinta Renita dengan menggoyangkan lengan suaminya.


"Ya, ya...." Renita memasang wajah seimut mungkin penuh permohonan.


Dia menghela nafas saat tak mendapat respon apapun dari suaminya.


"Kalau aku melarang, bagaimana?"


"Aku akan tetap melakukannya karena aku terlanjur menyanggupi pesanan-pesanan mereka."


"Lalu, apa gunanya kamu meminta persetujuanku, Renita?" tanya Armand dengan menahan geram.


"Sebagai istri yang baik, aku harus meminta izin suami," jawab Renita dengan polosnya.


"Kenapa sifat ajaib yang lama tetidur kini, bangkit lagi?" rutuk Armand dalam hati.


"Bagaimana, Mas?" desak Renita.


"Baiklah," jawab Armand dengan nada rendahnya.


Senyum wanita itu terkembang sempurna. Dia langsung memeluk erat tubuh suaminya, tak lupa mengujami wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Kamu tidak boleh melupakan kewajibanmu sebagai istri dan seorang ibu, paham!" Armand menatap intens wanita itu.


Dengan mantap, Renita menyanggupinya. "Aku janji."


"Dan satu lagi," bisik Armand


Renita mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia kira hanya itu syarat dari Armand

__ADS_1


"Apa?"


"Berikan seorang bayi lagi."


__ADS_2