
Tiga hari berlalu setelah pertemuan dengan ibu Devan, menyisakan rasa berkecamuk dalam pikiran Dania. Hatinya selalu resah, tidurnya pun tak pernah nyenyak. Dia tidak tega, jika harus terus-menerus membohongi wanita paruh baya itu. Wanita yang begitu baik, yang memperlakukan dirinya seperti putrinya sendiri.
"Ibu tidak mau tau. Dalam waktu dekat, ibu ingin bertemu dengan keluarga Dania. Kalian harus segera meresmikan hubungan kalian, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan kedepannya." Sekar berucap dengan tegas.
"Tap-tapi, Bu. Saya masih ingin melanjutkan karir saya." Dania menolak halus permintaan ibu Devan.
"Tidak masalah, iya, 'kan, Van?" Sekar meminta persetujuan putranya, sedangkan yang di tanya masih diam seribu bahasa dengan wajah minim ekspresinya.
"Kalian 'kan bekerja di satu atap yang sama. Justru itu lebih bagus, pulang-pergi kerja bisa bareng, di kantor bareng, satu ruangan pula," ucap Sekar dengan antusias.
Wanita paruh baya itu, benar-benar menginginkan gadis di hadapannya untuk dijadikan menantu. Selain cantik, kesopanan Dania menjadi nilai plus tersendiri di mata Sekar.
"Jadi, kapan ibu bisa bertemu dengan abangmu?" tanya Sekar.
Dania diam seribu bahasa, bingung mau menjawab apa. Dia menyenggol pelan kaki Devan, tanda meminta bantuan.
"Ehem! Bu sudah sore." Devan melirik arloji di tangannya. "Kita harus balik ke kota karena besok ada perjalanan ke luar kota. Dan kita harus berangkat pagi-pagi."
Dania menghela nafas, kala mengingat permintaan Sekar waktu itu. Dia melakukan sandiwara ini untuk menghindari hubungan rumit dengan Andrew, malah dia sendiri yang terjebak dalam situasi rumit seperti ini. Bagaikan senjata makan tuan.
"Apa aku temui Pak Devan saja, ya? Barangkali, punya solusi," tanyanya pada diri sendiri.
Dia melirik jam di depannya, waktu masih menunjukkan pukul 09.00 malam.
"Belum terlalu malam. Sebaiknya, aku temui dia, mumpung Bang David tidak disini malam ini."
Dania segera mengambil jaketnya, kemudian mengeluarkan motor maticnya. Dia bergegas menuju tempat tinggal atasannya.
____________
Tok-tok-tok!
"Pak Devan!" panggil Dania sembari mengetuk pintu rumah Devan.
"Pak, kita harus bicara!" teriak Dania
Tok-tok-tok
"Pak De...."
Ceklek!
Keluarlah seorang pria berpenampilan casual dengan wajah datarnya.
"Apa kau tak punya waktu lain? Sampai malam-malam begini mengusikku."
"Hehehe...." Dania menunjukkan deretan gigi putihnya. "Ada yang ingin saya bicarakan."
"Tunggu diluar."
__ADS_1
Dania mengernyit bingung, biasanya orang bertamu disuruh masuk, ini kenapa malah disuruh menunggu diluar, waraskah pria ini?
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Devan kembali masuk. Tak lama setelahnya, pria itu keluar lagi dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya.
"Kita duduk di luar saja. Takut di sangka fitnah kalau bicara di dalam karena ini sudah malam." Devan meletakkan cangkir yang dia bawa ke meja.
Dania mengangguk, kemudian menyusul duduk di seberang pria itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Devan membuka pembicaraan.
"Soal permintaan Ibu Sekar," jawab Dania pelan.
"Kenapa?"
"Apa sebaiknya kita jujur saja pada beliau. Saya, saya...." Dania menghela nafas pelan. "Saya takut membuatnya terluka. Dia pasti akan sangat kecewa kalau tau kita telah membohonginya lebih dalam lagi. Sebelum terlanjur jauh. Lebih baik, kita jujur saja, Pak."
"Bagaimana caranya?" tanya Devan dengan nada rendahnya.
"Dengan memberitahu, kalau kita sudah tidak dekat lagi, misalnya. Bapak sudah menemukan seorang wanita yang lebih baik dari saya, lebih pintar dari saya. Dan saya juga sudah menemukan pria yang tepat." Dania memberi saran dengan antusias.
"Lalu, kalau ibu saya ingin bertemu dengan perempuan penggantimu, saya mesti membawa siapa?"
Dania menggigit bibir bawahnya, kenapa dia tidak berfikir sejauh itu.
"Saran saya, sebaiknya kita lanjutkan sandiwara ini sampai tahap pernikahan. Setelah menikah kita bisa memikirkan cara lain untu mengakhiri ini dengan pura-pura bertengkar atau salah satu dari kita berselingkuh, lalu bercerai. Beres!" tutur Devan dengan entengnya.
"Dan, jika aku mengikuti saranmu. Bisa saja pria yang kau hindari itu semakin getol mendekatimu tapi, jika kita menikah. Aku yakin pria itu tak'kan berani mengusikmu lagi. Jangankan mengusik, mendekati pun dia harus berfikir seribu kali karena kau sudah menjadi milik orang lain."
Dania terdiam mendengar itu semua. Jika dipikir ada benarnya juga, tapi saran ini juga bukan saran yang tepat. Ini terlalu menjerumuskan. Gadis itu masih berperang dengan batinnya sendiri.
"Pikirkan baik-baik ucapanku, Dania," kata Devan saat tak mendapat respon apapun dari wanita di hadapannya.
"Saran bapak terlalu menjerumuskan," lirih Dania.
"Menjerumuskan, bagaimana maksudnya?"
"Membuat saya terlalu berharap dengan hubungan ini. Saya mencintai bapak," batin Dania.
"Menjerumuskan saya ke lembah dosa," jawabnya datar.
Devan tergelak kencang mendengarnya.
"Masih ingat dosa kamu? Kenapa baru sadar sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja, Dania?"
Pria itu masih berusaha meredam tawanya.
Gadis itu cemberut, dia sedang tidak melawak. Dia serius. Dania menyilang tangannya di dada, dia benar-benar di buat keki oleh pria ini.
"Gak ada yang lucu." Dania menimpali dengan datar.
__ADS_1
"Oke-oke, maaf. Pikirkan baik-baik yang ku ucapkan tadi." Devan kembali ke mode seriusnya.
"Pendapat bapak tidaklah salah, tapi terlalu kejam."
Devan mengerti keningnya.
"Untuk?"
"Untuk orang tua bapaklah," sewot Dania.
"Yakin?"
Dania mengangguk mantap.
"Bukan untukmu." Devan menatap intens gadis di hadapannya.
Dania gelagapan sendiri, apa atasannya sudah menyadari perasaannya. Tidak, Dania tidak siap untuk itu. Biarlah rasa ini tersimpan rapi di relung hati paling dalam milik Dania.
"Bap-bapak, ap-apa sih? Ngaco!" elak Dania
"Kalau tidak, kenapa mendadak gugup seperti itu?"
"Gak kok. Enggak'kan."
Wanita itu berusaha menetralkan perasaannya. Bersikap sebiasa mungkin agar Devan tidak curiga.
"Mari, saya antar pulang sudah malam," ajak Devan.
"Bapak serius?" tanya Dania memastikan.
"Tidak baik, seorang gadis berkeliaran sendiri di jalan sepi,"sahut Devan singkat, "kendaraanmu biarkan disini. Besok pagi, kau ambil lagi sekalian berangkat ke kantor."
"Tapi, Pak. Pembahasan kita belum selesai," sanggah Dania cepat.
"Ini sudah malam. Saya juga butuh istirahat, Dania," kata Devan dengan merapatkan giginya menahan kesal.
"Kalau di tunda-tunda, nanti yang ada bukannya selesai malah semakin runyam, Pak Devan." Dania ikut kesal.
Menyesal rasanya berurusan dengan pria ini. Untung cinta, kalau tidak mungkin sudah habis itu orang di tangan Dania. Entah akan diapakan dengan gadis itu.
''Baik sepertinya, saya harus memberitahu hal ini," ujar Devan dengan nada rendahnya.
"Apa?"
"Kita tidak bisa menyudahi sandiwara ini. Karena ibu sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar kamu, bahkan dia juga sudah menghubungi Pak David. Dan abangmu sudah menyetujui. Maka dari itu, saya memberi saran untuk melanjutkan ini sampai pernikahan. Karena saya tidak ingin mengecewakan mereka."
Dania menutup mulutnya tidak percaya, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Abangnya tidak pernah membicarakan hal ini sekalipun padanya. Entah dia harus senang atau sedih. Yang jelas, dia sangat terkejut.
"Secepat itu...."
__ADS_1