My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Drama..


__ADS_3

Renita memasuki Aula hotel dengan tangan Armand yang memeluk erat pinggang nya. Otomatis tubuh mungil itu menempel sempurna pada tubuh Suaminya.


'' Mas lepas ihh.. Malu ''. Bisik Renita berusaha melepas belitan tangan itu.


'' Diem gak usah banyak gerak''. Kata Armand dengan wajah datarnya.


Renita menghela nafas pasrah.


Armand mengajak duduk di kursi bagian depan. Bersebelahan dengan tempat duduk kedua orang tuanya.


Marvello. Bayi mbul itu anteng di pangkuan Omanya dengan botol susu yang setia berada dalam kuasanya.


Wina memasuki tempat acara dengan diapit Melissa dan Dania. Sungguh wanita setengah tomboy itu, kini tampil anggun dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya. Aura kecantikan nya terpancar sempurna di hari bersejarah nya ini.


Wina di dudukkan disamping David. Dan akad nikah pun di mulai.


David menjawab dengan lantang dan tegas. Dalam satu kali tarikan nafas. Tak lama kata SAH menggema di ruangan itu.


Renita mengusap setitik air mata yang mengenang di pupuk matanya.


'' Kamu kenapa ?'' Tanya Armand.


'' Aku bahagia Mas, melihat sahabatku menikah dengan orang yang dia cintai ''.


Entah kenapa jawaban Renita seperti sebuah sindiran untuk nya. Dan dia tak suka itu.


Renita masih memperhatikan pasangan pengantin di depannya dengan mata berkaca-kaca.


'' Bahagia atau sedih ?''


Renita menoleh ke arah suaminya, '' Maksud nya?''


'' Bilang aja kamu sedih. Karena gak bisa nikah sama mantan mu itu..''


' Astagah..' Renita memijit pelipisnya.


'' Gak usah mulai deh Mas..'' Renita sudah jengah menghadapi kecemburuan akut pria di samping nya ini.


'' Kamu itu nyadar gak sih.. Kalau Dia sudah jadi suami sahabatku sendiri. Aku gak segila itu ya.. Mau merebut milik orang. Hanya karena perasaan yang belum tuntas. Gak kayak MANTAN sahabat mu itu''. Ketus Renita.


'' Kamu masih gak percaya sama aku.. Gak percaya kalau aku sudah ada rasa sama kamu..'' Lanjut nya lagi.


'' Ya lagian kamu gak pernah nyatain perasaan kamu ke aku''. Armand menggerutu.


' Astagah..' Lagi-lagi Renita tak habis pikir dengan Laki-laki yang menjadi suaminya ini.

__ADS_1


Mestinya Dia yang menuntut pernyataan itu. ini Kenapa jadi kebalik gini sih.


'' Sssst.. Kalian bisa diam tidak. Gak malu apa bertengkar di acara orang...'' Bisik Amalia.


Armand dan Renita mengunci mulutnya rapat-rapat. Setelah mendapat peringatan yang mulia Ratu.


...----------------...


'' Ren Loe ngerasa aneh gak sih sama bokapnya si Wina ''. Kata Reva setengah berbisik.


Kini mereka berada dalam satu meja yang sama. Disitu pula, ada Renita beserta Suami. Juga Reva dengan Doni.


'' Aneh kenapa ?''


'' Tuh liat..'' Reva menunjuk dengan ekor matanya.


Renita mengikuti arah mata sahabatnya.


Di lihat nya pria paruh baya minim ekspresi yang berada dipelaminan. Tak ada senyum kebahagiaan sama sekali. Berbeda dengan wanita paruh baya disamping nya yang selalu menampilkan senyum ramahnya.


'' Iya kayak gak bahagia gitu ya.. Padahal ini hari bahagia putrinya lhoo.. Mestinya kan juga ikut bahagia. Minimal terharu gitu..''


'' Mungkinkah ?'' Reva dan Renita bersitatap. Tampak nya mereka juga sepemikiran.


'' Iya juga ya.. Gue juga gak percaya sih.. Tapi pas liat ekspresi muka bokapnya kok gue ragu..''


Kedua wanita itu asik dengan acara gosip nya sendiri. Mengabaikan dua pria yang sudah jengah mendengar nya.


'' Ren sudah. Jangan terlalu mengurusi masalah orang lain. Terlebih sahabat sendiri''. Armand memperingati.


'' Tau tuh.. si Reva biang gosip nya pak ''. Doni ikut menimpali.


'' Iya-iya...''


...----------------...


Disisi lain...


Mita bersama Ibunya naik keatas pelaminan untuk memberi selamat pada pengantin baru. Sebenarnya Dia malas berurusan dengan keluarga ini lagi. Tapi demi menunjukkan jika dia baik-baik saja. Bahkan, lebih baik tanpa mereka. Mita ogah menghadiri acara ini.


Aryan menahan tangan Mita saat bersalaman dengan nya. Menatap putrinya lekat-lekat. Dari pancaran matanya tampak kerinduan yang mendalam.


Kenangan bersama putrinya semasa dulu. Melintas begitu saja dalam benaknya.


'' Maaf Pak masih banyak ngantri. Permisi..'' Suara Mita memecah lamunan pria paruh baya itu.

__ADS_1


Hatinya sakit ketika Mita tak mau mencium tangannya.


Hal itu tak luput dari pandangan Wina. Meremas jas David sebagai pelampiasan amarahnya.


'' Kamu kenapa ?'' David bingung melihat raut wajah Wina seperti menahan amarah.


Dia mengikuti arah mata istrinya.


Sedikit banyak bisa memahami apa yang di rasakan wanita ini. Karena memang Wina sudah menceritakan masa lalu kelam keluarganya. Yang menjadi alasan kenapa Ayah Wina tak begitu menyukainya.


'' Sudah nggak usah di lihat. Lihat senyum ku aja. Di jamin kamu akan bahagia..''


Wina menoleh pada suaminya. Tak lama senyum tipis terlukis dari bibir manis itu.


'' Mas David bisa aja..''


'' Sekarang ada aku. Lupakan semua hal yang buat kamu sedih. Aku akan selalu ada untukmu''. David menatap lekat wajah istrinya.


Wina langsung memeluk manja laki-laki yang telah menjadi suaminya ini.


'' Bisa aja kamu..''


Melissa tersenyum melihat interaksi pasangan pengantin itu. Dia bersyukur putrinya bertemu dengan orang yang tepat.


Dia sudah khawatir jika putrinya akan bertindak di luar kendali. Seperti peristiwa beberapa tahun lalu.


Masih terekam jelas dalam ingatannya.


Mita tiba-tiba menyambangi kediamannya. Mengamuk layaknya orang kesetanan. Berteriak ingin meminta Ayahnya di kembalikan padanya.


Memaki-maki dirinya juga anak-anak nya. Bahkan, menghina dirinya sebagai wanita murahan, perebut kebahagiaan, perusak rumah tangga orang. Dan masih banyak lagi kata-kata menyakitkan yang di lontarkan pada nya. Melissa membiarkan saja waktu itu. Dia menganggap wajar akan sikap Mita.


Siapa yang mau di pisahkan dengan orang tuanya. Apalagi orang tuanya masih hidup dan sehat wal afiat. Mungkin Melissa akan melakukan hal yang sama. Jika ada di posisi Mita.


Tapi tidak dengan Wina, yang saat itu baru pulang sekolah. Dia langsung menyerang Mita membabi buta. Tidak rela mendengar ibunya di hina seperti itu.


Keributan tak dapat terelakkan. Wina memang sedikit tomboy. Dia menghajar, menampar bahkan menjambak rambut Mita. Terdapat beberapa luka lebam di bagian wajah Mita. Darah mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.


Beberapa orang yang berusaha memisahkannya pun kewalahan sendiri. Hingga pada akhirnya, Aryan mendorong kuat tubuh Wina sampai kepalanya terbentur sudut meja.


Mengabaikan Wina yang ikut bersimbah darah. Akibat benturan keras di belakang kepala nya. Aryan memilih menolong Mita. Meninggalkan Wina begitu saja.


'' ssssttt.. Mel ada orang mau salaman '' Bisikan Aryan menarik paksa kesadaran Melissa dari lamunan nya.


Dia kembali menampilkan senyum terbaiknya menyalami para tamu.

__ADS_1


__ADS_2