My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Mulai Tenang....


__ADS_3

Armand memandang wajah lelap sang istri yang terlihat sangat pucat. Wanita itu belum sadarkan diri sejak semalam, setelah mendapat suntikan obat penenang. Ditambah beberapa jam setelahnya, suster menyuntikkan obat tidur melalui cairan infusnya agar bisa beristirahat dengan total.


Pria itu juga melihat bekas noda darah mengering di area perut istrinya. Gerakan intens yang sempat Renita lakukan membuat luka jahitnya kembali terbuka, hingga membuat darah merembes ke baju pasien. Armand memang melarang suster untuk mengganti bajunya, agar istirahat istrinya tidak terganggu. Dan menyuruhnya kembali setelah sang istri sadar nanti.


''Armand, bagaimana keadannya?" Amalia tiba-tiba masuk ke ruang rawat menantunya. Di belakangnya diikuti Setiawan—sang suami yang selalu sedia menenangkan wanita baya itu.


''Ya, beginilah, Ma," jawab Armand dengan lesu.


Wajah pria itu terlihat sangat kuyu, gurat kelelahan tergambar jelas di sana. Mata berkantung dan memerah menandakan jika si empunya belum memejamkan mata sama sekali.


Armand memang tidak bisa memejamkan mata, takut bila sang istri terbangun, kemudian histeris kembali.


''Mama langsung kesini?" tanya Armand melihat ibunya masih mengenakan jaket tebal.


''Iya, pikiran mama tidak tenang sejak akan berangkat waktu itu. Disana pun mama selalu resah tanpa alasan padahal keluarga Amanda baik-baik saja. Ternyata ini jawaban keresahan mama." Amalia berucap dengan menatap sendu sang menantu.


''Kok bisa begini, bagaimana ceritanya, Ar?'' tanya Setiawan.


''Aku gak tau, Pa. Aku belum pulang untuk ngecek CCTV di rumah."


''Reva menemukan Renita gak sadar di dekat pintu dengan kondisi....'' Armand tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Dia masih mengingat jelas baju kedua sahabat istrinya terkena noda darah Renita yang lumayan banyak.


Amalia langsung mengusap lembut punggung kekar putranya. Terlihat jelas jika putra sulungnya ini sangat rapuh.


''Lalu, Marvello sama siapa di rumah?" Setiawan teringat akan cucunya.


''Ada Rendi, kemarin dia ikut serta sama bapak sama ibu," tutur Armand.


''Mertuamu, di mana?'' Amalia menanyakan keberadaan besannya, karena ruangan itu terlihat sangat sepi.


''Aku menyuruh ibu pulang untuk menjaga Marvello. Aku takut dia rewel, Ma. Mungkin sebentar lagi kemari."


Amalia hanya mengangguk.


Terdengar lenguhan pelan dari ranjang pesakitan, yang membuat semua orang yang ada disana mengalihkan pandangan.

__ADS_1


''Ren, kamu bangun?" Amalia segera mendekati menantunya.


"Mana yang sakit, bilang sama mama."


Renita hanya menatap nanar ibu mertuanya, tak lama terdengar isakan kecil dari mulutnya.


''Aku ibu yang jahat, Ma."


"Sssttt, semua sudah takdir. Tidak boleh berkata seperti itu." Amalia segera menenangkan wanita rapuh itu.


''Maafkan aku ... Aku tidak bisa menjaganya, aku ... Aku ceroboh. Aku tidak bisa memenuhi pesan mama." Tangisan wanita itu semakin menjadi, hingga tak lama terdengar ringisan pelan dari mulutnya saat merasakan nyeri pada luka bekas operasinya.


''Awwss ...."


"Sudah jangan dibuat nangis nanti kebuka lagi lukanya."


...----------------...


"Ama, hiks-hiks, Ama...."


Sejak kemarin, Marvello terus mencari keberadaan ibunya. Beruntung, Dania dan Devan bisa bisa mengalihkan perhatian balita itu dengan mengajaknya ke permainan yang ada di pusat perbelanjaan ibukota, hingga diambil alih oleh keluarga Renita.


"Uluh, Cah Ganteng. Sini sama nenek. Nanti, nenek ajak ketemu mama. Pokoknya, sekarang diam dulu. Mama gak mau ketemu adek kalau masih nangis." Asih datang untuk menenangkan cucunya.


Dia berusaha menghibur cucu kesayangan dengan kata manisnya.


''Ama?" tanya Vello memastikan dengan mata berkedip lucu.


''Iya, nanti ketemu mama, papa, oma cantik dan opa. Adek mau?"


Balita itu tampak mengangguk lucu, membuat siapa saja gemas melihatnya. Asih menghapus sisa air mata di pipi gembul nya juga sis ing*s yang ada di hidungnya yang memerah.


"Sekarang mandi dulu ya ... Mau mandi sama nenek apa sama om?"


"Om Endi."


''Ya sudah sini, nenek lepaskan."

__ADS_1


Marvello menurut saja dengan apa yang dilakukan oleh neneknya.


''Bu," panggil Rendi pelan.


''Hmmm."


''Ibu yakin mau ngajak dia ke rumah sakit? Apa kondisi Mbak Reni udah baikan?" tanyanya pelan-pelan.


''Sudah, tadi masmu telepon. Katanya Renita nanyain Vello. Dia juga gak histeris seperti semalam, sudah mulai tenang."


Raut wajah wanita baya berubah sendu ketika mengingat bagaimana kondisi putrinya. Seandainya, dia tidak jauh dari putrinya. Pasti musibah ini tidak terjadi. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat kondisi putrinya yang sangat rapuh, bahkan sampai histeris seperti itu. Berulang kali, terdengar helaan nafas berat dari bibirnya.


''Ibu, kenapa?"


''Tidak, sudah cepat mandikan dia! Mumpung mau nanti kalau susah lagi bakal lama ngebujuknya. Mbakmu sudah nanyain terus," titah Asih.


''Nanti ikut ke rumah sakit. Bantu ibu sama bapak jaga disana. Gantian sama Mas Armand," lanjutnya lagi.


''Iya..."


''Mumpung mandiin Vello, kamu mandi sekalian, biar gak lama-lama. Soalnya, mandimu lama mirip perawan." Asih terus saja berceloteh ria, hingga membuat pemuda itu memutar bola matanya malas.


Dalam keadaan sedih pun kecerewetan ibunya tidak hilang, pikirnya.


''Dengar ibu apa tidak, Ren?"


''Iya, Bu. Aku dengar sangat jelas," teriak Rendi dari dalam kamar mandi. Disusul tawa cekikikan dari mulut mungil Marvello.


''Nenek ceriwis ya, El."


''Ibu dengar Rendi," teriak Asih yang memang masih ada disana menyiapkan baju ganti cucunya.


''Iya, telinga ibu, 'kan tajam."


"Sudah, cepat selesaikan!"


''Iya...."

__ADS_1


__ADS_2