
Ada sedikit penambahan di bab sebelumnya. Jadi bisa dibaca ulang 🙏.
...----------------...
Keresahan Armand berlangsung selama beberapa hari setelah pemeriksaan itu. Jika sampai kesuburan istrinya benar-benar terganggu, berarti dia tidak akan bisa lagi mendapat keturunan. Mengingat, apa yang dialami Renita sedikit terlambat penanganannya, meskipun tidak parah. Akan tetapi, tetap saja ayah satu anak itu tetap khawatir tak berkesudahan.
''Kamu kenapa sih, Mas? Akhir-akhir ini aku perhatikan sering melamun."
Armand segera mengubah mimik wajahnya sebiasa mungkin. Dia tidak ingin sang istri kembali stres dan mengganggu kesehatannya.
''Kamu masih kepikiran sama infeksi yang ku alami," tebak Renita tepat sasaran.
Armand mengangguk pelan.
"Hasil tes kemarin, sudah menunjukkan kalau aku sudah bersih, 'kan, Mas? Sekarang aku juga sudah sehat, sangat sehat malah."
''Tapi, aku masih khawatir dengan akibatnya, Ren."
Wanita itu terdiam. Sebenarnya, dia juga merasakan hal yang sama. Bagaimana jika itu benar terjadi, dia tidak bisa memberi keturunan lagi untuk suaminya. Tetapi, dia berusaha untuk berfikir positif, semua akan baik-baik saja.
''Semoga enggak ya, Mas. Masalah anak itu rejeki masing-masing pasangan. Kita berdoa, semoga Tuhan segera memberi kepercayaan kepada kita lagi."
...----------------...
Tanpa terasa dua tahun berlalu, keluarga kecil Armand belum ada tanda-tanda di beri kepercayaan untuk menerima momongan kembali. Padahal Renita tidak memakai alat dan obat penunda kehamilan jenis apapun. Periode bulanan wanita itu juga teratur setiap bulannya, meski terkadang lancar terkadang tidak.
Renita pernah mengalami keterlambatan tamu bulanan. Dan hal itu sudah disambut riang oleh sang suami. Namun, setelah di tes hasilnya negatif. Beberapa kali, wanita itu merasakan apa yang biasa dirasakan oleh wanita yang mengalami morning sickness, namun setelah di periksa ternyata hanya masuk angin atau kadar asam lambungnya tinggi.
Seperti pagi ini, Armand menunggu dengan harap-harap cemas di depan kamar mandi. Dia berharap hasil tes kali ini akan berbeda dari sebelumnya. Pria itu mengalihkan perhatiannya ketika mendengar suara pintu di buka.
"Bagaimana?" tanya Armand dengan binar penuh harap.
"Maaf...."
Hanya itu yang mampu dia ucapkan dengan menunjukkan benda kecil yang berada dalam genggamannya.
Lagi dan lagi, Armand harus menelan kekecewaan.
"Kita harus coba lagi," ujarnya.
"Mau sampai kapan, Mas? Sudah dua tahun aku tidak pernah memakai apapun. Hasilnya selalu seperti ini. Aku takut—" Ucapan wanita itu terhenti saat telunjuk kekar mendarat di bibirnya.
__ADS_1
"Jangan berpikir aneh-aneh! Selalu positif thinking. Tidak apa-apa, aku tidak punya keturunan lagi. Kita sudah punya Marvello."
"Tapi, Mas—"
"Ssstttt, jangan katakan apapun lagi. Kita pernah periksa kesuburan, diantara kita berdua tidak ada yang bermasalah. Hilangkan pikiran burukmu, aku tidak akan berpaling darimu," ucap Armand dengan mendekap erat istrinya agar wanita itu tenang.
"Papa! Angan centuh ama Ello."
Armand mendengus kesal ketika mendengar lengkingan keras putra semata wayangnya.
Duplikat Armand itu sudah berkacak pinggang di depan pintu kamar kedua orang tuanya, dengan bibir manyun lima centi ketika melihat pemandangan pagi itu.
Bisa dikatakan pria mungil itu sangatlah posesif terhadap ibunya. Dia akan memarahi siapapun yang menyentuh ibunya termasuk ayahnya sendiri.
Dia segera berlari menghampiri orang tuanya, lalu melepas paksa dekapan tangan kekar sang ayah.
"Ama unya Ello. Apa peyuk guying cana!" kata Vello dengan sarkas.
"Vello, tidak boleh seperti itu." Renita menengur lembut putranya dengan nada penuh peringatan.
Tak ada jawaban dari bibir mungil itu, tangan mungilnya langsung mendekap erat tubuh ibunya. Tatapan penuh permusuhan ia layangkan ke arah Armand.
Armand hanya menyilangkan tangan di dada saat melihat keposesifan putranya itu.
Mata Vello memerah, genangan kristal bening tampak memenuhi mata mungil itu. Bibirnya mulai bergetar siap mengeluarkan suara emasnya.
''Huwa ... Ama! Apa jahat! Ello dak cuka papa."
''Tuh, kan? Suka banget, sih godain dia. Aku gak mau tau, diemin sekarang! Aku mau mandi," ucap Renita dengan kekesalannya.
"Loh, kok aku?" tanya Armand dengan menunjuk dirinya sendiri.
''Siapa yang udah buat dia nangis?" Renita melotot tajam pada suaminya.
"Aku," jawab Armand dengan polosnya.
"Nah, itu tau. Selamat berjuang, Papa...."
"Tapi, Ren—''
" Babay, Papa."
__ADS_1
Mengabaikan keluhan sang suami, Renita memilih menutup pintu kamar mandi tanpa lupa menguncinya.
Kini, tinggallah Armand dengan sejuta kebingungan menghadapi tangis putranya yang semakin kencang.
"Yuk, mandi sama papa jadi kapal terbang kayak biasanya."
"Gak mau. Apa jahat, apa jeyek. Ello dak cuka," ucap balita itu disela isak tangisnya.
"Kalau gak mau sama papa, maunya sama siapa, Vel?" tanya Armand yang mulai frustasi dengan tingkah putranya.
''Ama, huhu...."
"Ren, bodyguard-mu mencari." Armand berteriak dari luar namun nihil sang istri tidak mendengar. Yang terdengarlah hanya suara gemericik air diiringi senandung riang perempuan di dalam sana.
''Ren, kamu sengaja ya." Pria itu hanya bisa mendesah frustasi ketika tidak mendapat tanggapan dari istrinya.
"Mama gak dengar, sama papa aja ya. Nanti, papa belikan mainan yang buesar." Armand merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seolah menunjukkan sesuatu yang sangat besar.
''Benel, apa dak boong?"
Armand mengangguk mantap.
''Kalo gitu, Eyo mau ainan, eklim, cama ayam goyeng yang di Mall. Kita ke pelmainan uga ya, Apa. Eyo mau mandi boya, main lompat-lompat tinggi. Eyo uga mau beyi baju gambal Tayo sama tas juga," celoteh balita itu dengan riang. Tangisnya sudah hilang entah kemana.
Armand hanya meringis mendengar itu semua. Kenapa semakin kesini putranya semakin mirip ibu dan omanya.
"Cowok kok doyan shopping, Vel," batinnya.
''Iya, Apa. Apa mau apa dak? Kalau dak aku nangis lagi nih," ucapnya sambil menggoyang kencang lengan sang ayah dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Iya-iya, papa mau. Pokok sekarang mandi dulu sama papa."
Pada akhirnya, Armand hanya bisa pasrah menuruti keinginan putranya.
''Yeay, saayang apa," teriak Vello dengan menirukan film kartun kesayangannya.
Dia menyempatkan mencium pipi ayahnya sebelum berlari ke kamarnya.
"Kalau ada maunya aja sayang. Coba kalau gak, musuh bebuyutan," sungut pria itu dengan menyusul putranya.
Sementara, Renita yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa terkikik geli. Bukannya dia tidak mendengar keluh kesah sang suami tadi, tetapi dia sengaja. Supaya Armada jera, tidak selalu menggoda anaknya.
__ADS_1
''Rasain, emang enak. Tekor-tekor, dah...."