
''Siapa yang melakukan ini?'' Armand memandang satu per satu keempat gadis di hadapan nya.
Mereka saling menyenggol satu sama lain, saling lempar batu sembunyi tangan.
'' Salah satu the new cogan kacungnya bapak,'' cicit Reva
Armand mengernyit bingung, sepertinya dia harus banyak belajar kata-kata anak muda jaman sekarang.
''Duo kacung bos yang baru..'' Renita memutar bola mata malas saat melihat kebingungan pria di hadapannya.
'Gitu aja gak paham,' batinnya.
''Siapa?'' tanya Armand lagi
Reva terkikik geli saat mengingat perjuangan nya kemarin.
''Doni...''
Reva mendatangi seorang pria yang menempati ruangan Renita, dengan senyum termanisnya.
''hmmm.'' Doni hanya menyahut singkat.
''Kamu mau bantuin aku apa tidak?'' Reva menautkan kedua telunjuknya dengan wajah di buat seimut mungkin..
''Apa? Cepetan! Aku banyak kerjaan. kalau ini tidak selesai tepat waktu, Pak Armand bisa ngamuk,'' ujar Doni dengan gusar.
Pekerjaan sedang banyak-banyaknya malah datang pengganggu.
''Besok kamu datang ke acara akadnya Pak Armand 'kan? Boleh tidak live streaming on sosmed, punya sosmed 'kan? Atau kalau tidak begitu pakai panggilan video, deh.'' Reva mencoba merayu pria ini.
''Aku tidak bisa, aku takut. Kamu minta saja itu si Devan,'' tolak Doni dengan tegas.
''Ogah! Dia mah sebelas duabelas sama si bos, aku bisa kena sembur nanti.'' Reva memajukan bibirnya beberapa senti.
''Ini permintaan bumil. Pamali nolak ngidam bumil, nanti kamu kena karma. Mau ya, pliiss,'' paksa Reva
''Kamu tahu sendiri 'kan? Pak Armand saja, mau sesibuk apapun. S'lalu menyempatkan untuk memenuhi ngidamnya dia.'' Reva masih berusaha merayunya.
'Misi ini harus berhasi! Kalau tidak bisa ngamuk bumil satu itu. Salah sendiri terlanjur menyanggupinya.'
Kedatangan wanita ini, membuat kepala Doni semakin berdenyut.
''Ayolah, Don.'' Reva menggoyang-goyangkan lengan Doni.
Bahkan, dia rela menjadi ekor, kemana pun si new sekretaris itu melangkah. Doni sampai merasa risih sendiri.
'' Oke-oke, besok aku turutin. Sudah! berhenti mengikutiku. Sana balik ke ruangnmu! Aku laporkan ke Pak Danu. Tahu rasa kamu,'' kata Doni dengan kesalnya.
Mau tidak mau, dia menuruti permintaan gadis itu. Agar dia mau keluar dari ruangannya. Kepalanya serasa mau pecah mendengar celotehan gadis ini.
Senyuman terkembang sempurna di bibir mungil itu.
''Thank's, Don.''
Reva langsung memeluk pria itu. Dengan beraninya, dia juga mencium pipinya. Membuat Doni membeku seketika.
__ADS_1
''Babay.''
''VA!'' Teriakan Wina , berhasil membuyarkan angan-angan nya
''Apa, sih? Ganggu orang lagi ngebayangin si do'i,'' kesal Reva.
''Dari tadi ditanyain Pak Armand, 'siapa yang melakukan live itu?'' sahut Wina tak kalah sewot.
''Si Doni, sekretaris gantengnya, Bapak,'' jawab Reva cepat.
Armand menganggukkan kepalanya.
''Good job, nanti ku kasih dia bonus.''
Keempat gadis itu melongo tak percaya mendengar jawaban laki-laki itu. Mereka kira si bos bakalan ngamuk.
Tapi ternyata....
''Loh, loh, kok cuma di, Pak? Buat saya mana? Gak mudah tau, Pak ngerayu dia,'' sahut Reva tidak terima, ''Berasa jadi ganjen gue kemarin.''
''Loe 'kan emang udah ganjen dari sononya,'' seloroh Dania.
''Udah, ah, gue mau balik. Gak asik maen sama kalian.'' Reva ngeluyur keluar bagitu saja.
''Yah, ngambek dia. Tungguin woy!'' teriak Dania, ikut keluar menyusul Reva.
''Lah, kok, gue di tinggal. Tunggu! Gue gak mau jadi obat nyamuk.'' Wina ikut menyusul kedua temannya.
Dan kepergian tiga gadis heboh itu membuat Armand bernafas lega. Kini hanya tinggal dirinya dan Renita.
Armand meraih tangan wanita itu, lalu meuntunnya duduk tepat disampingnya.
Dia mengeluarkan handphone-nya dan memperlihatkan rekaman yang selama ini dia simpan.
Renita menutup mulutnya tak percaya. Jadi, video yang tempo hari dia lihat itu hasil editan. Yang di lihatnya saat ini yang asli secara keseluruhan
''Jadi, Bapak sudah tahu jebakan dia?''
Armand menganggukkan kepalanya.
Renita memukuli dada Armand bertubi-tubi, untuk melampiaskan kekesalannya selama ini.
''Bapak itu ngeselin tau gak. Dasar Kompeni! suka melihat orang tersiksa. Kalau udah tahu di jebak, kenapa Bapak masih mau menikah dengannya?''
''Karena aku ingin membalasnya,'' jawab Armand.
Armand menangkap tangan itu lalu menggenggamnya lembut.
''Aku hanya mengikuti alur permainan nya. Ternyata benar dugaanku, selang beberapa minggu, Ia datang dengan dalih aku menghamili nya. Makanya, waktu itu aku bersikap santai saja karena memang aku tidak melakukan dengannya. Melainkan, denganmu..'' Armand mencubit pelan hidung Renita.
''Apa, sih, malah bahas itu, nggak lucu..'' Renita memalingkan wajahnya.
''Aku sudah kepikiran macam-macam, aku sudah salah paham berkali-kali. Aku kira, Bapak juga tidak mau tanggung jawab. Makanya, aku memutuskan untuk aborsi waktu Itu..''
''Kemarin juga, aku kira Bapak mau ngasih dia kejutan romantis, taunya seperti itu. Bapak jahat, sudah buat aku nangis tiap malam.. Asal bapak tahu, dari kemaren pengen banget nyuruh Bapak batalin pernikahan itu. Tapi pas inget dia juga hamil.....'' Renita tak bisa melanjutkan ucapannya. Dia menangis sesegukan.
__ADS_1
Armand langsung membawa Renita ke dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu, menumpahkan semua tangisnya.
''Aku hiks.. sudah berpikir akan pergi, hiksss, dari kehidupan Bapak. Dan membesarkan anak ini sendirian, hiksss, hiksss.''
Armand mengeratkan pelukannya. ''Tak'kan ku biarkan itu terjadi. Kemanapun kamu pergi aku akan mencari kalian, karena kamu dan anak ini begitu berarti untukku..''
Armand mengelus perut rata wanita itu.
Renita melepas pelukannya , menatap dalam-dalam mata laki-laki itu. Sekali lagi dia memukul keras dada Armand.
''Awwsshh, sakit, Renita!''
''Bodo amat, nyebelin banget jadi orang..'' Renita menatap kesal pria di sampingnya.
''Iya-iya, maaf ya, Mommy dedek,'' rayu Armand
Renita bergidik ngeri. Merayu kok seperti itu, gak banget. Mirip triplek mana minim banget senyumnya.
Hening...
''Ren..''
''Hmmm..''
''Ayo, kita segera menikah..''
Renita menoleh. ''Bapak melamar saya?''
Armand mengangguk.
''Ck, gak romantis,'' cibirnya.
''Orang itu, kalau mau melamar diajak makan malam romantis, di atap gedung paling tinggi. menyematkan cincin di jari manisnya lalu di cium tangannya, di bawah bintang-bintang sambil berkata, 'Biarlah malam dan bintang jadi saksi bisu cintaku padamu', begitu pakai kata-kata romantis. Lah ini....''
Renita menatap dirinya juga Armand dengan penampilan yang sangat kontras.
''Bapak rapi bener, karena baru jadi manten gagal. Lah, saya cuma pakai baby doll, belum mandi di ruang tamu kontrakan, kotor pula. Iyuuuhh, gak banget, deh, Pak,'' protesnya panjang lebar.
''Saya bukan orang yang romantis. Saya tidak ada waktu untuk mengobral kata-kata untuk merayu wanita. Waktu saya hanya kerja, kerja dan kerja. Intinya, saya mengajak kamu menikah, lebih cepat lebih baik. Sebelum perut kamu bertambah besar..'' Armand menatap serius sekretarisnya.
''Ya kali, ngajak nikah kek orang ngajak kencan. Bapak mesti datang ke orang tua saya, minta baik-baik. Jelaskan keadaan saya yang sebenarnya, jadi laki mesti gentle, Pak.'' Lagi-lagi wanita itu mengeluarkan protes kerasnya.
Selalu saja ada saja jawaban dari mulutnya untuk mendebat. Bagaimana nasibnya, jika nanti mereka sudah sah menjadi suami istri. Akankah selalu ada perdebatan setiap harinya? Pikir Armand.
''Oke, besok kita temui orang tuamu,'' putus Armand final.
''Ap-apa, b-be-besok?'' tanya Renita terkejut, ''Gak-gak, aku gak siap,'' tolaknya
''Siap gak siap, kamu harus siap, Renita! Baik sekarang ataupun nanti, mereka akan tahu juga. Sampai kapan kamu akan menyembunyikan ini dari mereka? Yang ada mereka akan lebih kecewa, jika kamu terus menundanya.''
Armand benar-benar frustasi menghadapi wanita satu ini. Lebih baik menghadapi klien yang banyak maunya daripada menghadap Renita. Sama-sama bikin pusing tapi menguntungkan. Lah, ini? Yang ada emosi jiwa..
''Kita kesana besok, titik!''
Renita mengangguk pasrah. Benar yang dikatakannya, dia harus segera memberitahukan ini pada orang tuanya. Sebelum mereka bertambah kecewa nanti.
__ADS_1