
'' Wah loe gak salah ren ngajak kita ke resto ini... Disini mehong makan nya seuprit..'' Reva berdecak kagum melihat interior restoran.
''Loe mau ngrasain steak.. gak.. gue ngidam liat kalian makan itu..'' Jawab renita cuek.
Dia memanggil pelayan untuk memesan.
Dania mendelik melihat harga-harga yang di bandrol. Begitu juga dengan reva.
Sedang Wina tampak biasa saja.
'' Buset makanan satu setara gaji gue dua bulan..'' Dania berdecak.
'' iya gue bakal mikir seribu kali buat makan disini..''
Renita memutar matanya jengah.
'' udah deh kalian gak usah mikir harga gue yang traktir..''
'' iya nih loe pada.. gak usah katrok deh... malu-maluin.. ini tempat orang berkelas..'' Wina membuka suara.
Makanan yang mereka pesan datang dan mulai menikmati makanan nya.
Tapi ketenangan mereka terusik dengan kedatangan seseorang.
'' Wohooo.. Tambah bulat aja tuh perut.. perasaan baru empat bulan menikah..''
renita tak menghiraukannya. Dia masih asik menikmati makanan dan minumannya.
'' eh nenek lampir loe kalo mau buat keributan gak usah di sini deh.. minggat sono di ring tinju..'' Sahut reva.
'' iya siapa sih ni orang..'' Dania melirik sinis.
'' Asal kalian tau ya.. wanita ini dulunya sekretaris gatel yang menggoda bosnya. Sampai hamil seperti ini. Padahal belum tentu itu anak dari bosnya. Bisa aja kan itu anak laki-laki lain..'' Mita mengeraskan suaranya untuk menarik perhatian pengunjung lain.
Dan berhasil. Para pengunjung mulai menyorot Seolah renita kotoran yang menjijikkan.
'' Loe..'' Wina sudah berdiri ingin menampar wanita di hadapannya. Tapi di cegah renita. dia menggelengkan kepala.
Wina terpaksa menurut. Tapi matanya menatap tajam wanita di hadapannya.
'' Dan asal kalian tau. Bos yang dia goda adalah tunangan saya. Kami harus membatalkan pernikahan kami gara-gara wanita murahan ini..'' Mita masih melancarkan aksinya.
' whatt the hell.. Drama queen banget nih orang..' Batin renita.
Dia masih santai dengan makanannya. Karena perutnya saat ini benar-benar lapar.
Reva dan Dania jangan ditanya. Mungkin jika di tampakkan kepala mereka sudah memerah berasap.
Mita semakin kesal karena renita tak terpengaruh dengan bualan nya.
Setelah selesai renita meminta bill dan membayarnya.
'' Silahkan ambil itu yang kau sebut pacar. Karena tanpa dia pun gue masih bisa ngurusin hidup gue dan anak gue.. yuk gengs.. cabut..'' Renita mengajak cs-nya meninggalkan tempat itu.
'' Dijaga ya mbak PACARNYA biar gak kegatelan sama cewek lain..'' Wina menyenggol bahu Mita dengan kasar.
Reva dan Dania pun melakukan hal yang sama. Menubruk kasar bahu Mita.
Tanpa mereka tau ada yang diam-diam merekam kejadian itu dan mengirimkan pada tuannya.
'' loe baik-baik aja kan..'' Tanya Wina saat mereka sudah berada di dalam mobil.
'' iya gue gak apa-apa'' Renita menampilkan senyum manis nya.
'' Ren loe sekarang cerita sama kita.. loe pasti punya masalah kan sama si Kompeni.. kita udah jarang liat kalian berdua di kantor..kita juga sering liat loe pulang dengan wajah kecewa sehabis dari ruangan dia..'' Cecar Reva.
'' iya abang gue juga cerita..waktu itu dia ngeliat loe nangis sendirian di taman bawa makanan masih utuh..'' Dania ikut menimpali.
__ADS_1
Renita tetap bungkam.
'' loe pikir dengan cara loe ngehindari kita. kita gak tau masalah loe.. gak semudah itu Ferguso.. kita punya CCTV berjalan di kantor..'' celetuk Reva.
'' siapa ??'' Tanya renita.
'' ya siapa lagi kacungnya si kompeni itu..'' sahut Dania.
'' yang mana ??''
'' si Dono...'' kata Wina.
'' Doni Wina heran deh maen ganti-ganti nama orang..'' sungut Reva.
'' ciee yang punya kagak Terima..'' goda Dania.
'' sumpah Demi apa loe sama si lelet itu..'' Renita menutup mulutnya tak percaya
'' ishhhh..''
'' udah yuk pulang kalian pasti capek kan baru pulang kerja langsung nurutin permintaan gue.. '' Renita mengalihkan pembicaraan agar tak di cecar ke tiga sahabatnya lagi.
'' oke gue anter pulang dulu loe..'' Wina mulai menjalankan mobilnya.
'' Siiiipp..kalian emang the best...''
...----------------...
Renita menghembuskan nafas pelan. Rumahnya masih gelap itu tandanya suaminya belum pulang. Dia masuk dan menyalakan semua lampu di seluruh rumah.
Berlanjut menuju kamar. Hal yang sama dia lakukan. Meraba dinding mencari saklar lampu. setelah terang...
'' Darimana kamu..''
renita terjengkit kaget melihat sosok tinggi besar menjulang di hadapan nya sepaket dengan tatapan tajam nya.
Renita cuek dengan kehadiran nya. Melepas pernak-pernik yang dia kenakan. menghapus make-up yang seharian melekat di wajahnya.
'' Kamu dari mana.. ??'' Kali ini lebih dingin dari sebelumnya.
'' cari kesenangan di luar.. kenapa ?? masalah ??''
bukan takut atau gemetar. Renita justru semakin menantang.
'' Kau..'' tangannya sudah terangkat.
'' apa mau nampar.. tampar aja gak takut gue..'' Renita menunjuk-nunjuk pipinya sendiri.
'' capek gue tiap hari tiap malem nangis. salah kalo gue cari hiburan.. cari kesenangan di luar saat di dalam rumah gak bisa nyenengin gue.. heh..'' Renita terkekeh sinis.
Armand mencekram kuat lengan istrinya. '' kamu berani sama suami..''
'' lah emang situ makan paku mesti gue takutin..''
'' lepas gue mau mandi..''
semakin kuat renita meronta semakin erat cengkraman di tangannya hingga membuat mulutnya mendesis.
'' kamu menemui laki-laki itu kan ?'' matanya memerah. Saat teringat kedekatan renita dengan David waktu itu.
'' siapa ?? kamu nuduh aku selingkuh..?'' nada bicaranya ikut meninggi
'' IYA.. KAMU SELINGKUH KAN DENGAN MANTAN KAMU ITU..'' bentak Armand.
Reflek mencengkram kuat pipi renita dengan satu tangannya yang lain.
Renita menatap nanar lelaki di hadapannya.
__ADS_1
bukankah dia yang melakukan. kenapa dirinya yang disalahkan.
Renita menggeleng tak percaya. Matanya berkaca-kaca.
'' Terserah apa yang boss katakan... aku gak peduli..''
Rahang armand mengeras saat renita mengganti panggilan nya.
Tanpa banyak kata armand mendorong kasar tubuhnya ke ranjang nya.
Renita mendesis saat merasa perutnya terasa nyeri.
Armand melepas paksa kain yang menutupi tubuhnya. Matanya menggelap. Amarah sudah menguasai jiwanya.
'' mm... mau apa kkk..kau..'' Renita sudah waspada. Bayangan peristiwa naas itu kembali melintas dalam pikiran nya.
Renita bergerak mundur hingga tubuhnya terbentur kepala ranjang.
'' LAYANI AKU..'' Armand seperti orang kesetanan. Merobek baju yang dikenakan istrinya. Melu mat bibir istrinya secara brutal. Menggigitnya hingga berdarah.
Sekuat tenaga renita mendorong tubuh suaminya. Berhasil. Dia segera turun dan bergegas menuju pintu.
'' mau kemana kau renita.. Tak akan ku biarkan kau pergi dariku..'' Arman menarik kuat rambut istrinya
'' sss shhhh.. '' renita mendesis.
Jujur dia takut dengan aura mencekam suaminya. Tapi dia tidak ingin terlihat lemah. Dia akan melawan nya.
'' Lepas...!!!!??'' Renita memberontak.
'' layani aku.. renita..'' Geram Arman tepat di telinganya.
'' nggak kau sedang emosi..'' jawab renita cepat.
Armand kembali mendorong kasar tubuh renita ke tempat tidur. Tanpa dia tahu perut istrinya membentur pinggiran ranjang.
'' Awww.. sss hhh...''
Ringisan itu tak di pedulikan oleh armand. Amarah dan gairah menjadi satu. Menghilang kan kesadarannya.
Arman membalik tubuh renita agar membelakangi nya. Dengan sigap dia menyibak dress yang dikenakan istrinya. menyatukan tubuh mereka tanpa pemanasan. Dan melakukan nya secara kasar.
Hanya armand yang menikmati penyatuan itu.. Sedang renita sibuk dengan rasa sakit di perutnya yang semakin menjadi. Tubuhnya mulai lemas. keringat dingin membasahi pelipis nya.
Dia berusaha mempertahankan kesadaran nya.
Tak lama geraman panjang keluar dari mulut arman. menggigit bahu istrinya saat pelepasannya tiba.
'' aa aww.. sssaakiit...''
Armand terbelalak melihat darah membasahi milik nya. Dia semakin kalut saat darah itu mengalir deras ke paha istrinya.
'' Ren.. kau..''
'' minggir...!!!!'' Sekuat tenaga renita mendorong tubuh Armand. Dia turun dari ranjang dengan menahan perutnya.
Renita melangkah perlahan menuju pintu dengan menahan rasa sakit luar biasa di perutnya. Dia harus mencari bantuan secepatnya.
'' Ren maafkan aku ren.. ayo kita ke rumah sakit..''
'' gak perlu aku bisa sendiri.. '' renita menepis kasar tangan Armand
''mulai sekarang gak usah urusin aku.. ssshhh.. ka..mu.. urus.. saja itu pacar kamu.. Aku gak murahan.. seperti.. diah...''
Darah mengalir semakin deras hingga meninggal kan jejak di lantai.
'' terimakasih sudah menjadikan aku pelampiasan mu..''
__ADS_1