
Suasana kediaman Setiawan saat ini lebih ramai dari biasanya, di karenakan kedatangan para saudara dari pihak Amalia. Sedangkan dari pihak Setiawan sendiri, tidak bisa hadir karena suatu hal.
Amalia sedari pagi juga sudah sibuk sendiri. Mondar-mandir ----kesana kemari dengan handphone setia menempel di telinganya.
''Hallo, iya pokok saya terima beres. Harus sesuai dengan katalog,''
''Hallo, iya-iya besok acaranya diadakan di tempat yang saya bilang waktu itu, jeng. Sesuai permintaan si Armand.''
''Kayak nggak tau Armand. Dia trauma sama peristiwa gagal nikahnya waktu itu. Ya bye,'' Sambungan teleponnya terputus.
Tapi baru beberapa menit handphone itu di letakkan sudah berdering lagi.
''Hallo,''
''Iya, Jadi! Dikirim ke alamat yang saya kirim waktu itu. Iya, jumlah undangannya dua ribu lima ratus orang. Kalau bisa di lebihkan ya, takut kurang,''
''Iya menunya sesuai kan saja. mari..,'' Amalia kembali mematikan panggilan nya dan berganti jari-jari nya yang beradu di layar pipih itu.
Suami, adik dan adik iparnya sedari tadi memperhatikan pergerakan Amalia. Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya.
''Ma, papa cemburu,'' kata Setiawan saat melihat istrinya kembali duduk di sampingnya.
Semua yang ada di sana tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan pria paruh baya itu.
''Papa nggak usah lebay. Mama kayak gini juga demi acara besok,'' pandangan Amalia tak beralih sedikit pun dari benda di tangannya.
''Mama tau ma, Mama itu seperti lagi sibuk chat-an dengan selingkuhan Mama. Dari tadi kok ponsel mulu,'' sungut Setiawan.
''Ya sudah, kalau gitu papa aja yang urus, Nih,'' Amalia menyerahkan ponsel ke tangan suaminya.
''Tapi awas! Jika besok acaranya nggak sesuai sama keinginan Mama,'' kesal Amalia meninggalkan suaminya begitu saja.
Semua yang menyaksikan drama pasangan paruh baya itu tak dapat lagi menahan tawanya.
...----------------...
Di teras belakang...
Lengkingan anak kecil terdengar di berbagai penjuru rumah. Adik dari Amalia membawa serta anak menantu beserta cucu-cucunya.
Marvello, bayi mbul itu tampak gembira melihat adanya anak kecil kejar-kejaran di depannya. Dia menggerakkan tangan dan kakinya dengan antusias seolah ingin ikut bermain bersama mereka.
__ADS_1
''Vello, seneng hmm?'' tanya Armand pada bayi yang di pangkunya.
Marvello menanggapi dengan lengkingan cerianya.
''Seneng banget si dia mas, padahal kalau Posyandu juga banyak anak kecil. Tapi nggak seheboh ini perasaan,'' kata Renita yang sedari tadi memperhatikan anaknya.
''Umur berapa sih ini ?'' tanya Deni suami dari sepupu Armand.
''Tujuh bulanan,'' jawab Renita.
''Udah bisa apa ?''
''Bisa ruwet, nggak mau diem. Lihat ini kalau di pangku, bawaannya merosot mulu,'' celetuk Armand.
''Pokok kewalahan gendong dia,'' lanjutnya lagi.
''Heh, itu namanya aktif Mas Ar, berarti dia sehat,'' sahut Adelia yang tengah mengawasi anak-anaknya bermain.
''Gemes aku sama pipinya,'' Adelia sepupu mencubit gemas pipi bulat Marvello.
''Tanganmu, Del. Tambah melar nanti pipi anakku. Anakmu saja sana yang di cubit,'' sewot Armand.
''Mbak Ren, suamimu lagi PMS apa gimana sih?'' tanya Adelia.
''Emang Mas Armand nyebelin?'' tanya Adelia lagi.
''Banget. Dulu sewaktu jadi bos aku lebih parah dari ini. Ngasih kerjaan nggak tahu waktu. Waktu istirahat mau makan di sodorin berkas, mau pulang di sodorin berkas. Pas weekend juga gitu, masih aja di sodorin berkas. Hadeuh..,'' keluh Renita panjang lebar.
''Pokok kalau sama dia dikit-dikit berkas, dikit-dikit revisi. Kadang aku heran, nggak juling lho matanya mantengin angka-angka mulu,'' lanjut nya lagi.
''Mas Armand emang gitu mbak, gila kerja. Pacarannya sama berkas mulu. Makanya bude Lia getol nyari mantu sana sini. Takut anak bujang satu-satunya nggak laku. Soalnya udah perjaka tua belum pernah sekalipun dekat sama cewek,'' kata Adelia.
''Masa sih? Tapi masuk akal juga kalau dia nggak pernah deket sama cewek. Mukanya mirip triplek berjalan gitu. Aku aja mikir seribu kali kalau misal di ajak jalan sama dia.''
''Iya, udah kayak triplek mahal senyum lagi,'' Adelia menanggapi dengan tawa renyahnya.
''Ma, kamu nggak sadar apa gimana ? Yang kamu gosipin itu ada disini orangnya,'' celetuk Deni pada istrinya.
''Sengaja,'' jawab Adelia.
Kedua wanita itu sama-sama tertawa.
__ADS_1
''Yang namanya wanita dimana-mana sama saja. Tukang gosip,'' Armand menanggapi dengan raut datarnya.
...----------------...
Armand dan Renita menyambut kedatangan orangtua Renita beserta adiknya di teras rumah kediaman Setiawan.
Sepulang fitting baju kemarin, Amalia memboyong anak menantu beserta cucu ke rumahnya. Dan meminta mereka untuk menetap disana sampai waktu acara selesai.
Sebenarnya, Armand sangat keberatan dengan permintaan itu. Alasannya karena dia tidak bisa bebas menikmati waktunya bersama sang istri. Tapi atas paksaan Ibu Ratu dan penjelasan dari istrinya agar menuruti wanita yang melahirkan nya itu. Akhirnya mau tak mau Armand menurutinya.
''Marvello, cucu nenek udah besar,'' Asih yang baru turun dari mobil, langsung meraih cucunya yang ada di gendongan Renita.
''Ello, ponakan gantengnya Om. Ini pipinya kenapa tambah bengkak gini,'' Rendy mencium gemas pipi bulat itu.
PUK.. Asih menepuk lengan putranya.
''Sembarangan.''
''Mari masuk pak, bu. Pasti lelah habis perjalanan jauh,'' ajak Armand setelah menyalami kedua mertua nya.
''Ya ampun, besanku sudah datang,'' Amalia menyambut ramah kedua orang tua Renita.
''Bagaimana kabarnya pak, bu? Rendi, makin ganteng aja kamu. Sudah punya pacar belum ?'' kata Amalia.
Rendi yang mendapat pertanyaan seperti itu, hanya bisa meringis.
''Maaf ya, Pak Mahmud, Bu Asih. Istrinya saya berisik orangnya,'' Setiawan menyalami besannya satu per satu.
''Tidak apa-apa, pak. Perempuan memang begitu,'' kata Mahmud.
''Mari duduk dulu,'' Setiawan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Suasana hangat tercipta di ruang keluarga itu. Meski celotehan Amalia sangat mendominasi, tapi tawa canda tak luput di dalamnya.
...----------------...
Nyambung nggak sih ? Sambungin aja ya. Edisi gabut.. Doa kan saja otakku encer kembali, jadi bisa nambah up nanti..
Jang lupa dukungannya ya,
LIKE, ❤ , COMMENT, VOTE&HADIAHNYA..
__ADS_1
Babay..