My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Para Kepoers


__ADS_3

''Mereka siapa?'' tanya Asih yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


'Gawat! Bisa kena marah kalau sampai ibu tahu kejadian barusan,' batin Renita.


''Bu....''


''Bukan siapa-siapa kok, Bu.'' Renita segera menyela ucapan suaminya.


''Tapi ibu sempat mendengar ribut-ribut pas di dapur tadi. Makanya, ibu kedepan,'' ujar Asih.


''Ng-ggak ad-ada siapa-siapa kok, Bu,'' jawab Renita gugup, ''Iya, 'kan, Mas?'' tanya Renita dengan sedikit menekan ucapannya.


Armand hanya bisa mengangguk, menuruti keinginan sang istri. Lebih baik cari aman, pikir pria itu.


''Tapi tadi seperti ada suara budemu, Ren? Ibu sempat dengar, kok.'' Asih masih bersikeras.


''Nggak ada siapa-siapa, Bu. Dari tadi hanya ada aku sama Mas Armand disini.'' Renita berusaha meyakinkan ibunya.


''Betul, Ar? Tidak ada siapa-siapa disini, selain kalian,'' tanya Asih dengan memicingkan matake arah menantunya.


Armand melirik istrinya terlebih dulu sebelum menjawab. Dilihatnya, wanita itu menggeleng pelan dengan melotot ke arahnya.


Armand mengangguk menanggapi pertanyaan ibu mertuanya.


''Mungkin ibu salah dengar. Ya sudah, ibu mau lanjut masak.''


Renita menghembuskan nafas lega melihat ibunya kembali masuk ke dalam rumah.


''Dosa kamu, Ren. Sudah bohong sama ibu,'' celetuk Armand dengan suara yang lumayan nyaring.


Renita menginjak kaki suaminya dengan kesal.


''Aww, sakit, Renita!''


''Bodo amat. Makanya punya mulut dijaga. Gak usah kenceng-kenceng kalau ngomong. Kalau ibu dengar lagi bisa panjang urusannya,'' ucapnya dengan ketus.


''Nih, anak kamu. Aku lanjut bersih-bersih terus nyuci baju.'' Renita meletakkan anaknya ke pangkuan suaminya begitu saja. Lalu, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Baru beberapa menit, Marvello bersama ayahnya, bayi gembul itu sudah berulah. Mengganggu pekerjaan ayahnya dengan memencet asal keyboard di depannya, Mouse-nya di minta paksa, lalu di masukkan ke dalam mulutnya. Bukan hanya itu, dia juga naik keatas meja dengan menutup paksa layar lipat itu.


''Aduh, Dek. Pekerjaan papa nggak selesai-selesai, dong. Kalau begini...,'' keluh Armand.

__ADS_1


''Itu mouse-nya, jangan di pukul-pukul ke meja, nanti rusak!'' teriak Armand memperingati putranya.


Tapi, bukannya berhenti. Marvello semakin keras memukulkan benda oval itu ke meja.


''Ren, ini anak kamu mengacaukan kerjaan aku!'' Armand berteriak memanggil istrinya.


''Ren!''


Sedangkan, Renita yang berada di belakang tidak mendengar teriakan itu. Dia masih sibuk dengan mesin cucinya sembari mendengar lagu kesayangannya melalui music box milik adiknya.


...----------------...


''Apa maksud si Reni tadi? Jangan sampai kebablasan, Nes. Kamu kalau pacaran jangan macam-macam, ya. Awas sampai membuat bapak sama ibu malu! Kayak si Reni itu.''


Sesampainya di rumah, Ratna segera mencecar putrinya dengan berbagai pertanyaan.


Nesa menelan ludahnya kasar. ''Ti-tidak, Bu. Aku ng-nggak pernah aneh-aneh sama Dion,'' kata Nesa, berusaha setenang mungkin untuk menutupi kegugupannya.


''Benar kata Reni, suruh Dion segera melamar kamu. Gak baik pacaran lama-lama, ngalor-ngidul di bonceng kesana-kemari. Belum ada ikatan halal. Jangan nambah-nambah dosa lagi. Gak enak juga dilihat tetangga.'' Ratna masih saja menceramahi putrinya panjang lebar.


Sedang yang di ceramahi malah asik cekikikan sendiri dengan benda pipih di tangannya.


''Nes, dengar ibu ngomong apa tidak, sih? Dari tadi ibu perhatikan malah asik sendiri sama si kotak,'' kata Ratna sedikit meninggikan suaranya karena kesal.


Nesa menerobos keluar begitu saja tanpa mempedulikan teriakan ibunya.


''Nes, mau kemana kamu? Pagi-pagi bukan bantuin orang tua malah ngelayap!"


''Punya anak perawan satu, bukannya untung malah buntung. Nggak pernah bantuin orang tua, keluyuran mulu kerjaannya," dumel Ratna.


...----------------...


''Ren, ibu mau ajak Vello belanja dulu. Sekalian mau ngenalin cucu ganteng ibu ini ke para tetangga sini,'' kata Asih.


Renita menghentikan kegiatannya mendandani putranya. Dia menoleh kearah ibunya.


''Ibu yakin?''


Asih mengangguk pasti, tak ada keraguan dari sorot matanya.


''Ibu nggak malu?'' tanya Renita dengan lirih.

__ADS_1


''Malu kenapa? Cucu ibu ganteng gini, kok. Harusnya bangga, dong,'' kata Asih dengan mencubit gemas pipi gembul itu.


''Karena Vello....''


''Sudah, tidak usah di teruskan! Ibu tidak pernah malu.'' Asih segera memotong ucapan putrinya.


''Ibu selalu bangga sama putri ibu. Mereka berhak berbicara apapun tentang kita karena mereka hanya melihat luarnya. Tugas kita hanya menutup kedua telinga. Paham maksud ibu?'' lanjutnya lagi.


Renita tersenyum dan mengangguk membenarkan perkataan ibunya.


''Sudah selesai belum?'' tanya Asih.


''Beres. Anak mama sudah ganteng plus wangi ini.''


''Uluh, senengnya yang mau keluar sama nenek.'' Renita menggoda anaknya yang sudah berada dalam gendongan ibunya.


''Jangan nakal ya.... Jangan buat nenek capek sama tingkahmu itu, Vel!'' pesan Renita pada anaknya.


Tentu saja, Vello hanya bisa menjerit kegirangan dengan menunjukkan dua giginya.


''Pagi ibu-ibu...,'' sapa Asih pada para tetangganya yang sedang memilih-milih sayuran.


''Eh, Bu Asih, wah! Lucunya. Siapa ini, Bu?'' tanya Abang Sayur yang melihat kedatangan Asih dengan menggendong bayi.


''Ini cucu saya.''


Ibu-ibu yang berada disana menatap aneh ke arah Asih. Mereka saling berbisik satu sama lain.


''Anaknya siapa, Bu?'' tanya wanita berdaster bunga-bunga.


''Anaknya Reni,'' jawab Asih dengan santainya.


''Oh, anak angkat buat pancingan ya, Bu. Mungkin si Reni sama suaminya kebelet punya momongan. Jadi, ngangkat anak,'' celetuk si ibu satunya yang sok tahu.


''Semoga berhasil ya, usaha Renita serta suami. Jadi, keinget sama anak sendiri. Lima tahun menikah, belum di kasih kepercayaan. Kasihan dia, selalu mendapat tekanan dari ibu mertuanya gara-gara itu.'' Ibu berbadan tambun menimpali yang diselipi dengan sesi curcol-nya.


''Pasti Renita juga seperti anakku. Makanya, dia sampai mengangkat anak seperti ini,'' lanjutnya lagi.


Asih hanya menanggapi dengan senyuman saja, dia justru sibuk memilih-milih sayuran yang akan dimasak untuk makan siang.


''Ngomong-ngomong di Panti Asuhan mana? Renita sama suaminya dapat anak selucu ini, Bu. Aku mau rekomendasikan ke anak menantuku untuk ngadopsi anak dari sana,'' tanya Ibu berbadan tambun lagi, ''Barangkali bisa berhasil.''

__ADS_1


''Ini anak kandung Renita dan Armand, Bu.''


__ADS_2