
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari. Akhirnya, kendaraan yang di kendarai Armand memasuki tugu yang bertuliskan nama desa kelahiran istrinya. Armand memperlambat laju kendaraannya, sesekali menyapa para tetangga yang sedang berkumpul di depan rumah.
''Kamu sudah menghubungi Ibu 'kan?'' Armand melirik sekilas istrinya.
''Sudah tadi. Tuh, orangnya standby di depan rumah.''
Renita menunjuk wanita paruh baya yang sedang berdiri di teras rumahnya untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Mobil Armand berhenti tepat di halaman Rumah Mertuanya. Marvello tampak berjingkrak riang di pangkuan Sang Ibu, ketika melihat seseorang yang di kenalinya.
''Aduh, Dek. Sudah mama nggak bisa lama-lama nahan tingkahmu yang super aktif ini,'' keluh Renita ketika mencoba menenangkan putranya.
Armand segera mengambil alih tubuh putranya lalu keluar terlebih dulu untuk menemui mertuanya.
''Assalamu'alaikum.....''
Armand menyalami Ibu mertuanya dengan ta'zim.
''Walaikumsalam,'' jawab Asih dengan mata berkaca-kaca.
Wanita paruh baya itu, terharu, bahagia. Melihat kedatangan anak menantunya, tak dapat di pungkiri, dia teramat rindu kepada putrinya. Apalagi, sekarang sudah ada cucu yang menggemaskan seperti Vello.
''IBU...''
Lamunan Asih di kejutkan dengan rangkulan dari putrinya, yang masih saja manja di matanya..
''Gak malu sama anak,'' dumel wanita paruh baya itu. Tapi, bibirnya menyunggingkan senyum juga.
''Biarlah, Bu. Reni kangen banget sama Ibu,'' manjanya.
''Ayo, masuk dulu. Pasti capek 'kan? Sini si gembul sama nenek.'' Asih meraih tubuh cucunya dari gendongan menantunya.
''Tadi rewel apa tidak?''
''Nggak, Bu. Anteng banget seanteng bapaknya yang manyun.''
Armand melotot mendengar ucapan istrinya. Dia takut mertuanya akan salah paham.
''Maksudnya?'' tanya Asih yang masih belum faham.
''Mas Armand selama perjalanan kesini tadi, bibirnya mirip bebek, Bu.'' adu Renita, ''Gini bibirnya.'' Renita memperagakan kemanyunan suaminya tadi.
''Karena Renita tidak mau saya ajak naik pesawat, Bu. Padahal saya sudah pesan tiketnya,'' jawab Armand cepat, agar mertuanya tidak salah paham.
''Salah sendiri mendadak,'' sahut Renita tidak terima, ''Ya, aku balaslah,'' sambungnya lagi.
''Kalau bilang bukan kejutan namanya,'' ketus Armand.
Renita hanya mencebikkan bibirnya. ''Kejutan itu makan malam romantis, bukan tiket pesawat.''
__ADS_1
''Sudah-sudah, nanti kalau di teruskan tidak ada selesainya.'' Asih melerai perdebatan pasangan muda di depannya.
''Bapak kemana, Bu?'' tanya Armand.
''Lagi di kebun sama Rendy. Paling sebentar lagi juga pulang.''
''Loh, apa tidak kuliah anak itu, Bu?'' tanya Renita sambil memakan keripik pisang buatan ibunya.
''Nggak ada jadwal katanya, jadi dia bantu bapak.''
Renita membulatkan bibirnya saja.
''Bapakmu sama adikmu juga belum tahu mengenai kedatangan kalian,'' kata Asih.
''Kejutan, Bu,'' jawab Armand.
Lagi-lagi, Renita mencebikkan bibirnya.
...----------------...
''Mobil milik siapa ini, Pak?'' tanya Rendy ketika melihat sebuah mobil bagus terparkir di halaman rumahnya.
''Mana bapak tahu, Ren. Wong bapak juga dari sawah sama kamu. Mungkin tamunya Ibu.''
''Siapa ya, Pak?''
''Daripada bengong begitu, mending segera bersih-bersih. Lalu kita temui tamunya,'' titah Bapak.
Ketika memasuki dapur, Rendi dapat mendengar suara riang ibunya juga suara wanita sangat di kenalinya.
''Apa salah dengar, ya? Tapi bisa saja, sih. Kalau itu Mbak Reni,'' gumamnya pelan.
Rendy melangkah menuju pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan dapur. Saat sampai disana, dia melihat keponakannya yang tengah asik merangkak kesana-kemari sesekali juga terduduk di karpet depan televisi.
''ELLOO!!'' pekik Pemuda itu, ketika melihat keponakan gembulnya.
Marvello yang terpanggil pun segera merangkak cepat menghampiri omnya dengan menunjukkan dua giginya.
''Ya ampun, Om kangen sama pipi bengkakmu ini.'' Rendy mengangkat tubuh keponakannya lalu membawanya ke dalam gendongannya, mencium pipi bulat itu bertubi-tubi.
''Ren, kapan pulang? Bapak mana?'' sapa Renita.
''Barusan, Bapak langsung mandi. Katanya mau menemui tamunya. Eh, taunya anak manjanya pulang,'' ucap Rendy yang masih sibuk bermain dengan keponakannya. Dia menggosokkan jambang tipis yang tumbuh di dagunya ke pipi bulat itu. Yang membuat Marvello terkikik karena merasa geli.
Renita menggeplak keras lengan kelar adiknya
''Aww, kenapa dipukul, sih?'' protes Rendy.
''Badanmu kotor, main gendong saja.'' Renita memelototi adiknya.
__ADS_1
''Nggak, orang tadi gak ngapa-ngapain di kebun. Bapak cuma negosiasi sama orang yang mau beli panenan Bapak,'' sanggahnya tidak terima.
''Tetap saja kamu berkeringat, Ren,'' ucap Renita dengan merapatkan giginya. Kesal sendiri rasanya menghadapi si adik yang selalu menjawab ucapannya.
''Sini, anakku! Kamu mandi dulu. Baru boleh pegang Vello lagi.'' Renita mengambil alih putranya.
''Nggak bau, wangi parfumku masih ada,'' gumamnya sambil menciumi ketiaknya sendiri.
...----------------...
''Loh, Renita. Kapan datang?'' sapa Mbak Nanik yang kebetulan melintas di depan rumah.
Wanita itu, menghampiri Renita yang sedang bersantai di teras rumah bersama putranya.
''Tadi, Mbak.''
''Loh, ini siapa? Ya ampun pipinya,'' kata Mbak Nanik dengan gemas. Saat melihat bayi yang berada di pangkuan Renita.
''Anakku lah, Mbak,'' jawab Renita dengan senyumnya.
Mbak Nanik menatap aneh wanita di depannya.
''Emmm, ya sudah, Ren. Aku pulang dulu ya. Masih ada kerjaan di rumah,'' pamitnya..
''Iya, Mbak.''
''Jangan lupa! Main ke rumah, diajak juga anaknya,'' pesan Mbak Nanik sebelum pergi.
''Beres....''
''Siapa, Ren?'' tanya Armand yang baru muncul dengan setelan kaos dengan bawahan sarungnya. Wangi sabun mandi bercampur parfum menguar di indra penciuman wanita itu.
Renita tak berkedip melihat penampilan suaminya yang tampak berbeda. Ada kharisma tersendiri di matanya.
''Ren, ditanya malah bengong.'' Armand mulai menyulut rokok yang ada di atas meja. Agaknya, laki-laki itu belum menyadari, jika istrinya sedang terpesona dengan penampilannya.
''Ganteng banget, sih,'' gumam Renita memandang kagum suaminya.
Armand menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang seolah baru pertama kali melihatnya. Dia mengusap kasar wajah itu untuk menyadarkan wanitanya
''Mas! Nyebelin banget. Mana tangannya bau rokok,'' pekiknya kesal.
''Dasar mata jelalatan! Nggak bisa melihat orang bening sedikit.''
Renita memanyunkan bibirnya.
''Itu minta di bikin jontor apa gimana? Di maju-majuin gitu.'' Armand menunjuk bibir itu dengan dagunya.
''Au, ah, sebel.''
__ADS_1
''Mas, siap-siap. Pasang hati yang adem buat dengerin mulut-mulut julid orang sini. Soalnya, si ketua julid sudah tahu tadi. Pasti dia sekarang lagi asik nyebar gosip sana-sini.''