
"Dania."
Karena merasa namanya di panggil, Dania menoleh ke asal suara. Di dapatinya, sang kakak tengah menatap tajam kearahnya.
"Abang, kok bisa disini?"
"Kenapa, kamu mau menghindar? Kalau kamu ketahuan pacaran sama dia. Jadi ini pekerjaanmu, di jam kerja malah asik makan sama laki-laki di restoran mewah," kata David berapi-api.
Matanya memerah akibat emosi yang sudah di ubun-ubun.
Dania mengernyit bingung. Kenapa tiba-tiba abangnya marah-marah tidak jelas seperti ini.
"Dia atasanku di kantor, Bang," kata Dania berusaha memberitahukan kepada kakaknya perihal laki-laki yang tengah bersamanya.
"Pria ini yang aku ceritakan waktu itu, Vid," sahut pria yang tiba-tiba muncul di tengah ketegangan mereka.
"Kak Andrew," geram Dania.
Dia mengepalkan tangannya kuat. Pasti dibalik kemarahan David ada campur tangan si biang kerok itu.
Tatapan tajam menusuk, ia hujamkan pada pria yang tengah memberi tatapan mengejek kearahnya.
Devan yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa diam. Dia masih belum memahami situasi yang menyeret namanya.
"Oh, jadi dia yang ke rumah waktu itu." Kemarahan David semakin menjadi.
Pria itu segera menarik kerah kemeja Devan, lalu memintanya untuk berdiri.
"Beraninya, kau menemui adikku di belakangku. Kalau kau suka pada adikku, kenapa kau tidak menemuiku. Padahal sudah aku sampaikan lewat Dania," geram David.
Devan yang di perlakukan seperti itu hanya diam dengan wajah datarnya. Seolah tak terpengaruh dengan kemarahan David.
"Bang, lepas, Bang. Aku bisa jelaskan. Jangan seperti ini, dia gak salah. Dia...."
"Diam, Dania! Jangan coba-coba membelanya," hardik David.
"Abang salah paham...."
"DIAM!" hardiknya lagi.
Suara David menggelegar, hingga mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung lain.
"Nanti aku jelaskan tapi lepaskan dia. Abang masih harus kerja,'kan? Aku juga harus kembali ke kantor," bujuk Dania.
David melepas kasar kemeja pria itu.
"Oke, sepulang kerja kamu dan dia, ku tunggu di rumah," kata David dengan menunjuk Dania dan Devan bergantian.
"Tidak ada bantahan," tegas David saat melihat adiknya hendak mengajukan protes.
Dania hanya bisa mengangguk pasrah.
"Ayo, kita kembali. Hasil pertemuan tadi sudah di tunggu Pak Armand."
Setelah mengatakan itu, Devan berlalu begitu saja meninggalkan mereka semua.
Dania sempat menatap tajam Andrew sebelum meninggalkan tempat itu.
"Awas kau, Biang Kerok," geramnya dalam hati.
___________
"Ada yang ingin kau jelaskan," kata Devan dengan nada dinginnya.
Dania meremat jari-jemarinya gugup. Suasana mobil yang sudah dingin karena Air Conditioner, semakin mencekam dengan kedinginan pria di sebelahnya.
"Sa-saya minta m-maaf," jawab Dania dengan bibir bergetar.
"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Yang ku butuhkan penjelasanmu." Devan menatap tajam gadis disampingnya.
__ADS_1
"S-saya minta m-maaf karena melibatkan bapak...."
"Sudah ku katakan, aku tidak butuh maafmu! Aku butuh penjelasanmu," sentak Devan dengan suara meninggi, sampai Dania harus menutup kedua telinganya.
"Saya sedang menjelaskan, Pak. Bapak aja yang nyolot kek colokan listrik. Makanya, dengerin dulu, jangan asal potong," kesal gadis itu.
Hilang sudah rasa takutnya terhadap pria ini.
"Ini bermula dari kedatangan bapak sewaktu saya sakit tempo hari. Sewaktu bapak menangkap tubuh saya yang hendak pingsan. Ada yang melihat adegan itu. Dan orang itu Andrew Winata. Dia mengira saya tengah berduaan dengan bapak, karena yang dia tahu bapak pacar saya. Kemudian, dia melapor kepada kakak saya. Kakak saya marah besar setelah memdengar laporan itu. Dia meminta pria yang bersama saya waktu itu menghadapnya."
Dania menghentikan sejenak ucapannya untuk mengehela nafas.
"Lalu?" tanya Devan menaikkan sebelah alisnya.
"Bapak tau, apa alasan saya meminta bapak menjadi pacar pura-pura saya, malam itu?"
Devan menggeleng pelan.
"Karena pria itu. Dia terang-terangan menunjukkan perasaannya kepada saya. Dan saya risih dengan semua itu."
"Berarti kamu menumbalkan saya," tebak pria itu.
Dania mengangguk pelan. "Maafkan saya. Saya tidak punya pilihan lain."
Devan menghembuskan nafas kasar. Kenapa hidup tenangnya terusik setelah bertemu gadis aneh ini.
"Pak," panggil Dania pelan.
"Hmmm...."
"Mau ya, bantuin saya," pinta Dania dengan tatapan memohon.
"Tidak!"
"Tolong, Pak. Bantu saya sekali lagi saja. Temani saya menemui abang saya. Bapak tidak ingin masalah ini berlarut-larut, 'kan?" bujuk Dania.
Devan tampak berfikir sejenak, kemudian mengangguk menyetujui. Senyum merekah terkembang sempurna di bibir gadis itu.
"Ini yang terakhir," tegas Devan.
"Iya, Pak."
______________
Dan disinilah mereka berada, di sebuah rumah sederhana kediaman Dania.
Gadis itu bersembunyi dibalik punggung kekar atasannya. Saat ini, dia benar-benar takut dengan kemarahannya kakaknya.
"Duduk!" titah David dengan tegas.
Aura mencekam menyelimutinya ruang tamu itu. Dania merasa seperti uji nyali di tempat terangker di bumi ini, padahal dia berada di rumahnya sendiri.
"Heran, kenapa mukanya tetap datar seperti itu. Tak ada takut-takutnya. Kira-kira apa yang membuat gunung es ini takut, ya," batin Dania melirik pria yang menjulang tinggi di hadapannya.
Mereka berdua sudah seperti terdakwa yang tengah menjalani persidangan yang akan di kenakan sanksi berat.
"Apa yang sudah kau lakukan pada adikku?" David mulai mengintrogasi pria datar yang bersama adiknya.
"Saya tidak melakukan apa-apa," jawab Devan dengan tenang.
"Lalu, kenapa waktu itu main peluk dia segala?"
"Karena saya refleks. Saat itu Dania hampir pingsan."
"Sejak kapan kalian berpacaran?" tanya David lagi.
Hening....
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka berdua.
__ADS_1
"Kami tidak...."
Saat Dania hendak menjawab, tanpa sengaja netranya menangkap bayangan seseorang yang tengah menguping di balik sebuah lemari tak jauh dari tempatnya.
"Awas kau biang kerok," kesal Dania dalam hati.
Gadis itu menyimpan dendam kesumat kepada pria bernama Andrew Winata.
"Tidak apa, Dania." Suara berat David mengalihkan perhatian gadis itu.
"Ah, Maksudku belum ada satu bulan. Iya, 'kan, Pak Devan?"
Devan langsung memberikan tatapan tajam pada gadis yang berada di sampingnya. Sedangkan, Dania hanya memberikan tatapan permohonan agar Devan menyetujuinya.
"Ehem...." Devan menanggapi dengan deheman keras.
"Kenapa gak pernah cerita ke Abang atau kakak iparmu?"
David memicingkan matanya.
"Ya, ya, biar jadi kejutan, dong...."
Gadis muda itu berusaha keras menutupi kegugupannya. Jangan sampai David curiga kalau dia sedang berbohong.
"Lalu, kenapa kemarin dia tidak kunjung menemuiku?"
Tatapan intimidasi dari sang kakak benar-benar membuat Dania seperti di kuliti hidup-hidup. Belum lagi geraman pelan pria disampingnya yang semakin menambah kengeriannya.
"Rasanya seperti berada diantara dua singa yang sedang berebut mangsa," batin gadis itu.
"Jawab, Dania," ucap David setengah berteriak.
"Eh, i-iya, karena dia si-sibuk. Belum ada waktu. Iya,'kan, Pak?"
"Hmmm...."
Dania mendengus kesal. Segitu mahalnya suaranya, sampai tidak mau menjawabnya sama sekali.
"Apa kau mencintai adikku?" tanya David pada Devan.
"Abang apa-apaan, sih?" serobot Dania tidak terima.
"Diam! aku bertanya padanya." David melotot tajam kearah adiknya.
"Tapi, bang...."
"Saya menyayangi Dania," celetuk Devan secara tiba-tiba.
Dania mengedipkan matanya berkali-kali, berharap dia salah dengar.
"Ulang lagi," perintah David.
"Saya menyayangi dan mencintai Dania."
Dania dibuat melongo mendengarnya, ingin rasanya dia berjingkrak girang saat itu juga. Namun, perlahan senyumnya memudar saat teringat, jika ini hanyalah sandiwara agar ia bisa menjauhkan Andrew dari hidupnya.
"Kau boleh pulang."
"Permisi." Devan berlalu begitu saja dari tempat itu.
"Pak Devan tunggu...."
Dania ingin mengejar atasannya, tapi langkahnya terhenti karena titah tegas kakaknya.
"Dania, masuk!"
"Tapi, Bang...."
"Masuk!" ucap David tanpa mau di bantah.
__ADS_1
Dania menghentakkan kakinya dengan kesal menuju ke kamarnya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu berdebum keras.