My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Itung-itung Bulan Madu


__ADS_3

''Hari yang melelahkan,'' gumam Renita sambil merenggangkan otot-otot pundaknya yang terasa pegal karena terlalu lama menggendong anaknya.


''Gitu aja ngeluh, Ma,'' sahut Armand yang berada di atas pembaringan.


Laki-laki itu, mengajak bermain Marvello yang sedang asik dengan kegiatannya sendiri. Bayi mbul itu, mulai bisa merangkak dan duduk.


''Kamu nggak ngerasain, sih, Mas. Makanya, ngomong gitu,'' sungut Renita, ''Sini, pijitin!" manjanya.


''Kalau aku mijitin kamu, ini si anak gimana?'' Laki-laki itu tampak kewalahan menahan keaktifan anaknya.


''Ya, makanya taruh dibawah, Mas. Dia lagi senang-senangnya bisa kesana kemari sendiri. Tinggal kasih aja mainannya. Makanya, nggak usah ngeyel kalau di bilangin,'' sewotnya.


Renita sudah memperingatkan suaminya tadi untuk menaruh anaknya di karpet bawah saja. Tapi Armand bersikukuh meletakkan diatas tempat tidur dengan alasan dia akan menjaga dan mengawasinya.


''Iya-iya,'' pasrah Armand menuruti keinginan istrinya, sebelum semburan naga api diarahkan padanya. Dia berganti meletakkan Marvello di karpet yang tak jauh dari tempatnya dan istrinya berada.


''Terus, Mas. Agak ke bawah dikit.'' Renita memejamkan matanya menikmati pijatan tangan kekar itu.


Bukan Armand namanya, jika tidak menjahili istrinya. Tangan pria itu, menjelajah ke tempat-tempat yang tidak semestinya.


Renita membuka matanya saat merasai tangan suaminya mulai nak*l. ''Tangan kondisikan tangan,'' sindirnya.


''Colek-colek, sayang,'' rayu Armand.


''Dasar buaya,'' cibir ibu satu anak itu.


''Jadi, buayanya kamu aja,'' bisik Armand di telinga istrinya.


''Aku nanti minta, mumpung di hotel ini.''


Setelah rencana perjodohannya telah rampung dengan hasil memuaskan. Armand, memutuskan untuk menginap di hotel karena sudah terlalu malam untuk pulang. Istrinya juga sempat mengeluh tidak kuat lagi, jika harus menempuh perjalanan pulang.


Renita menoleh ke arah suaminya. ''Minta apa?''


''Itu....'' Armand menyatukan kuncupan sepuluh jarinya, "Itung-itung bulan madu,'' ringisnya dengan memperlihatkan susunan giginya yang rapi.


''Nggak usah aneh-aneh, ada anak. Si Vello mau di taruh mana?'' Renita memutar bola matanya jengah. Kenapa otak suaminya tak pernah jauh dari yang namanya 'mesum'.


''Kalau main berisik juga,'' lanjut wanita itu.


''Yang berisik kamu. Aku nggak, tugasku 'kan cuma kerja.''


Renita memalingkan mukanya karena malu mendengar ucapan suaminya.


''Ih, merah gitu mukanya,'' ledek Armand, ''Malu, ya. Kalau malu berarti aku memang seperkasa itu.'' Armand tersenyum jumawa.


''Mas!'' teriak Renita.


Dia memukul pelan lengan suaminya.


''Udah, ah. Aku mau ngurusin Vello aja.'' Renita beranjak menjauhi suaminya.

__ADS_1


''Bapaknya kayak singa lapar, bawaannya pengen nerkam mulu.''


''Kali ini, kau bisa menghindar, Sayang. Jangan harap nanti malam!'' Armand menyeringai.


...----------------...


Malam yang di nanti pun tiba. Nyatanya, bayangan indah mengarungi surga dunia sepanjang malam bersama istri tercinta, hanya tinggal bayangan saja.


Marvello masih betah membuka matanya, akibat terlalu lama tidur siang tadi. Bahkan, sesekali terdengar celotehan dari mulut mungilnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lengkingannya semakin kencang kala mendengar bunyi krincingan yang di gerakkan oleh tangannya sendiri.


''Dek, sudah jam sepuluh. Ayo, tidur sama papa. Biar papa bisa bikin adek buat kamu,'' kata Armand.


Puk.


Sebuah bantal sofa mendarat di punggung kekarnya. ''Ngajarin anak yang bener ngapa?'' sewot Renita.


''Habisnya betah banget, jam segini masih melek aja," keluh ayah satu anak itu.


''Biarin ajalah, Mas. Matanya masih bening gitu. Nanti kalau ngantuk dia bakal minta 'mimi'. Kamu tidur duluan aja,'' saran istrinya.


''Ren,'' rengek Armand dengan tampang melasnya.


Bukannya iba, Renita justru ingin terbahak melihat raut muka suaminya.


''Tega, kamu.''


''Lagian di otakmu itu mulu perasaan. Di rumah juga hampir tiap malam kamu minta.''


''Kamu jaga Vello ya, Mas. Aku ngantuk banget.''


''Ren, kok malah tidur. Nasibku gimana?''


''Ya, nggak gimana-gimana, Mas. Kamu tungguin aja dia sampai ngantuk. Nanti kalau minta mimi, kamu tinggal bangunin aku. Mata aku udah bener-bener berat ini,'' ucap Renita dengan memejamkan matanya.


Tak berapa lama, ibu satu anak itu telah terbuai ke alam mimpinya. Kondisi tubuh yang lelah membuatnya lebih cepat tertidur.


''Astaga, Ren. Beneran tidur kamu?'' kesal Armand saat mendengar dengkuran halus dari mulut istrinya.


''Dek, mama udah tidur, tuh,'' Armand menunjuk istrinya.


Marvello juga tampak mengikuti arah tangan papanya. Bayi itu, hanya menunjukkan gusinya yang mulai di tumbuhi gigi lalu kembali melanjutkan mainnya bersama beberapa mainan yang tergeletak tak jauh darinya. Sesekali dia juga merangkak kesana kemari ketika melihat sesuatu yang menarik menurutnya.


Armand merebahkan tubuhnya di karpet untuk mengawasi anaknya sembari bermain ponsel untuk menghilangkan kejenuhan.


''Awas, Dek. nanti jatuh.''


''Nggak boleh kesitu, Sayang.''


''Dek, baru juga bisa merangkak. Akal-akalan mau berdiri segala.''


''Dek....''

__ADS_1


''Dek....''


''Dek....''


''Dek....''


Dan masih banyak lagi bunyi peringatan Armand. Bahkan, dia harus rela bolak-balik kesana kemari untuk mengembalikan anaknya ke tempat semula.


''Begini rasanya mengurus anak yang sedang aktif-aktifnya, melelahkan!'' keluh Armand.


''Lah, udah tidur aja ini anak,'' kata Armand melihat anaknya tertidur diatas karpet bersama mainannya.


Armand mencoba memindahkan anaknya ke tempat tidur, tapi rengekan pelan terdengar dari mulut mungil itu. Karena takut terbangun, Armand memutuskan untuk mengambil bantal dan selimut milik Marvello. Memposisikan tubuh anaknya senyaman mungkin. Lalu, dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping sang anak. Hingga tanpa terasa dia ikut tertidur disana.


Renita mengerjapkan matanya saat mendengar nada alarm dari ponsel sang suami. Dengan mata terpejam, dia mencari-cari ponsel itu lalu mematikannya. Saat melihat jam ternyata masih pukul tiga dini hari. Berganti meraba sisi samping tempat tidur ternyata kosong.


''Kemana mereka?'' gumam Renita.


Dia membuka matanya lalu melihat sekelilingnya. Pemandangan pertama yang dia tangkap. Armand tengah memeluk anaknya prosesif dengan tubuh meringkuk seperti bayi dalam kandungan.


Entah kenapa? Ada rasa hangat merasuk ke relung hatinya melihat pemandangan sederhana itu. Renita tersenyum lembut.


Dia beranjak turun dengan membawa serta selimut yang ada di tempat tidurnya. Memakaikan nya di tubuh sang suami. Disusul dirinya ikut berbaring disebelahnya dengan memeluk suaminya dari belakang.


''Selamat tidur,'' bisiknya pelan.


'hhmmm..'


"Kamu bangun, Mas. Sejak kapan?'' tanya Renita dari balik punggung suaminya.


''Dari tadi,'' jawabnya singkat.


''Kok bisa?''


''Aku kedinginan, nggak bisa tidur. Ditambah dengar bunyi alarm. Mau pindah kasihan Vello,'' jelas Armand.


''Ya sudah, sekarang tidur lagi. Nggak ada yang di kerjain 'kan?'' Renita semakin erat memeluk pinggang suaminya dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar itu.


Tanpa menjawab, Armand langsung berbalik menghadap istrinya. " Ada.''


''Apa?"


Armand mengarahkan tangan istrinya ke sesuatu yang ikut terbangun. Renita melotot saat tangannya merasakan benda keras menyapa permukaan kulitnya.


''Inget aja.''


''Mau ya?'' tanya Armand dengan memohon.


''Dingin, ermmmm....''


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Armand sudah membungkam mulutnya. Sebisa mungkin dia mengimbangi permainan itu.

__ADS_1


''Itung-itung bulan madu,'' kata Armand saat melepas pagu*annya. Setelah itu, dia langsung menyerang istrinya kembali disertai tangan yang menjelajah kemana-mana.


Renita hanya bisa pasrah, tak dapat di pungkiri dia juga menikmati sentuhan itu. Suaminya selalu berhasil membuat kesadarannya berhamburan entah kemana---.


__ADS_2